Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Henry dan Rafi


__ADS_3

Henry bisa melihat Rafi duduk sembari makan kentang goreng dari kejauhan. Henry berdiri di sebuah restoran dalam Mal Ciputra Semarang. Dirapikannya kemeja biru muda, supaya terkesan maskulin. Sebisa mungkin ia menjaga sikap ramah dan baik di hadapan Rafi nantinya.


Henry melangkahkan kaki menuju ke meja--- di mana Rafi sedang menikmati cemilannya. Tidak dihiraukannya keadaan sekitar. Tatapan nanar Henry hanya fokus pada Rafi. Kalau saja tidak ditempat seramai ini, ingin rasanya Henry mengajak Rafi bergelut, karena Rafi sudah lancang mengucapkan rindu kepada Fira melalui telepon.


"Aku tidak akan membiarkan calon istriku dekat lagi dengan Rafi," gumam Henry penuh kekesalan.


Henry lantas duduk berlawanan arah dengan Rafi. Dua pria itu masih satu meja. Rafi sontak terperanjat melihat Henry tepat di hadapannya. Akibat keterkejutannya itu, Rafi jadi tersedak makanan yang amat. Ia pun bergegas minum segelas air putih.


Henry menyapa Rafi penuh keramahan. "Assalamu'alaikum, Rafi. Maaf, membuatmu kaget."


"Wa'alaikumsalam, kenapa kamu yang datang? Mana Fira?" ucap Rafi mulai tersulut emosi.


"Fira justru bilang sama aku, aku yang menemuimu," jawab Henry.


"Hei! Fira itu sahabatku. Beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya!"


"Sahabat? Fira justru bilang dulu kamu yang memutuskan persahabatan kalian. Makanya dia enggak menghiraukanmu. Lagi pula ada aku calon suaminya, kamu bisa menyampaikan sesuatu kepadaku. Nanti aku sampaikan itu kepada Fira."


Rafi kecewa bukan kepalang, lantas meremas rambutnya sambil meraung. Raut wajahnya tampak gusar, manakala yang hadir adalah Henry yang sempat menjadi rivalnya. Henry, pria yang diam-diam dibencinya. Ditambah ucapan Henry yakni calon suami. Membuat hati Rafi bagai terhantam batu karang.


"Fira, benar-benar enggak berterima kasih kepadaku!" hardik Rafi lantas memalingkan muka dari Henry.


"Justru Fira sangat berterima kasih kepadamu, karena kamu telah menolong nyawanya. Sekali lagi, aku yang menyampaikan terima kasih Fira kepadamu," ucap Henry.


"Heh! Kamu masih calon suaminya sudah belagu membatasi Fira bersama temannya."


"Siapa bilang aku membatasi Fira dengan temannya? Fira boleh berteman dengan siapapun, ia pasti tahu batasannya. Kecuali denganmu!" tegas Henry.


"Ini sungguh membuang-buang waktuku!" geram Rafi.


"Kamu juga udah dewasa. Aku peringatkan sama kamu, supaya tahu batasan pertemanan, karena kamu sudah lancang mengucapkan rindu kepada calon istri orang. Aku dan Fira akan segera menikah. Jadi, lebih baik kamu enggak perlu bertemu dengan Fira lagi."


"Aku enggak akan menggangu pernikahan kalian. Selamat atas pernikahan kalian! Tapi, aku mohon izinkan aku untuk bertemu dengan Fira."


"Ck! Kamu masih belum paham perkataanku tadi?"


"Entahlah!" Rafi sesekali mengentakkan meja.


"Kalau aja kamu enggak mengucapkan rindu kepada Fira. Aku mengizinkan Fira bertemu denganmu. Tapi, karena kamu mengucapkan itu, aku yakin kamu masih memiliki perasaan terhadap Fira."


Perdebatan antara Henry dan Rafi menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Henry menoleh ke sana ke mari, berusaha tenang supaya tidak terpancing emosi kepada Rafi. Sementara Rafi bergumam kesal sambil meremas wajahnya.


"Kalau ada yang ingin kamu sampaikan untuk Fira. Katakanlah! Tapi, kalau enggak, ya, aku lekas pergi. Daripada aku di sini lama-lama membuatmu darah tinggi. Soalnya ini di Mal bukan di rumah sakit," ucap Henry dengan sarkasme.


"Terserah! Aku akan berusaha menemui Fira dengan caraku sendiri," geram Rafi.


Henry mengangguk-angguk. "Ya, boleh, kamu bertemu dengan Fira sebagai tamu pernikahan kami."

__ADS_1


"Lebih baik kamu lekas pergi dari sini. Karena aku sedang panas mendengarkan ucapanmu itu!" gertak Rafi.


"Oke, aku pergi," ujar Henry beranjak dari duduk. Henry mengayunkan jari telunjuk, ia teringat oleh sesuatu. "Oh, iya, Raf. Aku sekadar mengingatkan, segera minum obat Paracetamol, supaya panasmu lekas reda."


Henry bergegas pergi dari sana. Sementara Rafi justru memukul meja dengan kepalan tangan. Di wajah Rafi tampak penuh kegusaran. Henry sekilas menoleh ke belakang. Jika dilihat dari sikap Rafi, sudah dipastikan hati Rafi seakan terbakar. Henry membalikkan tubuh atletisnya menuju keluar dari restoran tersebut.


***


Selagi Henry berada di Mal, ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Di tengah keramaian pengunjung Mal, Henry berjalan sembari mengedarkan pandang. Tidak jauh dari ia berjalan, dua mata sipitnya itu terpaku pada sebuah Barbershop khusus pria. Henry punya inisiatif memotong rambutnya yang mulai panjang itu.


Ketika Henry bergegas menuju ke Barbershop, dari jalan yang berlawanan arah. Dua pria yang sama-sama mendorong dua kereta bayi itu terkesima melihat Henry. Salah satunya--- di antaranya, pria maskulin bergegas menyusul Henry. Sementara pria bertubuh gempal itu justru yang menjaga dua kereta bayi.


Tangan pria maskulin itu berhasil meraih tangan Henry. Sontak Henry terbelalak. Dua pria itu akhirnya bersua dengan ramah. Wajah oriental Henry seketika semringah melihat pria maskulin yang merupakan sahabat karibnya sejak SMA. Siapa lagi kalau bukan Tommy?


"Heh? Tommy!" seru Henry.


"Bro Henry!" seru Tommy.


"Masyaallah, ini beneran Tommy? Hahaha, aku pangling!"


"Aku malah pangling sama kamu. Berubah drastis! Mentang-mentang kamu pengusaha sukses, ya."


Henry dan Tommy saling bersalaman persahabatan sembari menepuk pundak. Mereka juga tertawa. Di sisi lain, seorang pria bertubuh gempal menghampiri Henry dan Tommy sambil mendorong dua kereta bayi. Bibirnya mencebik karena kesal ditinggal Tommy begitu saja. Ia juga salah satu sahabat Henry, yakni Hardi.


"Terus, terusin aja! Lupakan aku!" tegur Hardi sembari menatap nanar kedua sahabatnya.


Hardi lantas memeluk Henry seraya menepuk-nepuk punggung Henry. "Brooohhh, ya Allah, ini mimpi atau beneran? Tolong tampar aku!"


Ketika Hardi melepaskan pelukan dari Henry, tiba-tiba saja Tommy menampar pipi Hardi, karena Hardi yang meminta begitu. Hardi sontak merintih kesakitan sambil cemberut.


"Sakit, to, Tom!" tegur Hardi.


"Lah, kamu yang minta ditampar. Ini nyata, bukan mimpi loh!" elak Tommy.


Tiga pria yang bersahabat sejak SMA ini tidak menyangka jika bisa bertemu kembali. Namun dewasa ini, mulai dari segi fisik hingga penampilan mereka sudah berubah. Aura Tommy dan Hardi sudah menjadi seorang ayah. Wajah Tommy masih terlihat klimis. Sedangkan Hardi sudah tumbuh kumis di bawah hidungnya.


Saking gembiranya, mereka bertiga saling merangkul kemudian berputar-putar sambil berdendang hingga Tommy dan Hardi lupa ada dua anak mereka di kereta bayi. Lalu-lalang orang melihat mereka dengan tatapan yang menggelikan. Namun Henry, Tommy dan Hardi tidak peduli itu.


"Uweee," rengek dua bayi di dalam kereta bayi itu. Dua bayi yang merasa terabaikan oleh ayah masing-masing.


Henry, Tommy dan Hardi segera menghentikan rasa gembiranya. Tommy dan Hardi jadi merasa bersalah telah mengabaikan anak mereka. Henry senang melihat dua sahabatnya sudah memiliki anak-anak. Ia jadi membayangkan jika ia memilik anak bersama Fira kelak.


"Waduh, jangan nangis, to, Arkana," bujuk Hardi lantas menggendong bayi laki-laki yang merupakan anaknya sendiri.


"Cup, cup, sayang Ayah. Hafizah yang tenang, ya, Nak!" rayu Tommy kepada bayi perempuannya. Ia menggendong sembari menepuk lembut punggung putrinya itu.


"Masyaallah, kalian udah jadi Bapak-bapak, ya, sekarang," ucap Henry.

__ADS_1


"Kamu gimana, Hen? Udah nikah belum?" tanya Tommy.


"Insyaallah, dalam waktu dekat ini," jawab Henry.


"Sama siapa? Mbak Fira, ya?" tanya Hardi.


"Ya, sama Fira dong. Masa sama siapa lagi? Kan cuma dia yang aku cintai, hehehe," jawab Henry lagi.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian berjodoh juga! Enggak sia-sia cintamu untuk Mbak Fira, ya, Hen," timpal Hardi.


"Iya, alhamdulilah. Penantian selama lima tahun, tanpa komunikasi dan tanpa bertemu, berbuah manis juga," sambung Henry, "lah, terus ini Ibu-ibunya anak-anak pada ke mana?"


"Oalah, biasa, to, Hen---kayak enggak tahu tabiatnya wanita aja. Ibu-ibunya pada ke salon. Makanya aku dan Tommy yang jagain anak-anak. Nanti kamu juga bakal merasakan itu, hahaha."


"Hahaha, bisa saja kalian. Tapi, bisa jadi sih---kalau istri cantik juga buat suami."


Henry lantas jadi teringat akan salon kecantikan milik Fira. Ia punya inisiatif untuk mempromosikan salon kecantikan milik Fira kepada Tommy dan Hardi. Supaya dua istri dari dua sahabatnya ini dapat perawatan kulit dan wajah di salon kecantikan milik Fira.


"Kalau istri kalian ada waktu perawatan wajah dan kulit lagi. Ajak istri kalian di salon kecantikan Firannsa. Itu punyanya Fira. Sekalian istri kalian bisa kenalan dengan Fira di sana," usul Henry sembari mengangkat dua alis.


"Woh, kami baru tahu! Mbak Fira sekarang juga sudah sukses dong," kata Tommy.


"Alhamdulillah, Fira itu wanita karier dan mandiri," puji Henry untuk wanita pujaannya itu.


"Okelah, Hen, kalau ada waktu luang, istriku dan istri Tommy bakal perawatan di salonnya Mbak Fira," kata Hardi.


"Terus, ini kamu mau ke mana, Hen?" tanya Tommy.


"Mumpung aku di Mal. Aku ingin potong rambut sih. Kalian mau ikut? Biar aku yang bayar," jawab Henry. Dua bola matanya mengarah ke atas untuk melihat rambut yang mulai panjang.


"Walah, yang jagain Arkana dan Hafizah nanti siapa? Kalau Bapak-bapaknya asyik potong rambut ke Barbershop," ucap Hardi.


"Hmm, gimana kalau potong rambutnya secara giliran? Jadi, aku dulu yang potong rambut. Setelah aku selesai potong rambut, aku ambil alih jaga salah satu anak kalian. Sekalian aku belajar jadi Papa, hehe. Terus giliran potong rambut, kedua Tommy dan ketiga Hardi gitu, gimana?" usul Henry.


Tommy mengangguk-angguk. "Setuju-setuju aja sih, kita."


"Ho, oh, kesempatan emas begini harus dimanfaatkan dengan baik. Kapan lagi kita bisa kumpul? Iya, enggak?" ucap Hardi.


"Oke, kita langsung saja ke Barbershop!" ajak Henry.


"Henry masih enggak berubah, ya. Dari dulu suka traktir kita. Jadi ingat dulu, waktu habis di-ACC interview kerja di Singapura. Kita makan di restoran gitu," ungkap Tommy.


"Kamu memuji atau cuma modus, Tom? Hahaha," kelakar Hardi.


Henry semakin antusias mengajak dua sahabatnya. "Kali ini, aku benar-benar traktir kalian! Tanpa minta ganti rugi, hahaha."


Tiga pria itu berjalan santai menuju Barbershop. Tommy dan Hardi tetap mendorong kereta bayi. Sedangkan Henry berada di tengah-tengah dua sahabatnya. Bertahun-tahun lamanya belum pernah berjumpa, mereka mengobrol dengan keseruan dan senda gurau.

__ADS_1


__ADS_2