
Sempat berunding untuk membuat rencana, akhirnya mereka bertiga sudah memutuskan apa yang harus dilakukan. Langkah pertama, San dan Sen mencoba datang dari arah depan untuk mengelabui musuh. Berkeliaran secara lincah, membuat celah agar Lynx dapat masuk ke dalam istana.
Tugas San dan Sen hanya sampai di situ. Setidaknya mereka memastikan bahwa Lynx dapat masuk, perihal berhasil atau tidak Lynx di dalam sana, semuanya tak dapat diprediksi oleh mereka berdua. Tapi jika memungkinkan, San dan Sen akan menerobos masuk untuk membantu.
Sambil menyeka keringat di dahi, Lynx berujar, “Sekarang aku paham, jika kita hanya fokus memerangi mereka yang diberi perintah, maka semuanya tak akan pernah usai. Kemenangan tak akan pernah kita dapatkan. Jadi untuk menghentikan semua ini, kita perlu membuat sang pemberi perintah mati tak berdaya.”
Seperti apa yang pernah Jack katakan tempo hari, yang paling utama adalah fokus melumpuhkan Raja Barney. Entah dilukai atau dibuat sampai mati, yang terpenting mereka semua yang terbiasa bekerja dibawah perintah jadi kehilangan pegangan.
Memang di situasi saat ini cukup sulit untuk menembus benteng pertahanan yang berada di luar dan dalam istana mereka, tapi jika terus mengulur waktu dan membiarkan mereka bermain-main dalam kesenangan, situasi akan lebih buruk.
Dapat dipastikan kasus kelaparan akibat bahan pangan yang menipis akan terjadi, kemiskinan di mana-mana, populasi akan semakin menyusut, huru-hara membuat keadaan tak terkendali. Pada akhirnya perang yang terjadi memusnahkan segalanya secara perlahan.
“Jaga dirimu, Lynx. Jika kau berhasil masuk ke dalam istana. Lawanmu satu banding seribu,” ucap Sen sebelum menuruni bukit, menuju tempat peperangan.
Lynx mengangguk, tangannya melambai singkat pada dua rubah yang berlarian gesit menjauh. “Kalian juga hati-hati.”
Menunggu sampai menemukan celah untuk berbaur ke bawah sana, Lynx bergerak perlahan dari balik pepohonan rimbun yang menjulang tinggi. Sepasang mata tajam miliknya setia memicing pada satu objek, fokus mengamati keriuhan yang mulai terjadi.
San dan Sen memancing keributan. Tubuh rubah mereka yang ramping, membuat gerakan mereka lincah saat berlarian ke sana kemari. Menyelinap pada tubuh-tubuh mereka hingga membuat mereka bergerak kebingungan.
Menghindari beberapa serangan yang mereka layangkan, berusaha menjauh dari letupan-letupan sihir, sesekali menangkasnya atau memantulkannya kembali ke sembarang arah. San dan Sen mencoba berpencar, bergerak ke mana saja untuk membingungkan mereka semua yang berusaha ingin menangkap.
Karena sulit untuk ditangkap saking lincahnya rubah kembar itu bergerak, beberapa serangan malah mengenai tubuh mereka sendiri. Senjata makan tuan, mungkin itu pribahasa yang pas untuk mereka. Dan sekarang, beberapa dari mereka mulai tumbang berjatuhan.
Lynx tersenyum, sejauh ini rencana yang sudah dibuat berjalan mulus. Sembari terus memapah diri dengan langkah pelan namun pasti. Lynx sesekali bersembunyi, memasukan tubuhnya ke dalam semak-semak dengan posisi tiarap. Jangan sampai keberadaannya terendus oleh mereka.
Di tengah-tengah aktifitasnya yang sedang berusaha mendekat ke area istana, Lynx menyadari sesuatu. Suara dentingan liontin miliknya dengan liontin milik Jack terdengar nyaring. Ketika menunduk, Lynx menemukan suatu hal yang membuatnya terheran-heran.
Dua liontin yang terpasang di lehernya itu seperti ada energi yang berusaha saling tarik menarik, seolah ada magnet diantara keduanya yang membuat permata masing-masing ingin terus beradu. Selain itu, Lynx juga melihat liontin milik Jack kembali bersinar. Padahal sebelumnya meredup, bahkan sudah mati.
Menyentuh liontin tersebut, Lynx bergumam dengan dahi mengerut, “Sungguh aneh. Apa maksudnya ini?”
Sebuah spekulasi terlintas dalam kepala, membuat rasa penasaran Lynx berkurang sedikit. Ia berpikir mungkin karena sebelumnya liontin permata ungu miliknya ada aliran sihir yang disalurkan Jack, itu sebabnya dua liontin tersebut saling berkaitan.
Kembali fokus terhadap apa yang dilakukannya saat ini, kaki panjangnya mulai bergerak kembali. Berjalan mengendap-endap keluar dari gelapnya hutan, mencoba merangkak dengan sesekali bersembunyi untuk sampai ke gerbang istana.
Berdiri dan bersandar pada tembok samping istana, Lynx memejamkan mata sejenak seraya memegangi dua liontin dalam genggaman. Melangitkan harapan, jantungnya berdebar-debar takut. Sedikit perasaan pesimis muncul.
Tapi ketika memejamkan mata kembali, semua wajah orang-orang yang menyayangi dan mencintainya secara bergiliran muncul dengan menunjukkan senyum. Seakan-akan ingin memberinya semangat.
__ADS_1
Saat Hazel muncul, persis dengan senyuman manisnya, semangat yang semula layu sekarang sudah terisi penuh dengan seketika. Selain itu, di posisi setelahnya ingatan tentang Jack beberapa jam yang lalu langsung berputar dalam benaknya, teringat pria itu mengembuskan nafas terakhir seraya menaruh harapan padanya.
Tak mau lagi ragu akan apa pun, Lynx begitu sigap bergerak menuju gerbang istana, sebisa mungkin melakukannya tanpa banyak menarik perhatian. Mereka yang terlanjur mengetahui keberadaannya, tanpa membuang waktu langsung Lynx tusuk dengan pedangnya.
Lebih dari lima orang, Lynx berhasil menusuk mereka secara satu per satu. Kemudian memanjat gerbang istana layaknya binatang melatah yang cekatan saat bergerak di dinding. Dalam hitungan detik, Lynx berhasil masuk ke dalam kawasan istana.
Tapi sayangnya, aksinya itu tetap diketahui oleh mereka. Melalui sensor unik yang ternyata terpasang di beberapa tempat yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang, secara tiba-tiba mendeteksi keberadaan tubuh Lynx. Sensor dengan sinar merah tersebut disusul oleh sebuah sirine yang mengundang banyak perhatian di sekitar.
Otomatis saat ini Lynx menjadi buronan semua mata yang melihat. Dari segala sisi dan penjuru, mereka berbondong-bondong mengejar seraya berteriak. Tak kehilangan akal, Lynx dengan segera menerobos masuk ke dalam istana. Merusak apa pun yang ada di depan matanya.
Berjalan tergesa-gesa di sebuah lorong yang ternyata jauh dari bayangan istana yang selama ini Lynx pikirkan, karena bangunan yang dimaksud istana bagi mereka sangatlah berbeda dengan istana di Kerajaan Foxion. Terlihat seperti gedung pencakar langit, dan tentunya sangat modern.
Aku harus kemana?
Dimana Raja Barney berada?
Bagaimana jika tertangkap?
Semua pertanyaan tersebut memenuhi pikirannya, Lynx yang sibuk berlarian ke beberapa tempat yang bisa dituju, masih belum bisa menebak dimana keberadaan Raja Barney. Jangankan menebak, waktu untuk mencerna seperti apa tempat yang dipijakinya saat ini pun masih belum tergambar.
Yang lebih penting di sini adalah mencari tempat bersembunyi dan jangan sampai tertangkap.
Seringaian yang muncul di raut wajah Raja Barney memperlihatkan taring tajamnya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk bertopang dagu, “Lucu sekali melihat usahanya itu,” kekehan pelan terdengar. “Aku ingin tahu sampai mana dia akan terus berusaha.”
Melirik ke samping, Raja Barney memberi pertanyaan pada pengawal, “Kalian sudah memastikan bahwa Jack benar-benar mati?”
Tiga pengawal yang berdiri tegap di samping mengangguk dengan kompak. Beberapa jam yang lalu, mereka mendapat perintah untuk menjadi mata-mata. Tidak harus dengan mengekori, seperti yang sudah diketahui bahwa Kerajaan Maggie sudah lebih dulu mengenal era modern dengan teknologi canggihnya.
Tentunya mereka mempunyai alat mutakhir semacam drone yang mampu menangkap seluruh kejadian yang langsung tersambung tanpa perlu bolak-balik menyetor informasi. Karena saking kecilnya alat tersebut, akan sulit bagi pasukan dari Kerajaan Foxion menyadarinya.
“Sepertinya dugaanku tidak tepat.” Alis tebalnya menyatu tatkala lengannya mulai mengusap-usap dagu. “Jack bukanlah sumber kelemahan terbesar Lynx. Dia masih lincah, masih bersedia berperang bahkan ketika beberapa jam yang lalu seseorang yang berharga baginya sudah tiada. Sangat aneh melihat semangatnya masih membara.”
Salah seorang dari tiga pengawal itu bergerak satu langkah lebih dekat pada sang Raja, berniat memberitahu informasi yang menurutnya penting. “Maaf, Paduka. Aku tidak yakin, tapi bagaimana dengan wanita ini?” Layar tablet yang ia tunjukan menampilkan potret seseorang.
“Siapa dia?” tanya Raja Barney cukup penasaran.
“Setelah aku cari tahu, dia ternyata adalah pasangan Lynx. Kalau tidak salah, namanya Hazel. Dia seorang manusia murni. Tidak tahu bagaimana caranya dia bisa datang ke dunia ini. Apa mungkin dia seorang time travel yang datang menggunakan mesin waktu?”
“Maksudmu wanita itu sama seperti Atlas?” Raja Barney bertanya balik.
__ADS_1
Pengawal itu mengangguk. “Betul, Paduka. Karena dia adalah manusia. Dan dia sedang mengandung seorang bayi yang mana itu adalah anak dari Lynx. Bisa dibayangkan perpaduan itu akan menghasilkan bibit luar biasa seperti apa?”
Anak yang akan lahir dari rahim Hazel nantinya digadang-gadang akan menjadi seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa, menurut sang pengawal tersebut. Lynx adalah siluman rubah langka generasi terakhir, sedangkan Hazel adalah manusia murni yang dalam pikiran mereka mungkin akan sama seperti Atlas.
Raja Barney manggut-manggut, dalam pikirannya sudah tersusun rencana jahat. “Kau benar. Ini adalah kesempatan emas. Kita bisa menculik wanita itu. Membiarkannya melahirkan di sini, merawat anak manusia itu untuk meneruskan semua sistem dan pembuatan dari alat-alat canggih yang belum terselesaikan.”
“... Dengan begitu, Kerajaan Maggie akan menjadi Kerajaan yang tak terkalahkan. Satu-satunya Kerajaan yang memimpin seluruh daratan di negeri ini. Sihir, teknologi, kemampuan fisik, semua itu akan ada dan lengkap di sini.”
Kejam? Dia lebih dari itu. Dengarlah tawa yang menggema, sorot matanya memunculkan aura kejahatan yang melekat. Hatinya sudah mati, sehingga apa pun tak dapat membuatnya berpikir tentang kebaikan. Yang tersisa hanya keserakahan.
***
Sejauh mata memandang, Lynx hanya melihat dinding-dinding tinggi polos yang terbuat dari baja. Beberapa menit berlarian ke sana kemari, rasanya bangunan ini seperti labirin yang tak berujung. Lynx tak menemukan satu pun pintu yang membawanya ke dalam ruangan.
Di belakang sana, beberapa siluman anjing berbicara melalui alat semacam telepon untuk mengabarkan informasi keberadaan Lynx. Memanggil rekan untuk membantu meringkus.
Lynx tak bisa hanya terus menghindar dan berlari tanpa arah tujuan. Sambil bergerak mundur, Lynx mengeluarkan busur dan anak panah miliknya. Melesatkan beberapa anak panah itu untuk membuat mereka yang terus mengejar jadi lumpuh tak berdaya.
Menyadari di beberapa sudut lorong terdapat sebuah alat dengan titik cahaya merah yang menyala, Lynx punya firasat buruk tentang itu. Alhasil ia merusak alat-alat yang terpasang di sana dengan anak panahnya, membuatnya hancur bahkan ada yang meledak.
Apa yang barusan dilakukannya sangatlah tepat, karena benda-benda kecil yang terpasang di sudut lorong adalah alat yang sedari tadi merekam gerak-geriknya untuk disambungkan pada bola sihir milik Raja Barney.
“Sialan! Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba bola sihirku tak berfungsi? Semua tempat tak bisa terlihat lagi,” Raja Barney murka, dia lengah karena tidak terlalu memerhatikan apa yang dilakukan Lynx.
“Sepertinya sistem yang terhubung sudah rusak, Paduka. Mungkin siluman rubah itu yang merusaknya,” sahut salah satu pengawalnya.
“Cepat cek keadaan di luar sana, pastikan jejaknya tetap terdeteksi! Kabari juga para anggota yang bertugas di ruangan monitor untuk mencari tahu dimana letak kerusakannya. Aku tidak mau kita kalah satu langkah darinya. Dan juga, kirim beberapa pasukan untuk menculik wanita itu,” titahnya dengan tegas.
“Baik, Paduka.”
Tiga pengawal tadi pergi bersamaan, mulai membagi tugas. Tapi beberapa yang lain datang tak lama setelah itu. Mereka datang untuk mengabarkan situasi darurat.
“Mohon ampun, Paduka. Dua rubah di luar istana sulit untuk dikendalikan. Mereka terus membuat kerusakan dan memperhambat rencana,” lapornya sambil duduk bersimpuh penuh rasa bersalah.
Raja Barney mendesis sebal, “Jangan membuatku merasa malu karena sudah memperkerjakan kalian. Tidak mungkin kalian kalah hanya dengan dua rubah sialan itu. Mereka bahkan hanya memiliki kemampuan sihir jauh di bawah Lynx.”
“Lakukan apa saja. Jangan ragu. Bila perlu musnahkan keduanya. Karena sebenarnya dua rubah itu adalah alibi yang digunakan Lynx, tapi dengan bodohnya kalian malah tertipu,” sambungnya ketus seraya beranjak dari singgasana.
***
__ADS_1