Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 26 - Sebuah Permintaan.


__ADS_3

Saat hidangan yang mereka pesan sudah datang, Hazel dan Lynx langsung menyantap makanan tersebut. Namun situasi agak canggung karena wanita tua sang pemilik kedai ternyata ikut menimbrung.


Perempuan bungkuk itu menarik kursi dan duduk satu meja dengan mereka berdua. Sehingga Hazel dan Lynx jadi sungkan untuk mengobrol. Meski wanita tua tersebut tidak melakukan apa-apa dan hanya memandangi, tetap saja rasanya tidak nyaman.


“Makanmu sangat lahap anak muda,” ujarnya sambil mengamati Lynx.


Sebenarnya lebih dari lahap. Karena Lynx yang tidak tahu malu itu terlihat seperti orang yang rakus.


Lynx yang dikatai seperti itu hanya memasang cengiran kikuk. Sedangkan Hazel segera memberi delikan tajam padanya, seolah menyuruh agar Lynx tidak makan dengan cara seperti itu.


“Apa kalian sepasang kekasih?” tanya perempuan dengan rambut yang sudah penuh uban itu.


“Kami---” Padahal Lynx sudah percaya diri ingin menjawab, ekspresi bahagianya sudah mencuat di wajah tampannya, tapi ternyata ucapannya sudah dipotong lebih dulu oleh Hazel.


“Hanya teman.” Hazel mencoba menyesuaikan keadaan. Melebarkan senyum, meski sebenarnya tak ingin. “Tidak selalu wanita dan pria yang berjalan berdua diartikan sebagai dua insan yang memiliki hubungan kan?”


Lynx memilih bungkam sambil menundukan kepala, sementara wanita tua dengan mata yang rapat itu malah mengukir senyuman.


“Itu benar. Tapi kalian terlihat serasi. Konon katanya, dua orang yang memiliki sifat bertolak belakang dan sering berbeda pendapat, mereka jodohnya panjang. Dalam artian mereka sangat cocok untuk bersama,” ungkap wanita sang pemilik kedai.


“... Ditambah, kalian sudah memakai gelang pasangan. Semoga kalian bisa segera berjodoh,” tambahnya dengan senyuman yang tak luntur.


Hazel hanya menanggapinya dengan senyuman singkat, kembali menikmati makanannya yang masih tersisa banyak.


Lynx berhenti mengunyah, menaruh ikan yang tersisa tulangnya saja di atas piring. Kemudian menatap dengan fokus pada wanita tua yang duduk di sebelahnya.


“Terima kasih atas doanya. Tapi hubungan seperti itu hanya bisa dilakukan oleh dua orang, bukan? Jika hanya salah satu saja yang menginginkan, maka hubungan itu tidak akan terbentuk,” sindir Lynx, membuat Hazel yang menyimak merasa tertohok.


“Lagi pula, sepertinya pria yang hanya bermodalkan tampang saja sepertiku akan sulit dicintai. Ada beberapa wanita yang berpikir realistis, tidak bisa mudah diluluhkan hanya dengan kata-kata cinta semata,” imbuh Lynx semakin memperjelas semuanya.


Suara deritan dari kursi yang bergesekan dengan lantai kayu membelah suasana tegang, sehingga fokus dua orang yang sedang berbincang tadi seketika langsung menatap pada Hazel yang sekarang sudah beringsut dari kursi.


“Aku ingin pergi ke kamar mandi sebentar,” pamit Hazel sebelum mereka bertanya.


Sebelum Hazel benar-benar masuk ke dalam pintu yang terhubung ke ruangan belakang, wanita tua renta itu tiba-tiba berbicara, “Kau tahu, anak muda? Sebentar lagi akan ada festival malam bulan purnama.”


“Di desa ini, sering mengadakan acara festival malam bulan purnama karena sering dipakai untuk ajang mencari kekasih. Karena malam bulan purnama jarang sekali terjadi, membuat acara festival itu dianggap spesial.”

__ADS_1


Ia sedikit mendekatkan tubuhnya pada Lynx, lalu melanjutkan ucapannya. “Bagaimana? Apa kau tertarik untuk datang ke acara festival itu? Percayalah, pasti banyak wanita yang mengincarmu. Jadi jangan terlalu mengejar sesuatu yang tidak pasti.”


Tidak tahu tujuan wanita tua itu apa, mungkin ingin sedikit menghibur Lynx yang tampak sedih saat mengatakan soal kebenaran sebelumnya. Karena tanpa ditanya pun, melalui tatapan mata dan ungkapan yang dikeluarkannya, siapa pun pasti tahu kalau Lynx sedang membicarakan kisahnya sendiri.


Tapi alih-alih menunjukan rasa ketertarikan setelah mendengar saran dari wanita tua itu, Lynx menunjukan ekspresi lain. Seperti sedang terkejut, namun masih berusaha disembunyikan.


Sedangkan Hazel, dia sudah masuk ke dalam pintu. Tapi dia mendengar semuanya apa yang dikatakan wanita tua itu. Bahkan sekarang, ia menempelkan tubuhnya pada pintu untuk mendengar obrolan mereka.


Karena sejak awal, niat Hazel pergi dari sana bukan untuk benar-benar ingin ke kamar mandi. Hanya ingin melarikan diri dari perbincangan yang seolah-olah ditujukan untuknya.


Lebih sederhananya, Hazel tidak mau merasa dipojokan oleh kata-kata Lynx yang memang benar apa adanya. Sebenarnya Hazel pun tidak mengerti pada dirinya sendiri. Hati dan logikanya selalu berlawanan.


Terkadang Hazel selalu menyesali pertemuannya dengan Lynx, karena terus dibayang-bayangi suatu hal buruk yang belum terjadi. Tapi di sisi lain, Hazel merasa senang akan kehadiran Lynx yang sedikit banyaknya membawa sisi positif.


Ketika pendengarannya semakin ditajamkan agar bisa menyadap suara obrolan mereka, Hazel sampai harus menempelkan telinga pada pintu.


“Berapa lama festival bulan purnama itu berlangsung?” Didengar dari suaranya, ini Lynx yang bertanya.


“Seingatku, setiap tahun hanya terjadi selama seminggu bahkan bisa lebih, tergantung cuaca atau kondisi alam. Kau tahu kan? Ini bukan malam bulan purnama biasa.” Wanita tua itu mulai bercerita.


“Dari zaman dulu, bulan purnama yang bisa dianggap langka ini tidak berwarna putih sempurna. Melainkan biru muda yang terang benderang. Itu sebabnya kenapa malam bulan purnama yang sebentar lagi akan terjadi dianggap spesial.”


Karena penasaran, Hazel mengintip melalui celah pintu untuk bisa melihat seperti apa situasi yang terjadi di antara mereka. Tidak sesuai dugaan, ternyata raut wajah Lynx tampak sedih bercampur bingung.


Hazel tidak mengerti ada apa, tapi ia cukup tahu dengan festival yang mereka obrolkan. Tapi dari tahun ke tahun, Hazel tak pernah ikut merayakan atau ikut bersenang-senang seperti orang lain.


Selain tidak memiliki keluarga atau teman yang bisa diajak melakukannya, Hazel juga selalu sibuk mengurus pekerjaan paruh waktu untuk mendapatkan uang. Jadi ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk melakukan apa yang sering orang lain lakukan.


“Ada apa dengan wajahnya itu? Apa yang sedang dia pikirkan?” Hazel bergumam penuh penasaran, terselip rasa khawatir yang mendadak muncul.


***


Setelah hampir satu jam lamanya berada di kedai tua tersebut, mereka berdua memutuskan untuk pulang. Semenjak Hazel kembali ke tempat duduk selepas berpamitan ingin pergi ke kamar mandi, Lynx benar-benar berubah drastis.


Dia banyak diam. Bahkan jika ditanya pun perlu berkali-kali agar direspon. Seolah fokusnya memudar, dan pikirannya sedang ada di suatu tempat.


Hazel yang tak tahan karena tingkah Lynx, berinisiatif untuk bertanya saja dari pada terus menduga-duga dan berakhir tetap penasaran tanpa ada jawaban yang pasti.

__ADS_1


“Hei, Lynx. Kau---”


“Hazel,” serobot Lynx dengan cepat, kakinya yang sudah berhenti melangkah membuat tubuhnya menghadap pada gadis di sampingnya.


“Bagaimana jika aku meminta waktu sebentar?”


Kening Hazel terlihat mengerenyit karena kebingungan. “Waktu? Untuk apa?”


Sambil memasang senyum kaku, Lynx menjawab, “Waktu untuk menyendiri.” Bola matanya bergulir ke sembarang arah. “Ya mungkin ... Satu minggu?”


Permintaan yang mendadak itu membuat Hazel semakin bingung. Belum selesai rasa penasaran sebelumnya, sekarang rasa penasaran lain kian memupuk benaknya. Semakin membubuhkan banyak pertanyaan yang tak memiliki jawaban.


“Aku sebenarnya tidak masalah.” Hazel mencoba tetap bersikap santai, meski pun sebenarnya hatinya mulai tidak tenang. “Tapi apa alasan kau ingin menyendiri?”


“Ada satu alasan yang tak mungkin aku katakan padamu,” balasnya sambil memalingkan muka.


Baik, di posisi ini Hazel tidak bisa memaksa.


“Apa kau akan kembali ke duniamu?” Tidak tahu kenapa, dalam benak Hazel mendadak terlintas pertanyaan ini.


Tapi kekhawatiran akan dugaan yang sempat menggerayangi pikiran Hazel seketika musnah saat Lynx menggelengkan kepala. Itu berarti memang dia tidak akan kembali secepat ini.


“Aku tidak akan kembali ke sana tanpa dirimu.” Lynx sudah memantapkan pandangannya pada Hazel.


“A-apa?” Manik Hazel mengerjap tak percaya.


Lynx menyentuh singkat puncak kepala gadis dihadapannya. “Ayolah, aku meminta waktu untuk menyendiri bukan berarti aku akan benar-benar pergi meninggalkanmu. Aku hanya pergi sebentar. Ekspresimu saat ini berlawanan dengan apa yang selama ini kau tentang.”


“... Jika kau tak mencintaiku, seharusnya kau senang bukan jika aku tak lagi ada di sisimu?” Lynx memperjelas maksudnya.


“Bu-bukan begitu maksudku,” sanggah Hazel seraya menurunkan pandangan.


Pria yang lebih tinggi dari Hazel terkekeh pelan, lalu meraih punggung tangan lawan bicaranya sambil membungkukan tubuh. Dalam posisi ini, Hazel diam tak berkutik dengan degupan jantung yang sudah kacau balau.


Bibir lembut merah muda itu sudah mendarat pada punggung tangan Hazel. Yap, Lynx menciumnya. Terasa sedikit geli karena deburan nafas hangat amat terasa di sana.


Saat kepala Lynx sedikit mendongak untuk melihat ekspresi Hazel, bibirnya melengkungkan senyuman. “Aku sudah berjanji, tidak akan pernah kembali ke duniaku tanpa membawamu untuk ikut. Kau ingat? Kau adalah Ratu yang akan duduk di atas singgasana untuk mendampingiku.”

__ADS_1


***


__ADS_2