Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Insiden Menegangkan


__ADS_3

"Kevin!" gertak Rafi.


Pria dengan balutan blazer hitam itu berlari menghampiri sepupunya yang kuliah di University of Toronto. Kevin sedang mengobrol dengan dua temannya di depan kelas lantas keheranan melihat amarah Rafi. Tampaknya aliran darah Rafi mendidih kemudian memukul pipi kiri Kevin. Pemukulan yang dilakukan oleh Rafi kepada Kevin, mencuri perhatian orang-orang. Namun Rafi persetan dengan sekitarnya.


Kevin merintih kesakitan sambil berusaha bangkit. Dari sudut bibirnya telah mengalir darah segar akibat dipukul oleh Rafi tanpa ampun. Sementara Rafi mengatur napas yang telah dikuasai amarah. Gigi Rafi bergetar karena saking geramnya dengan saudara sepupunya itu.


"Apa-apaan sih, Raf?" hardik Kevin.


"Hari ini lu berhenti kuliah di sini!" bentak Rafi.


Kevin sontak tercengang. "Why?"


"Heh! Memangnya gue bodoh? Gue pagi ini ke rumah Fira, alhasil tetangganya bilang Fira diculik seseorang. Gue tanya sama lu, Fira mana? Apa yang menculik itu Sultan? Jawab jujur!"


"Emm, gu-gue."


"Cepat jawab! Fira di mana? Kalau Fira kenapa-kenapa, gue enggak segan-segan bunuh lu!"


"Bisa-bisanya lu mengancam gue, sementara lu udah ..." Sebenarnya Kevin mengungkapkan konflik yang dalangnya Rafi dan Sultan. Betapa tertekannya Kevin bersekongkol dengan Rafi dan Sultan.


Rafi mencengkeram kuat rahang Kevin. Tatapan garang Rafi seakan ingin menghantam Kevin. "Cepat jawab atau lu bukan saudara gue lagi."


"I-iya, Sultan berencana menculik Fira. Dia memiliki ambisi untuk mendapatkan Fira. Mungkin sekarang Fira ada di rumah Sultan."


"Pengkhianat lu!"


Rafi mendorong Kevin hingga tersungkur di lantai. Rafi tidak peduli rintihan sakit dari Kevin. Pria itu lantas memakai kacamata hitam seraya merapikan blazer kemudian pergi dari universitas. Sementara Kevin berusaha berdiri, meski terhuyung-huyung sebab pusing setelah dipukuli Rafi.


Selang beberapa menit dari kepergian Rafi, sorotan mata Kevin dikejutkan dengan kehadiran polisi dan kelompoknya. Kevin yang sebelumnya merintih kesakitan kini berubah jadi terbelalak dan ketakutan. Seketika wajah manisnya pucat. Ia menduga jika polisi dan teman-temannya sedang mencari dirinya.


Tanpa berpikir panjang, Kevin melarikan diri. Namun sorotan mata tajam polisi dan teman-temannya tidak bisa ditipu karena telah mengetahui sosok Kevin. Melihat Kevin melarikan diri justru ini kesempatan polisi dan teman-temannya untuk mengejar Kevin. Ternyata di antara polisi, Ammar dan tim detektif turut andil dalam pengejaran terhadap Kevin.


"Hi, you!" teriak James.


Kevin berlari kencang tanpa peduli orang-orang yang di hadapannya. Yang ia pikirkan saat ini lolos dari kejaran mereka. Namun kejaran polisi, Ammar dan teman-teman semakin melaju bagai kilat. Ketika Kevin hendak menuju ke pagar universitas, Ammar yang geram dengan sikap Kevin melarikan diri lantas menembak kaki Kevin dua kali dengan pistol andalannya. Suara tembakan itu cukup keras. Kevin sontak tersungkur di tanah seraya berteriak dan meronta-ronta.


Setelah kejadian pemukulan dari Rafi kepada Kevin, sekarang polisi, Ammar dan teman-teman berhasil menangkap Kevin. Kejadian kedua kali ini menjadi pusat perhatian orang-orang di universitas. Kebanyakan dari mereka terkejut melihat insiden tersebut. Di antara kerumunan mahasiswa, dua gadis muslimah juga tidak ketinggalan melihat insiden itu. Siapa lagi kalau bukan Lena dan Zehra?


"What happened to Kevin?" tanya Zehra. (Apa yang terjadi pada Kevin?)


"I don't know," jawab Lena. (Aku enggak tahu.) Gadis itu kemudian bergumam, "apa jangan-jangan Bang Rafi dan Kevin terlibat dalam konflik hilangnya suami Kak Fira? Astagfirullah, kenapa aku baru ngeh sekarang? Kak Fira pasti menderita atas kehilangan suaminya."


Di sela-sela mereka sedang memborgol Kevin, Ammar melirik ke arah gadis berdarah Turki-Kanada yakni Zehra. Gadis yang pernah menabrak bahunya secara tidak sengaja, sewaktu Ammar berkunjung di distro Rafi. Ammar terkesima melihat Zehra dari kejauhan. Pria dengan balutan mantel kulit itu tersenyum seraya melambaikan tangan kepada Zehra. Namun di kejauhan, Zehra merasa bingung dengan tingkah Ammar. Gadis itu hanya cengengesan sambil membalas lambaian Ammar.


"Mr. Ammar, what are you doing?" ucap Zoe. (Pak Ammar, Anda sedang apa?)


"The girl is beautiful," lirih Ammar. (Gadis itu cantik.)


"Oh, my God, we are on a mission. Do not you make love now," tegur Zoe. (Oh, Tuhan, kita sedang menjalankan misi. Janganlah Anda bercinta sekarang.)


"Because I just saw a polite Muslimah girl like her."

__ADS_1


"Mr. Ammar, let's go to the Sultan's house. Because Kevin said Rafi headed to the Sultan's house," ajak James. (Pak Ammar, ayo kita berangkat ke rumah Sultan. Karena Kevin bilang Rafi menuju ke rumah Sultan.)


Ammar sigap menyahut, "ah, oke, Mr. James."


Kevin berhasil dibawa oleh pengawasan empat polisi. Dengan kaki pincang, Kevin diarahkan untuk naik ke mobil polisi. Sementara James, Ammar dan dua polisi serta detektif lain naik ke mobil sedan. Suara sirene mobil polisi menggema hingga ke sekitar universitas dan jalanan. Mobil polisi dan mobil sedan menyusuri jalan dengan arah yang berbeda.


***


Seorang dokter tengah memeriksa kondisi Fira yang tidak sadarkan diri. Tubuh Fira terbaring lemas di kasur, sebab waktu di rumah Fira tadi---Sultan memberikan cairan di sapu tangan kemudian menutup hidung dan mulut Fira agar pingsan. Di sisi kasur, Sultan berdiri tegap dan senyumannya menandakan bahwa ia telah menang dalam mendapatkan Fira.


"Dia masih seperti dulu, cantik dan sederhana," lirih Sultan menyeringai.


"This woman is pregnant. Luckily the pregnancy was fine," ucap dokter itu. (Wanita ini sedang hamil. Untung saja kehamilannya baik-baik saja.)


"What? She is pregnant?" Sultan sontak terperanjat. (Apa? Dia hamil?)


"Ya."


"That d*mn Henry has made the woman of my dreams like this," geram Sultan. (Henry s*alan itu telah membuat wanita impianku seperti ini.)


"After this, what should i do?" tanya dokter itu.


"You can go home now," jawab Sultan. (Anda boleh pulang sekarang.)


Dokter itu meninggalkan dua resep obat untuk Fira yang diletakkan di nakas. Sultan menggerutu dalam hati saking berang karena mengetahui Fira sedang mengandung anak Henry. Lirikan mata Sultan mengarah pada dokter yang sudah pergi. Ia terus melihat dokter itu, memastikan bahwa dokter benar-benar keluar dari rumahnya. Sultan lantas menutup pintu kamar sembari menguncinya.


Wajah beringas itu mulai kerasukan aksi buruk. Sultan pelan-pelan naik ke kasur untuk mendekati Fira. Napasnya mengendus-endus seraya melihat Fira dengan tatapan mesum. Pria itu tersenyum menyeringai karena berhasil membawa Fira di rumahnya. Ia bagaikan serigala yang hendak menerkam mangsanya. Inilah momen yang ditunggu oleh Sultan, yakni merebut Fira dari Henry. Ia pun tidak rela jika Rafi yang mendapatkan Fira.


Namun ketika Sultan hendak beraksi menyentuh, tiba-tiba Rafi mendobrak pintu kamar Sultan. Sepasang mata Rafi bagaikan ada api yang tengah membara. Hatinya terbakar karena melihat Sultan hendak melakukan tindakan asusila kepada Fira. Rafi persetan menghantam Sultan dengan kepalan tangan yang kuat, hingga membuat Sultan terjatuh dari kasur.


"Aku tidak rela jika kau mendapatkan Fira! Aku terambisi ingin memiliki Fira!" bentak Sultan.


Rafi dan Sultan baku hantam. Yang awalnya dua pria ini bersekongkol untuk menghancurkan Henry, kini keduanya berubah jadi musuh karena memperebutkan Fira. Rafi menggila bergelut dengan Sultan. Rafi tidak bisa melihat Fira disakiti oleh siapapun, sehingga emosinya bak api yang membakar kayu. Ia berhasil membuat Sultan lemas tidak berdaya. Wajah beringas Sultan menjadi babak belur dan berlumuran darah. Begitu juga wajah Rafi yang penuh lebam, tapi ia tidak peduli dengan lukanya.


Sementara Sultan tengah lemas tidak berdaya di lantai. Mendengar kebisingan di dalam kamar, Fira sontak bangun dari tidurnya. Saking terkejutnya, Fira lantas terbeliak dan ketakutan melihat pertikaian antara Rafi dan Sultan. Rafi mengambil kesempatan untuk menggendong Fira. Fira sempat memberontak dan menjerit saat digendong oleh Rafi. Namun Rafi tidak peduli. Ia bergegas membawa Fira keluar dari rumah pria mesum itu.


"Kamu lancang, Raf!" pekik Fira.


"Bukan saatnya untuk berdebat, aku menyelamatkanmu dari Sultan yang ingin menyentuh dirimu!" tegas Rafi.


"Rafi! Dasar bedebah kau!" Suara Sultan menggema hingga ke seluruh ruangan.


Rafi bergegas memasukkan Fira ke jok belakang mobil. Ia menyuruh Fira untuk berbaring di jok karena sewaktu-waktu Sultan bisa mengancam keselamatan dirinya dan Fira. Fira pun menuruti perintah Rafi. Wanita itu merebahkan diri di jok belakang. Beruntung, di dalam mobil terdapat selimut, Rafi pun memberikan selimut kepada Fira. Fira lantas menutupi diri dengan selimut seraya menyentuh perut dan berdzikir.


Rafi mulai gelagapan saat melihat Sultan terhuyung-huyung keluar dari rumah. Ia bergegas masuk ke dalam mobil. Pria berusia tiga puluh tahun itu cekatan memutar kunci mobil, ia meningkatkan kecepatan laju mobil menelusuri jalanan.


"Aku mohon bawa aku ke rumah sakit, Raf! Perutku sakit," keluh Fira.


"Oke, aku segera membawamu ke rumah sakit. Kamu harus kuat, Fir," kata Rafi.


"Aku enggak tahan, Raf. Aku khawatir anak dikandunganku kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Astaga! Sekarang aku melaju ke rumah sakit."


"Raf, sakit!" jerit Fira.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah peluru dapat menembus jendela belakang mobil. Rafi sontak terkesiap, tahu bahwa Sultan sedang bermain senjata dengannya. Rafi sudah menduga insiden ini bakal terjadi. Tangan kirinya sigap memasangkan helm anti peluru untuk melindungi kepala Rafi. Yang menjadi kekhawatiran Rafi adalah Fira. Rafi takut jika Fira dilukai oleh Sultan yang sedang membabi buta itu.


Rafi menyiapkan sebuah pistol di dalam laci mobil. Ia ambil pistol guna menyerang Sultan. Walaupun seraya mengemudi mobil, tapi Rafi piawai dalam pertikaian ini. Ternyata mobil yang dikemudi Sultan berada di samping mobil Rafi. Sultan terus menembakkan peluru ke jendela mobil Rafi, hingga menyebabkan jendela itu retak. Di sisi lain, Rafi juga menembakkan peluru ke arah jendela mobil Sultan. Dua pria ini saling sahut-sahutan senjata. Sepanjang perjalanan hanya terdengar kebisingan suara peluru dari pistol milik Rafi dan Sultan.


"Dasar pria b*jat! Sudah jadi pengkhianat, sekarang mau menguasai Fira. Tidak akan ku biarkan kau hidup, Sultan!" umpat Rafi.


***


Keberadaan mobil yang dibawa oleh Rafi dan Sultan telah diketahui para polisi dan detektif. Mobil sedan yang ditumpangi oleh James, Ammar dan teman-teman berada di belakang mobil Rafi dan Sultan. Di belakang mobil sedan itu juga ada mobil polisi yang mengejar mobil Rafi dan Sultan. Rafi yang sedang menyetir mobil antara menembak jendela mobil Sultan, kebingungan dan memikirkan kondisi Fira. Kondisi menegangkan ini membuat Rafi kian kalut.


Di lain arah, setengah badan Ammar dan James keluar dari jendela mobil. James dan Ammar berkali-kali menembakkan peluru ke arah mobil Sultan dan Rafi. Karena merasa ditembak dari belakang, Sultan mengarahkan tembakan itu kepada James dan Ammar. Namun James dan Ammar berhasil memposisikan diri ke dalam mobil supaya tidak terkena peluru dari Sultan.


Sultan kembali menggila menembak ke arah jendela mobil Rafi. Kali ini pria berwajah beringas itu berhasil menembak bahu kanan Rafi. Seketika Rafi berteriak kesakitan karena blazer yang ia kenakan robek dan bahunya terkena peluru dari Sultan. Bahu Rafi mulai mengucurkan darah. Namun Rafi tetap melaju kencang menuju ke Rumah Sakit Toronto demi keselamatan Fira. Rafi tidak lagi mendengar rintihan Fira, bisa jadi Fira pingsan untuk kedua kalinya. Rafi memberanikan diri untuk menancapkan gas mobil.


"Bertahanlah, Fira! Aku enggak mau kehilanganmu. Maafkan aku telah membuatmu menderita. Ini semua salahku yang dendam kepada Henry," gumam Rafi.


"Menyerahlah, Raf! Serahkan Fira padaku atau kau akan mati!" pekik Sultan dari mobilnya.


"Aku tidak akan pernah menyerahkan Fira pada siapapun! Fira itu istri Henry! Hanya Henry yang berhak memiliki Fira!" bentak Rafi.


Rafi meningkatkan lagi laju mobil. Ia membanting setir supaya dapat menghindari Sultan. Sebentar lagi Rafi akan tiba di Rumah Sakit Toronto. Sementara bahunya terus mengalir darah segar. Rafi lagi-lagi tidak peduli dengan sakitnya, yang terpenting adalah keselamatan Fira.


Ternyata mobil yang dikendarai Sultan berhasil dilumpuhkan oleh tim polisi yang berada di mobil polisi. Tembakan terus tertuju pada ban mobil Sultan, membuat Sultan panik dan menggerutu kesal. Rafi sempat melihat ke belakang, Sultan berhasil dibekuk polisi. Ini kesempatan Rafi untuk menyelamatkan Fira menuju ke Rumah Sakit. Namun sayangnya, mobil sedan yang membawa James dan Ammar terus mengikuti mobil Rafi dari samping.


"Tolong, jangan tembak aku! Ada Fira di dalam mobil ini. Dia pingsan! Aku sekarang membawanya ke rumah sakit," teriak Rafi kepada James dan Ammar.


Rafi tidak kepikiran lagi untuk menggunakan bahasa Inggris karena diselimuti rasa cemas. Ia berharap salah satu dari mereka ada yang mengerti bahasa yang diucapkan Rafi. Untung ada Ammar yang fasih berbahasa Indonesia, jadi ia tahu perkataan Rafi. Jadi Ammar mengatakan kepada James untuk tidak menembak Rafi. Dua mobil itu saling melaju ke rumah sakit.


Mereka tiba di Rumah Sakit Toronto. Rafi merintih saat turun dari mobil. Ia lagi-lagi berteriak meminta pertolongan kepada dokter dan perawat agar Fira segera diselamatkan. Tiga dokter dan empat perawat datang sembari membawa kasur dorong. Rafi tidak bisa menggendong Fira karena bahunya terluka akibat tembakan dari Sultan. Tiga dokter itu bergotong royong menggendong Fira dan meletakkan Fira di kasur dorong. Empat perawat bergegas mendorong kasur dan membawa Fira ke ruang pemeriksaan.


"Semoga Fira baik-baik saja. Maafkan aku, Fira. Aku akan menembus kesalahanku selama ini," ungkap Rafi.


James, Ammar dan teman-teman bergegas turun dari mobil. Pandangan Rafi mulai samar-samar saat melihat James, Ammar dan teman-teman. Darah yang terus mengalir dari bahu yang terluka, membuat energi Rafi terukas dan lantas pingsan. Ammar, James dan teman-teman menggotong Rafi ke dalam rumah sakit. Darah yang mengalir dari bahu Rafi menetes di lantai. Kejadian memilukan ini menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit.


Momen yang pas karena keluarga Fira berada di rumah sakit. Tiga anak Fira seketika jadi tahu kondisi sang mama yang terbaring lemas di kasur. Zayn, Zema dan Alira menangis sejadi-jadinya melihat Fira tidak sadarkan diri. Ratih, Lefia dan Fatih masing-masing merangkul Zayn, Zema dan Alira.


"Mamaaaa," jerit Zayn, Zema dan Alira.


"Zayn, Zema dan Alira sama Nenek, Kakek dan Mbak Lefia dulu. Biar Mama diperiksa dokter," bujuk Ratih.


Zayn, Zema dan Alira melihat Rafi tengah digotong oleh beberapa pria bertubuh kekar. Ratih dan Fatih tidak menyangka jika Rafi terlibat dalam kejadian menegangkan ini. Beliau berdua melihat luka parah di bahu Rafi hingga darah terus mengucur di lantai.


"Om Rafi," ucap Zayn.


"Barangkali Om Rafi yang menyelamatkan Mamamu dari penculik. Kan tadi kita dapat kabar dari Mrs. Selena. Yang penting sekarang Mama bisa cepat ditemukan, Nak," tutur Ratih.


Zayn lantas membatin, "Om Rafi bisa baik dengan Mama. Om Rafi bisa menolong Mama, tapi Zayn rasa Om Rafi jahat sama Papa Henry."

__ADS_1


***


Beberapa hari menjelang akhir kisah Energy Of Love 2. Jangan lupa like, vote, komentar dan rekomendasi novel ini ke orang-orang terdekat kamu, ya. Yuk dukung terus novel Energy Of Love. Terima kasih.


__ADS_2