
Sreett...
Sreett...
Sreett...
Suara nyaring yang menusuk itu berasal dari kuku-kuku tajam Lynx yang sengaja digoreskan pada tubuh seorang lelaki yang sudah tak bernyawa. Faktanya, dia sudah membunuh orang itu dengan tangannya sendiri.
Darah segar mengalir deras dari luka gores yang dalam pada dada pria itu, cairan merah kental itu juga mengaliri lengan Lynx hingga menetes di ujung kuku tajamnya. Dari ekspresi yang dibuat Lynx, ia sama sekali tidak menyesali apa yang barusan sudah dirinya perbuat.
Menghilangkan nyawa seseorang? Terlihat bukan yang pertama kalinya bagi Lynx.
“Kau lagi, kau lagi. Dasar manusia tolol. Tidak pernah belajar dari kesalahan, ya? Atau bagian otakmu itu tersumbat oleh kotoranmu sendiri?” ledek Lynx, ia dengan santai melempar tubuh seseorang yang sudah ia bunuh tadi ke tanah.
Kemudian ia menggerakan kedua kaki panjangnya untuk berderap ke arah Hazel dan beberapa orang yang disekelilingnya. Kondisi di tempat pekarangan rumah Hazel masih belum kondusif, masih banyak orang yang mencar-mencar berusaha kabur dari situasi ini.
Sebagian juga ada yang masih penasaran, sehingga mereka menonton dari kejauhan. Bersembunyi dari balik pepohonan, mengamati baik-baik semua pergerakan mahluk aneh yang baru mereka lihat secara nyata di dunia ini.
“Lepaskan Hazel. Jangan sampai kali ini aku benar-benar menghancurkan kepalamu dan tak segan mengeluarkan jeroan di tubuhmu,” ancam Lynx kemudian setelah jarak yang tersisa hanya beberapa langkah lagi.
Yang tersisa di sana hanya ada Hazel, Marrie dan Widson saja. Sementara pria yang sempat menahan Hazel sebelumnya sudah pergi sejak tadi. Tidak mau menjadi korban yang akan menjadi mayat bergelimpangan.
Meski Widson sudah gemetaran, menahan takut mati-matian. Tapi ia masih pada pendiriannya, begitu kuat memegangi lengan Hazel. Padahal sekujur tubuhnya saat ini sudah mengeluarkan keringat dingin.
“Berisik kau, siluman! Kau pikir bisa mengancamku? Mahluk buruk rupa sepertimu seharusnya tidak ada di desa ini!” ujar Widson dengan logat yang berantakan.
Marrie maju selangkah, lebih mendekat pada Lynx. Melalui tatapan yang penuh penasaran itu, dia tidak terlihat takut sama sekali.
__ADS_1
“Bukan. Dia bukan siluman. Bukan juga mahluk buruk rupa. Dia adalah tokoh dongeng yang selama ini ceritanya sudah menjamur di masyarakat kita,” sahut Marrie, ia yakin dugaannya tidak salah.
“Hah? Kau sedang melantur, Nyonya?” Widson malah tertawa mengejek. “Kau berpikir kalau si buruk rupa ini adalah pangeran rubah yang konon katanya kerajaannya sudah lenyap? Dibandingkan dengan pangeran rubah, dia ini iblis yang hobi membunuh!”
“Terserah apa katamu.” Lynx kian mendekat padanya, mengangkat sebelah tangan untuk mencengkram dagu pria angkuh sambil menyeringai tajam.
Hanya beberapa detik, tak lama suara seperti tulang yang remuk terdengar jelas dari sana. Membuat Widson gelagapan sampai-sampai bola matanya nyaris keluar dari tempat. Begitu melotot, tidak menyangka hanya melalui satu serangan dirinya sudah kalah telak.
“Karena aku tidak butuh komentarmu,” sambung Lynx, ia memukul tangan Widson yang masih mencekal kuat pergelangan tangan Hazel. “Singkirkan tangan kotormu dari kekasihku!”
Berhasil membawa Hazel ke sisinya, lengannya yang menganggur langsung dipakai untuk merangkul penuh perlindungan pada gadis itu. Tidak memberi ruang sedikit pun bagi siapa pun untuk mendekatinya.
Cengkraman di dagu Widson semakin menguat, hingga mengeluarkan jeritan yang terdengar mematikan. Membuat semua orang yang menonton adegan ini langsung bergidik merinding.
Begitu pun dengan Marrie, dia tidak berani melihatnya. Sengaja memalingkan muka agar tidak lagi menyaksikan kengerian yang mampu membuat bulu kuduk terangkat naik.
Karena bukan hanya mencengkram sampai rahang Widson bergeser, tapi kuku-kuku tajam Lynx yang tampak memanjang itu seketika menusuk bagian bawah dagu pria itu. Bayangkan saja, kuku tajam yang panjangnya lebih dari lima centimeter menembus hingga masuk ke dalam mulut.
“Mati! Mati! Mati! Pergilah kau ke neraka!” umpat Lynx dengan seringaian puas di wajahnya.
Hazel yang ikut menyaksikan, tidak mampu melakukan apa-apa selain merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Hingga rasanya ingin muntah saat ini juga. Melihat bola mata Widson yang berputar hingga tak nampak lagi bulatan hitam, membuat Hazel merinding sebadan-badan.
“Hentikan. Cukup. Dia sudah mati, Lynx,” tahan Hazel, tak mampu lagi menyaksikan adegan ini secara langsung.
Lynx yang sempat terkendali oleh nafsu, perlahan mulai sadar setelah mendengar suara Hazel. Dia segera melepaskan Widson yang tak lagi memiliki tenaga itu hingga ambruk ke tanah, darah masih keluar dari bawah dagunya.
“Kenapa kau tega membunuhnya? Bahkan beberapa orang yang tidak bersalah juga kau libas semuanya dengan brutal,” protes Hazel, sudah menghadapkan tubuhnya pada Lynx.
__ADS_1
Dengan tampang santai tanpa penyesalan, Lynx menjawab, “Jangankan manusia rendahan seperti mereka, seisi dunia pun akan kuobrak-abrik jika berani-beraninya melukaimu. Dalam situasi ini, kau tidak perlu memikirkan mereka semua yang sudah menyakitimu selama ini, Hazel.”
Itu benar. Tapi tetap saja Hazel merasa tidak terima kalau dengan cara seperti ini kekasihnya itu menyelesaikannya.
“Dari pada itu, ayo kita pergi dari sini. Kau harus ikut bersamaku. Kali ini tidak ada penolakan,” kata Lynx menambahi, intonasinya terdengar tegas.
“Tapi...” Hazel masih ragu.
“Pergilah, Hazel. Ikut bersamanya. Kau lebih aman bila ikut dengannya.” Ini Marrie yang berbicara, dia dengan lapang dada mengizinkannya untuk pergi.
Kepala Hazel lantas menoleh pada Marrie. “Tapi Nyonya, bagaimana dengan hutangku padamu? Jumlahnya masih banyak. Aku tidak mungkin---”
“Kau tidak membayarnya pun tidak apa-apa. Jangan dijadikan beban. Aku sudah mengikhlaskannya. Selain itu, aku cukup terkejut dengan perubahan Edgard yang seperti ini. Tapi tolong konfirmasi, apa dugaanku tentangmu itu benar?”
Lynx segera mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Marrie. “Benar, Nyonya. Nama asliku Lynx. Aku datang ke dunia ini ditakdirkan untuk menjemput pasangan hidupku.” Matanya melirik pada Hazel sekilas.
“Mengenai hutang yang pernah aku pinjam padamu, aku berjanji akan membayarnya dua kali lipat. Tenang, aku bukan orang yang suka ingkar janji. Jadi untuk sekarang, aku mohon izin untuk membawa Hazel padaku,” imbuh Lynx, kembali menarik tubuh kekasihnya untuk dirangkul.
Marrie mengangguk paham seraya melebarkan senyum. Meski sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin dirinya tanyakan pada Lynx, tapi Marrie lebih memilih untuk memendamnya. Karena tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk banyak mengobrol.
Secara garis besarnya, Marrie tahu betul mengenai dongeng tentang Kerajaan yang ditempati pangeran rubah. Dari dirinya kecil sampai setua ini, ia tidak pernah bosan mendengar cerita dongeng tersebut.
Pantas saja jika Marrie langsung bisa menduga mahluk seperti apa Lynx. Terlebih sebenarnya dirinya sedikit paham dengan perubahan wujud Lynx saat ini.
“Silakan. Hati-hati di jalan. Dan semoga tubuhmu bisa kembali seperti semula. Kapan-kapan, tolong mampir dan temui aku lagi. Aku ingin mendengar cerita tentangmu lebih banyak,” balas Marrie, senyuman di wajahnya tak luntur.
Lynx mengangguk singkat. “Maaf sudah mengacau di desa ini. Jangan bilang-bilang pada warga yang lain tentang identitasku yang sebenarnya, lebih baik aku dianggap siluman jahat dari pada diakui sebagai Pangeran.”
__ADS_1
Marrie manggut-manggut. “Baik.”
***