
Telah aku kunci hati ini. Cukup kamu yang mampu meruntuhkan raguku. Teguh cintaku padamu yang dapat menolak hadirnya laki-laki lain. - Maghfira Annisa -
***
Kemilau mentari sedang bersahabat dengan alam. Musim panas tidak mengurung diri untuk bereksplorasi dengan semesta. Senyum yang mekar dari dua sejoli dimabuk cinta itu mengalahkan mekarnya kembang. Dunia terasa milik berdua. Betapa indahnya bulan madu sepasang kekasih yang menjadi garis jodoh ini.
Langkah sepasang kaki keduanya tidak mengenal lelah. Sepasang mata keduanya juga dimanjakan dengan pemandangan indah di ketinggian Namsan Tower yang terletak di Yongsan-gu, Seoul. Inilah perjalanan yang menyenangkan dari Henry dan Fira.
Walaupun sedang musim panas, banyak orang yang mengunjungi Namsan Tower ini. Ada yang mengajak keluarga, sahabat bahkan seorang yang tercinta. Yang membuat orang betah di tempat ini adalah mereka mengukir nama masing-masing di gembok cinta. Mitosnya, jika nama sepasang kekasih terukir di gembok cinta ini---cintanya akan abadi.
Di dekat pagar besi, tempat banyak gembok cinta bergelantungan, Henry dan Fira berkutat dengan pena untuk menulis nama keduanya di gembok. Irwan, Zayn dan Zema mengelilingi sekitar sana. Irwan mengajak foto bersama Zayn dan Zema selagi ada pemandangan indah. Sementara Alira duduk di kursi panjang bersama Lefia. Alira begitu ceria dengan boneka beruang yang baru saja dibelikan Fira.
Di sana Fira tidak hanya menulis nama di gembok cinta, ia juga menulis rangkaian kata cinta di buku harian kecil. Henry sempat mengintip, tapi Fira berusaha mengelak dari Henry supaya suaminya itu tidak bisa melihat tulisannya. Dalam buku harian kecil itu Fira menuliskan kutipan indah.
...Telah aku kunci hati ini. Cukup kamu yang mampu meruntuhkan raguku. Teguh cintaku padamu yang dapat menolak hadirnya laki-laki lain....
"Coba aku lihat kamu sedang menulis nama siapa di gembok itu?" tanya Henry penasaran. Mata sipitnya mencari celah supaya dapat melihat Fira menulis di gembok cinta dan buku harian kecil itu.
"Ululu, siapa, ya? Yang pasti nama seorang laki-laki yang hebat dalam hidupku," jawab Fira.
"Lihat dong, barangkali ada namaku dan bertambah pula cintaku padamu," goda Henry.
"Aku lihat dulu gembok cinta yang kamu pegang itu. Nama siapa yang kamu ukir di situ?" Fira mengalihkan pembicaraan.
"Aku punya ide nih."
"Ide apa?"
"Gembokmu kasih ke aku. Gembokku kasih ke kamu. Nanti mata kita saling merem. Kita hitung mundur sambil membuka mata untuk melihatnya. Sepakat?" usul Henry.
"Boleh juga. Sepakat dong."
"Mulai, ya. Sekarang ulurkan tanganmu."
Fira mengulurkan tangan kepada Henry. Keduanya hendak saling bertukar gembok cinta yang sudah tertulis nama. Pria berpakaian blazer abu-abu ini menyentuh telapak tangan sang istri yang lembut. Gembok cinta milik Henry berwarna merah. Sedangkan gembok cinta milik Fira berwarna merah muda. Gembok cinta sama-sama berbentuk hati.
Kini gembok cinta keduanya sudah saling bertukar. Henry menggenggam tangan Fira. Sepasang mata keduanya terpejam. Silir angin menyejukkan raga dan jiwa keduanya. Perlahan tapi pasti, Henry mengucapkan basmalah, kemudian diikuti oleh Fira. Mata keduanya saling terbuka. Henry melihat ukiran nama di gembok milik Fira. Begitu juga Fira melihat ukiran nama di gembok milik Henry.
Di gembok milik Fira, tertulis nama Henry, Fira dan anak-anak. Di gembok milik Henry juga tertulis nama demikian. Walaupun tulisan itu kecil, tapi dapat dibaca. Sepasang mata yang saling mencintai itu saling menatap. Sudut bibir keduanya mengukir senyum merekah. Tidak disangka jika nama-nama yang di gembok cinta itu sama.
"Masyaallah, aku terharu," ungkap Fira.
"Itu berarti hati kita saling terhubung. Aku mengukir namamu dan nama anak-anak, supaya kita bukan hanya bersama di dunia, juga bersama di keabadian," ungkap Henry.
"Aamiin yaa rabbal alamin. Istajib duana."
"Sebenarnya aku ingin menuliskan nama buah cinta kita."
"Lah, gimana sih? Wong, aku belum isi."
"Entahlah, aku jadi memikirkan namanya. Aku ingin punya anak perempuan."
"Belum ada dedeknya, kamu udah mempersiapkan namanya, hehehe."
__ADS_1
"Mau tahu enggak namanya?"
"Siapa?"
"Khadijah Grizelda Euna Lee."
"Nama yang cantik. Insyaallah, semoga Allah kabulkan doa kita."
Henry lantas membelai hijab Fira. "Karena aku kagum dengan sikap teladan Bunda Khadijah. Dia seorang janda kaya yang dermawan dan semangat dalam agama. Kemudian menikah dengan Rasulullah, cinta dan setia beliau tulus untuk Rasulullah. Semoga istriku ini bisa meneladani sikap beliau. Karena Khadijah adalah inspirasi bagi semua wanita muslimah."
"Insyaallah, aku jadi baper, hehehe."
Henry dan Fira lantas memasang dua gembok di pagar besi, kemudian mengunci gembok itu secara bersamaan. Sebentar-sebentar keduanya menatap satu sama lain, kemudian tatapan itu melihat ke dua gembok cinta yang sudah tersemat di pagar besi.
Tidak ingin melewatkan kesempatan emas, Henry mengambil gawai dari dalam saku blazer. Jemarinya berselancar di ikon kamera. Henry mengatur kamera depan di gawai Apelphone. Kualitas kamera itu mumpuni untuk mendapatkan foto yang cerah dan apik. Henry dan Fira lantas berfoto ria dengan mesranya. Diimbuhi latar pemandangan indah di belakangnya.
"Kuncinya kita simpan saja. Biar jadi saksi sejarah, kalau kita pernah mengukir nama di sini," ucap Henry. Pria ini memberikan kunci gembok kepada Fira.
Fira menerima kunci gembok cinta itu. "Baiklah. Yuk, giliran Lefia dan Pak Irwan yang menikmati bulan madu. Masa kita terus? Kita sekarang yang jagain anak-anak."
"Yuk, kita menyusul mereka ke sana."
***
Wanita bergamis hitam polos ini menggandeng tangan sang suami. Keduanya menghampiri Lefia yang sedang mengajak bermain Alira. Henry melihat Irwan sedang sibuk dengan Zayn dan Zema. Pada saat itu, Irwan menoleh ke Henry. Kemudian Henry memberi isyarat kepada Irwan untuk ke mari. Irwan pun menuruti Bosnya sembari menggandeng dua putra Bosnya itu.
"Lef, sekarang kamu dan Pak Irwan yang menikmati bulan madu. Biar saya dan Henry yang jagain anak-anak," ucap Fira.
"Subhanallah, enggak enak sama jenengan, to, Bu, Pak," ucap Lefia seraya menggaruk tengkuk.
"Gimana, Pak? Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Irwan.
"Pak Irwan dan Lefia jalan-jalan saja. Ke sekitar sini, yang penting kalian nikmati masa bulan madu. Anak-anak sama saya dan Fira," jelas Henry.
"Tapi, Pak?"
"Apa uangnya kurang? Saya tambahkan ini uangnya."
"Bukan itu, Pak. Uang yang dikasih Pak Henry lebih dari cukup kok. Tapi, jadi enggak enak, masa asisten ninggalin Bosnya?"
"Enggak apa-apa. Sudahlah, sekarang kalian yang traveling, oke. Menyegarkan pikiran dan perasaan. Pokoknya kalian bersenang-senang di Korea."
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Terima kasih, Bu Fira dan Pak Henry."
"Sama-sama."
Irwan menggandeng Lefia, kemudian mengajaknya ke tempat terindah. Langkah keduanya tampak bahagia dan semringah. Fira dan Henry paham mereka juga butuh waktu bermesraan. Dua bos ini pengertian supaya Lefia dan Irwan juga melepas penat dari pekerjaannya.
Sekarang, Fira dan Henry ingin mempunyai waktu berkualitas bersama ketiga anaknya. Henry meminta tolong kepada seorang pria yang masih warga Korea untuk memotret dirinya dan keluarga. Pria itu menyanggupi. Fira lekas mengeluarkan kamera dari dalam tas. Kamera digital dengan kualitas terbaik dan menghasilkan foto yang estetik. Kemudian Fira menyerahkan kamera itu kepada pria tadi.
Family goals ini rupaya tidak mati gaya. Mereka cocok jika ikut pemotretan keluarga berkelas. Zayn, Zema dan Alira sudah terbiasa dengan sadar kamera. Dengan pakaian yang warnanya senada, yakni abu-abu dan hitam, menambah kekompakan keluarga ini. Gemasnya lagi, jika melihat Fira dan Alira dengan gamis dan hijab senada. Saat pemotretan berlangsung, tanpa diperintah, visual mereka sudah menunjukkan pancaran kebahagiaan dan keceriaan.
__ADS_1
Foto ria yang dilakukan Henry dan keluarga menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Ada yang antusias berteriak dan mengetahui jika itu Henry Lee. Sang pemilik Excellent Entertainment and Advertising. Yang mengkhawatirkan adalah gadis-gadis antusias karena ada Henry di sini. Henry sudah biasa menghadapi penggemarnya di Korea. Namun tidak dengan Fira, yang tidak lagi bergairah foto. Seketika wajah Fira melekuk karena cemburu saat gadis-gadis menghampiri Henry.
Pria yang memoto keluarga tersebut lantas mengembalikan kamera itu. Henry berterima kasih kepada pria tersebut. Di sana Henry cepat-cepat membawa pergi istri dan anak-anaknya. Henry khawatir jika anak-anaknya diserbu oleh penggemar Henry. Karena Henry tahu, tidak semua penggemarnya itu bisa menerima anak-anaknya.
***
Di sisi lain, tanpa sepengetahuan Henry dan Fira. Ada seorang pria berjaket hitam mengikuti keluarga itu dari belakang. Kacamata hitam menutupi dua matanya supaya tidak ada orang lain curiga padanya. Celana panjang dengan robekan di lutut itu terus melanjutkan perjalanan mengikuti Henry dan Fira.
Tampaknya ia seperti wisawatan biasa, tangannya yang memegang gawai itu seakan memotret pemandangan di sana. Lengkap dengan ransel traveling yang ia bawa. Namun gerak-geriknya sangat mengganjal.
Perawakannya yang gagah ini bergegas memilah di kerumunan orang. Dikibaskannya rambut kecokelatan karena kesal, hampir saja ia kehilangan jejak Henry dan keluarga. Pria berparas bak preman, tatapannya bagai serigala yang hendak menerkam mangsanya. Ia mendengus sambil mencari keberadaan Henry dan keluarga.
Ternyata Henry dan keluarga sudah berada di dalam mobil. Dari kejauhan, pria ini kesal dan menggerutu sendiri. Kedua tangannya masih memegang gawai, sepertinya ia sedang merekam video kegiatan Henry dan keluarga di sini.
"Kalau saja bukan karena bayaran fantastis yang dijanjikan oleh dia. Aku enggak bakal menguntit keluarga orang kayak gini," gerutunya dengan suara berat.
Jemarinya menghentikan rekaman video di gawai. Perlahan pria ini duduk di atas tanah. Kepalanya mendongak menatap langit. Betapa silaunya siang itu. Ditambah kerongkongannya kian gersang karena belum disirami seteguk air. Namun untuk saat ini, ia mengatur napas setelah mengikuti Henry dan keluarga. Rasanya sudah tidak mampu untuk membuntuti Henry.
Rekaman video Henry dan keluarga yang berhasil ditangkapnya tadi, kemudian dikirimkan ke nomor telepon seseorang melalui WhatsApp. Ada lima video yang berhasil diunggah dengan durasi panjang. Kebetulan seseorang yang dikirimi video olehnya sedang online. Sekarang seseorang yang menyuruhnya mengikuti Henry dan keluarga menelepon pria ini. Pria berkulit kuning langsat itu agak malas-malasan mengangkat telepon dari orang yang menyuruhnya.
"Lu udah lihat semua kan? Enggak ada apa-apa juga. Nyatanya mereka bahagia. Gue mohon elu enggak usah kepoin mereka lagi. Gue capek tahu jadi orang yang buntutin urusan orang lain," keluhnya.
"Kebahagiaan Henry akan gue hancurin secara halus. Ibaratnya seperti mencincang bawang dengan tipis-tipis," ucap sosok pria bersuara parau. Sosok pria yang menyuruh pria berparas preman ini.
"Lama-lama lu jadi orang gila juga, ya. Kalau gue jadi elu sih---bodo amat, secara ceweknya udah nikah sama laki lain. Gue mending cari cewek lain deh. Udahlah, jadi kayak gue yang fakeboy, disukai banyak wanita, lu tinggal memilih di antara mereka."
"Lidah lu mau gue jadiin oseng, ya? Gue enggak kayak lu yang bisa menyukai banyak wanita. Intinya sekarang lu bantuin gue untuk membuat Henry enggak berdaya lagi. Kita akan cari kelemahan Henry."
"Tapi?"
"Tapi, apa? Apa lu mau masuk ke penjara karena kasus lu pengguna narkoba, hah? Gue masih baik menolong lu. Jadi, lu harus bisa menuruti keinginan gue."
"Lu enggak mikir, hah? Yang lu lakuin sekarang juga bakal jadi konflik besar. Itu sama aja lu sama gue bakal masuk ke penjara!"
"Seorang seperti gue kebal hukum. Siapapun yang berani sama gue, nyawanya ada di tangan gue."
"Terus, sekarang gue ngapain lagi nih? Sumpah, kaki gue pegel naik ke tower."
"Lu istirahat aja dulu. Tugas lu cukup ngikutin mereka di Korea. Begitu mereka udah balik ke Indonesia, lu balik ke gue. Biar mereka menikmati indahnya cinta yang dibanggakan."
"Dasar psikopat deh lu!"
Percakapan antara mereka berakhir. Pria berjaket hitam itu beranjak dari tempat. Ia hendak mencari minuman di kedai untuk menghilangkan dahaga. Sorotan matanya tidak lepas dari wajah Fira yang berada di dalam mobil itu.
"Apa istimewanya itu cewek sih? Katanya, sebelumnya dia janda, punya anak dua lagi. Lagian di dunia ini masih ada gadis perawan, malah tuh bocah nyarinya janda. Heran deh gue, masih cantik kan juga pacar-pacar gue," gerutunya lagi.
"Kevin-Kevin mau-maunya elu disuruh sama dia buat ngikutin orang lain. Tapi, kalau enggak disuruh kayak gini, gue jadi pengangguran. Masih untung ditolong sama dia yang nyuruh gue kayak gini." Pria bernama Kevin ini kembali melangkahkan kaki ke kedai.
Sesampainya di kedai, pria ini langsung dilayani oleh pegawai kedai. Untung saja pengunjung di kedai tidak terlalu ramai. Ia memesan minuman dingin untuk menyejukkan tenggorokannya. Pegawai itu memintanya untuk sabar menunggu pesanan.
Kevin namanya. Tubuhnya yang atletis berbalut jaket hitam lantas duduk di kursi. Dibukanya kacamata hitam. Tampaklah dua pupil mata berwarna cokelat itu. Ia yang merasa suntuk, akhirnya memutuskan untuk bermain game di gawai.
Saat berkutat dengan game, pandangannya beralih ke Fira dan ketiga anaknya. Senyum yang terpancar menandakan mereka sangat menikmati perjalanan ini. Kevin sontak terpaku pada senyum yang terukir di wajah Fira.
__ADS_1
"Sepertinya yang membuat dia jatuh cinta sama wanita itu adalah senyumnya. Manis sih ini cewek, tapi udah Ibu-ibu anak tiga. Loh, kok tiga, ya, anaknya? Bukankah kata dia, ini cewek anaknya dua doang?" Kevin jadi berpikir-pikir.
Saking fokusnya kepada Fira, hingga Kevin tidak menyadari jika seorang pelayan menyuguhkan pesanan minumannya. Kevin pun terperanjat. Ia cengengesan melihat seorang pelayan yang memanggilnya. Kemudian pelayan tadi pergi berlalu. Kevin bergegas menikmati seteguk minuman dingin yang terkenal di Korea. Sepasang matanya masih memantau keberadaan Fira dan ketiga anaknya.