
"That night, I saw three people putting someone by the river. But when I asked other people for help, the person lying by the river was not there," terang seorang pria paruh baya kepada James dan Ammar. (Malam itu, saya melihat tiga orang sedang meletakkan seseorang di pinggir sungai. Namun ketika saya minta pertolongan kepada orang lain, orang yang terbaring di pinggir sungai itu tidak ada.)
Ammar menilik rumput-rumput liar, pelan-pelan ia berjalan mendekati pinggiran sungai tersebut. Sorotan matanya serius mengamati rumput-rumput. Ammar terlebih dahulu memakai sarung tangan, diacak-acaknya rumput itu. Pria berambut gondrong pirang itu tercengang saat ia menemukan dua benda, yakni tasbih dan tiga helai tisu yang bersimbah darah. Namun darah itu sudah melekat dan mengering.
Mengetahui hal itu, membuat empat anjing pelacak menghampiri Ammar. Indera penciuman empat anjing itu mengendus-endus supaya dapat mengamati aroma darah yang sudah mengering.
"Good job, friends," puji Ammar kepada empat anjing pelacak tersebut. (Kerja bagus, kawan.)
"Mr. James, come here!" seru Ammar. (Pak James, ke marilah!)
"What's up?" tanya James. (Ada apa?)
Ammar perlahan mengambil tasbih dan tiga helai tisu yang bersimbah darah dengan alat penjepit, kemudian barang bukti itu ditaruhnya ke dalam plastik bening. James menghampiri Ammar. Tim polisi dan detektif juga turut mengikuti ketuanya. Ammar memperlihatkan empat benda tersebut kepada James dan kawan-kawan. James mengangguk, ia paham yang hendak ditelusurinya nanti.
"Those three people must be planning the murder of Henry. They didn't kidnap Henry but in fact they put Henry here," ucap Ammar. (Ketiga orang itu pasti merencanakan pembunuhan Henry. Mereka tidak menculik Henry tetapi sebenarnya mereka menempatkan Henry di sini.)
Ammar kembali menjelaskan, "it looks like Henry left the tasbih and the three strands of tissue covered in blood on purpose. But, it doesn't make sense if Henry can get up from his illness." (Sepertinya Henry sengaja meninggalkan tasbih dan tiga helai tisu yang bersimbah darah ini. Tapi, tidak masuk akal jika Henry bisa bangkit dari sakitnya.)
"Or someone helped Henry when this old man asked someone else for help," pikir James. (Atau seseorang menolong Henry ketika pria tua ini meminta pertolongan kepada orang lain.)
"It means Henry is alive but now we don't know where he is?" (Itu berarti Henry masih hidup tapi kita tidak tahu dia ada di mana?)
"Yeah, if he found this tissue covered in blood, he was seriously injured. Henry's still in Toronto." (Ya, jika menemukan tisu yang bersimbah darah ini, dia mengalami luka berat. Henry masih di Toronto.)
"Sooner or later, we're going to find Henry." (Cepat atau lambat, kita akan mencari Henry.)
James dan Ammar saling bertatapan dan mengangguk. Namun di sisi lain, empat anjing pelacak sedang mengendus-endus rumput. Seakan empat anjing itu tahu aroma dari tisu yang bersimbah darah tadi. Ammar, James beserta tim lainnya bergegas mengikuti empat anjing pelacak tersebut. Masing-masing empat anjing pelacak memiliki penjaganya. Jadi tidak khawatir para anjing itu akan pergi.
Namun empat anjing pelacak itu berhenti di jalanan seolah tidak bisa menemukan jejak seseorang lagi. James paham karena bukti baru diketahui hari ini, apalagi tisu yang bersimbah darah itu sudah mengering sehingga membuat empat anjing pelacak sulit melanjutkan jejak seseorang yang hilang.
"We will continue the mission tonight. Now I want us to have a meeting," perintah James. (Kita akan melanjutkan misi malam ini. Sekarang saya ingin kita mengadakan rapat.)
"I think Henry's dissemination of information has disappeared without any response from the people. I mean, nobody's found Henry," ucap Ammar. (Saya rasa penyebaran informasi Henry menghilang tidak ada tanggapan dari orang-orang. Maksud saya, tidak ada yang menemukan Henry.)
James menatap serius kepada Ammar. "That's why I now want us to plan our next mission." (Itulah mengapa saya sekarang ingin kita merencanakan misi selanjutnya.)
***
Fira menatap layar laptop yang terletak di meja kecil. Ia pun sembari menyantap bubur di mangkuk. Wanita itu duduk bersandar pada penyangga kasur. Wajah ayunya kini tampak lelah efek selama ia hamil. Fira hanya ingin tahu bagi orang yang bisa menemukan Henry, walaupun kabar Henry hilang sudah beredar di media cetak maupun sosial media. Nyatanya, tidak ada satupun yang bisa menemukan Henry, padahal Fira sudah menjanjikan hadiah spesial bagi orang yang bisa menemukan suaminya itu.
Di sampingnya, dering gawai Fira berbunyi. Sorotan mata sayu lantas melirik layar gawai. Ada panggilan masuk dari Ammar. Diletakkannya terlebih dahulu mangkuk di atas meja, kemudian Fira mengambil gawai sambil mengembuskan napas. Berharap ada kabar baik dari Henry yang diperoleh dari Ammar. Ia lantas mengangkat sambungan telepon dari Ammar.
"Selamat sore, Nyonya Fira," sapa Ammar.
"Selamat sore juga, Mr. Ammar," kata Fira.
"Tim kami dan polisi telah menelusuri pinggiran Sungai Don. Nyonya Fira tenang saja, tampaknya Henry belum meninggal," jelas Ammar.
"Saya yakin suami saya masih hidup."
"Maksud saya, setelah menelusuri pinggiran sungai, ada orang yang sengaja ingin membunuh Henry, karena saya telah menemukan tasbih dan tisu yang bersimbah darah di rumput-rumput liar."
Fira sontak terperanjat. "Astagfirullah!"
"Ada juga saksi mata yang mengatakan bahwa dia melihat tiga orang meletakkan seseorang di pinggir sungai. Saya yakin seseorang yang diletakkan di pinggir sungai itu benar-benar Henry. Namun setelah itu, Henry tidak ada di pinggir sungai, kami menduga Henry melarikan diri atau ditolong oleh orang setempat. Jadi, Nyonya Fira tetap tenang, semoga kasus ini segera tuntas dan menemukan Henry maupun pelakunya."
"Ya, semoga kalian segera menemukan titik terangnya."
"Saya akan mengirim CCTV yang akan dibawakan oleh tim detektif di rumah Anda. Tim detektif kami akan menyamar jadi pegawai CCTV supaya tidak ada yang mencurigai mereka. Jadi di setiap sudut ruangan terpasang kamera CCTV. Saya khawatir jika sewaktu-waktu pelaku bisa jadi mengganggu Anda."
"Lakukan saja yang terbaik. Saya selalu menyiapkan dana untuk masalah ini."
"Oke, saya mau melanjutkan misi untuk mencari mobil yang pernah terekam kamera CCTV di bandara waktu itu."
__ADS_1
"Semoga misi Anda dan tim selalu lancar."
"Terima kasih, Nyonya Fira."
Percakapan antara Fira dan Ammar melalui telepon telah usai. Fira sedikit bernapas lega karena ada orang yang melihat Henry diletakkan di pinggir sungai. Ia berharap suaminya itu selalu dalam lindungan Allah.
"Aku harus segera memulihkan energi dan diriku supaya aku bisa menemukanmu, Henry. Aku kangen kamu," gumam Fira. Ia kembali menyemangati dirinya sendiri.
"Bu Fira, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bu Fira," ucap Lefia. Asisten pribadinya itu berdiri di ambang pintu.
Fira lantas menoleh ke Lefia. "Siapa?"
"Pokoknya Bu Fira disuruh keluar rumah gitu katanya," jawab Lefia.
"Oh, gitu. Ya, sudah, kamu bawa mangkuk ini di dapur. Terus, masakkin semur ati ayam untuk saya, biar saya enggak pusing melulu," pinta Fira.
"Siap, Bu Fira!" seru Lefia.
Lefia bergegas masuk ke dalam kamar Fira. Sementara Fira lantas mengambil gawai dan kacamata, lalu turun dari kasur dan Fira ke luar kamar. Di sisi lain, Lefia naik ke kasur dan mengambil mangkuk yang berisi bubur di meja kecil. Lefia tidak heran jika Fira tidak menghabiskan makanannya sebab bosnya itu mengalami mual. Yang terkadang ada rasa ingin makan dan sulit makan.
Kini Fira berjalan di ruang tengah, dilihatnya tiga anaknya sedang belajar bersama seorang wanita muda yang merupakan guru bimbel mata pelajaran lain. Selain Lucky, Fira juga menyiapkan beberapa guru bimbel mata pelajaran lain supaya Zayn, Zema dan Alira tidak tertinggal pelajaran. Fira belum menemukan sekolah yang cocok untuk tiga anaknya, jadi ia memilih homeschooling untuk Zayn, Zema dan Alira.
Merasa dilihat oleh sang Mama, Zayn, Zema dan Alira menyapa ramah kepada Fira. Begitu juga dengan guru bimbel itu. Raut wajah tiga anak itu tampak ceria, seolah mereka menjadi semangat untuk belajar. Fira pun membalas ramah kepada mereka dengan senyuman, kemudian ia meneruskan perjalanan menuju ke pintu utama rumah.
***
Sebelum Fira membuka pintu, ia terlebih dahulu memakai kacamata bening dan melihat seorang yang datang ke rumahnya itu dari lubang kaca kecil yang tersemat di pintu. Fira seketika terkejut melihat kehadiran Rafi di halaman rumah. Bisa-bisanya Rafi tahu tempat tinggalnya itu.
Tiba-tiba Fira mempunyai inisiatif untuk menyelidiki Rafi. Jemari Fira berselancar di aplikasi rekaman suara, supaya dapat merekam percakapannya dengan Rafi. Sebisa mungkin wanita berjilbab segitiga hitam itu bersikap tenang dan biasa saja, agar Rafi tidak menaruh curiga kepada Fira. Fira lantas meletakkan gawai di dalam saku celana kulot. Sejenak ia menarik napas kemudian mengembuskannya.
"Bismillah, aku harus tetap biasa saja menghadapi Rafi. Aku merekam suaraku dan Rafi untuk bukti. Pokoknya jangan terbawa emosi, Fir!" Fira menegaskan dirinya sendiri.
Fira keluar dari rumah, ternyata kehadiran Fira membuat Rafi semringah. Fira juga tersenyum kepada seorang pria yang pernah jadi sahabat kecilnya itu. Fira pelan-pelan turun dari tangga halaman rumah. Dua sahabat kecil itu saling bertatap muka. Fira melihat Rafi dengan sinis, jika dilihat dari sorotan mata Rafi seperti tidak ada masalah dan beban yang terjadi. Justru pria kemeja hitam itu merasa gembira berhadapan dengan Fira.
"Apa kabarmu?" tanya Rafi.
Fira justru menjawab, "datang di rumah orang itu mendahulukan salam."
"Assalamu'alaikum, Fira," ucap Rafi.
"Wa'alaikumsalam, dari mana kamu tahu rumahku di sini?" kata Fira dengan ketus.
"Aku sudah tahu semenjak kamu tinggal di Toronto, apa sih yang enggak tahu tentang sahabat kecilku ini?" kilah Rafi.
Fira lantas melengos dan bergumam, "dih, menggelikan sekali."
"Aku ke sini turut sedih atas tiadanya Henry, pasti kamu terpukul dengan kejadian ini."
"Aku justru semangat karena aku yakin Henry masih hidup," tegas Fira.
"Ya, jika menurutmu begitu." Rafi lantas menarik napas dalam-dalam.
"Memang menurutmu bagaimana?"
"Enggak ada apa-apa, aku mencoba untuk di sampingmu saat kondisi seperti ini."
Fira menyilang dua tangan, ia justru asyik melihat daun-daun gugur dari dahannya, ditambah semilir angin yang membawa daun-daun itu melayang. Wanita itu mengingat kembali jika dirinya bersama Henry akan menikmati musim gugur sembari berbulan madu. Namun bulan madu yang indah keduanya jadi tertunda ketika Henry menghilang.
"Daun-daun berguguran itu seperti rinduku padamu, Henry. Tidak terhitung rinduku karena begitu banyak. Aku cinta kamu, Henry Lee," batin Fira.
Merasa tidak digubris oleh Fira, Rafi mengembuskan napas sambil bersabar menghadapi sikap dingin Fira. Pria itu mengelus dada dan memikirkan supaya bisa mencairkan suasana di antara dirinya dan Fira.
"Aku masih mencintaimu," ungkap Rafi.
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila mengatakan seperti itu?" cibir Fira. Ia lantas menatap tajam kepada Rafi.
"Kenyataannya seperti itu," kata Rafi.
"Hahaha, sepertinya kamu butuh ke rumah sakit jiwa," ejek Fira.
"Apa maksudmu?"
"Iya, karena ungkapanmu itu di luar batas, kamu sadar aku ini sudah memiliki suami."
"Aku enggak peduli!"
"Raf, jangan berharap apapun dariku. Usiamu sudah tiga puluh tahun, semakin tua. Lihat berewok dan kumis yang tumbuh di dagu dan bawah hidungmu, sudah enggak sepantasnya memandang masa lalu. Bukalah lembaran barumu bersama gadis lain. Aku dan kamu punya kehidupan sendiri-sendiri."
"Aku sudah mencoba mencintai gadis lain tapi tidak bisa!" elak Rafi.
"Bisa! Kalau kamu ada kemauan mencintai gadis lain dan membuang aku dari hatimu itu!" tegas Fira. Dua mata Fira memelototi Rafi hingga pria di hadapannya tertegun.
"Tapi, kamu ..."
"Cinta pandangan pertama, begitu? Hahaha, istighfar, Raf. Itu bukan cinta pandangan pertama tapi kamu telah dikuasai cinta buta, nauzubillahi min dzalik."
"Aku enggak bisa melihat Fira yang dulu ramah dan ceria."
"Memang untukmu, aku tidak ada kata ramah dan ceria. Karena aku ingin kamu pergi dari hidupku dan Henry."
***
Rafi hampir saja tersulut emosi menghadapi sikap Fira. Jika bukan karena cinta kepada Fira, mungkin Rafi bisa memaki Fira. Pria berdarah campuran Indonesia dan Filipina ini tertunduk lesu. Ia merasa kehabisan kata untuk bercakap dengan Fira. Antara Rafi dan Fira pun tidak bersahabat seperti dulu. Bisa dibilang ada amarah yang terpendam dalam diri Fira terhadap Rafi.
"Lena mencintaimu, Raf. Belajarlah mencintai gadis itu. Dia gadis yang tulus dan cantik. Jangan sampai kamu menyesal ketika kehilangan cinta Lena. Mana ada gadis yang bersedia membantu distro milik seorang pria berumur sepertimu, kalau bukan karena cinta," jelas Fira.
"Aku mencoba mencintai Lena tapi tetap saja ..." Belum sempat Rafi selesai bicara, Fira menyela pembicaraan tersebut.
"Aku yakin kamu bisa, langka loh ada gadis yang mencintaimu tulus seperti Magdalena Zaskia. Dia sudah cantik, pandai kuliah dan bisnis, senantiasa berhijab dan insyaallah sholihah."
"Apa kamu enggak apa-apa?" tanya Rafi.
"Oh, tentu enggak apa-apa, aku justru mendukungmu dengan Lena," jawab Fira.
"Sekarang kamu kembali sendiri, Henry telah tiada, aku ingin menemanimu."
"Aku enggak merasa sendiri, ada Allah, keluarga dan para kerabatku. Dan satu lagi, Henry masih hidup."
"Kamu yakin Henry masih hidup? Hahaha."
"Kenapa kalau Henry masih hidup? Apa kamu yang merencanakan siasat ini?" Pertanyaan Fira cukup menohok, membuat Rafi gelagapan.
"Jangan asal nuduh kamu, ya. Sia-sia saja aku datang ke mari!" gertak Rafi.
Fira lantas ketus. "Siapa yang suruh kamu datang ke sini?"
Rafi mengentakkan kaki kemudian pergi dari sana. Jika dilihat dari gerak-gerik Rafi, Fira semakin curiga kepada Rafi, seperti ada yang disembunyikan oleh sahabat kecilnya itu. Di kejauhan, Rafi membanting pintu mobil, ia menancapkan gas mobil dengan kecepatan tinggi.
Fira melihat tidak ada bayang Rafi, ia tersenyum sinis karena berhasil merekam percakapan antara dirinya dengan Rafi. Fira mengambil gawai dari saku celana kulot, ia matikan rekaman itu, kemudian menyimpannya.
Fira mendesis, "jangan main-main dengan Fira, karena jika jiwa kepo Fira menggebu-gebu, sampai akar-akar pun akan menemukan kebenaran. Aku jadi ketagihan kepo sama Rafi, supaya Rafi mau mengakui kalau dirinya adalah dalang konflik ini. Adik bayi di rahim Mama, bantu Mamamu ini menjadi detektif juga."
***
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat hari Senin, teman-teman, semoga hari ini kalian dipenuhi dengan energi cinta dan positif.
Alhamdulillah, Energy Of Love 2 hari ini update lagi. Jangan lupa dukung karya author dengan like, vote, rate (bintang 5), komentar dan rekomendasikan novel ini melalui dari mulut ke mulut atau seluruh sosial media kalian. Yuk dukung terus Energy Of Love season 1 dan 2, yang insyaallah season 2 ini akan segera tamat. Terima kasih. Saranghaeyo.
__ADS_1