Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Rapat Persiapan Pernikahan


__ADS_3

"Mau ngapain kita di hotel?" tanya Fira.


Fira membuka kacamata beningnya. Ia menatap sinis ke Henry. Namun Henry cengengesan seolah ingin menggoda Fira. Jika dilihat dari raut wajah Fira, sepertinya masih memendam cemburu. Suasana hati Fira bak sengatan sinar matahari yang bersembunyi di balik matahari. Seperti di siang hari begini.


"Mau ngapain, ya? Aku suka jalan pikiranku saat ini," seloroh Henry. Ia sembari mengangkat kedua alisnya.


"Awas aja kalau macam-macam! Aku enggak segan-segan gebukin kamu!" Fira lantas menyiapkan kuda-kuda untuk bergelut dengan Henry.


"Udahlah, kamu enggak usah ngancam segala. Buruan masuk ke hotel, yuk! Aku enggak sabar, nih!" Henry menggosok dua tangannya.


"Udah, ah, aku pulang aja kalau gitu!"


"Aku bisa lebih macam-macam, loh. Buruan masuk ke hotel!" perintah Henry.


Fira berjalan masuk ke hotel sembari memejamkan mata dan bergumam, "ya Allah, lindungilah hamba dan Henry dari setan yang terkutuk!"


"Lagian ada saya dan Mas Irwan. Bu Fira tenang saja," ucap Lefia dari belakang.


Henry tersenyum menyeringai ke Fira. Bibir Fira yang terpoles liptint merah muda itu mencebik. Henry melihat kedua tangan Fira yang dikepal erat. Henry juga menilik dari wajah Fira yang sedang bergidik itu. Betapa teguhnya Fira menjaga dirinya.


Lefia dan Irwan mengikuti Fira bersama Henry dari belakang. Justru Lefia dan Irwan mengedarkan pandang menikmati mewahnya Hotel Ibis Semarang. Terdapat gemerlap lampu setiap sudut hotel. Kapan lagi mereka menginjak kaki di hotel semewah ini?


Henry berbalik badan lantas menoleh ke Lefia dan Irwan sembari berkata, "Lefia dan Irwan tunggu saja di restoran hotel. Kalian pesan makanan saja. Bilang, nanti saya yang bayar."


"Berarti enggak temani Bu Fira, nih, Pak?" tanya Lefia.


"Kan udah ada saya," jawab Henry.


"Ta-tapi, masa Bu Fira dan Pak Henry hanya berdua?"


"Memang kenapa kalau saya dan Fira cuma berdua? Saya tahu bagaimana harus memperlakukan calon istri saya."


"Eh, astaghfirullah, Pak Henry sebenarnya mau ngapain sama Bu Fira? Padahal mereka belum nikah. Aduh, mending aku diam aja deh. Tapi, kalau dibiarkan juga bahaya," gumam Lefia.


"Kok Lefia dan Irwan enggak ikut juga?" tanya Fira.


"Lah, ngapain mereka ikut? Inikan urusan kita berdua!" jawab Henry.


"Seram banget, sih. Masa cuma aku sama kamu?"


"Terserah aku mau ngapain. Ya, sudah, langsung saja kita ke lantai dua."


Fira mengernyit dahi sambil melihat Lefia. Sementara Lefia hanya mengangkat bahu seakan tidak berbuat apa-apa. Henry berjalan sembari memanggil Fira berulang kali. Berat rasanya Fira untuk melangkah. Sebentar-sebentar ia berjalan kemudian menoleh ke Lefia. Fira bergumam menyebut istighfar dan nama Allah.


Sebelum Henry dan Fira menuju ke lantai dua. Henry menghampiri resepsionis. Fira bergidik sembari menggaruk lengan gamis, padahal tidak ada yang gatal. Fira berusaha menepis pikiran yang negatif dengan mengambil balsem beraroma ekstra pedas dari tasnya. Diusapnya balsem itu pada pergelangan tangannya. Sementara Henry menoleh ke calon istrinya itu sambil tersenyum menggoda.


***


Dari lantai dasar hingga tiba di lantai dua, Henry keheranan melihat Fira yang sedari tadi memegang balsem di tangannya. Fira melengos seraya memutar bola mata, agaknya ia sedang berpura-pura tenang, padahal hatinya menderu kegelisahan. Henry yang hendak membuka pintu ruang dibuat tertawa geli dengan tingkah aneh Fira.


"Masuklah ke dalam ruangan itu!" perintah Henry.


"Mau ngapain, sih?" tanya Fira seketika canggung.


"Mau bahas pernikahan kita kan? Masuk cepet! Aku enggak sabar, deh," ucap Henry.


"Aku kayak lagi di rumah hantu aja, tahu enggak! Merinding," ucap Fira.

__ADS_1


"Memang tampang kayak aku gini, serem?" Jemari Henry lantas membentuk V ditempelkan pada dagu.


"Serem banget! Kamu pantas dipanggil hantu sipit. Mata yang ada kemesuman!"


"Oh, aku pikir kalau aku jadi hantu sipit yang selalu menghantui hatimu, hahaha," kelakar Henry.


"Udah, ah, kamu aja masuk duluan!"


"Kamu duluan!" Henry kian menatap lekat mata Fira.


"Henry!" Fira lantas melotot sambil menunjukkan balsem tepat dihadapan Henry.


"Ngapain kamu bawa balsem? Memang kamu mau ngerokin aku di sini?"


"Bukan buat ngerokin kamu. Tapi, buat moles ke wajah kamu yang jengkelin abis!"


"Baiklah, sekarang kamu tabayyun dulu. Kamu lihat dulu isi ruangan itu." Henry mempersilakan Fira membuka pintu ruangan itu.


Fira perlahan membuka pintu ruangan itu. Sorotan mata itu mengintip seisi ruangan. Henry menghela napas sambil menahan tawa. Ruangan itu luas dan sejuk. Ada banyak orang yang berkumpul seperti sedang rapat. Namun ini bukan sedang rapat kerja, melainkan seperti perkumpulan keluarga. Di sana ada Fatih, Ratih, Intan dan Lee Hyun Joong, yakni orangtua dari Fira dan Henry.


Fira kembali menatap nanar Henry. Ia mengembuskan napas secara kasar, ternyata tidak ada sesuatu yang negatif di ruangan itu. Fira dibuat malu oleh Henry karena prasangka yang tidak-tidak. Henry agaknya berhasil menjaili Fira, nyatanya ia terkekeh-kekeh melihat ekspresi Fira itu.


"Hahaha, hayo, kamu pasti yang pikirannya enggak karuan!" seloroh Henry.


"Jail banget kamu! Bener-bener, ya. Kukasih balsem nih!" geram Fira.


"Lagian kamu mikirnya terlalu jauh. Mana mungkin aku berbuat enggak senonoh sama kamu?"


"Kamunya juga sih, bikin orang nethink duluan! Aku hampir pingsan gara-gara ini."


"Ya, sudah, sekarang kita masuk. Di sana sudah ada tim wedding organizer, fotografer, desainer dan MUA."


"Maaf, deh---maaf, hahaha. Lucu, deh, kamu."


***


Fira masuk ruangan itu terlebih dahulu. Henry menyusul dari belakang. Sepasang calon pengantin itu disambut meriah oleh mereka. Fira tergugu-gugu melihat seluruh orang yang terlibat dalam persiapan pernikahannya.


Pertama kalinya Fira merasakan betapa mewahnya meski hanya persiapan pernikahan. Benar saja, ada tim wedding organizer, fotografer, desainer dan make up artist yang sudah disiapkan Henry.


Fira menghampiri dua orangtua yang telah merestui hubungannya dengan Henry itu. Ia bersalaman dengan kedua orangtuanya dan calon mertuanya. Orangtua mereka membelai kepala Fira yang berbalut hijab. Apalagi Lee Hyun Joong, meski beliau hanya duduk dan membisu di kursi roda, beliau bahagia menyambut Fira yang sebentar lagi menjadi menantunya.


Fira duduk di kursi, ia masih tercengang, tidak bisa membayangkan betapa mewahnya pernikahannya dengan Henry nanti. Henry turut duduk di kursi utama tepat di hadapan semua orang. Duduknya juga masih berdekatan dengan Fira.


"Kami sudah menyiapkan beragam undangan pernikahan. Sepertinya Pak Henry ingin Bu Fira yang memilih undangan pernikahan yang cocok di hati Bu Fira," ucap seorang lelaki yang mendesain undangan pernikahan. Ia menyodorkan beberapa pilihan undangan pernikahan yang unik dan elegan.


"Kalau saya punya gambaran undangan pernikahan sendiri, gimana?" tanya Fira.


"Oh, tentu boleh saja, Bu," jawab lelaki itu.


"Sejak kapan kamu punya ide undangan pernikahan?" tanya Henry kepada Fira.


"Emm, ada deh, hihi," ucap Fira, "sebentar, saya ambil dulu hp saya."


Fira bergegas mengambil gawai dari dalam tasnya. Jemarinya berselancar di aplikasi Zanva, aplikasi khusus desain dan seni. Bisa juga untuk membuat undangan pernikahan dari aplikasi itu, kemudian gambaran undangan pernikahan yang dibuat Fira itu disodorkan kepada lelaki yang mendesain undangan pernikahan.


"Saya ingin undangan pernikahan pakai foto ada kamera di atas meja. Filter fotonya retro gitu. Satu lagi, ada---apa namanya? Dedaunan atau rumput gitu, sih? Biar kesannya aesthetic gitu. Untuk font-nya juga terkesan ada romansanya juga," jelas Fira.

__ADS_1


"Nah, karena enggak semua undangan dalam bentuk cetak. Saya ingin undangan pernikahan juga dalam bentuk digital. Maksudnya biar bisa dikirim via online," sambung Fira.


"Untuk undangan pernikahan via offline pakainya ini," jeda Fira mengambil selembar amplop cokelat khusus undangan pernikahan dari dalam tasnya. "Terus dikasih pita, biar kayak surat cinta gitu. Untuk undangan pernikahan via online, saya rasa cukup langsung selembar undangan pernikahan digital saja."


Fira mengapit bibirnya saat melihat sekitar sedang memperhatikannya. Seketika pipinya yang mulus itu berubah jadi ranum. Sepertinya cakap Fira tadi membuat semua orang di situ tertuju padanya. Fira membenarkan posisi duduknya sambil mengembuskan napas. Andai ada sehelai kain, ingin sekali ia menutupi wajahnya yang pemalu itu.


"A-aku salah bicara atau keminter, ya?" Fira tergugu-gugu hingga ada tarikan pada sudut bibirnya, sehingga giginya terlihat jelas. (keminter \= sok pintar)


"Enggak kok. Lanjutkan saja, Nak Fira!" sahut Intan.


"Justru calon istri Pak Henry ini sepertinya memiliki imajinasi luas tentang pernikahan. Kami sampai terkesima," puji salah seorang wanita dari perancang busana pengantin.


"Wong, Fira sebelumnya sudah pernah menikah. Pasti Fira sudah tahu pandangan tentang dekorasi pernikahan," gumam Ratih. Beliau sembari tersenyum.


"Kamu bisa pinter gitu pas mendikte desain undangan pernikahan?" tanya Henry.


"Ya, kan aku sebelumnya pernah menikah. Kedua, memang jauh sebelum kamu melamarku, aku punya pandangan tentang pernikahan, hehehe," jawab Fira.


"Oh, malah kamu yang sudah pede dilamar sama aku," canda Henry.


"Akukan sudah baca buku harianmu sampai habis. Jadi, aku tahu kamu bakal melamarku, hihihi."


"Mari dilanjutkan lagi rapat tentang pernikahan ini," sela Intan.


Kini tiga wanita dari perancang busana, make up artist dan wedding organizer menyodorkan lembaran konsep pernikahan yang telah disiapkan. Fira terkesima melihat konsep pernikahannya dengan Henry kelak. Pernikahan itu akan diselenggarakan di Pantai Marina dan Danau BSB City. Fira juga melihat rancangan busana pengantin pria dan wanita, kemudian ia melihat beragam polesan make up.


Fira menoleh ke Henry dan bertanya, "jadi, kita nikah di Pantai Marina dan Danau BSB?"


"Iya, aku ingin nikah bernuansa alam gitu," ucap Henry, "kalau Pantai Marina itu pas acara ijab kabulnya. Kalau Danau BSB itu pas resepsi pernikahan."


Fira menopang dagu dengan tangan kanan sembari berpikir, "aku suka ini. Kalau untuk busana pengantin pria dan wanita. Pas ijab kabul, Henry pakai jubah putih selutut terus pakai celana panjang. Kamu mau pakai kopiah, enggak?"


"Terserah kamu aja, pasti kamu tahu bagusnya," ucap Henry.


"Ya, sudah, karena saya belum pernah lihat Henry pakai kopiah, ya, pakai aja. Pas resepsi pernikahan, Henry pakai kemeja putih dan jas abu-abu. Kalau saya gaun untuk ijab kabul putih, di bagian dada dan punggung pakai bordir bunga. Bawah gaun juga ada bordir bunga. Hijabnya polos bentuk segitiga menutupi dada. Gaun untuk resepsi saya rasa disamakan aja kayak gaun untuk ijab kabul. Cuma untuk resepsi warnanya abu-abu atau silver gitu. Pokoknya matching dengan Henry," jelas Fira.


"Baik, Bu Fira," kata seorang wanita dari perancang busana pengantin. Ia sigap menggambarkan pola desain pakaian pengantin untuk Fira dan Henry.


"Kalau untuk make up, saya ingin make up natural dan elegan kayak perempuan di Korea," kata Fira. Ia melirik ke Henry.


"No problem. Aku dukung keinginan kamu," kata Henry.


"Oke, Bu Fira," kata seorang wanita dari make up artist.


"Kalau untuk busana keluarga, bridesmaids dan groomsmen disesuaikan aja kayak pengantin. Maksudnya gini, pas ijab kabul yang laki-laki pakai jubah selutut, yang perempuan pakai gamis. Resepsi, yang laki-laki pakai jas semua, perempuannya tetap pakai gamis. Hijabnya layer dua langsung pakai," terang Fira, "emm, tapi sekarang saya punya anak perempuan usia enam tahun. Jadi, tolong buatkan gamis dan jilbab yang cantik untuknya."


Tim wedding organizer, make up artist dan perancang busana menyetujui penjelasan Fira. Mereka sigap mencatat konsep pernikahan yang diinginkan Fira dan Henry. Sementara Intan dan Ratih saling memandang bahagia melihat dua anak mereka akan melangkah ke pelaminan.


"Untuk tim fotografer, kalian tahulah tugas yang sudah saya arahkan," ucap Henry.


"Baik, Pak Henry," ucap tim fotografer.


"Apa ini terlalu mewah, ya?" tanya Fira.


"Pernikahan kita ini sekali seumur hidup. Aku ingin menciptakan kisah kita dikenang sepanjang masa," jawab Henry.


"Tapi, nanti aku jadi bahan omongan orang---apalagi netizen, kalau pernikahan kita diekspose ke media," ucap Fira.

__ADS_1


"Netizen kok dipikirin? Yang nikah siapa? Yang bahagia siapa? Yang kepanasan siapa? Udahlah, bodo amat aja!"


"Dari dulu kamu selalu begitu, deh." Fira lantas mengerucut pada bibirnya.


__ADS_2