Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 12 - Sumpah dan Janji.


__ADS_3

Hazel lantas bergegas keluar kamar. Sebelum membuka pintu, gadis itu meminta Lynx agar jangan bersuara. Ia juga menyuruh Lynx untuk bersembunyi.


Karena bagaimana pun keadaannya, sebisa mungkin Hazel menutupi keberadaan Lynx jika sedang dalam wujud rubah. Walau terkadang ia bersikap ketus dan cuek, sebenarnya Hazel adalah orang yang peduli.


“Diamlah. Apa pun yang terjadi, jangan pernah keluar dan menampakan diri dihadapan orang-orang. Mengerti?” pesan Hazel. Sebelum Lynx menyetujui, tubuhnya sudah lebih dulu berdiri.


Ketika pintu sudah terbuka, Hazel menunjukan senyum kaku seraya melambaikan tangan singkat. Dirinya tahu kalau ekspresi yang dibuatnya sekarang terlihat seperti orang bodoh. Itu karena Hazel bingung harus bagaimana sekarang.


Dihadapannya sudah ada beberapa orang yang memasang raut kesal sambil berkacak pinggang. Satu dari mereka ada yang membawa benda tumpul. Seolah memang sudah berniat untuk memakai kekerasan jika diperlukan nantinya.


“Jangan tersenyum seperti orang dungu,” hardik pria yang membawa benda tumpul di tangannya.


Mental Hazel semakin menciut ketika mendengarnya. Untuk menatap manik mereka pun rasanya tak bisa. Terlalu takut.


“Kau tahu kan apa alasan kami datang ke sini?” tanya wanita yang umurnya lebih tua dari beberapa pria di samping kanan kirinya.


Hazel yang memang mengerti apa maksud kedatangan mereka, tanpa berpikir apa-apa lagi langsung berjongkok di bawah kaki mereka. Kedua tangannya memegangi kedua kaki si wanita sambil bersimpuh.


Kening Hazel pun nyaris bersentuhan dengan jemari kaki wanita itu. Hazel rela merendahkan dirinya sendiri di depan mereka semua. Tidak ada cara lain yang dapat ia lakukan untuk terbebas dari situasi ini.


Ya meski pun Hazel sendiri masih tidak tahu apakah setelah dirinya melakukan hal ini mereka semua akan luluh dan mau membiarkannya, tapi yang jelas Hazel di sini sudah berusaha.


BUG!


Tubuh Hazel sedikit terpental ke belakang setelah ditendang secara kasar oleh wanita itu. Sehingga bokongnya lebih dulu menyentuh lantai dan meninggalkan rasa ngilu di sana.


“Apa yang sedang kau lakukan? Cepat, berdiri! Aku tidak memintamu untuk melakukan ini!” teriak wanita yang identik dengan suara melengkingnya tersebut.


Hazel masih diam di tempat. Haruskah dirinya menangis sambil memohon?


“Nyonya. Maafkan aku. Tolong beri aku waktu sedikit lagi. Aku janji, minggu ini aku akan membayar uang sewa rumah tepat waktu pada kalian,” mohon Hazel, suaranya terdengar bergetar.


Bukan sengaja dibuat-buat, karena memang kedua manik Hazel sudah berair. Jika bisa memilih, dirinya pun tidak mau melakukan semua ini. Tidak ingin merendah dan memohon di bawah kaki mereka seolah tidak punya harga diri.


Tapi apa daya?


Sekali lagi, Hazel selalu mengatakan kalau dirinya tidak punya pilihan selain menjalani kehidupan yang menyedihkan ini.


“Kau sudah telat membayar sewa hampir dua bulan. Mana bisa aku menunggu lebih lama lagi? Padahal sudah aku beri harga sewa murah, tapi kau masih tidak mampu membayarnya,” omelnya sambil bersungut-sungut.


“... Gadis yatim piatu yang miskin sepertimu seharusnya tahu diri, lebih baik mati karena kelaparan di jalanan dari pada hidup tersiksa dan menjadi beban untuk orang lain!” imbuhnya, terdengar begitu menohok.

__ADS_1


Hazel yang masih duduk di bawah lantai sambil bersimpuh, langsung mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Membiarkan cairan bening yang melintasi pipi jatuh begitu saja. Sungguh, ini amat menyakitkan untuk menerima kebenarannya.


“Besok...” Hazel mencoba berbicara di saat nafasnya terputus-putus karena sedari tadi berusaha menahan isak tangis. “... Tunggu sampai besok, Nyonya. Aku akan membayar semuanya.”


Wanita itu memutar bola matanya malas, kedua tangannya sudah bersidekap di depan dada. “Kalau kau tidak membayarnya bagaimana?”


Dengan penuh keyakinan dan tatapan sungguh-sungguh, Hazel perlahan mengangkat pandangannya, memberanikan diri untuk menatap netra sinis wanita yang berdiri di depannya.


“Kalau tidak, aku akan langsung angkat kaki dari rumah ini.”


“... Aku berjanji, Nyonya,” lanjut Hazel untuk meyakinkan.


Wanita yang masih tersulut emosi itu merebut benda tumpul dari tangan pria di sampingnya. Lalu ia todongkan ke arah wajah Hazel. Tidak akan memukulnya, hanya mencoba mengancam saja.


“Pegang kata-katamu,” desisnya penuh penekanan.


Selesai mengatakan itu, wanita tersebut segera berlalu dari hadapan Hazel. Dua orang pria yang bersamanya pun ikut mengekori dari belakang.


Setelah mereka semua benar-benar menghilang dari pandangan, Hazel baru bisa membuang nafas lega. Namun di detik yang sama tubuhnya semakin merosot lemas. Hampir saja langsung terbaring ke lantai kayu kalau tidak ditahan oleh sesuatu.


Yap, Lynx datang tepat waktu. Tubuh rubahnya menahan punggung Hazel yang akan menyentuh lantai. Berusaha membantu gadis itu untuk duduk dengan benar.


Hazel terkekeh pelan. Ia bingung. Haruskah dirinya menganggap itu sebuah lelucon?


“Jangan gila. Mereka itu bukan tandinganmu. Selain itu, di sini memang aku yang salah. Wajar kalau mereka marah padaku,” balas Hazel sambil menyeka air matanya yang tersisa di pipi.


Lynx berpindah tempat, duduk dihadapan Hazel. Lebih leluasa menatap gadis itu dari dekat.


“Lalu bagaimana caramu membayar uang sewa?”


“Aku akan memikirkannya nanti.” Suaranya terdengar lesu. Sesekali Hazel juga memijat pelipisnya.


“Upah kerja kita hari ini masih kau simpan, 'kan? Mungkin itu bisa dipakai untuk menambahi.”


“Habis. Semuanya habis tak bersisa.”


Sebelah alis Lynx terangkat tinggi. “Kau belikan apa? Sisa ikan kita masih banyak. Kau tidak mungkin membeli lauk makan yang lain kan?”


Lagi, yang tercipta di wajah cantik Hazel hanyalah lengkungan manis untuk menutupi semua penderitaan yang ia rasakan. Tapi tetap saja Lynx bisa melihat semua luka yang berusaha Hazel sembunyikan.


Puk.

__ADS_1


Alih-alih menjawab, Hazel malah memberi elusan singkat di puncak kepala rubah itu. “Istirahatlah. Besok kita harus bekerja bukan? Kalau memang besok kita harus pergi dari rumah ini, kau hanya perlu membuat keputusan. Tetap bersamaku atau memilih pergi mencari tempat yang baru.”


Lynx yang belum sempat menjawab, sudah Hazel tinggal begitu saja. Dia langsung melenggang pergi memasuki kamar. Tidak mengatakan apa-apa lagi.


Hening.


Juga hampa.


Rumah tua yang dominan berbau lembab dan terasa dingin ini sudah Lynx anggap sebagai saksi bisu atas semua penderitaan yang gadis itu lalui sendirian.


Ada perasaan yang mencuat naik dari dalam dada Lynx. Bukan rasa iba atau pun kasihan. Tapi sesuatu yang membuat Lynx berpikir kalau ternyata di dunia ini masih ada orang lain yang memiliki kehidupan menyedihkan lebih dari dirinya.


Malam yang dingin semakin larut. Lynx yang pura-pura tidur di atas sofa, beberapa saat lalu melihat kalau Hazel keluar masuk kamar secara berulang kali. Seolah sedang melakukan sesuatu.


Itu sebabnya sampai detik ini Lynx masih terjaga. Ia begitu penasaran, apa yang membuat Hazel memilih untuk tidak tidur? Padahal dia sendiri yang mengatakan untuk segera istirahat karena besok harus kembali bekerja, tapi dia sendiri malah tidak istirahat.


Karena Lynx tak bisa menahan rasa penasarannya, ia memutuskan untuk mengintip sebentar ke kamar gadis itu. Suara aneh yang belum pernah Lynx dengar sudah tak bersuara lagi, jadi Lynx berpikir kalau Hazel mungkin sudah tidur.


Melalui celah pintu yang terbuka, Lynx menajamkan penglihatannya untuk menelisik jauh pada apa yang ada di dalam sana. Penerangan dari obor memperlihatkan Hazel yang tengah terlelap di atas meja.


Lynx menggunakan kesempatan ini untuk menyelinap masuk ke dalam. Membuka sedikit demi sedikit pintu kamar, lalu mengendap-endap mendekati gadis itu. Berusaha sebisa mungkin agar tidak menimbulkan suara apa pun.


Dengan gesit Lynx melompat ke atas kasur. Ingin melihat apa yang sebenarnya Hazel kerjakan. Gadis berambut oranye itu nampaknya tertidur pulas di atas meja mesin penjahit. Tapi Lynx masih tidak tahu benda apa itu.


Hanya saja dirinya bisa menduga kalau suara aneh yang sebelumnya ia dengar sepertinya berasal dari mesin yang mengapit kain di sana. Dan Hazel. tertidur di atas kain berwarna cokelat tua.


Dari situ Lynx menyimpulkan sesuatu. Hanya dengan melihat kain yang belum berbentuk tersebut, Lynx tahu apa yang sebenarnya Hazel beli dengan menggunakan upah harian hingga ludes tak bersisa.


Senyum cerah hingga menampilkan gigi taringnya Lynx perlihatkan. Ekor panjangnya bergerak-gerak senang. Ia berinisiatif untuk menyelimuti tubuh Hazel. Mencoba membawa selimut yang ada di atas kasur dengan menggunakan moncongnya, lalu perlahan ia tempelkan secara asal pada tubuh gadis itu.


“Bagaimana bisa aku memilih untuk meninggalkanmu? Melihat perlakuan manismu yang belum pernah aku dapatkan dari siapa pun, membuatku yakin kalau hidup bersamamu akan terasa menyenangkan,” gumam Lynx sambil terus mengamati Hazel dengan tatapan hangat.


Tubuhnya berubah posisi, menelungkup dengan kepala yang ditaruh pada tumpuan kaki bagian depan. Tidak sekali pun ia alihkan pandangannya dari gadis itu.


“Mulai malam ini, aku bersumpah untuk selalu menemanimu, sekali pun jika keadaannya tak memungkinkan. Juga berjanji untuk berusaha melindungimu semampu yang aku bisa.”


Senyuman di wajah Lynx tak kunjung memudar, yang ada semakin melebar. Jika dalam wujud manusia, mungkin saat ini Lynx sedang tersipu malu dengan pipinya yang merah merona.


“... Ah, gawat. Sepertinya aku menyukaimu lebih dari sekedar rasa tertarik,” tutup Lynx sebelum memejamkan mata, semakin merasakan debaran hangat yang berpusat di dadanya.


***

__ADS_1


__ADS_2