Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 35 - Posisi Terpojok


__ADS_3

Di sepanjang jalan yang menjadi lintasan, Hazel melihat sendiri kalau memang wajahnya terpampang secara nyata di atas kertas yang sengaja ditempelkan di setiap sudut bangunan desa. Bukan hanya gambar dirinya saja, tapi ada kalimat suruhan pada orang-orang untuk mencarinya.


Mulutnya yang sudah membisu, tak mampu berkata-kata lagi. Bingung, semua ini terlalu mendadak untuk dipahami akal sehatnya. Tidak tahu bagaimana cara dirinya membela diri di depan orang-orang nanti, karena tahu saat ini dirinya sendirian tanpa ada satu orang pun yang berpihak padanya.


Dalam jarak sekitar tiga meter menuju rumahnya, ternyata sudah banyak iring-iringan manusia yang berkumpul di sana. Sebagian dari mereka membawa obor dan tombak tajam yang diacung-acungkan ke udara.


Entah apa yang mereka soraki, tapi Hazel tahu itu pasti tentang dirinya. Ketika tubuhnya dibawa paksa untuk mendekat ke arah mereka semua, orang yang membawanya langsung berteriak untuk mengambil alih perhatian semua orang.


“Hei semua! Lihatlah siapa yang aku bawa!”


Sontak saja keriuhan di depan sana berhenti sesaat, serempak mereka menoleh ke sumber suara. Melihat ada Hazel, manik mereka memicing tajam. Tak lama sorak sorai yang bising kembali menggema dalam kegelapan malam.


“Itu dia! Si pelacur yang sudah kita cari ke mana-mana! Bagaimana bisa kalian menangkapnya? Padahal kami sudah mencarinya di hutan, tapi tidak pernah menemukan dimana keberadaannya,” sahut salah seorang dari mereka, tubuhnya lebih maju selangkah.


Kedua tangan Hazel yang semula dipegang erat-erat, kini dilepaskan. Tubuh kecilnya didorong kasar pada pria yang berbicara tadi.


“Itu mudah, kami tidak mencarinya. Dia yang datang sendiri. Tapi untuk sayembara itu, masih berlaku kan? Karena tanpa kami, dia pasti akan kabur lagi,” balasnya dengan senyum licik.


Tubuh Hazel sudah berpindah tangan, dipegangi seorang pria berwajah garang. Ekspresinya itu seperti siap membunuh Hazel kapan saja.


Tak lama, kerumunan orang yang masih berteriak bising itu kembali diam. Lautan manusia itu terbelah sebab ada seseorang yang datang dari belakang, mereka memberi jalan.


Si penagih hutang, atau pria bernama Widson yang mereka maksud, dia datang ke arah Hazel dengan senyum penuh kepuasan. Di tangannya ada sekantung uang dan beberapa gram emas yang sudah ia lemparkan pada tiga orang gadis yang meminta bayaran.


“Kerja bagus, kalian bertiga boleh pergi,” ucapnya, pandangannya kembali mendarat pada Hazel, menarik paksa dari tangan si pria garang itu.


“Lepaskan. Dia milikku. Aku yang akan memutuskan hukuman apa yang pantas untuknya,” pinta Widson, maniknya menyalang tajam.


“Tunggu dulu. Seperti tuduhanmu yang mengatakan bahwa dia ini pelacur yang suka mengumpulkan para gadis untuk dipekerjakan, lebih baik dia ini dibakar hidup-hidup bersama rumah yang dia tinggali!” Dia masih enggan melepaskan Hazel.


Sementara Hazel sendiri, karena tidak mau diam saja dan menerima tuduhan itu seolah memang benar kenyataannya, akhirnya dengan sisa tenaga yang dimiliki ia mendorong tubuh pria yang mengungkungnya dari belakang.


“Hentikan! Biarkan aku berbicara dulu,” teriak Hazel, tubuhnya menyingkir dari mereka semua. Menyilangkan kedua tangan di depan dada, kakinya sedikit gemetaran.


“Pertama-tama, apa maksudmu menyebarkan tuduhan palsu seperti itu? Bagaimana bisa kau mengatakan kalau aku ini pelacur? Bahkan kau juga menuduhku sebagai penadah orang-orang yang ingin menjual diri! Apa sekarang kau sedang memutar balikan fakta?”


Semua perkataan itu Hazel maksudkan pada Widson, pria dengan wajah masih penuh lebam dan dahi yang ditutupi oleh perban. Tidak ada raut takut setelah diberi runtutan pertanyaan, seolah Widson memang sudah menduga hal ini akan terjadi.


“Bagaimana bisa kau masih mengelak di saat banyak saksi yang mengadu tentang kelakuan bejatmu?” Widson malah balik bertanya. Ia bertepuk tangan beberapa kali sebagai kode untuk memanggil seseorang.

__ADS_1


Yang datang ternyata lebih dari satu orang. Sekitar lima orang gadis berpenampilan menarik, yang digadang-gadang sebagai kembang desa di sini, mereka semua menghadap pada Hazel.


Tampang-tampang mereka terlihat seperti sedang frustasi dan menyimpan dendam. Dua di antara mereka juga ada yang menangis. Yah, lebih tepatnya berpura-pura menangis.


“Lima gadis ini adalah korban dari rencana busukmu, Hazel. Mereka mengaku sendiri kalau kau selalu memaksa mereka untuk melakukan hal-hal menjijikan, kau juga selalu mengiming-imingi mereka dengan sejumlah uang,” ujar Widson, ingin semakin menyudutkan Hazel.


“Apa?! Berhenti mengatakan omong kosong!” sanggah Hazel. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Widson sampai berniat sejauh ini ingin menghancurkannya.


“Siapa yang sedang beromong kosong di sini? Kau hanya bisa mengelak, padahal jelas di sini sudah ada bukti. Lebih dari kelima gadis ini, masih ada yang lain jika kau mau kutunjukan,” timpal Widson tanpa rasa takut.


“Itu benar, Hazel. Kami sudah muak menutupi semuanya. Kau benar-benar munafik. Kau tega melakukan ini ke sesama perempuan. Masa depanku hancur karena hasutanmu!” Satu dari kelima gadis itu mulai berbicara.


Hal itu membuat para warga yang sejak tadi diam kini kembali bersuara. Mereka meminta untuk melakukan penghukuman pada Hazel. Sebagian juga ada yang berbisik-bisik, menjelek-jelekan Hazel sambil memberi tatapan sinis.


Kedua orang tua kelima gadis itu juga menjalani peran dengan sempurna, mereka menangis sambil bersimpuh. Seolah-olah merasa kecewa karena anak-anak gadis mereka menjadi korban atas kasus ini.


“Melalui kejadian ini, kita harus lebih berhati-hati jika ada warga baru yang akan menetap di desa ini. Siapa tahu dia adalah iblis macam dia. Tingkahnya itu benar-benar tidak bisa diampuni. Wajah polos dan lagunya tidak bisa dipercaya kalau dia adalah gadis baik,” bisik salah seorang warga dengan jelas.


Widson yang melihat kalau rencananya berjalan dengan baik, melebarkan senyum kemenangan. Ditambah sekarang ia melihat sendiri kalau Hazel sedang terpojok, ekspresi ketakutannya itu membuatnya puas.


“Tidak!” Hazel berteriak sekencang-kencangnya, wajahnya memerah karena menahan tangis, lehernya juga terlihat berurat karena terlalu kuat berteriak tadi.


Ketika maniknya menangkap seseorang yang tidak asing, Hazel merasa mendapat pertolongan. Dia melihat seorang wanita paruh baya yang pernah membantunya. Dia Marrie, pemilik kedai tempat Hazel bekerja.


Buru-buru dia mendekatinya, menarik Marrie dari kerumunan untuk berbicara di depan semuanya. Berharap mau mengatakan bahwa selama ini dirinya tidak melakukan hal aneh, sebab setiap hari tidak pernah absen untuk tidak bekerja.


Tangan Hazel yang gemetaran menyentuh jemari keriput wanita paruh baya itu, tatapannya seperti ingin diminta tolong. Ini satu-satunya harapan yang Hazel miliki.


“Nyonya Marrie, kumohon berkata sejujurnya yang kau ketahui tentangku. Kau tahu bukan kalau aku adalah gadis baik yang tidak pernah macam-macam? Aku selalu bekerja di tempatmu, aku tidak mungkin mengumpulkan gadis lain dan menjual mereka.”


Tapi sayangnya, belum sempat Marrie berbicara untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, Widson dengan cepat menyerobot.


“Halah! Percuma kau meminta suara pada wanita tua itu, yang orang-orang lihat dan pikirkan adalah bukti yang ada. Bagaimana bisa kau mengelak lagi? Orang sepertimu tidak akan bisa kabur, terima saja hukumanmu,” kata Widson sambil menarik lengan Hazel.


“Lepaskan aku! Biarkan Nyonya Marrie bicara dulu,” erang Hazel, berupaya menahan bobot tubuhnya agar tidak terseret oleh pria itu.


Pria berwajah garang yang sebelumnya sempat menahan Hazel, sekarang ikut memeganginya. Lebih tepatnya menahan pergerakan Widson yang ingin membawa Hazel pergi.


“Kau mau membawanya kemana, Tuan? Sesuai kesepakatan warga di sini, kami semua menginginkan gadis ini dibakar hidup-hidup bersama rumah yang ditinggalinya,” lontarnya, kian mengeratkan pegangannya.

__ADS_1


“Berhubung pria yang dirumorkan bersamanya tidak ada sekarang, lebih baik gadis ini dulu yang diberi hukuman. Dikhawatirkan kalau dia dibebaskan malam ini, pria yang bersamanya akan membawanya kabur,” tambahnya.


Widson yang memiliki niat untuk membawa Hazel pergi dari desa ini dan memulai bisnis di desa yang baru, tentunya tidak menginginkan kalau hukuman untuk membakar gadis itu dilakukan.


“Lupakan. Biar aku sendiri yang memberinya hukuman. Sejak awal aku yang mengadakan sayembara ini, jadi aku yang berhak memutuskan bagaimana cara untuk menghukumnya,” balas Widson, kembali menarik lengan Hazel.


Sedangkan Hazel yang terus ditarik ke sana kemari hanya bisa menangis. Menahan takut dan sakit di kedua tangannya yang dipastikan akan memiliki luka lebam. Terlebih Widson menggenggam tangan Hazel tepat pada gelang, membuat gelang itu mencengkram kulit hingga berubah kemerahan.


“Biarkan Hazel pergi.” Ini Marrie yang berbicara, dia tidak tahan melihat Hazel diperlakukan seperti itu.


“Hah? Kau wanita tua tidak tahu apa-apa, lebih baik diam! Jangan sampai kami mengira kalau kau bersekongkol dengan gadis ini!” pekik Widson, ia marah karena semakin sulit membawa Hazel pergi dari sini.


Belum selesai masalah Hazel di sini, secara mengejutkan para warga yang berkumpul dan berdesak-desakan di depan rumah Hazel mendadak pontang-panting berlarian ketakutan.


Tidak tahu apa yang mereka takutkan, tapi semuanya keluar dari kerumunan. Membuat suasana jadi tidak kondusif. Tubuh mereka yang saling dorong mendorong, sebagiannya banyak yang berjatuhan.


“A-ada manusia mirip seperti rubah yang mengamuk di sana!” Begitu kata seseorang yang berhasil berbicara dan menjelaskan sedikit apa yang sebenarnya terjadi.


Mendengar kata ‘rubah’ Hazel jadi berhenti menangis. Jantungnya berhenti berdetak beberapa saat, memikirkan apakah mungkin yang mereka maksud adalah Lynx?


Tapi bukankah Lynx sudah berpamitan pergi ke duanianya sendiri? Atau sejak awal memang pria itu tidak pergi dan memilih mengintai Hazel dari kejauhan?


“Hah? Manusia seperti rubah? Apa maksudmu?” Widson menahan satu orang yang kebetulan melewatinya, ingin bertanya lebih lanjut.


“I-itu benar! Dia memiliki ekor dan telinga. Mulutnya bertaring, kuku tangannya pun sangat tajam. Sebagian tubuhnya memiliki bulu oranye. Tubuhnya tinggi dan besar. Dia sangat menakutkan! Cepat pergi, dia berhasil melukai beberapa orang di belakang sana!”


Setelah memberi informasi yang cukup padat, orang itu kembali meleos pergi. Dia berlari kocar-kacir ketakutan. Perlahan-lahan kerumunan pun mulai melenggang. Akhirnya terlihat bagaimana rupa manusia rubah yang orang-orang takuti.


“Lynx?!” Hazel berteriak kaget, matanya tidak berkedip sama sekali saat melihat kekasihnya yang bertelanjang dada.


Memperlihatkan sebelah dadanya yang dipenuhi bulu, juga postur tubuhnya yang sudah mulai menyerupai seekor rubah besar. Keringat di mana-mana, Lynx sudah membabi buta untuk mengacaukan tempat ini.


“Bukankah itu pria yang bersamamu di hutan tempo hari? Apa yang terjadi pada tubuhnya sampai bisa seperti itu?” Widson sedikit ngeri melihat sosok di depannya.


Sedangkan Marrie yang masih bergeming di tempatnya, ikut melongo melihat sosok Lynx yang ia kenal dengan nama lain.


“Edgard? Ti-tidak mungkin...” Dari mimik wajahnya, Marrie seolah tahu dan mengerti cerita mahluk tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2