
"Fira, udah siap, belum?" Henry merapikan diri di depan cermin. Sesekali ia menyemprotkan parfum di kemejanya.
"Sebentar, aku lagi buang air kecil," sahut Fira dari dalam kamar mandi.
Dari luar jendela, mentari kian menunjukkan sinarnya. Cerahnya sinar hingga menembus ke dalam kamar hotel. Sengaja pagi itu, korden jendela di buka lebar oleh Fira. Selain menerangi kamar, juga memang bagus untuk kesegaran jasmani.
Hari ini Henry berencana untuk memeriksakan Fira ke Rumah Sakit Umum Toronto. Mengingat kondisi Fira yang lemas dan sudah lama tidak pernah datang bulan. Henry duduk di sisi kasur. Dirogohnya saku celana untuk mengambil gawai. Henry mengirim pesan kepada Raditya, karena hari ini ia tidak bisa berkunjung ke Excellent, Toronto. Pesan itu lantas terkirim tapi belum dibaca oleh Raditya.
Menunggu Fira selama di kamar mandi butuh waktu sepulu menit. Fira pun keluar dari kamar mandi seraya merapikan tunik. Namun Henry mengernyit heran melihat tangan kanan Fira membawa sebuah stik kecil. Henry menoleh ke istrinya, aura wajah Fira tampak bahagia. Padahal Henry tahu, Fira sedang tidak enak badan. Namun Henry belum paham maksud senyuman dari istrinya.
"Henry," panggil Fira. Wanita itu lantas berdiri di hadapan suaminya. Senyumnya semringah, tapi tangan kanannya mengepal erat stik kecil itu.
"Ada apa?" tanya Henry.
"Kamu mau tahu, enggak?" Mata Fira mulai berkaca-kaca. Namun Henry malah kebingungan dengan sikap Fira.
"Maksudnya gimana?" Henry bertanya-tanya.
"Kamu lihat ini," ucap Fira. Tangan kanannya menyodorkan sebuah test pack digital. Kalimat yes terpampang jelas di test pack tersebut.
Henry menerima sebuah test pack digital dari Fira. Pria itu semakin bingung melihat kalimat yes tersebut. "Yes, terus, gimana?"
"Kita bakal kehadiran buah hati. Alhamdulillah, aku positif hamil," lirih Fira.
"Se-serius? Masyaallah." Henry seketika gemetaran memegang test pack digital itu. Ia tidak menyangka kalau Fira tengah berbadan dua.
"Iya, bulan kemarin, aku coba test pack tapi masih garis satu. Alhamdulillah, sekarang positif."
"Jadi, kamu enggak enak badan dan lama enggak haid karena adanya ini."
Fira mengangguk. Saking bahagianya, Fira tidak mampu berkutik lagi. Henry lantas berdiri seraya memeluk erat sang istri tercinta. Suami-istri itu hanyut dalam haru sekaligus bahagia. Mata Fira yang berkaca-kaca menjadi menangis karena bahagia. Ikhtiar dan doa yang dilakukan Henry dan Fira kini berbuah hasil terindah. Yang diharapkan dari suami-istri adalah kehadiran buah hati.
Henry melepaskan pelukan dengan Fira. Disentuhnya wajah ayu istrinya, mata sipit Henry juga tidak kalah berembun sebab terharu. Empat mata yang saling mencintai itu saling menatap lekat. Henry masih tidak menyangka jika ia akan memiliki anak dari darah dagingnya di dalam rahim Fira.
"Kan aku sudah bilang sama kamu waktu itu, supaya kamu periksa. Malah kamunya merasa enggak apa-apa, enggak mau periksa," ujar Henry.
"Aku mengira cuma masuk angin atau sakit biasa. Eh, aku coba test pack lagi, ternyata hasilnya masyaallah," tutur Fira.
"Yuk, sekarang kita ke dokter kandungan."
"Ayo, aku juga ingin memastikan keadaan adik bayi di dalam rahimku."
Fira memasukkan test pack digital ke dalam tas. Henry menyambut Fira dengan saling bergandengan. Dua sejoli itu keluar dari kamar hotel. Henry tidak lupa untuk mengunci pintu kamar dengan sebuah kartu. Setelah itu, keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke lift untuk turun ke lantai dasar.
***
Seorang pria berpakaian kedokteran itu sedang menggerakkan sebuah alat bernama *transducer USG yang ditempelkan di kulit untuk memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi. Michael Andrew, nama dokter itu terukir pada pin yang tersemat di jas dokternya.
Fira berbaring di kasur, sebentar-sebentar ia melihat alat itu mengitari atas perutnya, kemudian melihat layar USG. Mata sipit Henry jadi berbinar-binar melihat calon buah hati yang terpampang jelas di layar USG.
Meskipun janin itu masih terlihat mungil, tapi mulai tumbuh organ tubuh. Henry tidak henti-hentinya bergumam dengan dzikir kepada Allah. Sebagai bentuk rasa syukur karena dianugerahi calon penerusnya kelak.
Sebagai seorang ibu, tentunya Fira punya pengalaman mengandung dua anak, yakni Zayn dan Zema. Di momen kehamilan pada trimester pertama, apalagi melihat pemandangan penyejuk hati ini, membuat Fira gemas dengan kemungilan si kecil. Fira membayangkan untuk segera memberitahu kabar gembira ini kepada keluarga. Terutama Zayn, Zema dan Alira pasti bahagia memiliki adik kecil.
"Mrs Fira's gestational age is estimated at seven weeks," jelas Dokter Michael. (Usia kehamilan Ibu Fira diperkirakan tujuh Minggu.)
"Alhamdulillah," ucap Henry dan Fira.
"Do you feel nauseous and dizzy?" tanya Dokter Michael kepada Fira. (Apakah Anda merasa mual dan pusing?)
__ADS_1
"Ya, my body is weak too," jawab Fira. (Ya, badan saya juga lemas.)
"Oke, later I will give you supplements for pregnant women." (Oke, nanti saya akan berikan Anda suplemen untuk ibu hamil.)
"Thank you, Doc."
"I want you to keep a healthy diet. You must be calm in thinking. Especially take care of your health." (Saya ingin Anda menjaga pola makan yang sehat. Anda harus tenang dalam berpikir. Terutama jaga kesehatan Anda.)
"Of course, Doc."
Dokter Michael berhasil mengambil foto kandungan Fira. Hasil foto USG tersebut bisa dicetak langsung. Keluarlah sebuah lembaran foto janin mungil dari alat USG tersebut. Dalam foto itu, juga ada keterangan pertumbuhan janin di dalam rahim Fira.
Henry membantu Fira untuk bangkit dari tidur. Dokter Michael lantas menuliskan keterangan di buku perkembangan ibu dan anak. Sementara Henry dan Fira duduk berdampingan di kursi. Keduanya menunggu keterangan selanjutnya dari Dokter Michael.
"Mr. Henry and Mrs. Fira from Indonesia, right? My advice is that you should stay in Canada. I mean, you can't go back to Indonesia yet, because your wife is pregnant at a young age," jelas Dokter Michael. (Pak Henry dan Bu Fira dari Indonesia, kan? Saran saya, Anda harus tinggal di Kanada. Maksud saya, Anda belum bisa kembali ke Indonesia, karena istri Anda hamil di usia muda.)
"So, when can my wife and I return to Indonesia?" tanya Henry. (Jadi, kapan saya dan istri bisa kembali ke Indonesia?)
"I can't tell when. But, you and your wife are always in control of the pregnancy and see me on schedule." (Saya tidak tahu kapan. Tapi, Anda dan istri Anda selalu mengontrol kehamilan dan menemui saya sesuai jadwal.)
"Oh, oke, Doctor Michael."
Pria berambut cokelat itu menyerahkan buku perkembangan ibu dan anak kepada Fira. "I have written down the development of the mother and fetus. Then I wrote supplements for pregnant women. You have to take it in the pharmacy room." (Saya telah menuliskan perkembangan ibu dan janin. Kemudian saya menulis suplemen untuk ibu hamil. Anda harus mengambilnya di ruang apotek.)
"Thank you, Doctor Michael," ucap Henry dan Fira.
"You are welcome. I hope you both are always happy and healthy," ucap Dokter Michael.
"Aamiin."
***
Meskipun cuaca terik, tapi tidak mengganggu Henry dan Fira untuk bermesraan di sana. Sebagai bentuk rasa bahagia atas kehamilan Fira, Henry ingin Fira menikmati pemandangan di taman ini. Tidak hanya dua sejoli yang berada di sini, ada pun orang-orang yang berkunjung di Taman Musik Toronto. Sebagian dari mereka, ada yang bersama keluarga, teman maupun pasangan kekasih.
"Aku kira musim gugur mulai bulan ini," ucap Fira.
"Kayaknya belum, tapi akan dimulai. Lihat saja daun-daun itu, warnanya mulai berubah jadi oranye dan kuning," ucap Henry. Telunjuknya mengarahkan ke pohon-pohon sekitar.
"Kalau kita masih di sini, itu berarti aku bisa menikmati musim gugur dong, hehehe."
"Bisa, sayang. Aku akan selalu mengajakmu ke tempat yang indah, yang tentunya terdapat daun-daun gugur kecokelatan."
"Enggak sabar menunggu musim gugur itu."
"Aku juga bakal cari apartemen atau rumah selama kita tinggal di Toronto. Atau kamu mau lahiran di sini juga?"
"Aku inginnya lahiran di Semarang, tapi kalau itu dapat izin pulang ke Indonesia dari dokter tadi."
"Hmm, iya juga, ya."
"Hen, aku mau telepon anak-anak. Sekalian kasih kabar gembira kepada mereka."
"Oke, Mama Fira, hahaha."
Fira mengambil gawai dari dalam tas. Jemarinya berselancar di WhatsApp, kemudian mencari kontak telepon Ratih. Fira menekan ikon kamera video untuk menghubungi ibunya. Seraya menunggu sambungan panggilan video, Fira bermanja di bahu Henry. Diarahkannya kamera depan tepat di wajah keduanya. Akhirnya panggilan video itu diangkat oleh Ratih. Antara Fira, Henry dan Ratih saling bertatapan muka.
"Assalamu'alaikum, ada apa tengah malam begini video call Ibu?" tutur Ratih.
"Wa'alaikumsalam, eh, maaf, Bu, Fira lupa kalau di sana udah malam," ucap Fira.
__ADS_1
"Ya, kan perbedaan waktu di Semarang dan Kanada jauh, Fir. Ada apa, to? Kamu sama Henry lagi di mana itu?"
"Henry dan Fira lagi di taman nih, Bu," ucap Henry.
"Kalian sehat kan? Kapan pulang ke Semarang?" tanya Ratih.
"Belum pasti, Bu," jawab Henry.
"Kok belum pasti, kamu ada pekerjaan lain di sana?"
"Bukan itu, Bu."
"Lalu?"
"Jadi, Fira dan Henry belum bisa pulang ke Semarang karena dapat saran dari dokter," jelas Fira.
"Siapa yang sakit?" Ratih mulai khawatir.
"Enggak ada yang sakit. Alhamdulillah, Fira sedang mengandung bayi, Bu. Sebentar lagi, Ibu bakal nambah cucu. Ya, Zayn, Zema dan Alira bakal punya adik lagi," lanjut Fira.
"Alhamdulillah, Ibu ikut senang, Nak. Allah kasih amanah cepat untuk kalian." Mata Ratih mulai berkaca-kaca karena terharu mendengar kabar gembira.
"Karena usia kehamilan Fira masih di trimester pertama, jadi belum boleh pulang ke Semarang, Bu."
"Yang penting kamu dan Henry di sana sehat-sehat, ya. Soal pulang jangan dulu. Biar Ibu, Bapak, Bryan dan anak-anak saja yang ke sana."
"Doakan, ya, Bu. Semoga Henry bisa segera dapat rumah selama tinggal di Kanada," ujar Henry.
"Aamiin. Jaga Fira, ya, Nak Henry. Kamu harus jadi suami siaga. Pokoknya sebaik mungkin, kamu atur waktu antara istri dan pekerjaan," ucap Ratih.
"Insyaallah, Bu."
Fira kembali duduk tegap. Giliran Henry yang memegang gawai milik Fira, supaya Fira tidak pegal memegang gawai melulu. Antara Fira, Henry dan masih berkomunikasi.
"Oh, iya, Bu, kalau kalian ke sini, kabari Henry. Biar Henry yang pesankan tiket pesawat. Lefia dan Pak Irwan juga turut serta ke Kanada," ucap Henry.
"Sip, nanti Ibu sampaikan ke Lefia dan Irwan," ucap Ratih.
"Sekolahnya anak-anak gimana, Hen?" tanya Fira.
"Hmm, nanti soal itu, kita pikirkan lagi," jawab Henry.
"Ya, sudah kalau begitu, Ibu mau salat tahajud dulu. Sekalian mendoakan kalian dan calon cucu Ibu," kata Ratih.
Fira melambaikan tangan ke ibunya. "Nggeh, Bu. Salam untuk anak-anak."
"Insyaallah, Fir. Jaga kesehatan dan makan yang bergizi. Jaga selalu calon bayi kalian, ya."
"Insyaallah, Bu."
Antara ibu, anak perempuan dan anak mantu mengakhiri percakapan melalui panggilan video. Kini Henry beranjak dari tempat, mengulurkan tangan ke Fira. Fira pun berdiri seraya meraih tangan Henry. Keduanya saling bergandengan. Suami-istri itu melanjutkan perjalanan menikmati keindahan taman di sana. Yang pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel.
***
* Sumber: Alo Dokter
Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Tinggalkan komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya. Mohon maaf, untuk yang mau promosi cerita sebaiknya gabung di grup Famala Dewi di NovelToon ini.
Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), vote, dan kasih rate (bintang 5). Supaya authornya ini semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Terima kasih.
__ADS_1