Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Getaran Hati


__ADS_3

Keesokan harinya ...


"Jangan kurang itu ngisi kopi bubuknya," ucap Bryan.


"Baik, Mas Bry," ucap seorang karyawan yang tengah menuang bubuk kopi di dalam kemasan.


Rutinitas Bryan mengawasi kinerja para karyawan di kedai produksi kopi miliknya. Setiap harinya Bryan tidak mengenal lelah dalam mengembangkan usahanya. Bolak-balik dari Semarang ke Temanggung sudah biasa baginya.


Tempatnya di pedesaan dengan pemandangan yang indah. Yakni di Temanggung, Jawa Tengah. Kedai bernuansa serba kopi nan retro itu setiap harinya dikunjungi orang. Di belakang kedai tersebut juga terhampar kebun kopi. Pengunjung bukan sekadar membeli produk kopi, tapi juga bisa menikmati pemandangan kebun kopi.


"Di teliti lagi, ya, pengirimannya ke mana? Nanti kayak kemarin lagi, pakai salah alamat segala!" tegur pria berusia dua puluh enam tahun ini.


"Oke, Bos Bry," ucap seorang karyawan lainnya. Orang itu ditugaskan untuk mengecek pengiriman produksi kopi.


"Oh, iya, Sri, sepertinya kemarin dapat laporan toko oleh-oleh Regal mau order banyak," ucap Bryan kepada seorang karyawatinya.


"Sudah disiapkan, Mas Bry. Toko Oleh-oleh Regal order empat kardus. Ini mau dikirim langsung," ucap seorang karyawati.


"Oke, saya mau ke ruang depan dulu."


Pria berparas imut, maksudnya meski usianya sudah dua puluh enam tahun, masih terlihat seperti anak SMA. Dengan kemeja biru tua yang ia kenakan, berjalan menuju ruang depan, dimana para pengunjung membeli setiap produk kopinya. Pengunjung bukan hanya dari orang setempat. Bahkan dari turis-turis mancanegara.


Kedai ini selain apik, juga beraroma khas kopi ditambah sejuknya AC. Siapapun pasti betah belanja di sini. Bryan merasa bangga dengan usahanya walau masih merintis ini. Tidak sia-sia ia kuliah bisnis di Singapura dulu. Ia juga pandai menyisihkan uang untuk membangun usahanya sendiri. Meski sebagian ada yang dibantu oleh kakaknya. Fira.


"Eh, itu, kasir B tolong diisi dong! Pengunjung mulai banyak, nih!" perintah Bryan kepada seorang gadis yang bekerja sebagai kasir.


"Baik, Mas Bry. Beberapa menit lagi Mbak Yuni datang," ucap gadis berjilbab langsungan itu.


Seluruh karyawati di sini diwajibkan untuk berseragam gamis, lengkap dengan jilbab langsungan. Sedangkan seluruh karyawan pria memakai seragam batik dengan celana formal. Seragam kerja di sini otomatis sudah di fasilitas oleh Bryan.


Bryan berdiri tegap di tengah kerumunan pengunjung sembari melihat plang Bryan Coffee Shop di dinding. "Aku sudah mulai sukses. Usaiku semakin matang. Namun jodoh belum kunjung datang. Kadang kalau mulai sukses gini, suka bingung sama rezeki sendiri. Dikasih Bapak-Ibu itu wajib dan rutin. Dikasih Zayn dan Zema juga udah. Kurangnya ngasih nafkah untuk istri, hehehe."


Ketika Bryan mengalihkan pandang ke pintu kedai. Seorang gadis berambut cokelat terurai itu masuk ke kedai. Dengan balutan blazer ungu muda dan celana hitam panjang menampilkan keanggunannya. Senyum simpul itu berhasil membuat mata Bryan tidak berkedip.


Gadis itu mendekat. Membenarkan posisi tali tasnya. Bryan menarik napas dalam-dalam. Pertama kalinya gugup memandangi gadis dihadapannya. Gadis bule ini pernah berkunjung di perusahaan milik Henry. Tak lain adalah Anna Lichia.


"Excuse me, are you the owner of this coffee shop?" tanya Anna.


"E-emm, ye-yeah, I'm the owner," jawab Bryan tergugu-gugu.


"Nice to meet you. Saya tahu Coffee Shop milik Anda dari sponsor di Instagram. Oh, my name is Anna Lichia. I'm from Canada. What is your name?" Anna mengulurkan tangan ke Bryan.


Bryan lantas mengatupkan kedua tangan. "I'm sorry, saya tidak bisa bersalaman dengan Anda. Saya Bryan Muhammad."


"Why?"


"Karena dalam agama saya tidak bisa bersentuhan dengan wanita yang belum ada ikatan pernikahan. Mungkin tepatnya begitu," ucap Bryan cengengesan saking bingungnya kemudian bergumam, "kalau aku bilang bukan mahram nanti dia bingung lagi. Intinya begitu ajalah!"


"Are you muslim? Oh, oke, saya paham sekarang. Saya juga punya teman muslimah di sana."


"Ya, saya muslim. By the way, ada yang bisa saya bantu di sini?"


"Hmm, saya ingin membeli produk kopi Anda untuk dibawa pulang ke negara saya. Kalau saya tilik di akun Instagram Coffee Shop ini, ada varian rasa baru kopi, ya?"


"Oh, tentu saja ada, mari ikut saya!" ajak Bryan.


Bryan memperlihatkan Anna varian rasa kopi di setiap etalase kaca. Gadis berasal dari Kanada itu sepertinya mulai tertarik dengan varian rasa kopi. Sementara Bryan salah tingkah saat di samping Anna. Baru seperti ini ia merasakan getaran hati dan tertarik pada seorang gadis. Bryan yang dikenal cuek terhadap cinta. Apakah ia kelak akan jatuh cinta?


"Emm, kalau untuk varian rasa baru. Ini ada kopi hitam dipadukan rasa vanila, gula aren, pandan dan melati," jelas Bryan sambil mengambil empat sachet produk kopi dengan rasa yang berbeda.


"Wow, saya jadi ingin mencicipi empat rasa kopi yang berbeda ini. Sepertinya enak," ucap Anna.


"Boleh, di sini Anda bisa minum kopi gratis untuk dicicipi. Mari kita ke sana," ajak Bryan menuju ke tempat pemesanan minum kopi.


"Oke." Anna antusias mengikuti Bryan. Rasanya tidak sabar untuk mencicipi kopi yang lezat itu.


"Di sini bisa memilih kadar gula. Request beberapa persen kadar gula dan tersedia gula untuk orang diet."


"Saya request gula untuk diet saja."

__ADS_1


"Baik, silakan Anda duduk di sini."


Bryan dan Anna duduk di kursi tinggi. Bryan sigap memesan empat rasa kopi yang diminati Anna kepada seorang barista. Laki-laki yang berprofesi sebagai barista itu cekatan meracik kopi yang diinginkan Anna.


"Anda sendirian saja di sini?" tanya Bryan.


"Sebenarnya ada Papa saya. Hanya saja Papa saya sedang di hotel. Saya yang ingin berkunjung ke mari. Sepertinya menarik untuk dikunjungi," jawab Anna.


"Oh, begitu. Anda jauh sekali dari Kanada."


"Ya, karena sebenarnya saya dan Papa ada urusan bisnis bersama teman Papa di Semarang. By the way, jika saya melihat wajahmu seperti saya mengenal seseorang. Wait, saya ingat-ingat dulu," pikir Anna.


"Memangnya wajah saya pasaran, apa? Hehehe," canda Bryan.


"Ah, yeah, wajah Anda mirip dengan wajah Fira. Wanita itu adalah calon istri Henry. Saya kemarin bertemu dengannya," jelas Anna.


"Oh, Kak Fira. She is my sister," ucap Bryan.


"Waw, pantas saja mirip. Ternyata kalian saudara kandung. Fira cantik sekali," ucap Anna terkesima.


"Iya, Kakaknya saja cantik, apalagi adiknya ini ganteng pastinya," lirih Bryan.


"What do you mean?"


"Nothing, hehehe." Bryan menggaruk tengkuk sambil meringis.


Saking asyiknya berbincang. Empat cangkir kopi dengan rasa yang berbeda itu sudah tersaji dihadapan Anna. Bryan mempersilakan Anna untuk mencicipi setiap rasa kopi hangat beda rasa itu. Aroma seduhan kopi dengan rasa berbeda itu membuat indera penciuman bermekaran. Harum dan menyegarkan.


Anna minum seduhan kopi dengan rasa yang berbeda. Tampak sedang menikmati dan menyukai empat rasa kopi itu. Bryan memperhatikan Anna dengan hati yang bergetar. Apalagi jika melihat senyuman Anna. Manisnya melebihi gula yang larut dalam kopi itu.


"Emm, this is delicious! Saya suka semuanya. Bolehkah saya belanja semua produk kopi empat rasa ini?" sanjung Anna.


"Oh, tentu boleh. Saya senang jika Anda memborong produk kopi di sini. Apalagi produk kopi saya bisa dikenal di negara Anda," kata Bryan semringah.


"Pasti saya akan pesan terus produk kopi ke Anda. Rasanya memiliki ciri khas. Sulit untuk diungkapkan."


"Saya sangat berterima kasih kepada Anda."


***


Fira, tiga dokter kulit dan sepuluh karyawati salon sedang melakukan musyawarah di ruang rapat. Semua perempuan di sini berseragam gamis dan jilbab yang menutupi dada. Salon kecantikan Firannsa untuk hari ini memang ditutup. Sebagai pemilik salon kecantikan, Fira ingin menyampaikan perubahan jadwal salon kepada mereka. Ruangan ber-AC itu seketika hening, begitu seksama mendengar penjelasan Fira.


"Karena saya sebentar lagi akan menikah. Saya khawatir jarang berkunjung di salon ini, jadi saya ingin ada perubahan. Salon ini dibuka setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu saja. Jadi, hari Kamis dan Jum'at libur. Nanti Reni dan Puan sebagai admin sosial media salon ini---segera buat pengumuman perubahan di Instagram, Facebook, WhatsApp dan Twitter, oke," jelas Fira.


"Baik, Bu Fira," ucap Reni dan Puan secara bersamaan.


"Kemarin ada beberapa pelanggan bicara sama saya. Kalau bisa produk skincare dan make up Firannsa ini dipasarkan luas. Ada juga yang bilang, kalau bisa salon Firannsa buka beberapa cabang di kota lain," jelas seorang wanita yang usianya di atas Fira itu salah satu dokter kulit di salon ini.


"Insyaallah, semoga kedepannya produk Firannsa dan salon ini jangkauannya bisa diperluas. Saya juga sedang mengumpulkan modal yang cukup pastinya," ucap Fira.


"Soalnya mereka sudah cocok perawatan di sini dan memakai produk kecantikan yang halal serta teruji klinis," ungkap Putri.


"Saya senang sekali mendengar pernyataan kalian. Ini menjadi semangat saya untuk mengembangkan salon ini menjadi baik," ucap Fira tersenyum merekah. "Ya, sudah, kalau begitu rapat berakhir. Untuk hari ini kalian langsung pulang saja. Soalnya saya juga sedang sibuk mempersiapkan pernikahan."


"Semoga dilancarkan sampai hari H, ya, Bu Fira." Serentak mereka.


"Aamiin yaa rabbal alamin. Kalian pada datang, ya."


"Insyaallah, Bu Fira."


Rapat berakhir. Fira keluar dari ruangan rapat. Disusul oleh lainnya. Langkahnya bergegas menuruni tangga. Namun tatkala Fira melewati etalase kaca yang berisi produk make up miliknya. Fira menghentikan langkahnya. Dua mata berlensa hitam itu melirik ke perlengkapan make up. Pikirannya sepintas muncul ide.


"Hmm, gimana kalau nikah nanti---perlengkapan make up pakai produk sendiri?" pikir Fira, "sepertinya ide bagus. Kalau aku dan sanak famili wanita pakai make up Firannsa jadi banyak yang kenal produk ini."


Ketika Fira hendak membuka pintu salon, dering gawai berbunyi dari dalam tas. Jemarinya cekatan merogoh isi tas untuk mengambil gawai. Begitu melihat layar gawai, panggilan masuk itu dari Henry. Sebelum mengangkat telepon dari Henry, Fira keluar dari salon itu.


"Assalamu'alaikum, Hen, ada apa?" ucap Fira.


"Wa'alaikumsalam, Fira. Aku mau bilang sesuatu ke kamu," ucap Henry.

__ADS_1


"Iya, bilang apa?" tanya Fira.


"Empat hari setelah hari pernikahan kita. Sepertinya aku akan mengajakmu ke Kanada," jawab Henry.


"Memangnya ada acara apa ke sana?"


"Ada pemilihan CEO perusahaan advertising di Toronto, sekalian peresmian Excellent Advertising di sana. Pastinya aku ingin kamu mendampingiku."


"Hmm, gitu, jadi kamu itu ...?"


"Aku itu pemegang saham mayoritas perusahaan. Beberapa perusahaanku di Seoul dan Semarang dikelola oleh masing-masing CEO. Alhamdulillah, setelah Mister Jordan menjual perusahaannya kepadaku, perusahaanku jadi tambah satu di Kanada."


"Aku pikir kamu dulu mau jadi CEO. Soalnya aku dulu pernah nemu buku tentang CEO."


"Bukan, Papiku owner Excellent Company. Kemudian aku dan Kak Naomi yang meneruskan perusahaan. Dibantu sama Kim Jae Young dan Raditya Dika juga. Dua orang itu founder."


"Oh, aku baru paham sekarang. Tapi, jadi mumet juga kalau mikirin struktur kayak gitu."


"Ya, enggak usah dipikirin. Mikirin aku aja, hahaha."


Fira menahan gawainya dengan mengapit bahu dan pipi. Tangan kirinya bergegas mengambil kacamata bening di dalam tas. Kemudian dipakainya kacamata sesuai posisi benar.


"Huuu, dasar! Terus, anak-anak gimana? Ikut enggak?"


"Anak-anak enggak ikut dulu, karena ini urusan bisnis. Aku sudah pikirkan liburan untuk anak-anak."


"Hmm, iya-ya."


"Maaf, ya, kita tunda dulu bulan madu nantinya. Ya Allah, aku ini baru nikah udah ngajak istri terjun ke dunia bisnis, haha."


"Enggak apa-apa. Memang tugas istri mendampingi suaminya kan?"


"Terima kasih, Fira."


"Ya, sudah, kalau begitu aku jemput Zayn, Zema dan Alira dulu ke sekolah."


"Oke, wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Percakapan dua sejoli melalui telepon ini berakhir. Belum ada beberapa menit usai berbincang dengan Henry di telepon, tiba-tiba Lefia menghubungi Fira. Sembari berjalan menuju ke tempat parkir, Fira mengangkat telepon dari Lefia.


"Assalamu'alaikum Lefia, ada apa?" ucap Fira.


"Wa'alaikumsalam, Bu Fira, saya boleh minta izin pulang ke Bojonegoro?" ucap Lefia.


"Ada apa memangnya?"


"Nganu, Bu---sebenarnya he'eh gitu deh, Bu."


"He'eh, gimana maksudmu?" tanya Fira penasaran.


"Aduh, jadi malu, Bu. Jadi, nganu begini, Bu, saya barusan dilamar Mas Irwan. Mas Irwan serius sama saya. Katanya sudah menghubungi Bapak saya di sana. Untuk itu saya pulang ke kampung. Mas Irwan dan keluarganya juga bakal ke rumah saya di sana, hehehe," jelas Lefia.


"MasyaAllah, Lefia, selamat! Saya izinkan kamu pulang. Lebih cepat lebih baik."


"Namun saya jadi enggak enak sama Bu Fira, karena endak bisa hadir di pernikahan Bu Fira dan Pak Henry. Soalnya saya di kampung paling sebulan, Bu."


"Kamu enggak usah enggak enak sama saya. Saya justru ikut bahagia kalau kamu dan Mas Irwan ke jenjang serius. Saya segera pulang ke rumah, saya akan berikan kamu pesangon."


"Terima kasih, Bu. Insyaallah, setelah sebulan itu, saya balik kerja ke Bu Fira, begitu juga Mas Irwan balik kerja ke Pak Henry."


"Sudah santai saja. Mas Irwan sudah bicara ini ke Henry?"


"Insyaallah, sudah, Bu."


"Ya, sudah, saya sekarang jemput anak-anak ke sekolah dulu."


"Baik, Bu."

__ADS_1


Fira mengakhiri percakapannya dengan Lefia. Tubuh ramping berbalut tunik panjang itu lantas masuk ke dalam mobil. Tak lupa menaruh kembali gawai ke dalam tas. Jemarinya cekatan menyalakan gas mobil dengan kunci, kemudian mengemudi mobil sedan silver itu hingga menyusuri jalan raya.


__ADS_2