
Meskipun langit malam begitu pekat, sekitaran Masjid Pusat Seoul di Itaewon terang benderang. Kalimat Allahu Akbar yang terletak di bangunan atas itu memancarkan cahaya lampu berwarna hijau. Di dinding sisi kanan dan kiri terpancar sinar lampu keemasan. Terlihat megah dan indah masjid besar di Itaewon.
Di dalam masjid, tepatnya di saf jemaah pria, sang imam masjid mengakhiri gerakan salat dengan salam kanan dan kiri. Henry, Zayn dan Zema termasuk makmum di sana, betapa khusyuknya mereka. Waktu salat Isya telah berlalu, Zayn dan Zema lantas mencium punggung tangan papanya dengan hormat. Henry membimbing dua putra sambungnya supaya berdzikir kepada Allah. Diberikannya tasbih kecil kepada dua anak laki-laki itu.
Sementara di saf jemaah wanita, Alira mencium punggung tangan Fira penuh santun. Mama dan anak perempuan ini terlihat anggun dengan balutan mukena putih. Wanita itu lantas menuntun Alira untuk menengadah-- memanjatkan doa dan Alira turut mengamini doa sang mama.
Kesuksesan yang telah diraih oleh Henry dan Fira adalah titipan dari Allah. Walaupun disibukkan pekerjaan atau sedang berlibur, tapi keluarga ini selalu memprioritaskan Sang Maha Kuasa. Mereka adalah hamba yang senantiasa taat kepada Allah. Sesukses apapun Henry dan Fira, selalu bersujud kepada sang pencipta. Merendahkan diri dan hati di hadapan Allah.
Inilah maksud Henry menikahi Fira, karena Fira adalah wanita yang punya semangat agama. Fira selalu mengingatkan salat lima waktu kepada suami dan anak-anaknya. Pernikahan tidak melulu soal cinta, juga soal mengajak dan menuntun keluarga untuk selalu di jalan Allah.
Tidak ada yang sia-sia bagi Henry dalam mencintai Fira dalam doa. Memilih Fira sebagai pendamping hidup. Jika Allah sudah menghendaki, doa-doa itu kabul dan menjadi nyata. Atas kuasa dan ridho-Nya dapat menyatukan sepasang insan dalam mahligai pernikahan.
Usai salat, berdzikir hingga doa, Henry bersama Zayn dan Zema keluar dari masjid. Papa dan dua anak laki-laki itu melihat Fira dan Alira yang sudah menunggu di anak tangga. Meski di masjid ini banyak pengunjung, tapi tatapan mata Henry tertuju pada wajah ayu sang istri. Wajah Fira tidak terpoles riasan wajah, praktis alami setelah berwudu, terasa teduh di mata Henry. Wanita berjilbab itu tersenyum melihat suami tercinta. Hati Henry seolah ada energi cinta yang bergemuruh. Energi cinta yang tumbuh karena Allah.
"Walaupun tidak ada sinar rembulan, tapi malam ini begitu terang," ungkap Henry.
"Maksudnya?" tanya Fira seraya mengernyit dahi.
"Wajah Mama memancarkan aura kasih sayang begitu tulus, jadinya terang benderang. Benar kan, anak-anak?" jawab Henry lantas minta pendapat ketiga anak itu.
"Benar sekali! Pokoknya di dunia ini Mama yang tercantik," seru tiga anak itu.
"Huu, jangan-jangan-- memuji Mama pasti ada maunya nih?" canda Fira tertawa kecil.
"Sungguh, kalau wajahmu alami gini justru cantik banget," sanjung Henry
"Sudahlah, Mama jadi malu nih."
"Oke, kita bakal makan malam di restoran halal. Setelah itu, kita belanja oleh-oleh buat keluarga di Semarang. Anak-anak capek, enggak?" usul Henry.
"Enggak, Papa. Justru kita senang jalan-jalan di Korea," ucap Zayn tampak antusias.
"Yuk, kita ke mobil sekarang."
Henry merangkul dua bahu putranya. Fira merangkul bahu Alira sembari membawa tas. Begitu sampai di halaman masjid, Henry mengisyaratkan istri dan tiga anaknya untuk menghentikan langkah. Pria bermata sipit itu lantas meminta tolong kepada seorang pria muda (penduduk asli) untuk memotret Henry dan keluarga. Ia memberikan gawai kepada pria itu dan menyanggupi.
Henry, Fira dan tiga anaknya mengatur posisi supaya dapat terlihat masjid besar nan megah itu. Kali ini gaya berfoto mereka kalem dan santun disertai senyuman. Mereka tidak mengenal lelah karena seharian penuh jalan-jalan, karena waktu sekarang yang berkualitas. Sementara pria itu terus memotret keluarga itu dengan gawai milik Henry.
Hanya butuh waktu sebentar, pria tadi menyerahkan gawai kepada Henry. Henry lantas bersalaman dan berterima kasih kepada pria itu. Henry melihat gawai, sudah ada banyak foto yang tersimpan di galeri. Ia dan keluarga kecilnya melanjutkan langkah menuju ke mobil.
***
Henry, Fira dan tiga anaknya berada di sebuah restoran halal di Itaewon. Restoran itu masih berdekatan dengan Masjid Pusat Seoul, orang-orang muslim tidak perlu khawatir jika berkunjung dan makan di sini. Mereka menikmati dan lahap menyantap makanan khas Korea yang terjamin kehalalannya. Di antaranya: samgyetang, bulgogi, tuna kimchi, bibimbap, jeon atau Korean pancake dan beberapa gelas air mineral.
Fira menyantap tuna kimchi dengan lahap karena ia suka sekali seafood. Jika melihat tiga anaknya juga lahap menyantap makanan, Fira jadi banyak bersyukur. Wanita itu termangu lihat tiga anak yang dapat tumbuh dengan baik, cerdas dan aktif. Sorotan mata dari balik kacamata bening itu-- juga melihat suaminya yang asyik menyantap bulgogi. Fira tiada berhenti bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada keluarganya.
"Tadi pagi-- aku enggak lihat Paman dan Bibi di rumah, beliau ke mana?" ucap Fira memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Oh itu, Paman dan Bibi sedang jalan-jalan pagi. Tadinya mau pamit sama kamu, tapi kamunya waktu itu lagi sibuk dandan," ucap Henry.
"Emm, jadi enggak enak sama Paman dan Bibi, hehehe."
"Biar kamu tahu asal-usul keluarga besarku di Korea. Jadi Paman dan Bibi itu beragama Buddha. Yang mualaf hanya Papi dan adik sepupunya, namanya Bibi Lee Hana. Nah, Bibi Hana ini adalah ibunya Dareen. Bisa dibilang Dareen sama aku sepupu jauh. Bibi Hana tinggal di Surabaya sama suaminya, namanya Paman Raihan. Jadi aku dan Dareen yang blasteran," jelas Henry.
"Jadi begitu." Fira mengangguk mulai paham tentang silsilah keluarga Henry.
"Maka dari itu, Excellent Entertainment masih mendominasi K-Pop, karena Papi sewaktu membangun Excellent belum masuk Islam. Papi jadi mualaf sebelum menikah dengan Mami, enggak tahu kapan, aku juga lupa, hehehe."
"Sebenarnya aku mau kasih usul gini, apa Excellent Entertainment enggak nambahin penyanyi, aktor dan aktris yang islami gitu?"
"Excellent Entertainment di Korea itu menyesuaikan kondisi di sini. Kalau Excellent di Semarang-- nah itu ada aktor, aktris dan penyanyi yang beragama Islam. Menyesuaikan kehidupan masing-masing negara saja sih, intinya."
"Emm, eh, tapi aku belum pernah berkunjung di Excellent Advertising loh. Perusahaan bagian periklanan kan?"
Sejenak Henry meneguk segelas air mineral. Fira lanjut menyantap dan mengunyah tuna kimchi. Entah apa yang membuat Fira penasaran begitu besar? Karena selama ini Fira juga ingin tahu asal usul Henry, keluarga dan perusahaan. Henry selama itu pandai membuat privasi keluarga besarnya.
"Excellent Advertising ada juga di Itaewon. Di Semarang juga ada, perusahaan hiburan dan periklanan itu beda tempat. Kalau di Kanada perusahaan periklanan saja," jelas Henry.
"Emm, aku mulai paham sekarang," ucap Fira.
"Omong-omong, salonmu gimana?" tanya Henry.
"Aku masih pantau dari jauh. Ya, alhamdulilah, salonku jadi maju. Bahkan ada yang kasih masukkan untuk buka cabang di kota lain. Produk Firannsa bisa menjangkau lebih luas. Alhamdulillah, berdasarkan testimoni pelanggan Firannsa, mereka cocok sama treatment dan skincarenya," jawab Fira secara gamblang.
"Maunya buka cabang gitu, tapi modalnya masih kurang."
"Kan ada aku, aku bisa kasih kamu modal untuk buka cabang salonmu dan memperluas penjualan produk kecantikan Firannsa. Produk Firannsa juga bisa diiklankan di Excellent Advertising Semarang. Gimana?"
"Aku malah enggak enak sama kamu."
"Apa salahnya jika suamimu ini ingin membantu istri?"
"Oke deh, InsyaAllah, aku sekalian ajak kamu ke pabrik pembuatan produk skincare Firannsa."
"Aku juga belum mampir ke kedai kopi Bryan. Sekalian nanti mampir ke sana."
"Lalu, bagaimana dengan kondisi psikologismu?"
Fira kelepasan bicara soal kondisi psikologis Henry. Ia sontak menggigit bibir. Matanya penuh kecemasan-- khawatir jika Henry tersinggung. Mendengar pertanyaan dari istrinya, mata sipit Henry seakan ada api yang mulai menyala. Pria itu menatap sinis kepada Fira. Henry tidak suka jika Fira turut campur dalam urusan psikologisnya.
Henry seketika kehilangan selera makan. Fira terkejut saat Henry menancapkan garpu pada daging sapi. Fira kian menunduk-- sudah dipastikan bahwa Henry sedang marah padanya. Sebenarnya Fira sudah tidak tahan dengan rasa penasaran soal psikologis Henry.
"Ikut aku keluar dari sini," ucap Henry. Kali ini nada bicara Henry seperti sedang marah.
"Ya Allah, maafkan aku, karena keceplosan mempertanyakan kondisi psikologis Henry. Kayaknya Henry marah banget sama aku," batin Fira.
__ADS_1
"Anak-anak di sini dulu, ya. Papa sama Mama ke depan restoran sebentar, mau ngomong sesuatu. Kalian makan yang banyak, ya," kata Henry kepada tiga anak itu. Zayn, Zema dan Alira menuruti perkataan Henry.
Henry lantas menggenggam tangan Fira dengan erat. Wanita bermata bulat itu nyaris merintih, terasa sekali jemari Henry menancap di urat tangan Fira. Henry membawa Fira ke luar restoran. Wanita itu terus memandangi sorotan mata Henry yang begitu tajam. Fira membatin tidak nyaman-- akan ada pertengkaran antara dirinya dengan Henry.
Pengunjung restoran keheranan melihat dua insan yang raut wajahnya sedang tidak bersahabat. Namun Henry tidak mempedulikan sekitar. Ia terus menarik Fira ke luar restoran.
***
Begitu di depan restoran, Henry celingak-celinguk melihat sekitar. Situasi jarang orang yang lewat di sana. Pria jangkung itu merasa situasi aman. Malam ini membuat emosi Henry memuncak. Ia menatap Fira dengan mata yang berpijar. Di sisi lain, Fira menunduk-- tidak berani menatap suaminya. Sang istri merasa bersalah saat kelepasan menanyakan psikologis Henry.
"Pasti kamu sudah baca pesan dari Dokter Randy 'kan?" Pertanyaan Henry seolah sedang menginterogasi Fira.
"Emm." Fira jadi gemetaran dan gugup. Hanya itu yang terucap dari mulut Fira. Keringat dingin mulai mengucur di keningnya. Wanita itu benar-benar takut jika melihat kemarahan sang suami, apalagi jika kembali mengingat masa lalunya.
"Jawab!" gertak Henry tapi intonasi suara masih dikontrol.
Dari balik kacamata bening, mata Fira mulai berkabut, saking takutnya terhadap kemarahan Henry. "Iya, aku sudah baca pesan dari Dokter Randy. Maafkan aku, kalau aku lancang tanpa seizinmu. Tapi, apa salahnya-- kalau seorang istri ingin tahu kondisi psikologis suaminya?"
"Aku sudah bilang sama kamu 'kan? Kamu sudah tahu sebagian keadaanku dari Mami, it's okay. Kalau kamu ingin aku baik-baik saja, jangan pernah tahu soal aku lebih dalam. Aku enggak suka!"
"Aku ini istrimu, Hen. Kok kamu enggak mau terbuka sama aku? Walaupun kondisimu seperti itu, aku justru pengen mendampingimu. Aku tetap menerimamu." Fira hati-hati sekali berbicara seperti ini.
"Jangan mentang-mentang aku tahu tentang masa lalu dan traumamu, kemudian kamu ingin membalasku dengan kamu harus tahu masa lalu dan traumaku. Heh, begitu?"
Fira terbeliak, tidak menyangka Henry semarah itu padanya. "Astaghfirullah, aku enggak bermaksud begitu. Maksudku 'kan ..."
"Cukup diam atau aku akan ..."
Henry pergi meninggalkan Fira, kemudian masuk ke dalam restoran. Sementara Fira masih termangu di depan restoran. Dadanya terasa sesak, baru kali ini Henry marah sekali padanya. Mata bulatnya tidak bisa menahan tangis, antara geram dan cemas akan kondisi Henry. Pertengkaran itu membuat Fira mengepal kuat tangganya karena gemetaran. Fira hanya ingin mendampingi Henry sampai traumanya mereda. Namun ternyata Henry tidak suka Fira turut campur dalam kondisinya.
Di seberang jalan, seorang pria berjaket hitam berdiri sembari memperhatikan Fira. Ia memakai topi hitam. Sebagian wajah sampai dagu tertutup masker. Sebuah gawai digenggaman tangannya, sedari tadi merekam video pertengkaran antara Fira dan Henry. Sorotan mata bak serigala yang hendak memangsa korban, merasa puas karena mendapat hasil rekaman video itu.
Video berdurasi kurang lebih dua menit itu berhasil ia simpan di galeri gawai. Tidak mau menyia-nyiakan waktu, pria bermata sayu itu lantas mengirim video kepada seseorang yang telah menyuruhnya. Ia juga menuliskan pesan pribadi melalui aplikasi Elegram.
^^^[Waktu emas dan ini pasti membuat lu senang. Cewek itu lagi berantem sama suaminya. Lu lihat langsung videonya. Barangkali lu ada ide cemerlang untuk menghancurkan si mata sipit itu.]^^^
Berpas-pasan-- seorang itu sedang aktif di Elegram, karena video dan pesan yang dikirimkan lantas jadi centang dua berwarna biru.
Butuh berapa menit untuk menanti balasan dari seorang yang menyuruhnya. Pria itu sudah menduga seseorang yang menyuruhnya sedang seru-serunya menyaksikan video pertengkaran Henry dan Fira. Baru saja menduga-duga, akhirnya seorang misterius itu membalas pesan darinya.
+1******
[Jadi si sipit itu punya trauma? Ah, keren sekali. Pantas saja menikah dengan Fira-- sama-sama punya trauma, ya. Eits, aku enggak rela kalau Fira menikah sama pria yang punya gangguan psikologis seperti Henry. Cepat atau lambat Fira akan berpisah dengan Henry secara tidak diduga.]
Jemari pria ini cekatan mengetik pesan balasan untuk seorang yang menyuruhnya. Ia mengetik pesan sambil melanjutkan perjalanan. Matanya kembali melihat depan restoran, sepertinya Fira sudah masuk ke dalam restoran. Setelah menyelesaikan balasan pesan untuk seorang yang menyuruhnya, obrolan pesan itu jadi terkirim ke seorang yang menyuruhnya.
^^^[Gue ikut lu aja. Yang penting bayaran gue dari lu lancar jaya. Dah lah, gue mau pulang ke apartemen, ngantuk tahu!]^^^
__ADS_1
Pria yang membawa ransel itu akhirnya memasukkan gawai di celana jeans. Dua mata sayunya celingukan di halte-- berharap masih ada bus yang ditumpangi. Suhu udara di Itaewon makin dingin yang membuat tangannya di masukkan dalam saku jaket.