
Lynx mencoba untuk tetap tenang. Menarik sudut bibirnya, menunjukkan senyum simpul. “Itu akan menjadi pertanda buruk kalau kau tidak membalas perasaanku.”
Hazel lantas mengerutkan kening. Sudah berpikir kalau memang Lynx berkata serius, tapi sedetik kemudian ia melihat pria di depannya langsung menggelak tawa. Pertanda mengenai apa yang dikatakannya barusan hanyalah gurauan semata.
“Hei, ayolah. Aku sedang tidak mau diajak bercanda. Katakan padaku apa yang akan terjadi sebenarnya,” desak Hazel, ekspresinya berubah tegas.
Entahlah, ia merasa kalau ini adalah pertanda buruk bagi Lynx. Tapi pria berbahu lebar itu malah bersikap biasa aja. Bertentangan dengan apa yang Hazel khawatirkan saat ini.
“Tenanglah, jangan khawatir seperti itu. Ini bukan pertanda apa-apa. Mungkin karena usia batu di dalam liontin ini sudah terlalu lama, sihir yang disalurkan ke dalamnya menjadi melemah. Aku rasa ... Ini tidak akan berakibat buruk,” tanggapnya santai.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ke suatu tempat,” ajak Hazel tiba-tiba, mendatangkan rasa penasaran pada Lynx yang mendengarnya.
“Hari ini? Tumben sekali. Biasanya kita tidak pernah ke mana-mana,” sahutnya dengan ekspresi tengilnya.
Hazel mendelik singkat. “Kau tidak mau? Biar aku saja yang pergi sendirian kalau begitu,” putusnya sepihak.
Kedua mata Lynx mengerjap cepat, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Berhubung sekarang adalah hari libur, mungkin gadis itu ingin mengajaknya jalan-jalan keluar.
“Eh, aku bercanda. Lagi pula, apa yang salah dengan pertanyaanku?” Lynx semakin merapatkan tubuhnya pada Hazel, menempelkan kedua telapak tangan di depan wajah sambil terus memohon padanya.
Desisan pelan Hazel keluarkan, tangannya mengulur ke depan, mendorong tubuh Lynx dengan sebelah tangan. “Tunggu aku di luar, aku akan bersiap-siap sebentar.”
“Siap, Nona kecil.”
Pintu kamar sudah tertutup. Pun, Lynx sudah berada di luar. Ia berjalan lunglai menuju ke ruang tengah, jemarinya menyentuh liontin yang melingkar di leher.
Melihat secara lamat-lamat liontin tersebut. Sepercik perasaan cemas muncul dalam dada. Melesat cepat hingga menghadirkan pikiran buruk yang sekarang sudah bersemayam dalam benaknya.
Karena sejujurnya, jika sinar liontin yang dipakainya mulai memudar, maka Lynx sedang berada dalam situasi bahaya. Tapi karena dirinya enggan membuat Hazel khawatir, jadi Lynx memilih untuk menutupi kebenarannya sampai waktu yang akan menjelaskannya sendiri.
“Berapa lama lagi hari yang tersisa sampai waktu menunjukkan semuanya?” Lynx bergumam sedih, semakin menyadari bahwa dirinya dan Hazel tak mungkin bersama.
Keterbatasan waktu yang dimiliki, membuat jarak antara keduanya semakin melebar. Harapan untuk bersatu atas nama cinta rasanya semakin terlihat mustahil terwujud.
__ADS_1
Sambil menggenggam erat batu liontin yang masih terpasang di lehernya, Lynx menanggahkan kepala, melihat langit-langit rumah yang penuh dengan lubang. Angin dingin dari luar masuk dari celah tersebut.
Memejamkan mata sesaat, Lynx kembali bergumam, “Jika memang sampai waktunya tiba kita tak bisa bersama, aku hanya ingin mengetahui secara langsung bahwa kau memiliki perasaan yang sama denganku.”
Hazel baru saja keluar kamar, lengkap dengan dress panjang polos sederhana dan rambut yang terikat rapih. Matanya langsung menyorot punggung Lynx, melihat apa yang sedang dilakukan pria itu.
“Kau sedang apa?” Hazel semakin melaju, berhenti di depan tubuh jangkung Lynx.
Ia mengamati Lynx yang sedang memejamkan mata dengan dagu yang terangkat tinggi. Saat kedua kelopak matanya terbuka sempurna, warna mata Lynx yang indah sukses membuat Hazel terpanah.
“Aku hanya merasakan kelembapan di sini,” dalih Lynx, sekaligus memecahkan kekaguman gadis di depannya.
Hazel berdeham singkat, lalu melirik ke sembarang arah. “Musim dingin akan segera tiba. Mungkin kondisi rumah ini akan terasa lebih dingin dari biasanya.”
“Benar. Tapi di sini kita tinggal berdua. Mudah jika ingin menghangatkan suhu tubuh bersama,” ujar Lynx yang terdengar ambigu.
Gadis yang memakai kain ikat kepala segitiga lantas mengerenyit. Dalam pikirannya ada satu hal yang bisa ia bayangkan. Entah jika sebenarnya berbeda dengan yang dimaksud Lynx.
“S-sepertinya kita harus segera berangkat.” Mengalihkan pembicaraan, Hazel segera membalikan tubuh dan memandu jalan.
Tubuh bongsornya mengekori gadis mungil itu dengan langkah gemulai seraya bersenandung, persis seperti bocah yang antusias sebab diajak jalan-jalan. Sesekali kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, terlihat bahwa dirinya amat senang.
Di sisi lain, ia juga berusaha menahan agar ekor dan telinganya tidak muncul. Bisa gawat jika semisal ada orang yang melihat. Identitasnya akan terendus, bisa juga membawa petaka bagi Hazel nantinya.
“Ngomong-ngomong, kita mau pergi kemana? Kau belum memberitahuku apa pun.” Lynx bersuara setelah beberapa saat sibuk mengedarkan pandangan ke berbagai arah.
“Aku ada sedikit uang. Kenapa kita tidak bersenang-senang? Kudengar didekat sini ada pasar, ada banyak makanan murah pastinya, dan juga banyak yang menjual pernak-pernik cantik.”
Lynx angguk-angguk paham. “Baik, mari bersenang-senang!”
Ketika mereka berdua sampai di pasar tempat dimana pusatnya orang-orang yang ingin berbelanja berbagai macam barang atau makanan, Lynx tak henti-hentinya berdecak kagum. Matanya berbinar terang dengan mulut yang membuat celah sedikit.
Ini memang bukan pertama kalinya ia datang ke tempat yang ramai dipenuhi oleh manusia. Karena yang membuat Lynx takjub, ia melihat bahwa banyak sekali barang jualan yang belum pernah ia lihat di tempat yang sebelumnya ia tinggali.
__ADS_1
“Kita belum sarapan, ayo cari makanan yang enak,” ajak Hazel sambil melangkah lebih dulu.
Karena di depan sana banyak sekali orang yang berlalu lalang, Lynx dengan tubuh besarnya itu agak kesulitan untuk mengikuti langkah Hazel yang lincah. Sehingga ia sempat tertinggal jauh olehnya.
Lynx celingak-celinguk seperti anak anjing yang kehilangan induknya. Meski tubuhnya tinggi, Lynx masih sulit mencari keberadaan Hazel melalui radarnya. Tubuhnya tidak bisa berhenti, karena banyak orang dari dua sisi yang terus berhimpit maju dan mundur secara bersamaan.
Hazel yang memang belum menyadari kalau Lynx sudah tertinggal jauh di belakangnya, malah asik sendiri melihat-lihat berbagai macam barang yang berjejer rapih di samping kanannya. Mulai tertarik ingin membeli gelang yang bisa diukirkan sebuah nama.
“Sepertinya lucu. Aku ingin membelinya,” gumam Hazel dengan tatapan penuh binar.
Sambil menengokan kepala, ia berujar sesuatu, “Kau mau membeli juga tidak? Kalau kau mau, aku---”
Ucapannya menggantung sebab tidak mendapati sosok Lynx dibelakang tubuhnya. Saat berputar 180 derajat, ia hanya bisa melihat orang-orang asing yang terus berjalan maju secara serempak.
Mencoba berjinjit sambil terus mengabsen seluruh objek yang terpantau dari indera penglihatan, tapi tetap saja usahanya berakhir nihil. Seharusnya dengan tubuh tinggi itu, sosok Lynx bisa lebih terlihat mencolok.
“Aishh, kemana perginya dia?” Hazel semakin kebingungan, tubuhnya mundur-mundur tanpa sadar. Sampai akhirnya menubruk sesuatu yang mengharuskannya untuk membalikan tubuh.
“Hai, sudah lama tidak bertemu.” Seseorang yang barusan ditubruknya melambai sambil menunjukkan seringaian khasnya yang mampu membuat Hazel bergidik merinding.
“Sepertinya kehidupanmu membaik. Bagaimana rasanya tinggal dengan pria tampan? Apa dia kaya raya sehingga mampu membuatmu berseri-seri sepanjang waktu?” sambungnya seraya memiringkan kepala, senyumannya itu tampak lebih mengerikan.
Dalam lautan manusia yang lumayan riuh karena ingar-bingar, menyulitkan Hazel untuk kabur. Jika pun bisa, maka Hazel harus memaksakan diri menerobos puluhan orang tersebut untuk melawan arah.
Sungguh, ia tidak percaya akan bertemu lagi dengan pria itu secepat ini. Padahal waktu satu bulan belum berlalu, tapi kenapa dia mendatanginya lebih cepat?
“... Katakan saja jika sebenarnya kau itu pelacur dengan selera yang tinggi. Aku bisa menempatkanmu secara istimewa. Yang hanya bisa melayani para pelanggan terpilih saja. Bagaimana? Atau kau masih kukuh ingin---”
PLAK!
Hazel menghentikan ucapan pria bermulut besar itu dengan satu tamparan nyaring, berhasil menyedot perhatian orang-orang di sekeliling hingga menghentikan langkah hanya untuk menonton pertunjukan yang tampak menarik di sini.
“Tutup mulut busukmu, dasar bajingan!”
__ADS_1
***