
Ratusan abad yang lalu, ada sebuah Kerajaan besar bernama Foxion. Sesuai dengan nama ‘Fox’ yang berarti rubah, kerajaan tersebut memang dihuni oleh kawanan rubah. Namun rubah yang tinggal dan hidup di zaman itu bukanlah rubah biasa.
Rubah-rubah itu memiliki kehidupan yang sama seperti manusia. Dan melalui liontin yang sudah diberkahi, mereka bisa berubah wujud menjadi manusia pada umumnya. Namun itu terjadi hanya saat siang hari saja, ketika malam hari mereka akan kembali pada wujud semula.
Tak hanya itu, karena para rubah yang mengabdi di bawah kaki Raja Arandelle, yaitu seorang pemimpin di Kerajaan Foxion, rata-rata bisa menguasai berbagai macam sihir.
Bahkan semua elemen yang ada di bumi bisa mereka kuasai. Karena kepintaran mereka dalam mengolah ilmu sihir, Kerajaan Foxion pernah berada di masa puncak kejayaannya.
Dalam dongeng yang beredar, Kerajaan Foxion pernah memberantas musuh dari Kerajaan lain yang mencoba merebut ilmu sihir yang sudah susah payah mereka kembangkan. Karena pada dasarnya ilmu sihir bukanlah murni dari sesuatu yang dipelajari sendiri, melainkan karena kemampuan yang memang sudah diberkahi sejak lahir.
Oleh karena itu, beberapa Kerajaan lain mempunyai niat jahat. Mereka dengan sengaja menculik rubah-rubah pintar yang sudah dianggap harga mati oleh Kerajaan Foxion. Mereka melakukan percobaan dengan sadis, ingin mengambil alih kemampuan sihir mereka.
Tak peduli jika harus membedah isi kepala rubah-rubah itu, atau pun meneliti darah mereka agar bisa melihat apa yang sebenarnya membuat mereka begitu hebat dalam mengendalikan ilmu sihir.
Salah satu yang melakukan eksperimen gila itu adalah Kerajaan Maggie, yang mana Kerajaan itu dikuasai oleh ras anjing. Tak berbeda jauh dengan para klan rubah, mereka juga bisa bertransformasi wujud menjadi manusia.
Jika klan rubah memerlukan liontin untuk merubah diri menjadi manusia, klan anjing tidak memerlukannya. Karena konon katanya, nenek moyang mereka menganugerahi sebuah kemampuan pengendali pikiran.
Yang mana kemampuan itu bisa dipakai untuk merubah diri sesuai apa yang ada dalam pikiran. Semakin kuat fokus yang dibuat, maka keinginan mereka untuk melakukan sesuatu yang ada dalam pikiran akan semakin cepat terwujud.
Melalui kemampuan itu, mereka bisa memunculkan suatu yang tidak mungkin. Namun efek samping dari kemampuan itu cukup besar juga. Banyak mayat bergelimpangan karena mereka berusaha mewujudkan sesuatu yang sudah jelas di luar kemampuan.
Hubungan antar Kerajaan yang semula aman dan damai pun perlahan hancur berantakan hingga terjadi pertumpahan darah. Pelakunya adalah Kerajaan Maggie yang memantik api peperangan tersebut.
Semua itu tidak akan terjadi jika Raja Barney sebagai pemimpin Kerajaan Maggie, mampu meruntuhkan Kerajaan Foxion dengan kemampuan pasukannya sendiri. Itu sebabnya Raja Barney mengadakan pertemuan dengan para Raja dari kerajaan lain untuk bekerja sama.
Menurut dongeng yang sudah menjamur di masyarakat, begitulah akhir dari Kerajaan Foxion. Ilmu sihir mereka berhasil dirampas oleh Kerajaan Maggie dari ras anjing. Dan melalui sihir yang sudah Kerajaan Maggie kuasai, dengan serakah dan piciknya Raja Barney menyingkirkan Kerajaan lain dengan mudahnya.
__ADS_1
Sehingga Kerajaan Maggie menjadi satu-satunya Kerajaan dengan pemilik ilmu sihir terkuat, sekaligus pemilik kemampuan-kemampuan lainnya. Mereka menyedot habis apa yang Kerajaan lain miliki, agar menjadi kuat tanpa bisa tertandingi.
Namun menurut dongeng yang tertulis, dari peperangan yang berakhir tragis tersebut, masih tersisa satu klan rubah Darrellyn yang identik dengan warna matanya yang indah. Digadang-gadang, sampai saat ini klan rubah tersebut masih hidup.
“Ekhem!” Lynx berdeham seraya mengambil buku yang sedang Hazel baca, membuat gadis itu langsung terperangah dengan membulatkan kedua mata cokelatnya.
“Pantas sejak tadi kupanggil untuk sarapan kau tidak menyahut, ternyata kau sibuk membaca dongeng murahan ini,” kata Lynx dengan tangan yang mengangkat buku itu tinggi-tinggi, sehingga Hazel perlu berjinjit bahkan melompat untuk meraihnya.
“Berikan padaku! Tidak sopan mengambil barang orang lain. Selain itu, kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?” cibir Hazel dengan mata yang menyipit, tak suka.
Buku dongeng yang sudah usang itu Lynx taruh di atas kepala gadis tersebut. Kemudian kedua tangannya ia lipat di depan dada. Masih menatap Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Apa lihat-lihat?” Hazel mengangkat dagu tinggi, seolah menantang pria dihadapannya.
Percuma, Hazel tidak bisa mengelak lagi. Ia sudah tertangkap basah. Lynx melihat kalau dirinya sedang membaca dongeng yang menyangkut mengenai rubah, satu jenis dengan Lynx.
“Kalau kau penasaran, kenapa kau tidak bertanya langsung padaku? Dari pada repot-repot membaca dongeng seperti ini, karena itu akan berujung sia-sia. Rasa penasaranmu terhadapku tidak akan terpenuhi hanya dengan membaca dongeng yang isinya hampir direkayasa semua,” ujar Lynx sambil menyugar rambut, menunjukkan pesonanya.
“... Jadi jangan salahkan aku ketika aku mencari tahu semua ini sendiri,” tambah Hazel, ikut menyilangkan tangan di depan dada.
Lynx angguk-angguk, tubuh tingginya berjalan memutari Hazel secara perlahan dengan tangan yang sudah berada di belakang punggung. “Ya, itu karena aku tidak tahu kalau ternyata kau cukup tertarik padaku. Sampai-sampai mau mencari tahu informasi latar belakangku seperti apa.”
Tak terima dianggap seperti itu, Hazel langsung menyahut, “Kurangilah rasa percaya dirimu itu, aku melakukan semua ini karena aku tidak mau jika pada akhirnya aku menyadari kalau kau adalah seorang monster. Apa salahnya jika aku mencari tahu asal-usul mahluk sepertimu?”
Bibir Lynx mengukir seringaian penuh arti, tubuhnya sudah berhadapan dengan Hazel. Jarak yang terbentang di antara keduanya pun semakin menipis tatkala pria itu dengan berani mencoba berjalan mendekat padanya.
Hazel yang merasa takut karena Lynx semakin mendekatinya, berusaha untuk berjalan mundur. Hingga punggungnya menyentuh pada dinding, membuatnya tidak bisa bergerak ke mana-mana lagi.
__ADS_1
“Aku sempat berpikir untuk merahasiakan semua tentangku padamu sampai waktu yang tepat sudah tiba, tapi melihatmu yang nampaknya sudah tak sabaran, sepertinya aku harus menceritakannya sekarang.”
Saat mengatakan itu, tubuh Lynx mencondong ke depan. Agar wajahnya sejajar dengan gadis dihadapannya, sehingga membuat deruan nafas keduanya bisa menyapu paras masing-masing.
Sebelah tangan Lynx menempel pada dinding, seolah mengungkung tubuh kecil Hazel. Ketika netra mereka terus bertemu, ikut bergerak seirama, jantung mereka sibuk memompa lebih kuat hingga memunculkan debaran hangat.
Mencoba menyadarkan pikirannya yang mulai terpengaruhi oleh sosok sempurna di depannya, Hazel mengerjapkan matanya berulang kali. Menepis hasutan-hasutan yang terasa membisik didekat telinga.
Sampai akhirnya dengan berani Hazel mendorong tubuh Lynx untuk menjauh darinya, memberi ruang atau jarak di antara tubuh mereka agar bisa leluasa untuk bernafas.
“Terasa dramatis sekali. Kita hanya membahas hal yang bahkan tidak mengarah pada sesuatu yang seperti itu. Tapi kenapa kau begitu agresif sampai-sampai melakukan hal tadi? Peringatan dariku untuk membuat jarak, sudah kau lupakan?”
Lynx yang sedang membuang muka ke samping untuk menyembunyikan pipinya yang sudah memerah, baru sadar atas apa yang barusan dirinya lakukan. Sungguh, itu di luar dugaan.
Dirinya terlena, terbawa suasana atas irama hati yang menuntunnya untuk melakukan hal itu. Mungkin jika Hazel tidak mendorongnya, Lynx akan semakin lepas kendali.
“Mari buat kesepakatan, Hazel. Katakan ya atau tidak,” ucap Lynx tiba-tiba, tidak bisa ditebak apa yang ada dalam pikirannya itu.
“Kesepakatan apa? Jangan banyak mengoceh, matahari sudah semakin naik. Kita harus cepat-cepat pergi ke tempat kerja. Jangan sampai telat,” acuh Hazel, bersiap untuk pergi, ingin menyudahi obrolan ini.
Tapi Lynx tidak membiarkan Hazel pergi begitu saja. Pergelangan tangan gadis itu sudah berhasil Lynx raih untuk digenggam. Membuat Hazel harus menarik nafas, mencoba sabar dan menunggu apa yang akan dikatakannya.
“Malam ini, ayo kita saling menceritakan tentang kehidupan masing-masing. Kau tahu tentangku, maka aku pun tahu tentangmu. Ayo berbagi cerita, Hazel. Tidak adil rasanya jika hanya kau yang tahu, sedangkan aku tidak sama sekali,” papar Lynx mengenai ajakannya.
Hazel tertawa tanpa ekspresi, seolah menyuarakan perasaan sedihnya. “Sekali pun ceritaku lebih buruk dari sampah, memangnya kau mau mendengarkannya?”
Bahu Lynx terangkat tidak peduli. “Kenapa tidak? Semua tentangmu, aku suka. Aku siap mendengarkan semuanya. Begitu pun sebaliknya, aku akan menceritakannya juga padamu. Dan ayo berjanji, cerita ini hanya berhenti di antara kita saja...”
__ADS_1
“... Dengan kata lain, jadi rahasia kita berdua.”
***