Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 65 - Kita Saudara.


__ADS_3

Sampai Jack menghembuskan nafas terakhirnya, Putri  Ren setia memeluk tubuh dingin pria tersebut. Dibalut tangis yang menggugu, Putri Ren tak kuasa menahan kesedihan yang mendera. Masih belum bisa menerima takdir menyakitkan ini.


Kabar kepergian Jack mulai menyebar pada tim pasukan yang lain. Suasana duka diguyur oleh hujan yang mendadak turun. Seolah langit tahu, banyak air mata yang jatuh ingin disamarkan. Banyak luapan kesedihan yang tak terbendung lagi, pun dengan harapan-harapan yang dulu bermekaran kini sudah berguguran.


Sedangkan Lynx, ia sudah satu jam lamanya berdiri di bawah pohon. Tak peduli tubuhnya basah kuyup. Sampai akhirnya, ia berjalan tanpa semangat menuju tenda Jack. Ingin melihatnya untuk terakhir kali sebelum Lynx kembali pergi ke medan perang.


Gadis yang memeluk tubuh Jack tak jemu untuk terus tersedu-sedu, sementara Jack sudah memucat selepas nyawanya hilang dari raga. Dia tak lagi bernafas. Tubuhnya kaku, dingin, senyuman hangat yang sering ia tebarkan tak akan pernah bisa dilihat kembali.


Dengan air hujan yang menetes dari ujung pakaian dan rambutnya, Lynx bergerak masuk. Berjongkok di samping Putri Ren. Sibuk memandangi Jack, kemudian menyentuh punggung tangannya untuk dikecup.


“Aku akan berjuang untukmu, untuk negeri ini, dan untuk kita semua. Maaf sudah egois, aku tak pernah tahu sesakit apa kau menahan semuanya. Tapi sekarang, aku bersumpah atas namamu aku akan membuat mereka semua mati di tanganku. Aku benar-benar akan membunuh mereka semua,” bisik Lynx sungguh-sungguh.


Sebelum beringsut dari posisi jongkoknya, Putri Ren menyerahkan liontin yang dipakai Jack padanya. Sesuai dengan apa yang dikatakan Jack sebelum meninggal, liontin itu memang akan diberikan pada Lynx.


Dapat merasakan aura lain dari tubuh Lynx, seolah perasaan semangat yang bercampur emosi bergejolak begitu menggebu-gebu, Putri Ren merasakan firasat akan sesuatu.


Sebelum pria itu meleos pergi, ia mencegahnya dengan sebuah pertanyaan, “Maaf Pangeran, tapi kau tak berpikir untuk berangkat kembali ke medan perang malam ini juga kan?”


Lynx yang sudah siap melangkah keluar dari tenda, seketika menolehkan kepala, “Aku akan pergi.”


Kedua netra Putri Ren yang sembab langsung membulat sempurna, “Apa? Jangan bercanda. Semuanya bahkan terluka cukup parah, dan juga mental mereka masih terguncang. Selain itu, kondisi dirimu—”


“Aku akan pergi sendirian tanpa pasukan,” jawabnya dengan enteng.


Pernyataannya tersebut terdengar lebih mengejutkan. Putri Ren sampai dibuat tak habis pikir. Ia tahu Lynx sangat ingin memenangkan perang ini, tapi tidak dengan cara yang tergesa-gesa seperti ini juga. Selain dugaan presentase kemenangan sangat minim, Putri Ren juga takut kalau Lynx akan bernasib sama seperti Jack.


“Tunggu, Pangeran. Kau—”


Lynx kembali memotong pembicaraan, “Kembalikan saja Jack ke istana. Dia tidak bisa terus di sini. Dia harus diberi tempat yang nyaman dengan Ritual pemakaman yang layak. Mungkin semua yang ada di istana sudah tahu kabar kematian Jack, dan juga rasa percaya mereka terhadap kita yang berjuang di sini jadi menurun. Tapi...”


“Itu tidak masalah. Jack percaya padaku kalau aku dapat melakukannya. Aku tak butuh komentar siapa pun lagi. Terserah mereka beranggapan bahwa perang ini akan dimenangkan kembali oleh Kerajaan Barney. Aku akan membayar omongan itu dengan kenyataan yang berhasil aku lakukan nanti,” tutup Lynx, tubuhnya menyatu dengan guyuran hujan di luar sana.


Puri Ren hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, dia tidak memiliki hak untuk menyarankan apa-apa. Sadar bahwa dirinya di sini tak lebih dari anggota tim medis yang tak punya kemampuan untuk berperang, jadi Putri Ren memilih untuk diam saja.


Lynx yang mulai bersiap kembali berperang, sudah mempersiapkan semua senjata yang akan dirinya gunakan nanti. Beberapa dari mereka yang berada dalam tenda untuk mendapatkan pengobatan pun bertanya-tanya. Sebagian menahan Lynx untuk pergi. Tapi Lynx tak menggubrisnya.

__ADS_1


“Biarkan aku ikut denganmu!”


Lynx menengok ke sumber suara. Pandangannya turun ke bawah, melihat Sen dalam wujud rubah yang meminta untuk ikut, terlihat dari sorot matanya yang penuh harap.


“Akan sulit bukan bertarung dengan wujud rubah? Tak apa, kau berjaga saja di sini. Pastikan semuanya baik-baik saja dan aman. Aku akan pulang dengan selamat ketika fajar tiba nanti,” balas Lynx sambil mengulas senyum, kemudian ia berlari untuk meninggalkannya.


Sen menunduk sedih. “Dasar bodoh. Memangnya dia bisa apa saat sendirian di sana? Huft! Padahal niatku baik. Aku tahu, kemampuanku tidak terlalu membantu. Tapi bukan berarti dia bisa pergi sendirian begitu saja,” dumelnya sambil menghentak kaki, merasa kesal.


“Kita akan pergi ke sana,” celetuk seseorang, meski berdiri di bawah derasnya hujan, suaranya masih terdengar.


Ketika kepalanya berpaling ke belakang, akhirnya Sen tahu siapa yang berbicara barusan. Dengan membuat tatapan tak percaya, Sen berujar, “San? Kau di sini? Ta-tapi, bagaimana...”


Alih-alih menjawab kebingungan saudara kembarnya, San mengatakan hal lain, “Kau benar, dia tidak mungkin bisa berperang sendirian sekali pun dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Jadi, ayo kita bekerja sama untuk membantunya.”


Ada perasaan senang dalam hati Sen saat melihat San yang tak ragu mendengarkan isi hatinya. Seolah saudaranya itu bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu cemas atas suatu hal yang selama ini mengikatnya dalam tuntutan tak masuk akal.


Seraya mengembangkan senyum, Sen menyahut penuh semangat, “Eum! Ayo!”


Setelah melakukan kesepakatan, tanpa basa-basi lagi mereka berdua berlari secepat kilat menembus siraman hujan yang sedikit mengaburkan pandangan. Bergerak beriringan masuk ke dalam hutan, ke tempat dimana Lynx berada.


***


Mereka semua sangat menyayangkan kejadian ini. Jack di mata siluman lain, terkenal sebagai siluman rubah baik hati dengan sikap bijaksananya. Jika tidak ada aturan tertulis bahwa menjadi Raja karena sebuah garis keturunan, semuanya mungkin akan mendukung Jack untuk menjadi seorang pemimpin.


Namun, siapa yang akan menyangka akhir hidupnya akan seperti ini? Tapi meski begitu, kepergian Jack tetap dinilai sebagai bentuk pengorbanan untuk Kerajaan Foxion.


Karena tak mungkin menunggu sampai pagi datang, Putri Ren memanggil Roc (hewan mitologi) yang dapat mengantarkan Jack ke istana tanpa perlu dipandu. Dia menaruh tubuh Jack yang malang ke atas punggung Roc, lalu kembali menangis sesenggukan sebelum kendaraan mitologi itu membawa Jack terbang jauh ke atas sana.


“Aku sangat sedih mendengar kabar ini,” ucap Ash yang baru berani menghampiri Putri Ren.


“Aku bahkan belum sempat menemui Pangeran Lynx,” sambung Ash, kepalanya tertekuk sedih. Bibir keringnya ia basahi, pandangannya bergerak gelisah. Bingung harus bagaimana dan mengatakan apa untuk menenangkan Putri Ren.


Putri Ren menyeka air matanya, kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk menstabilkan pernafasan. Namun semua itu percuma, beberapa detik setelahnya dia kembali menangis. Bahkan tubuhnya merosot, terduduk ke tanah.


Dia meraung-raung sambil mengeraskan jerit tangisnya. Mengambil perhatian semua yang menonton dari balik tenda. Ash akhirnya meminta Roc yang membawa jasad Jack untuk segera pergi, tapi tanpa disangka hal itu malah membuat Putri Ren menggila.

__ADS_1


“Cukup, dia akan sedih jika kau seperti ini, Putri.” Ash berjongkok, merangkul tubuh Putri Ren yang bergetar karena terus menangis. “Cintamu dengannya tidak akan berakhir. Benang merah antara dirimu dengan Tuan Jack tidak akan terputus meski raganya sudah mati. Akan ada fase dimana setiap yang bernyawa pasti dilahirkan kembali.”


“... Jadi jika tidak sekarang, yakinlah kalian akan dipertemukan kembali di kehidupan selanjutnya dengan kisah cinta yang lebih layak,” imbuh Ash, masih berusaha untuk menenangkan.


Cinta Putri Ren pada Jack, bukanlah rahasia lagi. Sekarang semuanya sudah tahu. Betapa tulus dan besarnya perasaan yang selama ini ia pendam. Tapi sayang seribu sayang, semesta tak berpihak padanya.


***


Mengawasi dari balik pohon. Mengintai secara diam-diam untuk mengetahui pergerakan musuh, Lynx dengan indera penglihatan yang tajam terlihat serius mengamati dari kejauhan.


Hujan yang turun beberapa saat lalu, berhasil membumihanguskan beberapa titik dimana api yang sebelumnya meledak-ledak untuk membakar seluruh mayat yang bergelimpangan. Kini yang tersisa hanya asap-asap hitam yang memenuhi udara.


Walau situasi mulai terlihat lenggang dan aman, tetap saja istana musuh dijaga begitu ketat dengan pertahanan yang tak main-main. Bukan hanya menggunakan penjagaan dari beberapa siluman anjing yang tak mudah ditumbangkan, beberapa alat canggih pun mereka simpan di setiap sudut.


Lynx bergumam sambil mengusap dagu, “Bagaimana caranya aku bisa masuk menyelinap ke dalam istana mereka?”


Saat sibuk berpikir tentang sebuah rencana, Lynx dikagetkan dengan suara sesuatu dari arah belakang. Suara dedaunan kering yang diinjak-injak, seperti seseorang tengah melaju ke arahnya dengan ritme cepat.


Untuk berjaga-jaga, Lynx mengeluarkan pedang miliknya. Pedang yang masih menyisakan beberapa darah di bilahnya, ia acungkan ke depan. Ekor matanya berpindah-pindah dengan cepat, mengamati celah yang memungkinkan bagi musuh untuk melompat ke padanya.


Namun ternyata, yang muncul dari balik semak-semak bukanlah musuh yang ia waspadai. Dua ekor rubah berukuran sedang dengan paras serupa datang menghadapnya. Mereka berdua tertawa, persis seperti bocah polos yang tak kenal rasa takut.


Sambil memasukan kembali pedangnya, Lynx berkata, “Kalian? Bukankah sebelumnya aku—”


“Jangan sok percaya diri,” sela San. “Aku tahu kau hebat, tapi untuk melumpuhkan musuh secara sendirian sangatlah sulit dan tak masuk akal. Mereka bukan hanya menggunakan sihir, tapi juga teknologi canggih yang dibuat manusia. Kami datang ke sini bukan hanya untuk membantumu, tapi membantu membawa kemenangan bagi Kerajaan Foxion.”


Lynx tertegun sesaat, apa yang dikatakan San ada benarnya. Ia tidak boleh egois, tidak boleh terlalu ambisius. Sesekali dirinya juga perlu tangan orang lain untuk mendapat bantuan.


“Itu benar. Kita adalah saudara, bukan?” Sen maju selangkah lebih dekat pada Lynx. “Masa lalu yang sudah kau lalui sangatlah menyakitkan, dan itu karena ulah kami. Dan untuk menebusnya, kita akan ikut berkorban denganmu di sini.”


San mengangguk setuju. “Benar, apa pun masalah yang pernah terjadi di antara kita semua, fakta bahwa kita adalah saudara tidak bisa ditepis. Terlepas dari semua hal yang pernah aku lakukan padamu. Aku di sini karena perasaan tulus untuk membantu. Kata maaf saja tak mungkin cukup. Bahkan jika aku mati saat melakukan ini, aku yakin itu masih belum cukup untuk menebus segalanya.”


Entah kenapa, saat memandang mereka secara bergantian, Lynx merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Hati kecilnya terenyuh. Berpuluh-puluh tahun lamanya, baru kali ini ia mendengar kata ‘saudara’ dari mulut mereka.


Lynx berjongkok, merentangkan kedua tangan, membawa dua rubah itu ke dalam pelukannya. “Ya, ayo kita lakukan semua ini bersama.”

__ADS_1


***


__ADS_2