Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 10 - Dongeng Yang Masih Menjadi Misteri.


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan, mereka berdua sudah ditempatkan di kedai makanan pemilik wanita tua tadi. Hazel sebagai pelayan yang mengantarkan pesanan pembeli, sedangkan Lynx berdiri di depan kedai untuk menarik perhatian pelanggan, sesekali merayunya.


Sepertinya ketampanan Lynx yang membawa keberuntungan itu benar adanya. Sedikit demi sedikit para gadis mau pun wanita dewasa datang memasuki kedai. Hanya diberi senyuman manis dengan mata yang mengerling, mereka sudah seperti cacing kepanasan.


Begitu heboh, dan langsung menyerbu Lynx untuk melihat dari dekat. Tak segan mereka menyentuh tubuh Lynx, mengunyel-unyel pipinya, atau lebih parahnya lagi sampai memeluk. Tapi tidak dengan sebuah ciuman. Lynx akan langsung menolak jika ada yang melakukannya.


“Hei, aku membayarnya tidak untuk kalian nikmati dengan cara seperti itu. Jika kalian masih ingin melihatnya, masuk dan pesan lah makanan,” teriak wanita pemilik kedai pada gerombolan perempuan di depan sana.


Mereka pun dengan segera mematuhi apa yang dikatakannya tadi, memasuki kedai yang kecil itu secara berdesak-desakan. Memilih meja yang dekat dengan jendela agar bisa melihat Lynx lebih jelas.


Hazel pun mulai kewalahan karena harus mengantarkan banyak pesanan dari satu meja ke meja lainnya. Dia begitu gesit berlari ke sana kemari dengan nampan penuh tanpa melakukan kesalahan sedikit pun.


Ketika pesanan sudah Hazel antar semua, akhirnya ia bisa beristirahat sebentar. Berdiri di depan meja kasir seraya memeluk nampan yang kosong. Melihat satu per satu wajah wanita genit yang sibuk mengoceh tentang ketampanan Lynx.


Karena tempat kedai ini kecil dan sempit, hanya muat untuk beberapa orang saja, jadi banyak orang yang mengantri di luar sana. Bagian mereka yang sibuk menggoda Lynx.


Hazel yang melihatnya sesekali bergidik merinding. Pasalnya, aneh saja jika ada perempuan yang begitu tergila-gila dengan pria tampan. Karena dirinya sendiri tidak begitu suka. Terlebih, ia tahu kalau Lynx bukanlah manusia seutuhnya.


Jika mereka semua tahu identitas Lynx yang sebenarnya, mungkinkah reaksi mereka akan berbeda?


Tapi dibanding memikirkan itu, perhatian Hazel teralihkan oleh pembicaraan para wanita yang duduk di meja dekat tempatnya berdiri. Hazel menajamkan pendengarannya, ikut menyimak apa yang mereka obrolkan. Karena ini menyangkut Lynx.


“Iya, kan? Coba lihat saja warna matanya itu. Sepanjang aku hidup di desa ini, tidak pernah ada satu orang pun yang memiliki warna mata seperti itu. Apa mungkin dia baru pindah ke sini?”


Lawan bicara wanita tampak mengangguk, menyetujui. “Itu benar. Terlebih, warna mata kanan dan kiri pria itu berbeda. Aquamarine dan tanzanite. Aku jadi teringat cerita dongeng yang pernah ibuku ceritakan dulu. Kau juga pasti pernah mendengarnya semasa kecil.”


Seperti tahu kemana arah pembicaraan temannya itu, jarinya seketika menjentik karena teringat sesuatu. “Tentang kerajaan sihir yang ditempati dan dikuasai oleh kawanan rubah yang bisa menjelma menjadi manusia. Itu bukan yang kau maksud?”


“Benar. Bukankah warna mata pria itu sama persis dengan para kawanan rubah yang bisa menguasai sihir di negeri dongeng itu? Aku pikir...”


“Hei, kembali lagi pada ucapanmu, itu hanya dongeng. Lagi pula, jika itu memang ada secara nyata, seharusnya kerajaan sihir itu sudah hilang. Karena setahuku, kerajaan tersebut lenyap setelah melakukan perang dengan kawanan anjing yang juga memiliki kerajaan sendiri dan lebih banyak menguasai ilmu sihir. Di jaman ini tidak ada lagi sihir, sus,” potongnya seraya terkekeh diakhir ucapan.

__ADS_1


Ia ikut tertawa. “Haha, benar. Rasanya bodoh sekali jika mempercayai cerita dongeng seperti itu. Parahnya lagi, kenapa harus cerita tentang binatang dan dunia sihir? Tidak adakah sejarah yang menuliskan seorang pangeran tampan dan gadis desa bersama?”


“Itu hanya khayalanmu, bodoh. Berhentilah berbicara, cepat habiskan makananmu. Aku ingin pergi dari sini dan kembali menggoda pria tampan di depan sana. Siapa tahu dia ingin tidur denganku nanti malam.” Gelakan tawa terdengar dipenghujung kalimat.


“Kau juga tukang mengkhayal. Bisa-bisa kau dihabisi oleh wanita di sini setelah tahu kau tidur dengannya,” timpalnya, lalu tertawa bersama.


Hazel yang sedari tadi mendengar secara saksama apa yang diobrolkan mereka, tak sadar kalau saat ini sebuah tangan melambai-lambai di depan wajahnya. Sampai sebuah tepukan cukup keras di punggungnya, barulah ia mengerjap kaget.


Dirinya baru sadar kalau wanita tua pemilik kedai ini mencoba mengajaknya bicara. Dengan sigap Hazel membenarkan posisi berdirinya, sedikit menunduk karena merasa bersalah telah lalai dalam bekerja.


“Apa yang sedang kau pikirkan? Sana pergi ke dapur, ambil dan antarkan pesanan! Aku membayarmu bukan untuk melamun di sini!” sentaknya sambil berkacak pinggang.


“Ba-baik. Aku mengerti, Nyonya. Maafkan aku.”


Hazel kembali bekerja melakukan tugasnya, namun pikirannya terisi oleh hal lain. Masih terngiang-ngiang dengan pembicaraan dua wanita tadi. Mencoba berpikir kalau apa yang mereka katakan bukanlah sebatas dongeng semata.


Karena Hazel yang sudah melihat sendiri kalau ternyata Lynx memang rubah yang bisa menjelma jadi manusia, jadi memastikan bahwa Lynx adalah salah satu kawanan rubah dalam dongeng tersebut.


Tapi karena tidak mau menyimpulkan terlalu cepat bagaimana kebenarannya, Hazel ingin mencari bukti-bukti pendukung. Seperti membaca lebih lengkap dongeng yang diceritakan wanita tadi. Mungkin buku yang menceritakan dongeng tersebut dijual di bazar buku.


Tak terasa hari mulai senja, itu tandanya kedai makanan ini harus segera tutup. Inginnya sang pemilik, kedai harus buka sampai malam hari. Tapi Hazel tidak menyetujuinya, mengingat kalau wujud Lynx akan berubah saat malam.


Jadi meski pun pelanggan masih berbondong-bondong mengantri di luar, terpaksa kedai harus ditutup. Setidaknya penjualan makanan hari ini benar-benar luar biasa, melebihi ekspektasi dan perkiraan target.


“Ini upah kalian hari ini.” Wanita itu menyerahkan beberapa lembar uang dengan nominal besar pada Hazel.


Dengan manik yang berbinar-binar dan tangan sedikit gemetaran, Hazel menerimanya. Baru kali ini dirinya dibayar dengan jumlah uang sebanyak itu. Jika dalam sebulan dirinya terus bekerja di sini, ia bisa mengumpulkan banyak uang untuk membayar hutang.


“Ah, terima kasih banyak, Nyonya.”


“Itu karena kerja kalian sangat bagus hari ini. Dan bintang utama kita untuk mensukseskan semuanya adalah si tampan ini.” Tangannya menyentuh dagu Lynx sembari tersenyum genit.

__ADS_1


Sedangkan Lynx yang sebenarnya sudah muak digoda oleh banyak wanita seharian ini, hanya bisa menampilkan senyuman kikuk.


“Ngomong-ngomong, siapa nama kalian? Namaku Marrie.”


“Edgard.”


Kepala Hazel langsung menoleh pada Lynx, kenapa dia menyebutkan nama lain? Atau mungkin itu nama asli Lynx? Sungguh, ini membingungkan.


“Dan ini Hazel.” Lynx mewakilinya sebab Hazel masih bengong dengan raut bingung sembari mengarahkan tatapan padanya.


“Ah, baiklah kalau begitu. Edgard, Hazel. Kalian boleh pulang sekarang. Besok kalian harus datang pagi-pagi sekali. Kita harus menghasilkan banyak uang, mengerti?”


“Mengerti, Nyonya,” jawab mereka serempak.


Mereka berdua berjalan beriringan keluar kedai. Tidak ada obrolan apa pun yang mengisi keheningan langkah kaki, tapi Hazel ingin sekali bertanya pada pria itu.


“Kenapa kau berbohong? Apa Edgard nama aslimu?” Hazel akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang membuat pikirannya penuh.


Lynx menjawab tanpa menoleh, “Hanya nama samaran.”


“Kenapa?”


“Apanya yang kenapa?” Lynx bertanya balik.


Hazel berdecak malas, “Ck, kenapa kau menggunakan nama samaran?”


“Apa itu penting?” Langkah Lynx dipercepat, sedikit mendahului Hazel. Seolah memang menghindari keingintahuan gadis itu.


Mata Hazel menyipit, menatap punggung Lynx dengan tatapan menginterogasi. “Apa mungkin kau seorang pangeran rubah dari Kerajaan sihir yang ada dalam cerita dongeng?”


Deg!

__ADS_1


Secara reflek Lynx menghentikan langkah saat mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Hazel. Dirinya harus berekspresi seperti apa untuk menepis pertanyaan itu agar Hazel tidak curiga?


***


__ADS_2