
“Huek!”
“Huek!”
Hazel memuntahkan semua cairan yang ada di dalam perutnya, padahal sejak kemarin dirinya belum makan apa pun, mencium bau amis dari ikan mentah membuatnya mual tak tertahankan.
Sehingga ia harus pergi ke ruangan belakang, meninggalkan acara sarapan yang belum usai. Ia jadi tak enak hati, mungkin saja orang-orang di sana merasa jijik padanya.
Lynx berlarian kecil untuk menyusulnya. Melihat wajah pucat Hazel yang begitu mengkhawatirkan. Dengan segera ia memberi usapan tepat di punggung kekasihnya tersebut.
“Kau masih mual jika memakan ikan? Mau makan buah atau kuambilkan makanan yang lain?” tanya Lynx sambil terus mengelusi.
Hazel menggeleng lemah, tubuhnya bersandar pada dada bidang Lynx. Menyembunyikan wajahnya di sana. “Aku lemas, Lynx. Aku bingung mau makan apa. Rasanya tidak berselera sama sekali. Tapi jika tidak diisi makanan, kasihan bayi kita.”
Lengan besar Lynx melingkar pada pinggang kecil Hazel, memeluknya erat seraya memberi kecupan singkat di dahi. “Ayo kita ke kamar dahulu. Kau bisa istirahat sambil menunggu aku membawa buah-buahan segar.”
Ia memapah pelan tubuh Hazel, berjalan berdampingan sambil merengkuhnya penuh perhatian. Saat melewati ruang makan, mereka semua yang masih duduk untuk menikmati makanan lantas menoleh pada Lynx dan Hazel.
San seketika menyindir pedas dengan tatapan sinisnya, “Menyusahkan saja. Jika dia terus bersikap manja seperti itu, bagaimana kau bisa fokus berlatih untuk menjadi panglima perang? Ingat, bagaimana akhir dari Kerajaan ini ada di tanganmu!”
Lynx menghentikan langkah, dapat merasakan rematan dari jemari Hazel yang berada di atas dadanya. Perasaan takut dan gelisah Lynx bisa rasakan dari sana.
Sedikit menanggahkan kepala, Lynx menyorot San dengan pandangan tak suka. “Kenapa kau yang ikut repot? Itu urusanku. Aku tidak perlu pedulimu untuk mengingatkan tentang hal itu. Jadi lebih baik kau diam. Tidak ada yang meminta saran darimu, atau pun tertarik berbicara dengan orang sepertimu,” timpalnya ketus.
Setelahnya Lynx kembali bergegas keluar melewati pintu, tubuh Hazel sudah ia bawa dalam gendongan agar lebih mempercepat langkah untuk pergi dari hadapan mereka semua.
Sepeninggal Lynx dan Hazel, situasi di sini semakin tidak nyaman. Suasana saat makan yang seharusnya terasa khidmat malah dibumbui oleh percekcokan hingga membuat atmosfer jadi canggung.
Aluka menggeser kursi seraya berdiri. Menyudahi aktifitas makannya yang akan memancing emosi jika terus berlama-lama di sini.
“Omonganmu selalu saja seperti itu, Kak. Aku tidak suka. Namanya wanita hamil, bukankah hal seperti itu wajar? Laki-laki sepertimu sudah menunjukkan kalau kau adalah orang yang egois. Aku akan berpihak pada Kak Lynx, terserah dengan kalian,” sungut Aluka berapi-api.
Kemudian ia menyusul Lynx dan Hazel dengan tergesa. Tangannya mengepal dan juga langkah kakinya sengaja ia sentak-sentakan ke lantai. Menandakan kalau saat ini dirinya tengah marah besar.
Jack berdeham, menunda garpu dan sendok di piringnya. “Untuk menciptakan lingkungan yang damai, lebih baik kalian jangan terlalu ikut campur.” Arah matanya tertuju pada si kembar.
Sen yang tidak terima, langsung mengerutkan dahi. “Kenapa kau juga menatapku? Kau pikir aku pembuat masalah?”
“Masih bertanya? Bukankah kalian adalah Pangeran sepaket? Satu ikut, maka satunya lagi akan ikut juga. San yang memancing keributan, kau yang meneruskan. Benar bukan? Maka dari itu aku memperingati kalian. Tolong beri Lynx sedikit kepercayaan. Biarkan dia membuktikan kemampuannya,” pinta Jack masih dengan nada sopan.
San tertawa lebar namun yang ia perlihatkan adalah ekspresi kecewa. “Salahkan saja kami berdua. Sejak dulu kau memang selalu ada dipihak si bodoh itu. Kalau bukan karena kemampuan sihirmu yang diakui oleh ayahku, mungkin kau sudah diusir di sini. Atau kau sudah lama mati karena dihukum gantung persis seperti Ibu dari si bodoh itu!”
Suara gebrakan meja yang dilakukan San membuat Putri Ren yang sejak tadi diam menyimak pembicaraan, jadi sedikit terperanjat kaget. Satu per satu orang-orang mulai pergi. Sen menyusul langkah San yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan.
Kini hanya tersisa Jack dan Putri Ren saja. Mereka saling memandang, gadis dengan gaun berwarna hijau tua itu tersenyum kikuk. Jack mencoba melebarkan senyum seraya membuang nafas berat.
“Maaf, Putri Ren.” Jack mengusap tengkuknya.
__ADS_1
“... Setelah ini mungkin kau akan trauma datang ke sini lagi. Kejadian tidak menyenangkan ini bisa mengganggu pikiranmu. Atas nama Kerajaan Foxion, saya meminta maaf sebesar-besarnya.” Kepalanya menunduk, sebelah tangan ia simpan di dada.
Putri Ren dengan kebaikan hatinya, tidak membenarkan omongan Jack. “Tolong jangan seperti itu. Aku tidak apa-apa. Memang sedikit kaget, tapi pada akhirnya aku lega.”
“Lega?” Jack kembali mengangkat pandangan, melihat gadis yang duduk di seberangnya dengan penuh tanda tanya.
“Hm.” Kepalanya mengangguk kecil, senyuman yang tercipta terlihat tulus tanpa dibuat-buat. “Karena sebenarnya aku juga tidak setuju dengan perjodohan ini. Selain itu aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Pangeran Lynx. Aku senang saat tahu Pangeran Lynx sudah menemukan cinta sejatinya.”
Menggulir pandangan ke samping, Putri Ren mengulum senyuman yang hampir terbit. “... Ada laki-laki lain yang aku cintai, itu sebabnya aku merasa lega karena tidak jadi menikah dengan Pangeran Lynx,” sambungnya dengan pipi yang bersemu kemerahan.
***
“Aluka, bisa kau temani Hazel sebentar? Aku akan turun ke bawah, ke tempat para penduduk. Siapa tahu mereka memiliki persediaan buah-buahan. Aku akan meminta beberapa pada mereka,” mohon Lynx pada adik bungsunya tersebut.
Saat ini mereka berdua tengah berdiri berhadap-hadapan di depan pintu kamar yang ditempati Hazel.
Kepalanya mengangguk patuh. “Tentu. Tapi aku akan meminta pada pelayan untuk mengambilkan mata air kehidupan, Hazel harus meminumnya. Setidaknya itu bisa membuatnya lebih baik.”
Lynx mengelus gemas puncak kepala Aluka. “Ya, lakukan saja. Aku berhutang budi padamu.”
Bergegas untuk keluar dari istana, Lynx menggerakan kedua kakinya dengan cepat. Aluka tersenyum sambil menatap punggung kakak sulungnya yang mulai menjauh. Ia merasa ada perubahan besar semenjak Lynx kabur hari itu.
Batinnya bertanya-tanya, apa mungkin karena sedang jatuh cinta?
“Bukan. Jawabannya bukan karena jatuh cintanya.” Aluka bergumam, mendapat jawaban atas pertanyaannya sendiri. “Tapi ini tentang seseorang yang berhasil membuatnya jatuh cinta dan membawa perubahan untuknya.”
***
“Kak Lynx belum kembali. Pasti dia kesulitan mendapatkan buah-buahan,” ujar Aluka yang sedang bertopang dagu, duduk di samping ranjang tempat Hazel berbaring.
“Memangnya di negeri ini tidak memiliki lahan khusus untuk ditumbuhi berbagai macam buah?” Seingat Hazel, banyak lahan hijau kosong di sekitar sini, makanya ia merasa heran.
“Kau lupa? Kami ini rubah pemakan daging. Tidak terlalu menyukai buah dan untuk menanamnya pun perlu waktu dan tenaga yang banyak. Sedangkan para penduduk di sini saja populasinya sudah semakin sedikit,” timpal Aluka.
Hazel terkekeh malu sambil mengangguk-angguk. “Benar juga. Aku tidak berpikir sampai ke sana.”
“Dari pada bosan di sini. Mau keluar sebentar? Ke taman belakang, tempat dimana Kak Lynx sering berlatih dengan Paman Jack,” ajak Aluka sambil mengulurkan tangan, tubuhnya sudah berdiri.
Tanpa berpikir, Hazel langsung menjabat tangan gadis itu. Membiarkan tubuhnya dituntun ke tempat yang dia maksud. Hazel juga sedikit penasaran dengan tempatnya, karena Aluka mengatakan Lynx sering berlatih di sana.
Dari ujung ke ujung lorong mau pun ruangan yang mereka lewati, banyak para pelayan yang berlalu lalang untuk membersihkan atau pun melakukan tugasnya. Mereka sempat memandangi Hazel dengan tatapan aneh, sebelum akhirnya ditegur oleh Aluka.
“Dia ini manusia baik. Jangan menatapnya dengan tatapan seperti itu. Lakukan saja tugas kalian kalau tidak mau aku adukan pada Paduka Raja atau Ibunda Ratu!” Aluka memperingati mereka dengan tegas.
Sisi polosnya yang menggemaskan itu ternyata bisa membuat para pelayan luluh lantak tak berdaya untuk melawan, kini tidak ada lagi yang berani menatap Hazel, mereka sibuk mengalihkan pandangan. Lebih tepatnya pura-pura tidak melihat.
“Aku jadi penasaran, kejadian apa yang kalian alami sampai-sampai sebegitu bencinya pada manusia?” tanya Hazel di sela-sela langkah.
__ADS_1
Aluka melirik padanya, tapi bahunya menggedik. “Bukan tak mau menjawab. Tapi ada yang jelas mengetahuinya lebih dari aku. Mungkin nanti dia akan menjelaskan kalau kau bertanya.”
“Siapa dia?”
“Paman Jack.”
Pikiran Hazel berkelana. Ia jadi penasaran dengan sosok pria bernama Jack tersebut.
“Kalau boleh tahu, dia itu siapa di Kerajaan ini? Apa dia punya kedudukan? Kudengar dia sangat akrab dengan Lynx, bahkan dia dianggap Ibu olehnya,” tanya Hazel lagi, ingin menghilangkan rasa penasarannya.
“Dia adik dari Ibu kandung Kak Lynx. Yang kutahu, Paman Jack adalah salah satu rubah yang bisa mengendalikan banyak sihir. Dari kemampuannya itu, dia diangkat menjadi ahli sihir untuk membantu rubah lainnya mengasah kemampuan sihirnya,” papar Aluka apa adanya.
Cukup banyak hal yang mereka obrolkan, akhirnya keduanya sampai pada tempat yang dituju. Taman belakang istana yang Aluka maksud ternyata sangat luas.
Dipenuhi rumput hijau yang sangat lembut jika diinjak tanpa menggunakan alas kaki, harum khas dari daun di pepohonan yang digerakkan angin bisa terendus. Mentari yang cukup terik, membuat taman di sini terlihat lebih terang.
“Sebenarnya tidak ada apa-apa di sini. Tapi aku senang datang ke sini saat sore hari, karena Kak Lynx dan Paman Jack selalu ada untuk berlatih,” papar Aluka sambil mendudukan bokongnya di bawah pohon rindang, ingin meneduh dari sinar matahari.
Hazel meluaskan pandangan, angin sepoi-sepoi yang menerpa parasnya membuat sinar mentari jadi terasa hangat. Menghadirkan perasaan nyaman. Ia juga melihat di ujung taman terdapat sebuah rumah kecil, atau mungkin bisa dikatakan gudang.
“Itu tempat apa?” Telunjuk Hazel mengarah ke tempat yang ia amati sebelumnya.
Aluka mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala. “Hanya Kak Lynx dan Paman Jack yang tahu. Aku tidak pernah diizinkan masuk ke sana.”
“Kenapa? Kau ingin ke sana? Mungkin kalau itu kau, dia akan mengizinkan,” sambungnya dengan memberi pertanyaan.
“Ya, nanti aku akan coba bertanya padanya.”
Ikut duduk di samping Aluka, Hazel memejamkan matanya sebentar. Merasakan perasaan nyaman dan menenangkan di sini dengan lebih intens.
Beberapa menit kosong tanpa obrolan, mendadak suara langkah kaki terdengar mendekat. Karena penasaran, Hazel membuka matanya. Begitu pun dengan Aluka, pandangannya lurus ke depan.
“Putri Ren?”
Dipikir mereka yang datang adalah Lynx, tapi ternyata putri dari Kerajaan Oxra. Tapi ngomong-ngomong, kenapa dia datang ke sini?
“Putri Aluka, Ibunda Ratu mencarimu. Mungkin ada yang ingin dia lakukan denganmu,” katanya setelah langkahnya kian mendekat.
Aluka langsung berdiri dari posisi duduknya. “Benarkah? Kalau begitu aku akan segera ke sana.”
Sebelum memutuskan untuk pergi, Aluka menoleh pada Hazel. Bingung, haruskah ia mengajaknya atau membiarkannya di sana?
Putri Ren yang seolah paham perasaan Aluka, langsung buru-buru menyahuti, “Kau bisa pergi. Biar dia bersamaku di sini.”
Pandangannya pindah pada Hazel, ia mengembangkan senyum. “Kau tidak keberatan kan duduk dan mengobrol di sini denganku?”
***
__ADS_1