
Dua hari setelah wafatnya Sabrina. Fira dan Henry kembali fokus pada persiapan pernikahan keduanya. Tepat hari ini Fira berkunjung di kantor milik Henry. Sebelum itu, ia menghentikan mobil di tempat parkir khusus mobil. Di situ Fira ditemani Lefia. Dua wanita ini tampak kompak mengenakan gamis cokelat muda dengan hijab segitiga motif dedauan kecokelatan.
Fira dan Lefia berdiri di depan gedung bertingkat putih menjulang tinggi. Fira mendongak sembari membuka kacamata bening. Melihat plang Excellent Entertainment. Ia masih tidak menyangka jika Henry itu orang sukses. Sampai saat ini Fira menganggap calon suaminya itu pria sederhana dan hobi bermain bola.
"Kalau aku menikah dengan Henry yang notabenenya pengusaha sukses begini---pasti bakal sering ditinggal kesibukannya," batin Fira.
"Bu, jenengan kok ngelamun?" tanya Lefia mengejutkan Fira.
Fira menjawab, "eh, ya, udah, kita langsung masuk ke kantor."
Ketika Fira dan Lefia hendak berjalan masuk ke dalam perusahaan, pandangan Lefia sontak terkejut melihat sosok pria sawo matang yang telah lama dikenalnya. Pria itu berjalan di depan Lefia. Mendadak Lefia menggenggam tangan Fira, membuat Fira menghentikan langkahnya.
"Sebentar, Bu!" sergah Lefia.
"Ada apa, sih, Lef?" tanya Fira.
"Mas Irwan!" pekik Lefia.
"Lefia, jangan memekik di kantor!" tegur Fira.
Pria berseragam sopir yang dipanggil oleh Lefia itu lantas membalikkan badan. Wajah Lefia dan pria itu tampak semringah. Seakan keduanya baru pertama kali berjumpa. Sementara Fira mengernyit heran. Fira jadi bertanya-tanya, sejak kapan Lefia punya teman laki-laki tanpa sepengetahuannya?
"Loh, Dik Lefia, ada di sini, to?" Pria bernama Irwan itu menghampiri Lefia.
"Mas Irwan juga bisa di sini juga?" tanya Lefia.
"Mas kan kerja di sini, to, jadi sopirnya Pak Henry. Kan Mas sudah bilang sama kamu, kalau Mas kerja jadi sopir pribadi," jawab Irwan.
"Lah, aku kira sopir di mana? Oalah, baru tahu aku, Mas. Kok jenengan baru kelihatan gitu, Mas."
"Iya, kamu tahu sendirilah aku seminggu ini sakit. Lah, kamu ngapain di sini, Dik Lefia?"
"Aku kan asistennya Bu Fira. Ini Bu Bosku sekaligus calon istrinya Pak Henry." Lefia memperkenalkan Fira dengan Irwan.
"Oh, ini calonnya Pak Henry. Salam hormat dari saya, Bu." Irwan mengatup kedua tangan sembari sesekali mengangguk.
Fira juga mengatup tangan dengan sikap ramahnya. "Salam."
"Kalau Bu Fira ingin bertemu dengan Pak Henry, ada kok---di ruangannya lantai enam. Mari saya antar ke ruangan Pak Henry."
"Baik."
Irwan, Fira dan Lefia memasuki lift untuk membawa mereka ke lantai enam. Irwan menekan tombol lift menuju lantai enam. Fira masih merasa jika ini mimpi. Baru pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kantor sebesar ini. Apalagi ia tahu kantor ini milik Henry.
"Oh, iya, kalian bisa kenal gitu, dari mana?" tanya Fira kepada Lefia dan Irwan.
"Oh, kami kenalnya di Facebook, Bu, hehehe," jawab Lefia cengengesan.
__ADS_1
"Sebenarnya kami sudah kenal lama, sekitar setengah tahun gitu, ya, Dik Lefia. Eh, alhamdulilah hari ini bisa ketemu Dik Lefia. Ternyata dunia ini sempit," ucap Irwan.
"Terus, kalian enggak ada rencana ke jenjang berikutnya, gitu?" ucap Fira.
"Waduh, jadi sungkan saya sama Bu Fira," ucap Irwan.
"Ya, enggak apa-apa kali. Kalian udah kenal setengah tahun, kalau sekiranya kalian sudah mantap untuk menikah. Saya izinkan Lefia menikah dengan Mas Irwan ini," timpal Fira.
"Ya Allah, Bu Fira. Jangan bikin saya salah tingkah," ucap Lefia tersipu-sipu.
"Enggak apa-apa, Lef. Kalau kalian sama-sama serius, nanti saya musyawarahkan ke Henry, gimana?" usul Fira.
Irwan menggaruk tengkuk. "Ya, gimana baiknya aja, Bu."
"Kalian udah pada istikharah? Keluarga kalian udah pada tahu, belum?" tanya Fira.
"Alhamdulillah, kami sebenarnya sudah menjalani istikharah. Keluarga juga insyaallah sudah dikabari. Cuma saya masih sungkan bilang ke Pak Henry," jawab Irwan.
"Terus, jawaban istikharah kalian, gimana?" tanya Fira lagi.
"Alhamdulillah, saya memang sudah mantap sama Mas Irwan, Bu. Ucapan Mas Irwan sama kayak saya, sungkan bilang ke Bu Fira," jawab Lefia.
"Ya Allah, enggak apa-apa. Kalau saya tahu, saya pasti dukung kalian kok. Daripada lama kenal, enggak baik nantinya. Kalau sudah sama-sama mantap di hati, ya, lanjut ke pernikahan saja," tutur Fira.
Lefia dan Irwan saling menatap sambil tersenyum malu. Mereka antara terharu dan senang karena mendapat dukungan dari Fira soal kedekatan mereka. Begitu juga Fira tampak bahagia melihat asisten pribadinya selama ini sudah menemukan pilihan yang tepat.
***
Irwan, Lefia dan Fira tiba di depan ruangan Henry. Irwan terlebih dahulu masuk ke ruangan Henry. Sementara Fira dan Lefia menunggu di luar ruangan. Fira menunduk seraya mengusap-usap lengan kirinya dengan tangan kanan. Seluruh mata karyawan masih memandangi Fira sambil berbisik-bisik membicarakannya.
Irwan keluar dari ruangan Henry sembari berkata, "Bu Fira, silakan masuk saja. Pak Henry sudah menunggu."
"Emm, iya," ucap Fira.
"Saya dan Dik Lefia menunggu di kantin kantor, ya, Bu," ucap Irwan.
"Oke, silakan."
Fira canggung masuk ke ruangan Henry dengan kaki gemetaran. Dibukanya pintu yang sedikit terbuka itu. Fira mengedarkan pandang. Di sana Henry tidak sendiri. Henry sedang duduk di sofa berlawanan arah dengan dua tamunya. Dua tamu itu seorang pria separuh baya dan seorang gadis muda berambut cokelat terurai. Henry tampak akrab berbincang dengan tamunya itu.
Fira terpaku melihat perbincangan itu di depan mata. Apalagi jika Fira melihat gadis muda itu, pandangannya tak lepas dari wajah Henry. Hati Fira mulai timbul rasa cemburu. Fira semakin tidak percaya diri tatkala melihat gadis muda itu lebih cantik darinya. Fira bingung, ingin pergi dari sini, tapi bercampur rasa tidak enak pada Henry.
"Fira, sini!" sapa Henry.
Fira mengangguk. Kakinya terasa berat untuk menghampiri Henry. Pria dengan tinggi 180 sentimeter itu mendekati calon istrinya. Netra Fira juga berat untuk menoleh Henry. Pandangannya justru tertuju pada kaca jendela ruangan.
"Perkenalkan, ini calon istri saya, namanya Maghfira Annisa," ucap Henry seraya memperkenalkan Fira dengan kedua tamunya. "Fir, ini Mister Jordan dan putrinya Miss Anna Lichia."
__ADS_1
Fira menoleh ke dua tamu tersebut. Gadis berpakaian dress selutut itu berdiri di hadapan Fira. Ia mengulurkan tangan ke Fira. Perlahan Fira mengulurkan tangan. Fira dan gadis ini saling berjabat tangan, kemudian lekas melepaskan jabat tangan itu.
"Salam kenal dari saya, Fira," ucap Fira datar.
"Saya Anna Lichia. Salam kenal juga. Saya tidak menyangka jika Henry akan segera menikah. Saya kira Henry masih lajang. Betapa beruntungnya kamu akan menjadi istri Henry," ucap Anna.
"Hmm." Fira perlahan mengangguk.
"Mister Jordan ini adalah pemilik perusahaan advertising di Toronto, Kanada. Anna ini teman satu Universitas Harvard. Perusahaan mereka mengalami kerugian besar. Akhirnya, mereka menjual perusahaannya kepadaku," jelas Henry.
Fira hanya diam. Henry langsung tanggap terhadap sikap Fira mendadak jadi dingin. Sejenak Henry menghela napas. Henry baru ingat jika hari ini ada agenda pertemuan dengan tim persiapan pernikahannya dengan Fira.
"Ehem, Mister Jordan dan Anna sepertinya hari ini cukup di sini. Soalnya saya dan calon istri saya ini ingin mempersiapkan pernikahan kami," ujar Henry.
"Oke, no promblem, Henry. I understand your situation. Dan semoga pernikahan kalian berjalan lancar," ujar pria paruh baya bertubuh gempal itu. (Oke, tidak masalah, Henry. Saya paham situasi Anda.)
"Aamiin." Henry membungkuk penuh hormat.
Jordan dan Anna berpamitan hendak pulang. Tidak lupa, Anna menyapa ramah Fira sebelum ia pergi. Fira membalas keramahan Anna. Namun saat Anna berpamitan dengan Henry, justru Anna melambaikan tangan kepada Henry. Membuat Fira semakin cemburu melihatnya, walaupun Henry tidak menghiraukan Anna.
***
Sedari ruangan Henry hingga tiba di lantai dasar, wajah Fira memerah bak kepiting rebus. Henry memperhatikan pujaan hatinya seakan sedang tidak baik-baik saja. Henry mencoba menelaah datarnya Fira. Henry bagaikan berjalan bersama patung yang bisa hidup.
Setiap Henry bertemu dengan karyawan perusahaan, antara petinggi perusahaan dengan karyawan saling ramah tamah. Namun Fira lagi-lagi bungkam, kalaupun ada yang menyapanya, sudut bibirnya tersenyum simpul.
"Ada apa denganmu?" sergah Henry. Ia lantas berdiri di hadapan Fira.
"Enggak ada apa-apa," jawab Fira datar.
"Kamu cemburu karena tadi ada Anna?"
Fira perlahan menggeleng kepala. "Biasa aja."
"Enggak jujur sama aku? Aku teriak kita segera menikah, nih!"
"Idih, apaan sih? Udahlah, enggak usah diperpanjang, sekarang ke wedding organizer aja!"
Henry melangkah hampir mendekati Fira. Sejengkal Fira mundur supaya membuat jarak dari Henry. Pipi Fira seketika ranum karena salah tingkah. Padahal mereka sedang berada di teras kantor. Lalu-lalang orang melihat perdebatan antara Henry dan Fira.
"I know you are jealous. Be honest to me," lirih Henry seraya menyeringai. (Aku tahu kamu cemburu. Jujurlah padaku.)
"Pak Henry, ayo segera ke wedding organizer!" teriak Irwan dari kejauhan. Ia bersama Lefia sudah menunggu di tempat parkir.
Fira lantas menoleh ke Irwan dan Lefia. "Pas banget! Ayo aja, saya bersama Lefia. Henry bersama Mas Irwan, ya."
Fira bergegas ke tempat parkir. Fira tidak lupa mengenakan kacamata. Henry ada keinginan meraih tangan Fira kemudian menggenggamnya. Namun tangan Henry seakan mengurungkan niatnya untuk meraih tangan Fira. Henry sadar untuk saat ini ia dan Fira belum resmi menjadi suami-istri. Belum halal baginya untuk bersentuhan dengan Fira.
__ADS_1
Henry menghela napas. Kedua tangannya dikantongi dalam saku celana. Ia berjalan mengikuti Fira dari belakang. Pria bermata sipit ini tertawa kecil melihat kekasih hatinya itu cemburu. Henry kian percaya dengan cinta di dalam hati Fira untuknya.
"Andai aku dan kamu sudah menikah. Jika kamu cemburu seperti tadi. Aku ingin mencubit pipimu dengan gemas. Fira, kamu terlihat manis sekali saat cemburu." Henry membatin seraya fokus memandangi Fira yang sedang masuk ke dalam mobil.