
Selepas melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan, mereka berdua bersama-sama merangkai bunga secara memanjang. Guna membuat penutup gua agar terlihat lebih cantik.
Bagaikan pengantin baru, tempat tidur mereka pun dihiasi oleh bunga-bunga cantik yang masih segar. Semua bunga yang mereka pakai diambil dari hutan. Dicari dari ujung ke ujung, jika dikumpulkan mungkin lebih dari lima keranjang.
Di penghujung hari, saat matahari nyaris tenggelam, dan lembayung senja yang menyinari tampak cantik, gradasi warna di langit begitu memanjakan mata. Alam sangat mendukung suasana romantis untuk mereka berdua.
Berdiri di tepi sungai, mereka berhadapan. Lynx membungkuk sambil mengulurkan sebelah tangan pada kekasihnya, sementara satu tangannya lagi ia simpan di dada.
“Mau berdansa denganku, Nona kecil?” tawarnya sambil melebarkan senyum.
Tanpa berpikir panjang, Hazel menerima uluran tangan itu. Kepalanya mengangguk tanda meng-iyakan.
“Dengan senang hati, Tuan tampan.”
Mengambil posisi dengan benar, Lynx menaruh satu tangan pada pinggang Hazel. Sebelah tangannya saling menggenggam dengan tangan gadis itu. Tubuh mereka bergerak-gerak sesuai irama hati.
Tubuh Hazel berputar, berakhir jatuh dipelukan pria bertubuh tinggi yang menjadi kekasihnya. Pipinya bersemu merah, dadanya kembang kempis terlihat bahwa jantung di dalam sana berdegup kencang.
Saat menurunkan pandangan, perhatian Hazel fokus pada hal lain. Sadar kalau ternyata liontin yang melekat di leher Lynx kian meredup. Mungkin hanya setitik terang yang ada di sana. Membuat pikirannya kembali bertanya-tanya.
“Liontinmu ... Hampir tidak menyala lagi,” ucap Hazel, gerakan dansanya jadi berantakan karena tidak fokus.
Karena Lynx tidak mau merusak moment bahagia ini dengan cerita yang bisa membuat Hazel khawatir, jadi ia berusaha mengalihkan pikiran gadis itu pada hal lain.
Jemari telunjuk panjangnya menyentuh bibir bawah Hazel, membuat manik gadis itu kembali menatapnya. Secara singkat, ia memberi kecupan di bibir merah muda yang tampak kenyal tersebut.
“Lihat aku. Jangan tatap yang lain. Apakah ada hal yang lebih penting di sini dari pada aku?”
Hazel menggeleng, lalu tersenyum. “Tidak. Aku hanya khawatir.”
Lynx membawa tubuh kekasihnya lebih dekat, kian mendekapnya hingga paha antar paha bertemu. Kemudian melanjutkan kembali gerakan dansa yang sempat terhenti.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selagi kita tetap bersama, percayalah kalau semuanya akan berjalan baik-baik saja,” kata Lynx dengan menatap lekat netra cokelat Hazel.
__ADS_1
Kata-kata penenang tersebut berhasil membuat Hazel sedikit lebih lega. Lebih tepatnya ia berusaha keras untuk menyingkirkan segala pikiran buruk yang menggenang dalam isi kepala.
Mencoba fokus terhadap apa yang sedang dirinya lakukan saat ini. Lynx dengan baik menuntun Hazel untuk berdansa. Karena seumur hidup Hazel, dirinya tidak pernah berdansa dengan siapa pun.
Bayangan tubuh mereka yang ikut berdansa perlahan melenyap seiring dengan sinar mentari yang sudah mulai menghilang. Langit jingga yang membentang sempurna di atas sana pun berganti dengan kegelapan yang hampir menyeluruh.
Untuk menyudahi tarian dansa, Lynx mengecup punggung tangan kekasihnya dengan lembut seraya membungkukkan punggung. Ia melakukannya cukup lama.
Dalam hati, ia berharap kalau perempuan yang bersamanya saat ini akan menjadi sosok pendamping sampai seluruh rambut memutih, tubuh renta dengan keriput di mana-mana , dan sampai kedua mata tak sanggup lagi untuk terbuka.
“Maukah kau berjanji padaku, Hazel?” Lynx menegapkan tubuhnya, tapi tidak melepaskan lengan gadis itu. Kian menggenggamnya erat.
Teringat tentang kata ‘janji’ Hazel baru sadar kalau dirinya sudah melanggar sebuah janji yang dibuatnya sendiri. Ya, janji untuk tidak saling jatuh cinta satu sama lain. Nyatanya sekarang, malah terjadi kebalikannya.
Hazel jadi malu telah membuat janji seperti itu. Ternyata benar apa yang dikata orang, rencana Tuhan kadang selalu berlawanan arah dengan apa yang diharapkan. Karena apa yang ditakdirkan masih menjadi misteri, sebab itulah banyak orang yang berlomba-lomba merancang rencana sendiri.
“Ikutlah bersamaku pergi. Kita tinggalkan tempat menyedihkan ini. Jauh dari orang-orang yang selalu menyakitimu. Ayo pergi ke duniaku. Meski aku tidak bisa menjamin di sana kau akan mendapat perlakuan baik, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kau bisa diakui oleh mereka,” pinta Lynx, kali ini ia berdiri menggunakan lutut.
Hazel menganggap perjalanan cinta dirinya dengan Lynx akan panjang, untuk sampai ke tahap benar-benar bahagia tanpa mengkhawatirkan dunia akan merestui atau tidak mungkin butuh banyak waktu.
“Bagaimana jadinya jika aku tetap tidak bisa diterima oleh mereka, sekali pun kau sudah berusaha sebisa mungkin?” Hazel mulai cemas, pikirannya dipenuhi bayang-bayang kemungkinan buruk.
Tanpa ragu dan tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun, Lynx dengan berani memberikan senyum meyakinkan. “Aku tidak akan berpikir dua kali untuk memilihmu dan meninggalkan mereka.”
“Sekali pun dunia menolak. Sekali pun mereka semua tak mau memberi restu. Dan biar pun harus melanggar aturan yang sudah tertulis, aku akan tetap memilihmu. Pilihan terburuknya mungkin aku akan benar-benar diusir dari duniaku sendiri.”
“... Tapi selama bersamamu aku bisa membangun dunia yang baru untuk kita berdua. Dunia yang isinya hanya tentang kebahagiaan kita saja,” tutupnya, kembali mencium punggung tangan Hazel.
Merasa terharu dengan keteguhan cinta Lynx, Hazel sampai meneteskan air mata. Ia tidak tahu itu hanya sebatas omongan saja atau memang adanya begitu. Untuk membuktikannya, Hazel hanya perlu percaya dan mengikuti alur yang dibuat kekasihnya.
“Ya, aku mau. Seperti yang kau bilang tadi, selagi kita bersama, aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” balas Hazel, ujung jarinya menyusut air mata yang sempat luruh.
Lynx berdiri, merentangkan kedua tangannya, memberi kode pada Hazel untuk memberi pelukan. Keduanya pun menyatukan tubuh dengan sama-sama mengunci menggunakan tangan.
__ADS_1
Dengan mudahnya Lynx menaikan tubuh Hazel, mendudukan tubuh gadis itu pada lengannya yang sudah bertumpu kuat. Menjadikan kedua bahunya sebagai tempat untuk gadis itu berpegangan.
Secara hati-hati Lynx membawa Hazel masuk ke dalam gua. Mengingat hari semakin beranjak malam, dan bulan purnama biru akan muncul sebentar lagi.
Tubuh mereka berdua sudah melewati rangkaian bunga yang ditempelkan pada pintu gua, harumnya menempel pada tubuh mereka. Dan sekarang Lynx sudah merebahkan tubuh Hazel ke atas tempat tidur yang sudah ditaburi kelopak bunga yang berbentuk love.
Entah sejak kapan, tapi Lynx sepertinya mulai tersulut api hasrat. Tidak tahan ingin melampiaskannya pada Hazel. Terlihat sekali dari dadanya yang menggebu-gebu, serta keringat yang sudah mengaliri rahang tegasnya.
Hazel melihat sendiri perubahan warna mata pria yang sudah mengungkungnya ini, netra kebiruan milik Lynx kini berubah menjadi merah gelap yang mencolok. Melihat ke arah pintu gua, Hazel menyadari kalau sinar bulan purnama sudah terang benderang.
Hazel buru-buru menghentikan lengan Lynx yang tampaknya sudah tak sabaran ingin menjamah, membuat pria itu langsung menyorotnya dengan tatapan kebingungan.
“Bagaimana jika aku hamil?”
Lynx menjawab dengan segera, “Kau mengandung anakku, bukankah itu bagus? Jika kau hamil, itu bisa kita gunakan sebagai senjata.”
“Senjata?” Dahi Hazel mengerenyit.
“Ya, senjata untuk membuat para rubah yang menjadi kawananku agar mau menyetujui hubungan kita. Mereka mungkin tak bisa berkutik setelah tahu kau mengandung anakku. Jadi, jangan khawatir.” Lynx mencoba meyakinkan.
“Apa kau yakin? Bagaimana kalau mereka---”
Lynx memotong ucapan Hazel karena tahu kekasihnya itu pasti akan mempertanyakan kemungkinan yang lain.
“Itu akan tetap menjadi anakku. Kita akan merawat dan menyayanginya sepenuh hati, bukan?”
Hazel akhirnya mengangguk setuju. “Kau benar.” Pada akhirnya ia hanya bisa percaya, meski sebenarnya dalam pikiran masih ada beberapa hal yang mengganjal.
Cup.
Satu kecupan di dahi Lynx lakukan. Kemudian kepalanya dimiringkan, mendekat pada telinga Hazel untuk membisikkan sesuatu, “Terima kasih. Aku akan melakukannya dengan pelan kali ini.”
***
__ADS_1