Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Penasaran Denganmu


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Fira seraya membuka pintu rumah.


Wanita anak tiga ini tampak letih setelah berpergian di siang hari. Dilepaskannya kacamata dan masker, sehingga terbentuk beberapa belang di wajahnya. Kebetulan Ratih ada di ruang tamu. Melihat kedatangan putri sulungnya, Ratih lantas menghampiri Fira.


"Wa'alaikumsalam," ucap Ratih, "kata Bapak kamu habis dari rumah sakit. Yang sakit siapa?"


"Iya, Fira memang dari sana. Fira ke sana buat ..."


"Fira, kamu sudah pulang, ya. Tari sempat menghubungiku, katanya kamu ke rumah sakit buat menyusulku," sela Henry.


Ratih tercengang. "Astagfirullah, Henry sedang sakit?"


"Enggak, kok, Bu. Tadinya Henry mau ke sana, tapi enggak jadi. Jadinya Henry jemput anak-anak ke sekolah, kemudian Henry berkunjung di toko bunga," jelas Henry.


"Kenapa Henry enggak jadi di rumah sakit? Apa karena dokter itu berhalangan hadir? Atau karena Tari sudah kasih tahu ke Henry soal aku ke sana, jadi Henry enggak jadi ke rumah sakit. Aku jadi penasaran denganmu, Henry," batin Fira.


"Kamu sudah makan siang belum, Fir?" tanya Ratih.


"Belum, Bu, tadi Fira cuma minum es teh aja di warung," jawab Fira.


"Ya, sudah, sana makan dulu di dapur. Anak-anak juga lagi makan siang."


"Henry juga belum makan siang, Bu," ucap Henry.


Ratih mengajak putri dan menantunya. "Kita makan siang bareng, yuk."


"Fira ke kamar dulu, Bu. Fira mau cuci muka."


Fira melewati Henry begitu saja. Mimik wajah ayu seakan kecewa dengan sang suami yang tidak kunjung terbuka. Henry menatap Fira dengan heran. Tidak biasanya Fira seperti itu. Pria itu mengikuti istrinya dari belakang.


Henry bersabar menunggu Fira yang sedang cuci muka di dalam kamar mandi. Pria berkaos abu-abu itu duduk di sisi kasur. Tangan kanannya menggenggam buket bunga mawar merah. Namun pikirannya bertanya-tanya soal sikap dingin Fira.


Tidak butuh waktu lama, Fira keluar dari kamar mandi. Kepalanya hanya berbalut dalaman hijab hingga menutupi leher. Diusapnya wajah kuning langsat itu dengan handuk kecil nan lembut. Fira lantas melihat Henry yang semringah itu.


Henry berdiri seraya memberi buket bunga mawar untuk sang istri. "Pas aku jemput anak-anak ke sekolah, sempat melewati toko bunga, jadi ingat kamu dan mampir ke sana. Ini bunga untuk istri tercinta."


"Henry masih saja enggak jujur sama aku. Henry kasih bunga ke aku ini, apa cuma buat mengalihkan soal ke rumah sakit itu? Ya Allah, ampunilah hamba, bukan bermaksud suudzon sama suami. Hanya saja hamba ingin Henry jujur dan terbuka dengan hamba tentang psikologisnya," batin Fira seraya menerima buket bunga dari Henry. Tatapan mata Fira itu seolah sedang mencari informasi dari tatapan Henry.


"Fir, kok melamun? Mikirin kata Tari yang aku ke rumah sakit itu, ya?" ucap Henry. Fira seketika terkesiap. Buyar sudah lamunan Fira.


"Aku cuma khawatir kalau kamu sakit. Kamu tahu, kalau aku ingat tentang rumah sakit bahkan suami, aku reflek ingat Mas Kirsandi dulu. Aku takut jika itu terjadi kedua kalinya. Astaghfirullah, sebenarnya enggak mau mikir buruk sih. Aku ini terlalu khawatiran."


"Aku enggak sakit, sayang." Ucapan Henry itu lembut seraya menggenggam kedua pundak Fira.

__ADS_1


"Padahal ucapanku barusan sengaja mancing Henry. Tapi, Henry masih saja bilang enggak sakit. Minimal bilang apa gitu? Seperti bilang, aku sedang tidak baik-baik saja, Fira," batin Fira lagi.


"Doakan suamimu ini supaya sehat selalu, ya. Kamu jangan pikir yang aneh-aneh, nanti jadi stress lagi."


"Iya, insyaallah."


"Sekarang kita makan siang. Terus, kemas-kemas barang karena kita bakal pulang ke rumah sendiri. Apalagi besok Lefia dan Irwan sudah balik ke Semarang."


Fira mengangguk-angguk, lantas kesekian kalinya membatin lagi. "Udah, ah, kayaknya belum tepat aja waktunya untuk ngomong soal ini. Aku enggak mau debat panjang sama Henry. Husnudzon aja, Henry mungkin butuh waktu untuk terbuka denganku soal traumanya. Aku harus bisa sabar dan husnudzon sama suamiku."


"Ayo, kita makan siang. Omong-omong, kamu salat Dzuhur belum?"


"Oh, iya, aku belum salat Dzuhur. Aku salat dulu kali, ya, hehehe. Hmm, by the way, terima kasih bunganya."


"Iya, sama-sama. Ya, sudah, kamu salat Dzuhur dulu gih."


Fira menaruh buket bunga itu di atas nakas. Wanita ini terus melihat Henry hingga suaminya itu keluar dari kamar. Jika dilihat dari raganya, Henry tampak baik-baik dan sehat saja. Namun, entah kenapa insting Fira ini berkata lain? Seolah dari dalam jiwa Henry sedang goyah. Fira berusaha menepis insting yang tidak nyaman itu dengan lisannya selalu berdzikir kepada Allah.


***


Indahnya langit senja di sore hari, dihiasi dengan sinar matahari yang perlahan mulai tenggelam. Dari langit tersebut, segerombolan burung-burung terbang untuk pulang ke sarangnya. Dilengkapi dengan embusan angin, membuat suasana menjadi hening.


Henry, Fira dan tiga anaknya tiba di rumah barunya. Rumah mewah, luas dan panjang itu berbeda dari rumah lainnya. Keluarga ini kembali menjalani kehidupan layaknya keluarga pada umumnya. Walaupun dari raut tiga anak itu tampak murung seperti keberatan meninggalkan rumah nenek dan kakeknya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, kita kembali ke rumah lagi," ucap Henry.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap Fira.


"Kok anak-anak Papa pada diam semua?" tanya Henry sembari mengernyit dahi melihat raut wajah tiga anaknya.


"Kangen Nenek, Kakek, Oma, Opa dan Tante-tante," jawab Zema sebagai perwakilan perasaan kakak dan adiknya itu.


"Katanya kangen Papa dan Mama. Kok sekarang jadi kebalikannya?"


Zayn, Zema dan Alira bungkam. Tiga bocah itu tidak mampu menjawab. Fira kebingungan dengan sikap tiga buah hatinya yang tidak seperti biasanya. Meskipun Fira dan Henry sudah masuk ke dalam rumah, tapi tiga anak itu masih berdiri di ambang pintu.


"Maafkan, Papa dan Mama kalau terlalu sibuk memikirkan pekerjaan. Ya, sudah, kalau gitu Papa sekarang memprioritaskan Mama dan anak-anak, ya," ucap Henry.


"Kadang Zayn mikir, punya Papa sama enggak punya Papa rasanya sama saja. Zayn mau istirahat dulu," ucap Zayn lantas menyelonong di depan Fira dan Henry. Langkahnya cepat menuju ke kamarnya.


"Zayn, gimana kalau kita ..." Henry hendak menyusul Zayn, tapi dicegah oleh Fira.


"Biarkan Zayn tenang dulu. Soalnya kalau suasana hati Zayn lagi kayak gitu, enggak bisa diganggu. Kalau diganggu pasti Zayn emosi. Zayn itu sifatnya kayak Mas Kirsandi. Jadi, biarkan Zayn tenang dulu. Kalau suasananya sudah tenang, Zayn bisa diajak ngobrol kok," jelas Fira.

__ADS_1


"Sepertinya aku terus belajar bersabar dan memahami karakter tiap anak."


Sejenak Fira memijat dua pundak Henry supaya suaminya itu juga tenang dan sabar. Kemudian Fira dan Henry menuntun Zema dan Alira menuju ke kamar masing-masing. Tidak lupa juga menggeret lima koper bawaan mereka.


Adzan Magrib berkumandang di masjid komplek perumahan hingga terdengar di rumah Henry dan Fira. Henry sudah bersiap diri di ruang tamu. Pria berdarah campuran Korea Selatan dan Indonesia ini merapikan baju koko muslim berwarna abu-abu, sarung hingga peci. Lengkap dengan aroma parfum kasturi dikhususkan untuk pria.


Mata sipitnya menoleh ke arah kamar Zayn. Putranya yang berusia sepuluh tahun itu berdiri di depan pintu kamar. Dari wajah yang lesu itu, tampaknya Zayn ingin ikut Henry ke masjid untuk salat berjamaah. Henry pun peka terhadap raut wajah putranya.


"Zayn mau salat Magrib sama Papa di masjid?" tanya Henry secara hati-hati.


Zayn lantas menundukkan kepala seraya mengangguk. "Iya, Pa."


"Zayn siap-siap yuk. Nanti setelah salat Magrib, insyaallah, Papa ajarkan Zayn mengaji. Gimana?"


Wajah bocah tampan itu sontak semringah. "Beneran, ya, Pa? Oke, Zayn ganti baju koko dan sarung dulu, Pa."


"Papa tunggu di sini, ya."


Henry tersenyum karena merasa lega, suasana hati anak laki-lakinya itu sudah berdamai dengannya. Ketika Henry sedang menunggu Zayn, keluarlah Zema dari kamarnya. Anak laki-laki berusia enam tahun ini berjalan kepayahan tapi imut karena sedang memakai sarung. Zema menggurutu sendiri karena sarungnya selalu longgar. Henry gemas dan tertawa kecil melihat Zema, sang papa lantas menghampiri putra keduanya.


"Zema mau salat Magrib, ya? Sini, Papa bantu pakaikan sarung," ucap Henry.


"Zema boleh salat Magrib sama Papa di masjid, enggak? Kata Mama itu kalau laki-laki salatnya di masjid," ucap Zema.


"Boleh, sayangnya Papa. Justru Papa senang karena sekarang, Papa ditemani dua jagoan Papa ke masjid."


"Zema juga senang karena sekarang---solatnya sama superhero kayak Papa, hehehe."


"Masyaallah, tabarakallah, Nak." Henry mengusap kepala Zema seraya mendoakan kebaikkan untuk anaknya ini.


"Ayo, Pa, kita berangkat ke masjid," ajak Zayn.


"Ayo, dua anak sholihnya Papa," ajak Henry.


"Papa, maafin Zayn, ya, Zayn sempat ngambek tadi," ungkap Zayn. Bocah sepuluh tahun itu lantas bersalaman dengan Henry penuh santun dan hormat.


"Papa maafin. Papa juga minta maaf kalau Papa kurang perhatian sama kalian," ungkap Henry. Pria ini mengusap kepala Zayn seraya bergumam mendoakan kebaikkan untuk putranya.


"Papa terus kayak gini, ya. Soalnya Zema senang sekali diajak salat ke masjid sama Papa. Biar orang-orang tahu kalau Zema udah punya Papa ganteng, hehehe."


Henry tertawa kecil mendengar ucapan Zema. "Masyaallah, Zema ini bisaan, ya, muji Papa. Insyaallah, Nak. Papa juga senang punya anak sholih seperti Zayn dan Zema."


Betapa sejuknya mata melihat pemandangan terindah, yakni antara papa dan dua anak laki-lakinya hendak salat berjamaah di masjid. Henry menutup pintu rumah, kemudian merangkul pundak Zayn dan Zema seraya berjalan menuju ke masjid. Zayn dan Zema berjalan riang gembira bersama sang papa. Dua anak ini merasa percaya diri karena ada figur seorang ayah, pelengkap hidup mereka.

__ADS_1


"Aku bisa saja memberikan fasilitas duniawi kepada anak-anak. Namun sebenarnya yang terpenting adalah memberikan bekal agama dan akhirat kepada anak-anak. Sepertinya yang diinginkan Zayn dan Zema hanyalah ini. Ketika bersamaku di jalan Allah, seperti salat berjamaah dan mengaji." Henry membatin sembari melihat satu per satu kedua putranya.


__ADS_2