Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Sesuatu Yang Terpendam


__ADS_3

Rafi berkeliling di dalam distro sambil mengawasi pegawai dan pembeli. Sebagai pemilik distro, Rafi tetap menyapa ramah pelanggannya. Ia senang karena penjualan pakaiannya semakin diminati oleh orang-orang di Toronto. Rafi lantas melihat jendela, di luar sana hari mulai berwarna jingga. Ia celingukan mencari seseorang yang tidak hadir di distro. Seseorang yang biasanya membantunya di distro. Tak lain adalah Lena.


"Mungkin Lena sedang sibuk tugas kuliahnya," lirih Rafi.


Ketika Rafi hendak berbalik arah, pintu distro terbuka. Lena baru saja tiba di sana. Rafi lantas menoleh ke gadis itu. Namun wajah Lena datar kemudian sibuk merogoh tas. Rafi mengernyit heran melihat Lena yang tidak seperti biasanya. Yang biasanya Lena ceria dan menyapa Rafi saat masuk ke dalam distro.


"Kamu habis dari mana?" tanya Rafi.


Lena menatap Rafi dengan mata membulat lebar dan menjawab, "tumben, aku ditanyain kayak gitu. Biasanya enggak pernah ditanyain habis dari mana?"


"Ya, biasanya kamu izin lewat chat kalau telat ke distro atau absen ke distro. Cuma hari ini enggak ada izin dulu."


Lena mencebik. "Mau tahu aja."


"Kok gitu sih ngomongnya? Lagi PMS, ya, kamu."


"Tadi aku mau ngomong apa, ya? Malah lupa."


"Dasar aneh." Rafi menilik Lena dari ujung jilbab hingga sepatu.


"Aku ngomong soal Bang Rafi berantem sama Henry kemarin, enggak, ya? Aku ingin menegur Bang Rafi biar enggak bawa masalah di rumah tangga Kak Fira," batin Lena. Ia menatap sinis ke Rafi.


"Ada apa sih? Lihat aku segitunya." Rafi lantas melihat dirinya sendiri karena ditatap Lena, seakan Lena sedang memandang kesalahannya.


"Aku mau lanjut kerja saja."


"Hei, kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu habis dari mana?"


Lena melewati Rafi begitu saja. Rafi geram karena Lena mengabaikannya. Gadis itu bergegas menuju ke ruang ganti baju. Rafi melihat sekitar, ia tersenyum karena percakapannya dengan Lena menjadi pusat perhatian pelanggan. Pria berkaos hitam itu lantas menyingkir dari sana.


Rafi dan Lena berada di kasir. Sorotan mata Rafi tidak lepas dari wajah gadis itu. Sementara Lena menghitung total baju yang dibeli oleh pelanggan. Lena begitu piawai mengelola mesin kasir. Ia menyerahkan kartu kredit kepada pelanggan sebagai bentuk pembayaran berhasil. Lena lantas mengatupkan kedua tangan sambil menunjukkan keramahan kepada pelanggan agar nyaman belanja baju di distro ini.


"Aku masih penasaran, tadi kamu dari mana?" ucap Rafi.


"Kok Abang mau tahu banget sih!" geram Lena.


"Biasanya kamu jujur kalau habis ke mana-mana. Tumben ini kayak ada yang disembunyikan," protes Rafi.


"Aku mau tanya sesuatu dulu ke Abang."


"Tanya apa?" Rafi keheranan.


"Kalau suatu hari ada perempuan lain yang mencintai Bang Rafi, respon Abang gimana? Apa Abang menerima cintanya atau sebaliknya? Jawab jujur."


Rafi terkesiap mendengar pernyataan Lena. Lena menatap Rafi seolah sedang menunggu jawaban dari Rafi. Pria yang di hadapannya itu sejenak menggaruk tengkuk. Rafi mendongak menatap ke langit-langit distro. Pria dengan berewok di dagu itu bingung hendak berbicara apa.


"Bang," panggil Lena.

__ADS_1


"Hmm," kata Rafi.


"Abang masih ada rasa, ya, sama Kak Fira. Sehingga Abang susah jawab pertanyaanku," sambung Lena.


"Enggak gitu juga sih."


"Lantas?"


"Ya, lagi pula aku udah umur tiga puluh tahun. Aku menikmati mengurus distro. Jadi, sampai enggak ada kepikiran cari jodoh. Tapi, emang ada yang mau sama aku?"


"Kalau ada yang mau sama Abang, gimana?"


"Hmm, biar mengenal satu sama lain dulu aja kali, ya. Aku ini sulit mencintai seseorang."


"Karena Abang belum bisa mengikhlaskan Kak Fira?"


Rafi terdiam. Lena terus menatap Rafi, seolah dia sedang menginterogasi pria itu. Jika sudah menyangkut dengan Fira, bola mata Rafi seakan masih berat melepaskan Fira. Wajah Rafi lantas murung. Rafi justru mengingat saat Fira masih satu pekerjaan dengannya di Singapura. Namun jika mengingat perubahan Fira semenjak menikah dengan Henry, membuat Rafi terasa pilu. Tanpa terasa air matanya mengalir di sudut mata.


Lena tercengang melihat Rafi menitikkan air mata. Gadis itu menerka-nerka jika Rafi masih berat dengan pernikahan Fira dan Henry.


"Bagaimana denganmu? Saat kamu mempunyai sahabat sejak kecil, kemudian dewasa ini kamu menikah dengan pria lain. Apa kamu juga berubah dan tidak ingin bersahabat lagi dengan sahabat kecilmu?" ujar Rafi.


"Aduh, malah mengalihkan pembahasan nih orang," gumam Lena.


"Gimana, Len?" tanya Rafi.


"Tergantung. Kalau aku punya suami, jika dia mengizinkanku bersahabat, ya, tetap nyambung silahturahmi dengan sahabat kecil maupun sekolah. Aku ada kok sahabat laki-laki, dari kecil sampai SMA. Tapi, enggak ada tuh melibatkan perasaan. Ya, kita have fun aja sih. Kalau nanti aku punya suami, tapi dia enggak mengizinkan, ya, aku nurut suami dong," jelas Lena.


"Apa Abang tidak ada kepikiran untuk move on dari Kak Fira? Mencoba buka hati untuk perempuan lain. Di dunia ini banyak sekali perempuan. Kalau Abang sayang sama diri sendiri, tentu Abang akan berusaha mengubah hidup dan menata masa depan. Jangan tenggelam dalam harapan yang mustahil untuk diraih."


"Sebenarnya aku bisa melepaskan Fira, sejak tahu ia menikah dengan Mas Kirsandi. Namun saat aku tahu Fira menjanda, dari situ aku mulai tumbuh harapan ingin mendapatkan cintanya lagi. Nasib begitu memilukan, aku jadi bersaing dengan Henry. Bisa-bisanya pemuda itu hadir di tengah kehidupan aku dan Fira. Sampai saat ini aku masih sakit hati dengan Henry."


Lena bisa melihat ada kegusaran dalam dua bola mata Rafi saat membahas tentang Henry. Walaupun ia tidak tahu persis kisah cinta segitiga antara Henry, Fira dan Rafi, tapi Lena paham dari cerita Rafi. Lena tidak patah semangat untuk mendekati Rafi. Meskipun setiap hari hatinya pilu menghadapi Rafi yang tidak kunjung move on dari Fira. Lena optimis, karena perempuan yang bisa dekat dengan Rafi adalah dirinya.


"Takdir Allah itu tidak ada yang tahu. Jika sepasang kekasih ditakdirkan berjodoh dan ada campur tangan Allah, tidak akan ada seseorang yang bisa memisahkan keduanya. Walau bagaimanapun caranya," tegas Lena.


Rafi menoleh ke Lena. "Setidaknya jangan sampai memutuskan silahturahmi. Teganya Fira enggak hadir di pernikahan Rahline kemarin. Siapa lagi kalau bukan Henry yang tidak memberi izin? Semua dalang ada di Henry."


"Jadi, Abang dendam kepada Henry? Istighfar, Bang. Hidup cuma sekali."


"Kamu tahu, pertama, Henry hadir di kehidupanku dan Fira. Kedua, Henry membuat Fira enggak hadir di pernikahan Rahline. Dan terakhir, Henry menghancurkan jam tangan pemberianku untuk Fira."


Rafi berang dan memutuskan pergi dari sana. Lena dapat menangkap ekspresi Rafi, penyebab Rafi masih menganggu Fira dan Henry karena ada kegusarannya pada Henry. Di sisi lain, Lena jadi khawatir dengan Fira dan Henry. Sepintas pikirannya jika sewaktu-waktu Rafi melakukan pembalasan dendam kepada Henry.


Seketika Lena terbelalak. "Apa aku harus memberitahu soal ini ke Kak Fira? Tapi---aku enggak mau mencampuri urusan mereka. Di sisi lain, aku kasihan sama Kak Fira dan Henry. Semoga tidak terjadi apa-apa. Kalaupun terjadi apa-apa, aku tidak akan tinggal diam. Aku harus mencegah Bang Rafi untuk menganggu Kak Fira dan Henry."


***

__ADS_1


Rafi melamun di kursi. Ruang kerjanya memang hangat. Namun lebih hangat lagi perasaan Rafi yang hampa tanpa dicintai oleh orang tercinta. Pria itu kembali mengingat masa kebersamaannya dengan Fira. Pertama kalinya Rafi jatuh cinta pada sosok gadis kecil cantik nan imut. Saat itu usia keduanya tujuh tahun.


Rafi kecil masih malu-malu untuk berkenalan dengan Fira kecil. Hingga kemudian keduanya menjadi teman sepermainan ketika Fira berlibur ke Lumajang. Mulai dari bermain, berlari dan bercanda di pantai, kemudian menghadiri taman pendidikan Al-Qur'an untuk mengaji bersama.


Disaat Fira kecil dijauhi teman perempuan, hanya Rafi kecil yang menemaninya. Ketika Fira menangis, Rafi justru menggodanya dengan menyebut jambu manis karena hidung mancung Fira seperti jambu. Ketika Fira tersungkur di tanah sebab dinakali anak-anak lain, Rafi melawan kenakalan anak-anak itu. Jika Rafi dan Fira sedang bertengkar. Hanya Rafi yang mengalah supaya baikkan lagi dengan Fira.


Menginjak usia remaja, Rafi dan Fira membatasi jarak. Keduanya menyadari bukan anak kecil lagi yang leluasa berpegangan tangan, merangkul hingga mencubit pipi dan hidung. Rafi dan Fira sudah baligh, tahu jika keduanya bukan mahram. Namun persahabatan keduanya masih berjalan sebagaimana mestinya. Yang membuat Rafi senyum-senyum sendiri, ketika mengingat dirinya dan Fira pernah saling memendam perasaan demi menjaga keutuhan persahabatan. Namun sekarang persahabatan Rafi dan Fira telah luruh.


Lamunan Rafi seketika buyar saat mendengar dering gawai. Rafi mengambil gawai di meja kerja. Dilihatnya ada pemberitahuan pesan masuk. Matanya terbeliak saat membaca pesan masuk dari seseorang.


[Raf, ternyata Henry dan Fira ada di Toronto. Pas gue ketemuan sama temen gue di hotel, gue lihat mereka di Hotel The Ritz-Carlton.]


Ketika Rafi hendak membalas pesan dari seseorang itu, tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor telepon yang belum dikenalnya. Rafi mengerutkan kening. Ia penasaran dengan nomor telepon asing itu. Tanpa berpikir panjang, Rafi mengangkat telepon tersebut.


"Halo, who are you?" kata Rafi. (Halo, siapa kamu?)


"Halo, rekan bisnis saya dulu waktu di Singapura. Apa kamu masih mengingat saya?" ucap seorang pria bersuara berat.


Rafi sejenak berpikir, kemudian ia tercengang dengan si penelepon tersebut. "Sultan?"


"Ya, you are a smart, Dude!" (Ya, kamu pintar, Bung!)


"Tahu dari mana nomor teleponku ini?"


"Nampaknya tak pentinglah, saya tahu nomor telepon kamu dari mana. Yang jelas saya nak berkomunikasi baik dengan kamu lagi," jelas Sultan dalam logat Melayu. Karena Sultan berasal dari negeri Jiran Malaysia.


"Sebenarnya aku malas berurusan denganmu. Aku juga sudah melupakanmu sejak kau mengganggu Fira."


"Hei, cam mana kabar Mak Cik Fira maksudnya si comel tuh? Apa kamu menikahinya? Atau dia masih menjanda? Hahaha."


"Justru Fira menikah dengan Henry. Kamu ingat Henry yang menendangmu dengan bola itu?"


"Hah? Pemuda ingusan itu, ye. Hmm, saya tahu dia orang sekarang jadi pengusaha. Henry ternyata pemilik Excellent Entertainment and Advertising di Korea Selatan. Saya tidak menyangka jika dia orang dari keluarga terpandang. Tentu Fira memilih Henry, karena Henry lebih kaya darimu, hahaha."


"Kau ingin aku hajar, hah? Kalau kau meneleponku hanya ingin memanasiku, lebih baik aku blokir nomor teleponmu!" geram Rafi.


"Enjoy, Raf. Saya nak berjumpa denganmu. Ada sesuatu yang mahu saya bicarakan padamu. Maybe, itu saja dari saya, see you next time, Raf."


Sultan lebih dulu mengakhiri percakapan dengan Rafi. Sementara Rafi tidak habis pikir dengan Sultan yang tiba-tiba hadir kembali. Rafi jadi penasaran terhadap Sultan yang ingin bertemu dengannya. Ide itu seketika muncul di kepala, Rafi menyeringai. Bertemu dengan Sultan, bisa jadi kesempatannya untuk merencanakan sesuatu.


Kemudian Rafi mengetik pesan kepada seseorang yang tadi mengirimnya pesan. Namanya seseorang itu adalah Kevin. Dari raut wajahnya, Rafi tidak sabar menunggu momen yang diinginkannya selama ini. Adanya Sultan, Rafi bisa mengajak kerjasama untuk menggapai impian terpendamnya itu.


[Kev, kita bakal tambah teman. Ada teman gue yang mau ketemu sama gue. Entar gue kenalin ke lo. Gue punya ide sesuatu.]


Pesan yang diketik oleh Rafi telah terkirim ke nomor telepon Kevin. Rafi menyandarkan punggung di kursi. Harusnya Rafi tidak bersikap jengkel kepada Sultan. Ia merasa lega karena kehadiran Sultan akan membawa keberuntungan baginya. Rafi memandang langit-langit ruang kerja sambil membayangkan rencana yang apik dan menyenangkan.


***

__ADS_1


Bagaimana tanggapanmu setelah membaca novel ini? Tinggalkan komentar di bawah ini yuk. Diharapkan untuk memberi komentar tentang novel ini. Supaya penulisnya tahu dan kenal ulasan dari setiap pembaca sebenarnya.


Yuk, dukung terus novel Energy Of Love 2 karya Famala Dewi ini. Bagaimana cara dukungnya? Dengan cara sukai (like), kasih vote, dan rate (bintang 5). Supaya authornya semangat lanjutin kisah ini sampai tamat. Rekomendasikan novel Energy Of Love 1 dan 2 ini ke keluarga, sahabat dan kerabat kalian, ya. Terima kasih.


__ADS_2