
Sejuknya angin di pagi hari, membuat tidur seorang gadis yang terbaring di atas sofa jadi terganggu. Jari jemari kakinya yang keluar dari selimut terlihat menggigil. Dengan mata yang masih terpejam, Hazel menarik kedua kakinya masuk ke dalam selimut.
Ditambah sinar mentari yang menyorot wajahnya dari celah dinding kayu yang renggang, mengharuskannya untuk membuka mata. Keningnya perlahan mengerenyit, mencoba menerima rangsangan cahaya yang menyilaukan.
Setelah kelopak matanya sudah terbuka sempurna, ia segera melihat ke sekeliling, baru sadar kalau dirinya ada di sofa. Tempat dimana Lynx berbaring semalam.
Saat Hazel merubah posisi untuk duduk, ia tampak linglung. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri dengan cepat, seperti mencari sesuatu dengan gelisah. Buru-buru ia menyibak selimut yang masih menutupi dirinya.
Menapaki lantai kayu yang dingin dan lembab. Hazel mencari dimana keberadaan pria itu. Luka parah yang didapati Lynx semalam membuat Hazel sedikit khawatir jikalau pria itu nekat untuk pergi.
Ketika kedua kakinya berderap ke dapur, Hazel sedikit terperanjat karena tubuhnya berpas-pasan dengan seorang pria bertubuh tegap. Dan itu adalah Lynx yang sedang dirinya cari.
“Oh, kau sudah bangun rupanya. Aku baru saja ingin membangunkanmu untuk mengajak sarapan bersama,” ucap Lynx sembari menampilkan senyuman manis di wajah tampannya.
Hazel menatap Lynx dari atas sampai bawah tanpa terlewat. Ada sedikit perasaan tenang saat tahu kalau Lynx tidak pergi dari rumah. Padahal kemarin dirinya bersikeras menginginkan pria itu untuk menghilang dari hidupnya.
Melihat kalau pakaian yang dipakai pria itu sungguh ketat. Terlebih, luka-luka di tubuh Lynx masih basah dan tampaknya begitu menyakitkan. Hal itu semakin menumbuhkan rasa khawatir di hatinya.
Seolah tahu arti dari cara memandang gadis itu, Lynx langsung berbicara untuk menjelaskan, “Maaf sudah lancang mengambil baju ini untuk kupakai. Karena jika berkeliaran tanpa busana, bukankah kau akan lebih marah?”
Bibir Hazel mengukir senyuman tipis. “Tak apa. Untuk sementara ini pakai saja apa yang ada. Tunggu aku mendapat pekerjaan, aku akan membeli kain sendiri dan menjahitkannya untukmu.”
Lynx tampak senang saat mendengarnya, sehingga telinga runcing dan ekor panjang nan lebat miliknya keluar secara natural. Bergoyang-goyang riang dengan senyum cerianya.
“Wow, ternyata kau pandai menjahit.”
Hazel mengusap tengkuk dengan pandangan yang sudah dialihkan ke sembarang arah, sedikit malu. “Aku tidak pandai. Tapi aku akan berusaha. Karena membeli pakaian pria sangatlah mahal. Jadi aku berpikir untuk membuatnya sendiri. Karena kau tidak mungkin memaksakan diri untuk memakai pakaian ketat seperti itu.”
Dengan berani Lynx berjalan mendekat pada Hazel, merangkul bahu gadis itu untuk menuntunnya ke dapur. Berniat untuk mengobrol sambil sarapan di meja makan.
__ADS_1
“Tidak baik terus berdiri di sana. Makanan yang sudah kubuat akan dingin nantinya. Maka dari itu, selagi hangat, kau harus memakannya,” kata Lynx di sela langkah kakinya.
Hazel hanya bisa mengikuti kemana Lynx membawanya. Dengan jelas ia merasakan perasaan mendebarkan yang mencuat naik tanpa bisa diprediksi.
Hanya karena sebuah rangkulan yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi pria itu, tapi bagi Hazel yang sejak awal sangat sensitif terhadap sentuhan dari lawan jenis, tindakannya itu membuat jantungnya merespon dengan debaran tak normal.
Tangannya besar dan hangat, dan Hazel bisa merasakan sebuah perlindungan dari pria tersebut. Sebelum jauh dirinya memikirkan hal yang tidak-tidak, kepalanya lebih dulu menggeleng untuk menepis pikiran itu.
“Tadaaa ... Aku membuat ikan bakar hasil dari tangkapanku kemarin. Bagaimana? Bukankah itu tampak menggugah selera?” Lynx dengan bangga menunjukkan hasil masakannya pada Hazel.
Mata coklat terang milik Hazel bergulir cepat, melihat menu sarapan pagi ini yang memang terlihat menggiurkan. Mungkin karena sudah lama tidak memakan ikan dalam porsi besar, jadi Hazel berulang kali menelan ludah.
“Aku tak menyangka kau bisa memasak. Bukankah sejak kemarin kau selalu membuat masalah? Ini peningkatan yang luar biasa,” puji Hazel.
Lynx menggaruk pelipisnya, pandangannya bergerak cepat, menghindari kontak mata dengan Hazel. “Y-ya itu benar. Sebenarnya aku tak yakin dengan rasanya karena ini yang pertama kali buatku. Ditambah, aku hampir membakar rumah ini karena sifat cerobohku.”
Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Lynx, seketika mata Hazel membola. Nyaris keluar dari tempat karena saking terkejutnya.
“Tapi tenang,” potong Lynx cepat, ia berusaha mendinginkan amarah Hazel yang hampir tersulut. “Bukankah aku mengatakan kalau itu hampir? Aku dapat memastikan kalau hal itu tidak akan terulang kembali.”
Helaan nafas panjang Hazel keluarkan. Ia berusaha mengontrol dirinya, jangan sampai terlewat batas dan malah melukai hati pria itu lagi.
Kepala gadis itu tertunduk, kedua tangan yang bertaut di atas meja terlihat gelisah. “Hei, Lynx. Untuk kemarin, maafkan aku. Sungguh, aku hanya...”
“Tidak apa. Itu bukan salahmu. Aku yang salah, dan aku menyadari kesalahanku. Setelah semua ini terjadi, aku akan berusaha melakukan hal yang lebih baik lagi,” balas Lynx lembut.
Perkataan itu sedikit menenangkan perasaan Hazel yang gundah. Hazel sendiri tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Mungkin karena sudah terlalu lama kesepian dalam situasi yang menyedihkan, jadi Hazel berpikir hidup bersama rubah pembuat masalah seperti Lynx tidak begitu buruk.
“Untuk sekarang, ayo makan dulu,” titah Lynx dengan mulut penuh, dirinya sudah lebih dulu melahap makanannya dengan rakus.
__ADS_1
Di sepanjang acara makan itu, mereka berdua tidak terlibat percakapan apa pun. Hanya sesekali saling pandang, itu pun tidak lebih dari lima detik. Mereka terlihat canggung.
Hazel baru sadar sesuatu. Sepanjang mulutnya mengunyah, ia tidak merasakan sakit atau pun ngilu seperti yang semalam ia rasakan. Padahal luka didekat mulut dan pipinya belum sembuh, tapi sekarang tidak terasa apa-apa.
Karena ingin memastikan, Hazel meraba wajahnya sendiri. Merasakan permukaan mulus tanpa mendapati rasa sakit di sana. Ketika memeriksa dahi yang menonjol akibat luka benturan kemarin, Hazel malah terkejut sebab tidak menemukan apa-apa di sana.
Lynx yang melihat tingkah gadis itu, secara diam-diam mengulas senyum. Kemudian ia bertopang dagu, melihat Hazel lebih lekat. “Kau dengan wajah mulus itu tampak cantik sekali.”
Hazel memiringkan wajahnya, merasa bingung. “A-apa maksudmu?”
Tubuh Lynx beringsut dari kursi, mengambil sesuatu yang menggantung di tembok. “Butuh cermin?” Lalu menyodorkannya pada gadis tersebut.
Setelah melihat wajahnya sendiri, Hazel menganga tak percaya. Semua luka lebam keunguan di wajahnya hilang tak berbekas. Untuk memastikan ini mimpi atau bukan, Hazel berkali-kali menepuki pipinya.
Rasa sakit dari tepukan yang ia lakukan adalah jawaban kalau semua ini bukanlah mimpi.
Lynx tertawa pelan. “Bagaimana kalau kukatakan aku yang menyembuhkan luka-lukamu? Apakah kau akan percaya?”
Tanpa berpikir panjang, Hazel menganggukkan kepala. “Kenapa tidak? Aku sudah melihat sendiri kalau kau adalah jelmaan. Sudah sewajarnya bukan kalau mahluk sepertimu bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan manusia biasa?”
Pria itu mengangguk setuju. “Itu benar. Aku memiliki kemampuan khusus untuk menyembuhkan luka orang lain. Tapi untuk luka pada tubuh sendiri, aku tidak bisa melakukannya.”
Hazel berpikir sebentar. Ia teringat kalau dirinya memiliki luka lain di tubuhnya. Dirinya berpikir kalau sepertinya Lynx juga bisa menyembuhkannya.
“Jujur, aku masih penasaran dengan asal-usulmu dan latar belakang kehidupanmu seperti apa. Tapi untuk sekarang, bisakah kau mengobati luka di tubuhku? Aku harus mencari pekerjaan dalam waktu dekat, jadi aku perlu tubuh yang sehat untuk bekerja,” pinta Hazel sedikit malu.
“Tentu. Aku bisa melakukannya dengan mudah. Cukup tunjukan lukamu. Tapi jangan terkejut setelah tahu bagaimana cara aku mengobati luka tersebut.”
Hazel yang memang tidak tahu bagaimana cara Lynx mengobati lukanya tadi malam, merasa kalau apa yang akan dilakukan pria itu tidak bisa ia terima dengan mudah. Dan sekarang Lynx sudah beranjak dari kursi, berjalan padanya dengan tatapan sulit diartikan.
__ADS_1
“Bagian tubuh mana yang harus aku obati?”
***