
Tak terasa, hari ke hari sudah terlewati. Lebih dari dua minggu Lynx terus menempeli Hazel ke mana-mana. Pertemuan mereka yang tak disangka-sangka, menghadirkan perasaan terlarang yang semestinya dikubur sejak awal.
Tapi apa daya, cinta liar yang kian menumbuh di hati tak bisa diatur atau diperintah akan kemana membawa alur cerita. Segala usaha kecil mau pun besar terus Lynx lakukan. Tujuannya hanya satu, ingin mendengar pengakuan bahwa Hazel juga mencintainya.
Meski sebenarnya tanpa diminta pengakuan pun, dari gerak-gerik dan gelagat sehari-hari gadis itu sudah bisa dibaca seperti apa. Bahkan sudah lebih dari sekali Lynx memergoki Hazel yang tengah salah tingkah dengan pipi merah meronanya.
Namun kembali pada tujuan awalnya, Lynx tidak akan langsung menyimpulkan kalau Hazel juga diam-diam memendam perasaan. Sebelum mendengar langsung seperti apa isi hati gadis itu, maka Lynx tidak akan pernah berhenti untuk mengejar.
“Hufft!” Hazel membuang nafas seraya menyeka peluh yang menuruni dahi. “Akhirnya aku bisa menyelesaikan semua baju yang aku jahit.” Penglihatannya begitu fokus tertuju pada setelan pakaian berwarna cokelat tua.
Pandangan berpindah pada pintu, Hazel meneriaki nama Lynx agar menghampirinya ke sini. “Lynx, coba kau kemari sebentar.”
Suara grasak-grusuk dari langkah kaki yang bergerak tak tenang itu semakin terdengar mendekat. Sampai akhirnya sesosok pria bertubuh jangkung dengan bahu lebarnya itu muncul dari balik pintu.
Wajah Lynx sedikit memerah, juga dibanjiri oleh keringat yang mengucur pada sebagian wajah dan lehernya. Karena pria itu hanya bertelanjang dada dan bagian tubuh bawahnya hanya ditutupi oleh kain kecil, sehingga aura keseksiannya tampak meningkat.
Niat Hazel yang semula ingin meminta Lynx untuk mencoba pakaian yang sudah dirinya jahit, langsung gugur ketika matanya menyorot hewan pengerat sedang diapit oleh bibir pria berwajah lugu tersebut.
Sembari berkacak pinggang, Hazel mengomeli, “Hei, lepaskan tikus itu. Sudah kubilang, kau itu bukan kucing, Lynx. Kenapa kau hobi sekali memangsa tikus-tikus di sini? Kau bisa sakit perut jika memakannya secara langsung.”
Gaya Hazel memarahi persis seperti seorang kakak yang sedang menceramahi adik laki-lakinya yang nakal. Ekspresi Lynx yang dibuat sekarang pun sangat mendukung.
“Aku tidak memakannya, Hazel. Aku hanya bermain dengan tikus-tikus yang sudah aku tangkap. Kau selalu mengurung di kamar, tidak pernah mengajakku mengobrol atau bermain. Aku kesepian, Hazel,” ungkap Lynx setelah membebaskan tikus kecil itu dari mulutnya.
Saat kepalanya tertunduk dan mata indahnya bergulir dramatis, entah kenapa itu terlihat menyedihkan. Hazel menyadari kalau akhir-akhir ini dirinya tidak punya waktu banyak dengan Lynx.
Sehabis pulang bekerja, Hazel langsung berdiam diri di kamar. Membiarkan pria itu sendirian tanpa diajak mengobrol lebih dulu. Tapi seperti yang sudah diketahui, Hazel menjauh bukan karena alasan sesuatu.
Dia hanya ingin menepati janjinya yang ingin membuatkan Lynx pakaian. Oleh sebabnya Hazel berusaha keras menggunakan waktu sibuknya untuk menjahit. Hingga semua kain yang tempo hari dirinya beli, sekarang sudah berbentuk pakaian
“Apa kau mulai tak nyaman berada di sampingku, Hazel? Atau kehadiranku ini masih kau anggap beban? Mahluk sepertiku ... Terlihat menjijikan di matamu?” Ucapan Lynx melantur ke mana-mana, beginilah ia jika sedang sensitif.
Dengan segera Hazel menggelengkan kepalanya, berjalan beberapa langkah ke depan agar lebih dekat dengannya. Memberanikan diri untuk menangkup pipi Lynx agar mau menatapnya.
Terasa basah dari keringat yang belum mengering, juga permukaan kulitnya begitu dingin. Namun anehnya, dari indera peraba melalui tangannya barusan malah menyalurkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh.
“Lihat aku, Lynx. Buang ekspresi sedihmu itu. Jangan tempatkan aku dalam posisi seolah-olah aku ini antagonis dalam ceritamu,” perintah Hazel sambil menepuk pelan pipi Lynx.
__ADS_1
Sebelum Hazel menurunkan tangannya, Lynx lebih dulu menyentuhnya dan menggenggamnya. Membuat Hazel membeku dengan semburat merah yang mulai menyebar di permukaan pipinya.
Tak sampai di situ, Lynx berani-beraninya menjilat jemari Hazel sambil menunjukan ekspresi sensual. Tentu saja hal itu mendapat kecaman tajam dari Hazel. Tanpa berpikir dua kali, Hazel langsung menarik lengannya dari sana.
“Dasar idiot. Kau pikir aku ini makanan? Sudah kubilang kalau aku tidak suka kau melakukan itu,” geram Hazel, tapi Lynx malah menanggapinya dengan tawaan.
“Tapi itu manis. Aku suka,” jawab Lynx sambil mengedip-ngedipkan matanya, tidak takut kalau Hazel akan semakin marah.
“Berhenti mengoceh hal yang tak berguna. Aku menyuruhmu datang ke sini bukan untuk itu.”
Lynx memiringkan kepala dengan dahi yang mengerut. “Lalu?”
Hazel bergerak menyamping. Menunjukan sesuatu di belakangnya. Membiarkan pria itu melihat beberapa pakaian yang sudah dirinya jahit. Meski modelnya sama, setidaknya baju dan celana itu memiliki warna yang berbeda.
“Bagaimana? Kau suka? Ini alasan kenapa aku selalu mengurung diri di kamar. Aku sibuk menjahitkan baju untukmu. Seharusnya kau berterima---”
Bruk.
“Aummm!”
Barusan Hazel mendapat serangan mendadak. Tubuh kecilnya dipeluk erat oleh pria bertubuh bongsor itu. Anehnya, meski Lynx berkeringat, aromanya begitu harum.
“Kau bukan serigala, Lynx. Berhenti mengaum. Suara aumanmu tidak sangar sama sekali. Lagi pula, kenapa kau sibuk menggunakan bahasa binatang di saat kau sedang dalam wujud manusia?”
Lynx mengurai pelukan, sedikit memberi jarak. Ekor dan telinganya yang muncul bergoyang-goyang lucu. “Eum, tidak tahu. Aku terlampau senang. Jadi seperti ini. Menyadari aku akan menggunakan pakaian yang dijahit olehmu, rasanya aku tidak bisa berhenti berdebar-debar.”
“Apa pun itu, sudahlah. Sekarang kau bisa mencoba semua pakaiannya. Mulai hari ini, aku tidak mau melihat kau berkeliaran tanpa pakaian lagi. Dan usahakan ketika aku terbangun di pagi hari, kau sudah memakai pakaian. Mengerti?”
Kepala Lynx manggut-manggut. “Siap, Nona kecil!”
“Kau suka sekali memanggilku seperti itu,” sahut Hazel kemudian.
“Kenapa? Itu panggilan yang cocok untukmu. Seorang gadis cantik dengan tubuh kecil. Aku sangat menyukainya!”
Mendengar jawabannya, Hazel jadi menyesal karena sudah membahasnya.
“Ck. Kau rubah, tapi rasanya kau pantas disebut sebagai buaya.”
__ADS_1
Lynx menggaruk pelipis karena bingung. “Huh? Apa hubungannya?”
Hazel mengambil salah satu pakaian yang ada di atas kasur, lalu melemparkannya pada Lynx. “Jangan dipikirkan. Itu tidak penting. Sekarang kau ganti pakaianmu. Aku ingin melihatnya, apakah itu cocok atau tidak denganmu.”
“Baik. Aku akan memakainya.” Lynx sudah mengambil ancang-ancang untuk menurunkan kain tipis yang menutupi bagian tubuh bawahnya.
Belum sempat kain itu melorot dari pinggangnya, Hazel yang tahu apa yang akan terjadi, lantas menahannya sambil menyemburkan teriakan dengan mata yang melotot.
“Dasar gila! Siapa yang menyuruhmu ganti pakaian di sini?” Hazel membuka pintu lebar-lebar, lalu menarik tubuh Lynx untuk didorong keluar.
“Jangan berani masuk sebelum kau memakainya!” katanya sebelum akhirnya menutup pintunya secara kasar.
Dada Hazel kembang kempis, bahunya naik turun tak berirama, bukan karena emosi yang mencapai ubun-ubun. Tapi karena ada sesuatu yang berderak kencang di dalam dadanya. Karena sulit mengendalikan diri, akhirnya jadi seperti ini.
“Sialan, kenapa dia tidak pernah malu menunjukkan barang seperti itu dihadapanku?” Hazel mengusap wajahnya yang memerah dengan satu tangan, tubuhnya asik berjalan mondar-mandir.
Setelah beberapa saat menunggu, Hazel mendengar suara ketukan di pintu. Mungkin Lynx sudah selesai mengenakan pakaiannya. Sehingga Hazel buru-buru berderap untuk membukakan pintu.
Saat Lynx berada tepat di depan pintu, Hazel mesti mendongakan kepalanya agar bisa melihat wajah pria itu. Maklum, tubuhnya yang pendek dan kecil tak sepantar dengannya.
Saat mata dengan mata sudah bertemu, dengan tengil Lynx malah menyunggingkan sebelah sudut bibir. Membuat senyuman smirk ala-ala. Ditambah ia sempat menaikan sebelah alis tebalnya.
Hazel yang melihat ekspresi Lynx barusan, merasakan kalau jantungnya sepertinya mulai tidak aman kembali. Suara yang bertalu-talu di dalam sana semakin mengeras tatkala Lynx mulai mendekatkan wajahnya.
Karena memang saat ini mulutnya mendadak bisu, sulit untuk berbicara. Jadi alternatif yang bisa Hazel lakukan adalah dengan cara menurunkan pandangan, tangannya pun perlahan menyentuh dada Lynx. Ingin mendorongnya.
“Katanya kau mau melihat penampilanku. Kenapa sekarang kau malah menghindar? Ayo tatap aku, Hazel.” Lynx semakin menjadi-jadi, seolah sengaja melakukan ini.
Hazel hanya bisa menatap lurus ke depan, tak mampu menanggahkan kepalanya kembali. Sehingga yang terlihat oleh Hazel adalah liontin yang bergerak maju mundur dihadapannya.
Liontin yang selalu Lynx pakai tersebut tampak berbeda. Warnanya tidak seterang saat Hazel pertama kali melihatnya. Juga cahaya yang keluar benderang di sana tampak meredup-redup.
“Tunggu, Lynx. Ada yang aneh dengan liontinmu. Sinarnya meredup, warnanya juga mulai memudar. Apa itu pertanda buruk?”
Lynx yang sebelumnya tidak menyadari perubahan liontin miliknya, jadi ikut penasaran setelah diberitahu oleh gadis itu. Melihat sendiri kalau memang ternyata liontin yang dipakainya tampak berubah.
“Hei, jawab aku.” Hazel memegang lengan Lynx, sedikit menggoyangkan tubuhnya, berusaha menarik perhatian pria itu agar mau menjawabnya.
__ADS_1
“... Katakan padaku. Ini bukan pertanda buruk bagimu, 'kan?”
***