
Tak perlu menunggu sampai Lynx menghampiri ke arahnya, Hazel lebih dulu berlarian kecil, menghambur sambil merentangkan kedua tangannya. Menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan kekasihnya yang amat ia rindukan.
Lynx memeluk tubuh Hazel dengan erat, lalu mengangkat tubuh ramping itu untuk ia gendong. Membawanya dari atas permukaan air. Berdiri di bawah pohon rindang, memudahkan untuk saling berbicara.
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Masih ada rasa bingung yang membuat pikiran ke mana-mana. Tapi untuk sekarang ini, detik-detik singkat yang berlalu, mereka ingin meluapkan kerinduan yang sempat tertahan. Sudah lama sekali mereka tidak bermesraan, wajar rindu itu diiringi oleh tangisan.
Cukup lama saling berpelukan, Hazel sedikit mengurai pelukan tersebut. Menatap Lynx dengan lekat, sisa-sisa bulir bening di wajahnya sudah diseka oleh jemari panjang milik sang kekasih. Menarik nafas dalam-dalam, Hazel sedikit sesenggukan. Masih tidak menyangka bisa bertemu Lynx di tempat seperti ini.
“Maafkan aku, Lynx,” ucap Hazel, bibirnya bergetar karena berusaha menahan tangis. “Aku berpikir kita ada di sini karena kita sama-sama sudah tiada. Aku gagal, aku belum sempat bertemu dengan bayi kita. Aku tidak tahu apakah dia terlahir sehat atau apakah dia selamat atau tidak. Aku benar-benar Ibu yang bodoh, aku...”
“Ssstt...” Lynx mendekatkan wajahnya ketika telunjuknya ia tempelkan pada bibir sang kekasih. Membungkam ucapan Hazel yang belum terselesaikan. Berpandangan sesaat untuk menunjukkan tatapan hangat, Lynx kembali menarik tubuh Hazel untuk dipeluk.
“Hei, bukan hanya kau yang gagal. Aku...” Lynx menenggelamkan wajahnya di ceruk leher milik Hazel. Bibirnya ia gigit, menahan sesak yang membuat pernafasannya tidak stabil. “Aku juga gagal. Aku gagal memenangkan peperangan. Dua kali, dua kali aku membiarkan Kerajaan Foxion dijajah habis-habisan oleh Kerajaan Maggie.”
Tangisan itu kembali pecah. Lynx mulai menggugu sembari merengkuh tubuh Hazel dengan kuat. Berharap luka kecewa yang sudah tertanam dalam dada sedikit berkurang. Sementara Hazel, ia membiarkan kekasihnya itu untuk meluapkan perasaannya melalui tangisan. Sesekali Hazel memberi elusan lembut di atas pucuk kepala Lynx.
Tapi sekelebat bisikan yang terdengar melalui angin yang berhembus membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Sontak membuka matanya yang semula terpejam penuh dengan cairan bening, terkesiap langsung melepas pelukan dan segera celingak-celinguk untuk mencari siapa yang berbisik.
Jelas suara bisikan itu bukan milik Hazel. Pun bukan suara wanita yang lain.
Lalu siapa?
“Kau kenapa? Ada apa?” oceh Hazel khawatir. Ia menangkup pipi kekasihnya seraya mengusap jejak air mata yang tersisa di sana.
Alih-alih menjawab, Lynx mendadak memegang kedua bahu Hazel. Sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, mengikis jarak pandang hingga hembusan nafas masing-masing dapat dirasakan oleh pori-pori wajah.
__ADS_1
“Ini bukan akhir dari kita, Hazel. Kita bertemu di sini bukan karena kita gagal atau pun kita sudah mati. Kau harus kembali, temui bayi kita. Tunggu aku sampai aku menemuimu lagi. Selanjutnya aku akan kembali dengan membawa kabar baik. Bukan lagi tangisan kecewa yang aku tunjukkan, tapi tangisan haru karena aku berhasil,” papar Lynx dengan raut serius.
Hazel tidak mengerti kenapa tiba-tiba Lynx bisa berpikir seperti itu. Tapi bagaimana caranya Hazel bisa kembali? Sementara dirinya saja secara tiba-tiba sudah ada di sini. Entah melalui portal atau kekuatan sihir apa sehingga ia bisa terdampar tanpa alasan yang jelas.
“Pulanglah, aku mohon. Ini bukan tempatmu, bukan juga tempatku. Kita sudah berjanji untuk merawat dan mengasuh bayi itu berdua sampai dewasa nanti kan? Dia membutuhkanmu di tengah-tengah kerusuhan dan kesengsaraan yang terjadi. Pastikan dirimu dan bayi kita aman. Aku masih ingin melihat kalian baik-baik saja sepulang aku nanti,” pinta Lynx, kali ini tangannya menggenggam jemari Hazel dengan kuat.
Dahi Hazel mengerut. Perasaannya campur aduk. “Ta-tapi bagaimana caranya? Aku tidak mengerti, Lynx.”
“Tutup matamu,” suruh Lynx dan Hazel langsung patuh begitu saja. Sebelah tangan Lynx mulai menyentuh dahi Hazel. Entah mulutnya yang komat-kamit sedang merapalkan mantra apa. Lynx hanya sedang mengikuti kata hatinya saja. Sesuai dengan bisikan yang sempat ia dengar sebelumnya.
“Bayangkan satu hal yang membahagiakan untuk kamu wujudkan. Pikirkan satu alasan kenapa kau harus kembali ke sana. Pilih satu dari ribuan keinginan yang ingin kamu lakukan saat berhasil kembali,” perintah Lynx, ia ikut memejamkan mata.
Dari semua arahan yang terlontar, otak Hazel langsung merespon dengan cepat. Seketika dalam kepala sudah berputar bayangan tentang semua jawaban tersebut. Apa yang akan dilakukannya nanti, sudah ada dalam kepala. Dadanya yang terasa penuh, mulai lenggang sebab telah terganti dengan rasa pengharapan yang ikhlas.
Rasa ingin kembali sudah menggebu-gebu, telinganya mulai berdengung meredupkan suara-suara yang semula masih terdengar. Dedaunan kering yang berdesik, angin yang berbisik, riak air yang bising, semua itu mulai tidak terdengar. Tapi ketika Lynx mengatakan sesuatu didekat telinga, Hazel bisa mendengarnya dengan jelas.
Lekas membuka mata, Lynx menyadari bahwa Hazel sudah benar-benar hilang. Ia berharap bahwa Hazel berhasil kembali ke tempat seharusnya. Bisa menemui bayinya dan bisa hidup lebih lama.
Menunduk sebentar, Lynx mengusap wajahnya. Kembali terngiang-ngiang akan suara bisikan yang seolah memberinya petunjuk dalam situasi penuh tanda tanya ini. Jika kembali diingat, suara itu pernah ia dengar. Karena tak asing, bahkan hati kecilnya merindukan suara itu.
“Jadi, apa yang membuatmu masih ada di sini?”
Suara itu...
Lynx menoleh ke belakang, tepat ke sumber suara. Dari balik pintu air terjun yang ia lewati sebelumnya sudah ada seseorang yang berdiri sambil menghadapnya. Pria berambut panjang, anggun dan tampak indah itu tersenyum pada Lynx.
__ADS_1
“Ibu?” Lynx melongo tanpa berkedip.
Dia melambaikan tangan. “Ini duniaku. Kau tidak seharusnya ada di sini. Kau berhasil mengembalikan Hazel. Sekarang, kau juga harus pergi. Banyak dari mereka yang masih membutuhkanmu. Aku selalu percaya, sekali pun kau gagal, aku akan tetap percaya. Kau sudah ditakdirkan untuk membuat keadaan berubah.”
“... Jika sudah berada di posisi yang terpojok. Ingat satu hal, kau memiliki kemampuan yang hebat. Kau belum menggunakan kemampuanmu yang bisa berubah ukuran, dengan ukuran tubuhmu yang besar musuhmu akan kewalahan. Gunakan combo, gabungkan kekuatan yang kau miliki. Kau pasti bisa melakukannya, sekali pun jika yang tersisa hanya dirimu sendiri,” imbuh Jack memberi saran.
Lynx yang sebelumnya sempat termangu, kini sudah manggut-manggut paham. “Kau benar, Bu. Aku pasti bisa.”
“Mau melakukan pelukan perpisahan sebelum kau kembali?” tawar Jack, ia merentangkan kedua tangannya. Sudah menyambut Lynx yang mulai berjalan mendekat.
***
Oek!
Oek!
Oek!
Suara tangis bayi yang menggema di kegelapan malam, membuat semua yang berada di mata air kehidupan jadi risau. Bayi laki-laki tanpa nama itu menjerit-jerit di atas dada Hazel. Seolah meminta wanita itu untuk bangun dan memeluknya untuk pertama kali.
“Di sisi lain aku senang dia bisa menangis. Tapi, bagaimana cara memenangkannya? Bayi itu tahu bahwa Hazel adalah Ibunya,” tutur Putri Ren sedih.
Aluka yang sesenggukan di sebelah Hazel, tidak mampu berkata-kata. Dia sibuk menangis, sudah berjam-jam lamanya Hazel tidak membuka mata. Ditambah, kulit wanita itu sudah memucat. Harapan tentang menginginkan Hazel kembali terbangun rasanya sudah pupus.
Lima menit berlalu, ketika Putri Ren hampir menyerah dan akan mengangkat bayi tersebut dari tubuh Hazel, mendadak sebuah keajaiban terjadi. Kelopak mata yang terkulai tanpa ada tanda-tanda akan terbuka itu kini perlahan bergerak-gerak. Kening dan alisnya pun ikut bergerak juga.
__ADS_1
“Hazel?!” Putri Ren melotot saking terkejutnya. “Kau sudah sadar? Ta-tapi ... Bagaimana bisa?”
***