Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chap 75 - Satu Langkah Menuju Kemenangan.


__ADS_3

Setelah menerima kabar kematian sang Ibu, Aluka benar-benar terpukul. Dia menjauh dari keramaian, tidak mau diganggu mau pun ditanya. Bahkan jika itu adalah Hazel sekali pun. Aluka sibuk menangis, menyendiri dengan sapu tangan yang penuh dengan bercak darah Ratu Keane.


Hazel juga ikut merasakan kesedihan yang mendalam, suasana duka atas kematian Ratu Keane benar-benar terasa. Mengingat betapa lembut dan baik sosoknya, tentu semua merasa kehilangan. Wajar jika Aluka bersikap seperti itu. Belum tentu mereka yang tidak merasakan bisa kuat jika berada di posisi Aluka.


Sedangkan Putri Ren, ia masih sibuk mengobati Raja Arandelle dan Ratu Emely. Luka yang diterima Raja Arandelle sangat parah. Ketika perban dilepas, kakinya yang terpotong hingga batas lutut itu tampaknya mulai membusuk. Baunya pun amat menyengat.


Setelah berupaya menenangkan Aluka, Ash ingin menemui Hazel. Wanita yang tengah menimang-nimang bayi kecil tersebut duduk di tengah-tengah mata air tepatnya di atas kelopak bunga teratai yang besar. Ash mulai turun ke dalam mata air, berjalan ke arahnya.


“Hai, Hazel. Lama tidak berjumpa,” sapa Ash dengan sopan, sedikit membungkukkan tubuh.


Hazel tersenyum, balas menyapa, “Halo, Ash. Bagaimana kabarmu?”


“Aku baik.” Ash berjalan ke sisi Hazel, berdiri di sampingnya. “Selamat atas kelahiran bayi pertamamu. Dia sangat tampan, apakah dia laki-laki?”


“Benar.” Hazel mengangguk. “Dia laki-laki. Struktur wajahnya persis seperti Lynx. Dia sekarang tengah tertidur. Kau akan terkejut saat melihat seperti apa warna mata bayiku.”


“Wah, aku jadi ingin segera melihatnya,” kekeh Ash. Matanya sibuk memandangi bayi dalam dekapan Hazel.


“Ngomong-ngomong,” sambung Ash untuk mengalihkan pada pembicaraan yang serius. “Sebelumnya maaf aku tidak bisa menemani Pangeran Lynx yang tengah sibuk bertarung. Banyak pasukan yang gugur. Kondisi Pangeran San juga kian memburuk. Aku berencana akan menjemputnya dari tenda persembunyian ke sini sore ini.”


Hazel menyipitkan matanya, menatap Ash dengan tatapan penuh penasaran. “Memangnya apa yang terjadi pada Pangeran San?”


“Dia terluka cukup parah. Sementara Pangeran Lynx kabarnya sampai saat ini belum diketahui. Dengar-dengar dia jadi sandraan oleh Raja Barney,” ungkap Ash, nadanya melemah sedih.

__ADS_1


Kepala Hazel tertekuk, menunduk sambil membuang nafas kasar. Mulanya dadanya terasa sesak, tapi setelah melihat wajah teduh bayinya, Hazel mulai tenang kembali.


“Aku percaya, Lynx pasti bisa memenangkan peperangan ini. Aku tahu dia kuat. Dia sudah berjanji padaku untuk menemuiku kembali sambil membawa kabar baik,” balas Hazel, setelahnya ia mengecup kening putra kecilnya yang masih terlelap.


***


Di bawah matahari yang amat terik, tepat pada hamparan rumput setinggi mata kaki yang bergoyang sebab angin yang berhembus, tubuh Lynx yang belum sadarkan diri ditempelkan pada batang pohon besar. Kedua tangan dan kakinya diikat, sehingga menyulitkannya untuk lepas sewaktu sadar nantinya.


Semua siluman anjing mengelilinginya. Bermacam-macam senjata diarahkan pada Lynx. Dipimpin oleh Raja Barney, mereka tunduk terhadap perintahnya. Di siang hari yang panasnya begitu menyengat ini, mereka berpikir untuk melakukan penyiksaan secara berkala pada Lynx.


Tapi sayangnya, Lynx tidak bernafas sejak semalam tadi. Entah karena Raja Arandelle terlalu kuat memukul belakang kepala Lynx hingga membuatnya mati, atau mungkin anak buahnya yang sengaja melukainya karena tak sabaran. Tapi berhubung Raja Barney tidak ingin membiarkan jasad Lynx begitu saja, jadi meskipun sudah mati ia tetap akan melakukan penyiksaan.


Sebelum meluncurkan ribuan peluru serta beberapa senjata lainnya ke arah Lynx, Raja Barney berjalan ke arahnya terlebih dahulu. Berdiri, menatap Lynx dengan sunggingan di bibirnya. Ia tertarik dengan dua liontin yang masih terpasang di sana, berpikir untuk mengamankan, siapa tahu akan menjadi barang luar biasa.


Tapi siapa yang akan menduga? Ketika jarinya mulai menyentuh liontin tersebut, Raja Barney merasakan getaran listrik yang membuatnya jadi kejut jantung. Buru-buru ia menarik kembali lengannya dari sana. Ini aneh, tapi ia melihat kalau Lynx yang dipikir sudah mati pelan-pelan mulai bernafas kembali.


Hanya dengan beberapa detik, Lynx sudah membuka matanya. Karena ia hanya memiliki satu bola mata, pancaran dari warna aquamarine miliknya seketika berubah. Bukan lagi warna biru terang yang membuat siapa pun terpesona ketika melihatnya, melainkan warna merah pekat sehingga menimbulkan perasaan kalut.


Tatapan Lynx menghunus ke depan, tepat menusuk Raja Barney yang tengah memasang ekspresi kebingungan penuh tanda tanya. Lynx yang baru kembali dari dunia yang tak semestinya ia kunjungi, tentu ia sudah memiliki sedikit persiapan untuk menghadapi situasi ini.


Meski di depannya saat ini penuh dengan siluman yang siap menyerbu dan menyerangnya dalam hitungan detik, sementara Lynx di sini hanya seorang diri, tapi ia punya satu ultimate dari kemampuannya yang belum digunakan. Jack berkata, bahwa kemampuannya itu bisa berpengaruh besar apabila Lynx tahu cara menggabungkan kemampuan-kemampuan dalam dirinya.


Tapi yang menjadi masalahnya, pedang andalannya saat ini tidak ada di tangannya. Atau pun didekatnya. Lynx tidak bisa melihat atau menyadari dimana letak pedang yang akan ia gunakan untuk menebas kepala Raja Barney agar bisa mengakhiri semua ini. Sepertinya pedang miliknya sudah diamankan di suatu tempat. Sengaja, ini pasti rencana dari Raja Barney yang licik itu.

__ADS_1


“Wow, bukan hanya kuat ternyata kau cukup sakti,” puji Raja Barney dengan seringaian getirnya, berusaha untuk tidak terlihat terintimidasi.


“Jadi bagaimana caranya kau kembali hidup setelah dinyatakan tidak bernafas lagi selama beberapa jam? Tahu begitu, seharusnya aku langsung memenggal kepalamu dan membiarkan tubuhmu menjadi santapan para anjing liar di bawah tanah,” tambah Raja Arandelle, ia ingin membuat Lynx merasa tertekan.


“Apakah itu penting?” sahut Lynx, ia tersenyum meremehkan. Borgol besi yang terpasang di antara kedua kaki dan tangannya semakin terasa panas sebab sinar mentari yang kian terik. Seluruh tubuhnya pun mulai banjir oleh keringat.


Raja Barney tidak menjawab, ia hanya tertawa kesal.


“Oh, ayolah. Jangan terburu-buru. Kenapa kita tidak nikmati permainan yang sudah kau buat? Kenapa kau ingin membuatku langsung mati dan mencincang-cincang tubuhku? Apa mungkin kau takut untuk menghadapi aku yang sendirian ini? Coba kau berbalik, lihat berapa banyak pasukan yang mengawalmu. Jika kau memiliki harga diri, kenapa kita tidak satu lawan satu?”


Mendengar pernyataan yang meremehkan tersebut, Raja Barney tentu saja langsung tersulut emosi. Melihat Lynx yang belum lepas dari borgol dan tubuhnya masih menempel pada batang pohon kayu di sana, ia berpikir akan mudah mengalahkannya. Ditambah, saat ini Lynx tidak memegang pedangnya.


“Jangan asal bicara, seharusnya kau pahami posisimu di mana. Kau tahu? Sejak dulu, siluman anjing sudah diakui kehebatannya ketimbang siluman rubah. Dan setelah kau mati di tanganku, akan kupastikan populasi siluman rubah akan musnah di muka bumi ini. Jadi, ayo lawan aku,” balas Raja Barney tanpa rasa takut.


Melipat kedua tangannya di depan dada, Raja Barney menatap Lynx sambil menahan tawa. “Tapi sebelum itu, bagaimana caramu lepas dari sana? Sebelum kau bisa lepas, aku mungkin sudah membuatmu tak bernyawa dari sini.”


Tanpa mengatakan apa-apa, hanya perlu beberapa kali sentakan semua rantai yang terpasang di borgol tersebut lepas begitu saja. Dimulai dari kaki, tangan, dan sekarang Lynx sudah tidak terikat. Ia bisa bergerak bebas untuk melakukan apa pun. Lynx sengaja tidak langsung menunjukkannya, ingin membuat Raja Barney ketar-ketir diakhir.


“Maksudmu ini?” Lynx tertawa meledek, kedua tangannya berkacak pinggang. “Mudah bagiku untuk melakukannya. Kau keliru jika ingin meremehkanku. Apa kau tidak tahu kabar bahwa aku adalah siluman rubah paling kuat? Dan sekarang, kita harus mulai dari mana?”


Raja Barney meneguk ludah. Tubuhnya merinding saat Lynx mulai bergerak menghampirinya. Padahal ia tahu, tidak ada senjata atau apa pun di tangannya yang bisa digunakan Lynx untuk melukai. Tapi kenapa aura yang dipancarkannya terasa mengerikan? Terlebih, warna matanya yang mencolok itu mirip seperti iblis yang siap menghancurkan dunia.


Seiring langkah Lynx untuk mendekat ke arah Raja Barney. Semua senjata yang sebelumnya memang sudah diarahkan pada Lynx mulai melakukan ancang-ancang untuk diluncurkan. Dapat dipastikan sebelum Lynx berhasil mendekati Raja Barney, seluruh peluru dan bom yang dilemparkan akan tepat mengenai Lynx.

__ADS_1


“Kau lupa memberi perintah pada pasukanmu untuk jangan ikut campur? Tapi, baiklah. Aku akan menikmati semua ini. Jangan salahkan aku jika nyawa yang melayang bukan hanya satu,” kata Lynx dengan nada yang tak gentar, lirikan matanya pun sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski saat ini ratusan peluru dan puluhan bom sudah mengincar tubuhnya.


***


__ADS_2