Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chap 78 - Menyambut Pahlawan.


__ADS_3

Sebelum benar-benar meninggalkan area Kerajaan Maggie, Lynx berulang kali menoleh ke belakang. Melihat keadaan bangunan megah yang nyaris rata dengan tanah, pandangannya yang menggulir gelisah seolah menyiratkan sedang mencari sesuatu.


Sen yang sudah lebih dulu duduk di atas Roc dan melihat bahwa masih bergeming di tempat, lantas bertanya, “Ada apa? Kita harus segera pergi dan meninggalkan tempat ini. Bukankah sejak tadi kau merengek ingin bertemu dengan Hazel dan anakmu?”


Yang ditegur pun seketika menoleh, menatap Sen sambil melenguhkan nafas berat. “Bagaimana jika kau pulang sendirian? Aku akan menyusul segera setelah aku melakukan sesuatu di sini.”


Mendengar pernyataan tersebut, tentu saja Sen kebingungan. “Jangan gila, Lynx. Lihat kondisi tubuhmu, jika tidak diobati kau bisa mati. Ayo segera pulang dan pulihkan dirimu. Memangnya kau mau melakukan apa? Semuanya sudah usai.”


Lynx gamang dengan keputusan yang akan dipilih, tapi pada akhirnya ia tetap berpegang teguh dengan apa yang ingin dilakukannya. Mengabaikan ucapan Sen, Lynx langsung membalikan tubuhnya dan berlari secepat kilat.


“Lynx!”


“Aish, kau ini benar-benar—”


“Maafkan aku, tapi ini juga penting. Aku akan segera kembali, kau bisa pergi dan kirimkan satu Roc untukku!” sela Lynx sambil berlarian menjauh, dia melambaikan tangan singkat tanpa menoleh ke belakang.


Sen berdecak, ingin marah tapi tidak bisa. Jika Lynx segigih itu, pastinya hal yang akan dilakukannya memang amat penting.


“Mana mungkin aku bisa meninggalkanmu dalam kondisi seperti itu, dasar bodoh!” Meski sambil menggerutu, Sen tetap menyusul Lynx yang sudah jauh di depan sana.


Sen tidak habis pikir, bagaimana bisa Lynx tetap bisa berlari secepat itu ketika tungkai kakinya sedang terluka? Bukan hanya tungkai kaki, beberapa bagian tubuhnya yang lain pun penuh dengan luka yang membiru.


“Aku hanya khawatir kau kehabisan tenaga. Dan efek dari pengeluaran sihir yang begitu besar membuat tubuhmu bermasalah. Jangan sampai kau memiliki masih yang sama seperti Jack, Lynx,” ujar Sen memperingati seraya terus berlari menyusul saudaranya yang semakin melaju jauh.


Lynx mengacungkan jempolnya. “Aku tahu. Tapi apa yang akan kulakukan sekarang juga tak kalah penting dari tubuhku. Ini demi sejarah di masa depan. Aku tidak mau kesalah pahaman membuat yang tidak bersalah terus disudutkan.”


Kening Sen mengernyit penuh tanda tanya. “Kesalah pahaman apa memangnya?”


***


Karena situasi penduduk Foxion masih belum membaik, sebab istana mereka sudah hancur tak berupa karena ulah antek-antek Raja Barney, alhasil mereka masih mengungsi didekat mata air kehidupan sampai batas waktu yang belum ditentukan.


Dampak dari peperangan tak sampai di situ, bahan pangan turun drastis, kemiskinan mulai merambat ke mana-mana. Dikarenakan penduduk Foxion yang jumlahnya tak sedikit, sebagian dari mereka yang mengungsi ke Kerajaan lain pun sebagian mulai dibatasi.


Saat diterjang kemiskinan, sedihnya bala bantuan pun kian menipis. Ditakutkan gara-gara hal ini banyak mayat yang bergelimpangan karena meningkatnya kasus kelaparan.


Tim medis yang bertugas pun sudah kewalahan, setiap hari bahkan setiap jam banyak para pengungsi yang dipulangkan. Terlebih saat ini Raja Arandelle dan Ratu Emely butuh perawatan khusus, dan juga Pangeran San yang terluka juga masih belum pulih.


Lalu kabar kematian Ratu Keane masih menyisakan trauma berat bagi Aluka. Gadis itu masih sering menangis dan sekarang menjadi lebih pendiam, sulit diajak mengobrol bahkan jika itu oleh Hazel sekalipun.


“Hai, Putri Aluka. Apa kau mau sepotong roti?” Ash mendatangi Aluka yang tengah merenung sendirian di bawah pohon.


Aluka hanya melirik sebentar pada Ash, ekspresi wajahnya tidak menunjukkan ketertarikan pada roti yang dibawanya.


“Aku tidak lapar,” jawab Aluka lesu, tangannya mengambil ranting kayu lalu menggambar sesuatu secara abstrak di atas tanah.


“Ini roti terakhir. Kau tidak akan mendapatkan lagi besok. Ayo makan sebelum kita semua diberi makan sup hambar,” bujuk Ash sambil terus menyodorkan roti tersebut pada Aluka.

__ADS_1


Aluka menggelengkan kepala, tubuhnya membelakangi Ash. “Aku bilang tidak lapar. Tolong tinggalkan saja aku sendirian di sini.”


Ini bukan pertama kalinya Ash berusaha mendekati gadis itu, tapi tetap saja Aluka belum bisa diluluhkan. Mungkin sekarang masih belum, tapi Ash percaya waktu bisa membantu Aluka untuk sembuh dari trauma.


“Putri Aluka adalah gadis yang baik. Ibunda Ratu Keane pasti akan sedih jika melihat anak gadis kesayangannya berlama-lama dalam kesedihan. Untuk menghormatinya, pertama-tama kau harus memakan roti ini. Lalu selanjutnya tetaplah hidup dengan bahagia, maka Ratu Keane akan tenang memantaumu di atas sana,” nasihat Ash sebelum beringsut dari posisi duduk.


Meninggalkan Aluka yang masih bergeming, atensi Ash direbut oleh sebuah burung yang ditugaskan untuk memberi kabar, burung tersebut langsung mendatanginya dan mendadak mendarat pada bahu kanannya.


Layaknya sebuah hologram, burung itu langsung memancarkan cahaya yang menampilkan kejadian mengenai peperangan, pada intinya ada berita bahagia yang harus disampaikan kepada penduduk Foxion. Dimana saat ini Raja Barney yang memimpin Kerajaan Maggie sudah berhasil ditumbangkan.


Mengetahui bahwa kemenangan ada tangan Kerajaan Foxion, Ash senang bukan main. Dia nyaris menjerit, matanya berkaca-kaca, dan pandangannya seketika berpindah untuk menatap Aluka. Ingin memberitahu kabar baik ini pada gadis tersebut.


“Putri Aluka!”


“Kita berhasil! Kita menang! Pangeran Lynx berhasil membunuh Raja Barney,” ungkap Ash dengan rasa antusias yang tinggi.


Aluka lantas mendongak. “Apa itu berarti Kak Lynx akan segera kembali?”


“Tentu saja!”


“Kapan?”


Ash berpikir sambil mengusap dagu. “Ada kemungkinan hari ini. Tapi dilihat dari kabar yang baru saja diterima, Pangeran Lynx bersama Pangeran Sen masih ada di sana.”


“Kalau begitu, untuk sekarang kau sebarkan saja tentang kabar kemenangan ini pada semuanya. Terutama pada Hazel, dia pasti ingin sekali mendengar kabar ini. Temui dia dan katakan bahwa Kak Lynx dalam kondisi baik-baik saja,” titah Aluka sambil berdiri.


Menatap punggung Ash yang mulai menjauh, Aluka tersenyum setelah beberapa waktu selalu memasang ekspresi dingin. Melihat ekspresi girang Ash, sedikit mengobati pilu dalam hati, setidaknya diantara banyak kabar duka yang harus diterima masih ada kabar baik luar biasa yang terjadi.


Tak berminat berbaur dengan yang lain untuk menyambut kabar kemenangan, Aluka tetap memilih menyendiri. Tubuh kecilnya yang terlihat lebih kurus itu disandarkan pada dahan pohon, kepalanya menunduk sambil memainkan jemari kakinya yang tanpa alas.


“Setelah memenangi peperangan, apakah kondisi di sini akan berubah? Aku rindu dengan rerumputan hijau, berjalan tanpa alas pun tidak akan kotor. Aku ingin menghirup udara segar tanpa bau amis dari darah yang menggenang ataupun daging para korban yang membusuk.” Aluka memeluk dirinya sendiri, memejamkan matanya sekejap sebelum menarik nafas dalam-dalam.


Bukan hanya masalah bahan pangan atau pun kondisi para penduduk, wilayah Kerajaan Foxion pun mulai tercemar. Pepohonan mulai kering kerontang, dan anehnya air mata kehidupan yang sepanjang sejarah tak pernah dikabarkan mengering, kini sudah menyusut.


Sekitar sepuluh menit berlalu, Aluka dikejutkan oleh kedatangan Roc yang sudah mendarat. Saat melihat bahwa Roc tersebut ditumpangi oleh Lynx, Aluka langsung terperanjat dengan mata yang membulat.


Buru-buru Aluka berlarian untuk menghampiri Lynx dan lainnya, kakinya hampir tersandung akar pohon saking tergesa-gesanya. Melihat kalau di sana Hazel dan beberapa yang lain ikut menghampiri, mereka semua begitu semangat menyambut kemenangan sang pahlawan.


Lynx berjalan tertatih sendirian selepas menuruni Roc, sementara Sen menggendong Atlas —manusia yang pernah bekerja sama dengan Kerajaan Maggie. Ternyata sesuatu yang ingin dilakukan Lynx adalah menyelamatkan Atlas dan membawanya ke sini, entah apa tujuan atau rencana Lynx setelahnya.


“Tidak! Aroma ini ... Ini pasti bau manusia!” Salah satu dari mereka yang datang berbondong-bondong menghampiri Lynx ternyata mulai mendeteksi keberadaan Atlas.


“Pria tua yang digendong Pangeran Sen pasti manusia. Kenapa kalian membawanya ke sini? Apa kalian lupa? Kita semua mematuhi aturan untuk tidak berbaur dengan manusia, terkecuali wanita yang menjadi kekasih Pangeran Lynx. Manusia itu berbahaya, jangan sampai—”


“Jangan banyak bicara,” serobot Lynx, membuat laki-laki dengan pakaian compang-camping tersebut bungkam seketika. “Aku yang akan bertanggung jawab. Jadi siapapun tolong jangan bertindak gegabah.”


Pandangan Lynx mengedar, mencari seseorang. Tangannya diangkat tinggi, berniat menarik perhatian Putri Ren dan Ash yang kebetulan langsung menatap ke arahnya. “Tolong obati luka-lukanya dan pastikan dia hidup,” pintanya.

__ADS_1


Putri Ren lantas mengangguk. Ia mendekati Sen untuk membantu menuntun Atlas yang tak sadarkan diri dalam gendongan, pria paruh baya tersebut dalam keadaan mengkhawatirkan, kepalanya terus menerus mengeluarkan darah segar.


Sementara itu, pasangan Lynx mulai berbayang. Sesaat ia memegangi kepalanya yang mulai berdenyut pening. Ketika tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan, Ash dengan sigap menahan tubuh Lynx agar tidak ambruk.


“Sebaiknya Pangeran Lynx juga segera diobati. Bisa celaka jika terus membiarkan lukanya lama-lama, ditakutkan ada racun yang menyebar dalam aliran darah,” saran Ash, matanya menatap Lynx lamat-lamat.


Ash menyadari kondisi kulit Lynx yang menghitam bagaikan luka bakar mirip sekali dengan kondisi Jack sebelum meninggal. Lebih dari itu, di area tangan dan kaki Lynx pun dipenuhi luka yang masih basah dan bau amis karena darah terus menerus keluar dari luka sobekan ataupun bekas tusukan.


Tapi sepertinya Lynx sama sekali tidak peduli dengan hal tersebut, dia tidak mengkhawatirkan tentang tubuhnya. Sebelah matanya yang tanpa penutup sibuk berpendar, mencari-cari keberadaan seseorang.


“Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin bertemu dengan Hazel dan anakku. Dimana mereka?” Lynx sedikit berjinjit, masih belum mendapati keberadaan Hazel dalam kerumunan.


Pandangan Ash pun ikut mencari, padahal sebelumnya ia sempat melihat kalau Hazel sudah berbaur untuk berbondong-bondong menemui Lynx. Sampai akhirnya ada sebuah tangan muncul untuk menunjukan keberadaannya, mereka yang menghalangi pandangan langsung membelah kerumunan.


Ternyata tubuh Hazel terselip oleh mereka yang bertubuh tinggi. Bayi yang tertidur dalam gendongannya berusaha Hazel peluk erat, menjaganya agar tidak tersenggol-senggol dengan yang lain.


“Hazel,” panggil Lynx lembut dengan mata yang berbinar, dadanya tiba-tiba terasa penuh oleh rindu yang meluap-luap. Ajaibnya, seluruh perasaan tak karuan dari luka-luka yang menjamah tubuhnya mendadak hilang dalam sekejap.


“Terima kasih.” Hazel mengatakannya dengan mulut bergetar menahan tangis. “Kau menepatinya, Lynx. Kau kembali dengan selamat. Aku sangat senang sampai rasanya aku sulit berkata-kata lagi,” sambungnya, kali ini air mata haru sudah menuruni pipi dan mulai berjatuhan mengenai wajah bayi yang tengah terlelap dan membuatnya mengerjap lucu.


Hazel menyadari bayinya menggeliat, lalu dengan cepat ia menunjukkan bayi yang tak rewel itu pada Lynx. “Ini anak kita, Lynx. Dia berjenis kelamin laki-laki. Aku berhasil melahirkannya dengan selamat. Dan dia sangat mirip denganmu.”


Lynx menggerakkan kakinya untuk lebih mendekat pada Hazel, punggungnya membungkuk menatap hangat bayi laki-laki yang mulai membuka matanya. Seolah dia ingin menyapa ayah kandungnya, juga jemari mungilnya ia acungkan, seperti ingin memegang Lynx.


“Dia tampan. Matanya indah.” Lynx membiarkan kelingkingnya digapai oleh bayi tersebut. “Apa kau sudah memberinya nama, Hazel?”


“Aku berencana untuk menunggumu lebih dulu. Aku ingin kamu pun turut andil dalam memberi nama pada bayi kita,” jawab Hazel, punggung tangannya ia gunakan untuk mengusap air mata yang masih bercucuran.


Menegapkan punggungnya, Lynx beralih untuk menatap Hazel. Wajahnya mendekat, bibirnya mendarat pada kening wanita itu untuk dikecup. Lalu sebelah tangannya ia lingkarkan pada punggung kekasihnya tersebut, memeluknya erat dari samping.


Kepala Lynx juga disandarkan pada ubun-ubun kepala Hazel. Pemandangan manis dan hangat tersebut disaksikan oleh banyak mata. Mereka semua tidak ingin menganggu momen sepasang kekasih yang sempat berpisah cukup lama.


Dan Ash yang peka dengan situasinya, memilih untuk membubarkan kerumunan. Ingin memberi waktu bagi mereka untuk berduaan. Lagi pun bukan waktunya jika ingin merayakan kemenangan, keadaan di sini pun masih belum stabil.


Sudah menang bukan berarti segala permasalahan selesai. Selepas ini, ketika proses penyembuhan sudah dilakukan secara merata dan bahan pangan mulai stabil kembali mungkin segalanya bisa ikut membaik.


“Lynx?” Hazel merasa tubuh Lynx yang menempel padanya kian terasa berat, seolah pria itu tidak menahan bobot tubuhnya.


Dugaannya tersebut semakin diperkuat ketika tubuh Lynx mulai merosot, sementara Hazel yang kedua tangannya dipakai untuk menggendong bayinya tentu saja tidak bisa langsung menahan tubuh tinggi itu.


“Lynx?! Kau kenapa?!” Hazel sontak menjerit, langsung mengundang banyak perhatian dari mereka-mereka yang sebagian sudah berpencar berjalan menjauh.


Untungnya Ash yang kebetulan masih ada di tempat untuk memantau, langsung segera membantu Lynx yang sudah tumbang ke tanah. Pria dengan banyak luka di tubuhnya itu sepertinya pingsan.


“Bagaimana ini? Apa yang terjadi pada Lynx?” Hazel berjongkok, menyesuaikan tingginya dengan Ash yang berniat untuk membopong tubuh Lynx.


“Kau tenang dulu. Aku dan yang lainnya akan membawa Lynx ke tenda tim medis. Mereka yang akan memeriksanya. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi,” balas Ash berusaha menenangkan.

__ADS_1


***


__ADS_2