Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 54 - Rindu Menggebu.


__ADS_3

“I-ini tidak berhasil!” Lynx sudah sebisa kemampuannya mengayunkan pedang untuk menembus tudung sihir yang tampaknya begitu tebal.


Cara yang sudah ia praktikan sebelumnya mendadak hilang dan seolah tidak berpengaruh sama sekali. Padahal selama seharian ini dirinya terus berlatih, Jexie yang menjadi saksinya.


Tapi kenapa mendadak itu tidak bekerja?


“Waktu terus berlanjut. Apa kau masih mau terus menggerakkan pedangmu seperti bocah kecil? Angkat, pakai gerakan yang lain!” teriak Jack sedikit penekanan, berhasil membuat Lynx terperanjat karena kaget.


Peluh yang memenuhi sekitaran pelipis, kini sudah saling berlomba menuruni pipi. Pegangan tangannya yang mencengkram gagang pedang pun terasa licin sebab keringat mulai membasahi seluruh tubuh.


Waktu kian berlalu, tapi Lynx masih belum menunjukkan perubahan. Sementara Jexie mulai ketar-ketir, takut kalau Lynx akan gagal.


“Aku percaya padamu, Pangeranku,” ucap Jexie laun, tapi masih bisa didengar oleh Lynx.


Manik Lynx tertutup, mencoba untuk lebih fokus. Menyingkirkan perasaan gugup dan gelisah yang terus menggerayangi pikiran. Sesaat pendengarannya seperti diredam sehingga tidak ada suara apa pun yang bisa dirinya tangkap.


Senyap, gelap. Hati kecilnya berulang kali memanggil, menyemangati, dan perlahan menumbuhkan kepercayaan akan sihir yang kini sudah menyatu dalam dirinya.


Tanpa membuka mata, Lynx bergerak perlahan untuk mengangkat pedangnya. Tidak tahu gerakan apa yang dibuatnya, tapi Jack cukup kagum melihat kefokusan Lynx yang meningkat drastis.


Tubuh tegapnya membungkuk, menarik pedang dari arah samping pinggang kanan. Ketika kepercayaan muncul dalam hatinya, di setiap sisi bilah pedang miliknya akan memunculkan semacam cahaya mirip aliran listrik berwarna keunguan.


Pedang milik Lynx tampak mencolok saat mengeluarkan cahaya. Berhasil membuat Jack menganga terkagum-kagum. Inilah yang ingin dirinya lihat, moment ini yang dirinya tunggu-tunggu sedari awal.


Zrrtt...


Zrrtt...


Zrrtt...


Suara aliran listrik dan mengeluarkan percikan cahaya ungu itu begitu damai di tengah-tengah keheningan yang terjadi. Lynx bergerak amat tenang, pedang di tangannya sudah diarahkan pada tudung di depannya.


Tanpa menggunakan tenaga, dan tanpa perlu sebuah mantra, tudung sihir yang semula terlihat tebal bagaikan baja kini sudah pecah selayaknya gelembung. Kini sudah hilang dan bersih. Tempat yang tertutup sudah terbuka kembali.


“Itu berhasil, kau berhasil!” teriak Jack kegirangan, kaki panjangnya melompat-lompat sambil berteriak histeris.


Mendengar teriakan antusias tersebut, Lynx reflek membuka mata. Melihat bahwa saat ini di depannya tidak ada lagi penghalang. Dan Jexie tengah berjalan mendekatinya, kuda itu menampilkan senyum bangga.


“Fyuhh!” Lynx menyeka keringat dingin di wajahnya, kembali memasukan pedang pada tempatnya.


Mengusap kepala Jexie yang sudah ada dihadapannya, ia turut senang karena merasa sudah menyelamatkan nyawa kuda itu.


“Terima kasih, Pangeranku. Aku lega, akhirnya kau benar-benar bisa mengendalikan pedang itu dengan sempurna! Cukup percaya pada dirimu, maka keajaiban akan selalu muncul,” ujar Jexie sambil menekuk sebelah kakinya, menunduk hormat.

__ADS_1


Yang diberi pujian terlihat malu-malu, Lynx menggaruk pipinya yang tak gatal dengan pandangan yang bergulir ke sembarang arah. “A-aku hanya mengikuti apa kata hatiku.”


Jack berjalan ke depan, merangkul bahu Lynx setelah memberinya usapan singkat pada puncak kepala. “Sebenarnya kemampuanmu masih perlu diasah lagi. Tapi karena ini yang pertama kali buatmu, jujur saja kalau yang tadi itu keren.”


“Pesanku, saat berperang nanti kau jangan memakai teknik seperti itu. Apa pun situasinya, entah hening atau bising, fokusmu tidak boleh pecah! Dan jangan sesekali melakukannya sambil menutup mata, kau akan lengah. Kau akan dibuat tertipu oleh taktik sihir mereka yang luar biasa.”


Jack menyampingkan tubuhnya, menghadap Lynx. Telunjuknya ia tempelkan pada dada pria berambut oranye gelap tersebut, membuat tatapan Lynx turun tepat dimana telunjuk Jack mendarat.


“Kuncinya di sini. Hatimu harus selalu terhubung dengan pikiranmu. Kepercayaan adalah nomor satu. Tanpa kepercayaan, sihir yang ada pada pedangmu ini tidak akan berguna. Fokus, fokus, fokus, itu juga penting. Mengerti?”


Lynx mengangguk semangat. “Eum, aku mengerti!”


“Bagus.” Jack kembali memberi usapan singkat pada ubun-ubun kepala Lynx.


“Sekarang istirahat. Kau sudah berlatih keras hari ini,” sambungnya sambil membalikkan tubuh, berjalan meninggalkan Lynx.


“Aku masih ingin berlatih! Kemampuan dari liontin baruku masih belum aku coba,” teriak Lynx, berhasil menghentikan langkah Jack di depan sana.


“Jangan terlalu memaksakan diri. Akan jadi masalah kalau kau tidak dalam keadaan baik saat berperang nanti. Ingat, besok lusa kau mungkin akan berperang. Dan malam besok, bukankah kau akan mengadakan pertarungan dengan Pangeran San? Tetap jaga kesehatanmu,” sanggah Jack, kembali berlalu pergi.


Lynx masih merasa mampu, tubuhnya belum meminta untuk beristirahat. Masih kuat jika diteruskan sampai besok pagi. Ia juga menganggap ilmu dan kemampuan yang dipelajarinya masih belum cukup untuk memerangi Kerajaan Maggie.


Tapi...


“Kau tidak lupa, 'kan? Hazel sering kau tinggal. Dia pasti kesepian. Kenapa kau tidak gunakan kesempatan ini untuk berduaan dengannya? Sudah lama sekali aku tidak melihat kalian bersama. Dia pasti sedih karena kau tidak selalu ada di sisinya.”


“... Setidaknya sebelum kau pergi berperang, kau harus meyakinkan Hazel bahwa kau akan kembali dengan selamat. Tidak baik meninggalkan wanita hamil dengan penuh kecemasan,” tutup Jack sebelum tubuhnya menghilang dalam kegelapan malam.


***


Atas perkataan dan nasihat yang diberikan Jack, Lynx tanpa berpikir apa-apa lagi lantas bergegas menuju kamar. Sebelumnya Lynx sudah membersihkan diri, karena mendadak ia terpikir sesuatu.


Bukankah sudah sangat lama semenjak dirinya tidak pernah melakukan ‘itu’ dengan Hazel?


Sebagai pribadi yang normal, meski tidak dalam masa rut (musim kawin) Lynx juga sempat berpikir ingin melakukannya. Terlebih akhir-akhir ini memang keduanya tidak punya waktu berduaan yang intens, rindu yang terpendam mungkin sudah berubah menjadi hasrat yang menyala-nyala.


“Hazel? Aku kembali...” Lynx membuka pintu pelan-pelan, waspada kalau kekasihnya itu memang sudah tidur.


Namun ternyata Hazel masih asik duduk santai di atas ranjang sambil melamun sendirian. Tubuh bagian bawahnya sudah ditutupi oleh selimut tebal, tapi masih nampak perut Hazel yang kian membesar.


“Lynx!” Tentu saja Hazel sangat antusias dan senang bukan main ketika mengetahui kekasihnya datang di saat malam belum larut, karena biasanya hal ini sangat mustahil terjadi.


“Aku merindukanmu, sayang!” Lynx bergerak cepat, menghambur ke arah Hazel untuk memberi pelukan.

__ADS_1


“Sa-sayang?” Hazel sedikit tersipu saat mengulangi kata terakhir yang dikatakan oleh Lynx, merasa kaget karena ini pertama kali dirinya mendengarnya.


“Kenapa? Kau tidak suka dengan panggilan itu?” kekeh Lynx sambil mengeratkan pelukan, perutnya terasa bersentuhan dengan perut Hazel yang besar.


“Bu-bukan begitu! Hanya saja ... Aku baru mendengar kau menggunakan panggilan itu. Aku jadi malu sekaligus canggung,” cicit Hazel malu-malu, wajahnya yang memerah ia benamkan pada ceruk sang kekasih.


“Aku akan memanggilmu seperti itu mulai sekarang!” seru Lynx penuh semangat, bibirnya sulit untuk menurunkan senyum.


Hazel tidak menjawab, sibuk meredam perasaan euforia yang bergejolak dalam dada. Membuat rangsangan panas menyeluruh pada aliran darah. Rasanya sangat senang, perasaan sedihnya yang sempat menerpa kini sudah terhempas begitu saja.


Lynx mengurai pelukan, tapi Hazel masih tertunduk malu. Menyentuh dagu kekasihnya, membuat tatapan mereka pun bertemu.


“Maaf, ya. Belakangan ini aku tidak pernah punya waktu untukmu. Setiap kita berduaan, pasti selalu ada penghalang. Tapi malam ini...” Lynx memegang tangan Hazel untuk ditempelkan pada dadanya.


“... Aku akan menjadi milikmu kembali, sepenuhnya dan seutuhnya. Jadi ayo bersenang-senang. Ayo kita bercinta, sayang!” imbuh Lynx langsung pada intinya tanpa perlu basa-basi.


Hal itu membuat Hazel sedikit bingung dan terkejut. Matanya mengerjap-ngerjap, terlihat kosong beberapa detik. Tapi pipinya kian memerah sempurna, bagaikan tomat yang hampir meledak!


“T-tunggu ... Kedengarannya itu agak sedikit terburu-buru?” Hazel tersenyum kikuk, ia bingung harus berekspresi apa.


Lynx mengerutkan kening. “Apa yang terburu-buru? Kita sudah lama tidak melakukannya, kenapa kau menganggap ini terburu-buru?”


Alisnya terangkat sebelah, bibirnya membuat lengkungan smirk yang bisa dibaca oleh Hazel. Tangan kekar berurat miliknya mendorong pelan tubuh kekasihnya agar berbaring, lalu mengungkungnya, tatapannya tak dialihkan sama sekali.


“L-lynx? Kau yakin kita akan melakukannya malam ini?” Hazel bertanya setelah berulang kali meneguk ludah, rasa gugupnya muncul.


“Kenapa tidak? Aku juga ingin mengunjungi anakku.” Jari-jemari panjangnya bergerak menuruni perut Hazel. “Dia tidak pernah aku temui sekali pun, bukan? Dia harus bertemu dan melihat seperti apa ayahnya.”


Hazel membuang pandangan, menutup mulutnya menggunakan punggung tangan. “Bukankah yang dia temui nanti hanyalah segumpal daging yang bergerak maju mundur?”


“Hei, kau terlalu jujur!” Lynx menggelak tawa geli. Kemudian tubuhnya ia jatuhkan ke samping, langsung bertatapan dengan manik Hazel. Bisa melihat dari dekat pipi yang memerah itu.


“Ayolah, sayang!”


Tangannya menopang kepala, sebelah lagi ia pakai untuk menyentuh pipi Hazel agar kekasihnya itu tidak berpaling ke sembarang arah lagi. Mencoba mengikis jarak setelah cukup lama bertatapan, Lynx bergerak maju untuk meraih benda kenyal yang sudah menggodanya sejak tadi.


Cup.


“Boleh, ya?” mohon Lynx setelah melepas panggutan yang terjadi secara singkat, namun dapat membuat nafas Hazel begitu memburu dan tubuhnya menggeliat.


Tanpa mengeluarkan suara, Hazel menjawabnya dengan anggukan patah-patah karena malu. Sepertinya rindu yang sudah lama mereka tabung, malam ini akan terbalaskan dengan tuntas.


Biarkan dua sejoli itu menikmati waktu berduaan tanpa ada yang akan mengganggu lagi. Malam panjang ini akan mereka isi dengan sentuhan-sentuhan penuh kerinduan yang saling menggebu.

__ADS_1


Sebelum nantinya Lynx akan fokus berperang, dan waktu yang mereka miliki begitu singkat. Lynx akan mengisi tenaga juga melalui permainan panas dan menggairahkan ini.


***


__ADS_2