Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 49 - Tantangan dan Janji.


__ADS_3

Selesai mengenakan pakaian, juga sudah memasang eye patch berwarna hitam di mata kirinya, Lynx lantas keluar dari tempat penyimpanan senjata tersebut. Meninggalkan Jack yang memang sudah meminta tak ingin ditemui sampai beberapa hari ke depan.


Sebelum Lynx benar-benar pergi, Jack juga berpesan padanya. Mengenai latihan di hari-hari berikutnya, Jack sudah memberi perintah pada prajurit Kerajaan dan prajurit dari Kerajaan lain yang memang akan bergabung untuk dilatih bersama.


Mengingat waktu kian menipis, bisa saja ada serangan fajar yang dilakukan Kerajaan Maggie tanpa aba-aba atau peringatan terlebih dahulu. Jadi Jack tidak mau membuang waktu, ia memberi kepercayaan pada Lynx untuk melatih para rubah lain dan siluman lain selama beberapa hari.


Berjalan sedikit sempoyongan memasuki istana, Lynx langsung disuguhi tatapan dari mereka yang memasang wajah penasaran. Para pelayan berkumpul, berbaris acak dengan sesekali saling bertatapan untuk berbisik.


Mencoba mengabaikan mereka, tapi tampaknya Lynx tak bisa kabur begitu saja. Karena dihadapannya saat ini sudah ada Raja Arandelle yang menghadang jalannya. Di sisi kanan dan kirinya pun ada si kembar, dari tatapan mereka sepertinya sedang menuntut penjelasan.


“Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Biar saja, Lynx tidak mau mandiri menjelaskan langsung, sengaja agar mereka bertanya lebih dulu.


“Matamu, ada apa dengan matamu? Dan dari mana kau semalaman tadi? Kenapa kau datang dari arah belakang? Apa yang sudah kau lakukan? Dimana Jack? Bukankah kalian selalu bersama?” Runtutan pertanyaan itu dilontarkan oleh sang ayah.


Lynx melenguh kasar, kupingnya terasa panas disodori banyak pertanyaan seperti itu. Tapi karena sekujur tubuhnya terasa lemas, sedikit energi yang tersisa, jadi Lynx tidak mau membuat kekacauan.


“Aku melepas mata kiriku, Ibu bilang akan membuatkan liontin baru untukku dengan bola mata itu. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi mulai hari ini sampai beberapa hari ke depan, dia meminta jangan ditemui,” jawabnya apa adanya.


Tidak mau menunggu balasan dari ayahnya, Lynx tanpa mengatakan apa-apa lagi langsung meleos begitu saja. Menubruk bahu San yang kebetulan menghalangi jalan, tapi tidak ada permintaan maaf yang Lynx ucapkan.


“Dasar, kau mengatakan kalau aku cacat. Tapi sekarang dirimu bagaimana? Kau bahkan lebih cacat dariku! Tidak memiliki sebelah mata, dasar buruk rupa! Hiduplah selamanya dengan penutup mata sialan itu!” San berteriak, mengungkit karena terpancing emosi.


Lynx yang terlihat santai-santai saja, menghentikan kaki tanpa membalikan tubuh. “Semua orang tahu, kalau posisiku di sini lebih baik. Aku kehilangan sebelah mata bukan karena aku lemah, tapi karena pengorbananku pada Kerajaan ini.”


Sedikit menengok, Lynx menampilkan senyuman bengis. “Berbeda denganmu, bukan? Sebelah matamu buta karena kau lemah. Ingat, San. Posisi kita hampir setara sekarang. Aku yang kau anggap bodoh karena tak bisa mengendalikan sihir, tapi lihatlah beberapa hari ke depan nanti. Akan kubuat kau menarik kata-katamu kembali.”


Hanya dengan kata-kata seperti itu, San dibuat tak bisa berkutik. Baru pertama kali ia melihat Lynx seyakin itu saat mengatakan sesuatu. Seolah setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, tak bisa dianggap remeh.


San jadi ketar-ketir, takut kalau Raja Arandelle berpikir untuk memberi tahtanya pada Lynx. Bisa gawat jika itu benar terjadi. Dalam pikirannya, San berusaha untuk merancang beberapa rencana.


“... Di malam sebelum berperang nanti, ayo kita adu kekuatan. Kau dengan kemampuanmu, aku dengan kemampuanku sendiri. Aku lelah dicaci maki olehmu, dianggap tak berguna atau apalah itu, jadi ayo kita buktikan di depan semuanya siapa yang terkuat di antara aku dan kau, San,” tutup Lynx, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


Sepeninggal Lynx, San jadi gusar sendiri. Kepalan tangannya terlihat merah membuat kuku-kuku jemarinya memutih. Gertakan di rahang yang bergemulutuk bisa didengar dengan jelas.


Sementara Raja Arandelle yang mendengar dan melihat kejadian barusan, malah tersenyum misterius. Dia berjalan meninggalkan kedua putranya yang masih mematung di tempat.


“Ayah, tunggu.” San berjalan menyusul, dibuntuti oleh Sen dari belakang.


Raja Arandelle menghentikan pergerakan kakinya, namun tubuhnya masih menghadap ke depan.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ungkap San mengutarakan keinginannya.


“Soal pelantikan putra mahkota?”


Deg.

__ADS_1


San tidak menyangka kalau ayahnya akan langsung menebak hal ini dengan tepat sasaran. Membuat jantungnya berpacu kencang, haruskah ayahnya itu membicarakan hal itu di depan para pelayan yang masih setia menonton?


“Aku pikir akan lebih baik aku melakukan pelantikan di saat perang sudah selesai. Setelah kericuhan dan kegelisahan ini tak lagi dirasakan. Bukankah itu waktu yang tepat? Pikirkan saja, apa kata para penduduk ketika aku melakukan pelantikan di saat kondisi tengah genting seperti ini?”


San diam sebentar, dugaan sebelumnya tentang hal ini sepertinya benar.


“Apa kau akan tetap menjamin kalau aku akan menjadi penerusmu, Ayahanda?” San bertanya, mencoba memastikan sendiri.


Terdengar suara tawaan dari Raja Arandelle, entah apa yang ia tertawakan. “Sejak awal memangnya siapa yang menjaminmu menjadi putra mahkota? Aku akui kalau kau cerdas dan ambisimu dalam segala hal selalu kuat, tapi aturan tetaplah aturan yang harus dipatuhi.”


“Aku berpikir Lynx tidak akan pernah kembali, jadi pilihan terakhir untuk mengangkatmu menjadi putra mahkota tidaklah buruk. Tapi sekarang, bukankah keadaan sudah berubah?”


“... Tapi akan kupikirkan ulang kalau kau bisa mempertahankan posisimu yang lebih unggul dari Lynx. Ayolah, San. Jangan membuatku malu. Bukankah selama ini kau sudah aku rawat dengan baik? Jangan kalah dengan Lynx yang tak pernah aku perhatikan sedari kecil.”


Akhir dari ucapan Raja Arandelle berhasil meremas hati kecil San, untuk pertama kalinya ia dibuat sakit hati oleh perkataan ayahnya sendiri. Selama dirinya hidup, tak pernah sekali pun dirinya diperlakukan seperti ini.


“Hh, sialan,” desis San pelan, menundukan kepala sambil mengetatkan rahang untuk menahan kesal.


Sen yang tak bisa melakukan apa-apa untuk saudara kembarnya, hanya menepuk-nepuk bahu San agar membuatnya sedikit tenang.


“Jangan menyerah, kau pasti bisa membuktikan dirimu lebih unggul. Aku selalu ada dipihakmu, San.”


***


“Hazel?”


“Aku sudah pulang. Apa kau ada di dalam?”


Lynx celingak-celinguk melihat seisi kamar. Kosong melompong. Dipikirnya Hazel tak ada di kamar, mungkin sedang sarapan dengan Aluka di bawah. Jadi ia hendak turun kembali untuk menemuinya.


Tapi mendadak niatnya urung sebab mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, menampilkan kekasihnya yang baru saja membersihkan diri. Hazel keluar hanya dengan handuk di tubuhnya, permukaan kulitnya pun sedikit basah.


Saat mata mereka saling bertemu, Hazel reflek berlarian ke arah Lynx. Menghambur padanya seraya merentangkan kedua tangan, memeluknya dengan erat dan puas. Tak mau melepaskan sebelum rasa khawatir dan rindunya habis.


“Kau kemana saja? Kau pergi malam tadi tanpa memberitahuku dulu. Aku bingung, sangat khawatir padamu. Tadi malam juga aku mendengar suara seperti ledak...”


Suara Hazel kian melemah dan berhenti berbicara tatkala jemari pria itu menyentuh garis dagunya, menaikan pandangan agar tatapan mereka tak terputus. Tetap memegangi ujung dagu, tanpa disangka-sangka Lynx mengecup benda kenyal itu.


Cup.


“Selamat pagi, Hazel. Aku minta maaf untuk yang semalam. Aku janji, hal itu tidak akan terulang lagi,” kata Lynx sambil menggulir pandangan ke samping, merasa bersalah.


Pusat pandangan Hazel tertuju pada eye patch yang terpasang di mata kiri kekasihnya, pikirannya jadi menerka-nerka untuk apa dia menutup matanya.


“Kenapa?”

__ADS_1


Dahi Lynx mengerenyit, tidak paham.


“Matamu kenapa? Kenapa ditutupi? Apa kau terluka? Sini biar kulihat,” tanya Hazel sambil menangkup pipi Lynx, kakinya berjinjit agar bisa menggapainya dengan mudah.


Sebelum Hazel benar-benar membuka penutup mata itu, Lynx menahan lengannya. Mengajaknya agar bicara dengan benar, menuntunnya untuk duduk di tepian ranjang.


“Mungkin kau akan terkejut saat tahu bahwa aku kehilangan mata kiriku,” papar Lynx, bingung harus mulai dari mana untuk bercerita.


Benar saja, tergambar dengan jelas ekspresi terkejut itu di wajah Hazel. “Kenapa bisa? Siapa yang membuatmu seperti itu?”


“Hei, tenang.” Lynx mengusap-usap kedua bahu Hazel, tubuhnya semakin didekatkan padanya. Mengikis jarak yang tersisa. “Ini bukan hal buruk. Aku melakukannya untuk Kerajaan ini. Aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab, bukan? Aku benar-benar melakukannya.”


“Ta-tapi bagaimana bisa...”


Lynx tersenyum untuk menenangkan, lalu membawa kekasihnya itu untuk dipeluk. “Kenapa? Kau tidak lagi cinta jika aku hanya memiliki satu mata?”


Mendengar hal tersebut, dada Hazel bergemuruh hebat. Rasanya tidak suka dituduh seperti itu.


“Bodoh! Mana mungkin aku seperti itu!” Hazel mendorong tubuh Lynx, melepaskan pelukannya dengan kasar.


“Lalu apa?”


“Aku khawatir! Setelah mata, lalu nanti apa lagi? Kau terlalu banyak berkorban. Aku takut kalau kau dimanfaatkan. Aku takut mereka akan berbuat semena-mena padamu. Jangan kaitkan cintaku dengan hal seperti ini, itu tidak ada hubungannya,” sergah Hazel, matanya mulai berkaca-kaca.


“Hazel, aku tahu kau khawatir padaku. Tapi tolong dengarkan aku dulu.” Lynx menghadapkan tubuhnya pada Hazel sambil menatapnya dengan lekat.


“Aku memang bodoh, aku memang tidak sepadan dengan mereka semua. Tapi bukan berarti aku mudah mereka tipu. Sejak awal, ini janji murniku untuk membawa kedamaian pada Kerajaan ini. Tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.”


“... Aku dan Ibu yang akan mengurus semua ini tanpa campur tangan mereka. Sampai nanti aku bisa membuktikan pada mereka kalau aku yang selalu mereka campakkan, ternyata bisa membawa kemenangan untuk Kerajaan,” final Lynx, berharap kalau Hazel bisa mengerti secara garis besarnya.


Hazel yang tak mampu berkata apa-apa, hanya mau memeluknya saja. Merasakan kehangatan dari pelukan yang sudah lama tak ia dapatkan dari kekasihnya itu.


Sebelah tangan besar Lynx turun untuk menyentuh perut Hazel yang mulai terlihat membuncit, ia mengelus-ngelusnya lembut di sana. Matanya terpejam, merasakan kenyamanan.


Hazel berbisik, “Aku selalu kagum dengan warna matamu yang indah. Sekarang aku terkejut saat mengetahui kalau kau kehilangan sebelah mata. Namun di detik yang sama aku menyadari, bahwa sebentar lagi dari rahimku akan terlahir Lynx junior yang akan memiliki mata persis sepertimu.”


Lynx terkekeh mendengarnya, ia semakin erat membalas pelukan, sesekali memberi kecupan pada ubun-ubun kepala Hazel.


“Ya, aku tak sabar menantikan Lynx junior. Aku janji, setelah perang usai aku akan segera menikahimu. Kita akan merawat anak ini bersama-sama.”


Kepala Hazel mengangguk. “Eum, jangan memaksakan diri. Aku hanya ingin kau berjuang dengan semangat dan pulang dengan selamat. Aku tidak peduli siapa yang akan melanjutkan takhta Kerajaan. Aku lebih ingin hidup bersamamu ketimbang hidup di tengah-tengah permainan duniawi.”


“Sekali pun kau tidak duduk di singgasana untuk mendampingiku?”


Hazel mengangguk lagi. “Ya. Hidup sederhana asalkan denganmu, itu sudah jauh lebih cukup.”

__ADS_1


***


__ADS_2