
Tubuh polos mereka dibalut oleh selimut. Menyudahi permainan panas yang mampu membuat tubuh mereka banjir keringat, rasanya cukup lelah tapi memuaskan.
Beberapa jam berlalu untuk melakukan aktivitas ranjang tadi, Hazel baru terpikir sekarang. Ini bukan malam bulan purnama biru, tapi kenapa wujud kekasihnya itu tetap menjadi manusia?
“Lynx? Aku baru menyadari, kenapa wujudmu tidak bertransformasi menjadi rubah?”
Tubuh Lynx langsung menyamping, memusatkan pandangannya pada manik Hazel. Dirinya pun baru menyadari hal tersebut. Terlena akan rasa rindu, Lynx sampai lupa untuk menjelaskan.
“Oh, ini karena liontin baruku.” Tangannya menyentuh benda yang melingkar di lehernya, menunjukkannya pada Hazel. “Ini dibuat dari bola mataku sendiri. Cantik bukan? Aku tidak tahu bagaimana Ibuku membuatnya sampai jadi seperti ini. Aku merasa takjub.”
Pandangan Hazel terpaku pada liontin tersebut. Melihat pancaran warna yang benderang. Dipikir-pikir, memang liontin yang digunakan Lynx sekarang jauh lebih bagus dan indah dari sebelumnya.
“Melalui liontin ini, aku tidak akan terikat waktu lagi jika akan bertransformasi. Ibu bilang, aku bisa berubah kapan pun aku mau. Dan ini sangat membantu ketika aku ikut perang nanti. Selain itu aku bisa berubah dalam wujud rubah dengan ukuran lima kali lebih besar. Bukankah itu hebat?”
Hazel melebarkan senyum saat melihat kekasihnya itu bercerita dengan sangat antusias. Tidak ada kegugupan yang terlihat, padahal perang besar sudah ada di depan mata. Tapi Lynx begitu santai dan percaya diri bahwa dirinya mampu membawa kemenangan.
“Ya, itu hebat. Tolong lakukan yang terbaik. Aku akan menunggumu apa pun hasilnya. Jadi aku mohon, pulanglah dengan selamat,” ujar Hazel seraya menangkup wajah Lynx, membelainya lembut.
Lynx mengangguk paham. Ia memberi kecupan singkat pada dahi Hazel. Kemudian membisikan sesuatu tepat di telinga kekasihnya tersebut, “Ya, aku janji aku akan pulang dengan selamat sambil membawa kemenangan dan perdamaian untuk negeri ini.”
“Oh, ya...” Lynx mendadak melepas pelukan, tubuhnya beringsut untuk duduk. Mengambil pakaian miliknya yang tergeletak di lantai, lalu merogoh sesuatu dari dalam saku celana.
Hazel yang penasaran apa yang akan dilakukan pria itu, seketika ikut duduk. Tubuhnya yang telanjang berusaha ditutupi oleh selimut. Sibuk memegangi agar jangan sampai merosot.
“Ada apa? Kau mencari apa?” Ia bertanya karena tak sabaran.
“Tunggu sebentar.” Lynx mengeluarkan liontin lama miliknya yang sudah tak digunakan lagi, saat kembali duduk berhadapan dengan sang kekasih, ia menyodorkannya pada Hazel.
__ADS_1
“Liontin?” Hazel mengamatinya dengan baik, menimang sambil terus menelik-nelik.
“Untukmu. Tolong dijaga. Meski sudah tak ada lagi sihir di dalamnya, juga sudah tak lagi bersinar, tapi liontin itu sudah bersamaku sejak aku lahir. Aku tidak mungkin membuangnya. Kalau kau tidak mau—”
“Aku akan memakainya!” potong Hazel dengan semangat. Langsung mengalungkan sendiri liontin padam itu ke leher.
Lynx terkekeh. Kemudian bergerak pindah tempat untuk membantu Hazel memasangkan liontin. Ia sudah berdiri setengah lutut di belakang punggung kekasihnya itu. “Sini, biar kubantu.”
Memandangi punggung Hazel yang mulus dan putih pucat, juga leher jenjangnya yang nampak sexy, Lynx tersenyum nakal. Jemari panjangnya hendak menyentuh bagian yang seharusnya tidak ia sentuh.
“Kenapa malah diam? Kau tidak sedang berpikir macam-macam, 'kan? Meski kau meraung sambil menangis untuk meminta melakukannya lagi, aku tidak mau!” sentak Hazel yang sudah bisa menebak apa isi kepala kekasihnya itu.
Lynx lantas menggelak tawa, merasa lucu. “Tidak, tidak. Tenang saja.”
Setelah liontin itu terpasang dengan baik, Lynx tak lantas duduk seperti semula di tempatnya. Ia memilih untuk duduk di belakang tubuh Hazel. Merengkuh tubuh kekasihnya hingga saling berdempetan, sesekali tangannya mengusapi perut Hazel dari balik selimut.
Kepala Lynx menggeleng pelan, ia membenamkan wajahnya pada leher Hazel. Menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuh wanita yang ia peluk. Merasa nyaman berada di posisi ini.
“Sebentar saja. Aku ingin begini. Malam masih panjang. Besok lusa kita tidak bisa seperti ini. Jadi ayo nikmati waktu yang tersisa.”
Cukup lama mereka dalam posisi itu, Hazel mendadak ingin membahas suatu hal. Sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi ia rasa harus menanyakannya pada Lynx.
“Apa kau tahu kenapa Putri Ren tiba-tiba pergi tanpa berpamitan?”
Lynx membuka matanya. Keningnya tampak mengerut. “Hum? Memangnya dia pergi? Aku tidak tahu. Seharian ini aku berlatih. Yang kutahu dia bersama Ibuku. Dia membantu merawat Ibuku karena aku harus melakukan hal lain.”
“Ya, sewaktu aku pergi ke ruang bawah tanah bersama Aluka, aku tak sengaja melihatnya pergi dengan tergesa-gesa.” Hazel jadi khawatir, takut kalau ada hal buruk yang terjadi padanya.
__ADS_1
“Nanti biar aku yang menanyakan pada Ibu.”
***
Malam yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sejak tadi pagi seluruh penduduk dari Kerajaan Foxion dan juga para Kerajaan yang ikut melakukan aliansi, sudah diberi peringatan tentang adanya perang. Mereka dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Karena ruang bawah tanah tempatnya cukup sempit dan tidak baik juga dipakai sebagai tempat persembunyian, sebagian penduduk dialihkan ke Kerajaan lain yang memiliki fasilitas layak untuk bersembunyi.
Dan di malam ini, sesuai seperti apa yang Lynx katakan dari jauh-jauh hari, sekarang sudah waktunya untuk menunjukkan kemampuannya pada mereka semua yang sejak dulu selalu meremehkan.
Melalui tantangan yang dirinya ajukan pada San, Lynx siap membuktikan dengan cara membuat saudara tirinya itu bertekuk sambil mengakui kemampuannya. Tapi tetap Lynx tidak akan hilang kendali, ia hanya perlu menunjukkan dan mereka yang mengakui.
Ditonton oleh sebagian para penduduk, serta para anggota bangsawan lainnya termasuk dua Ibunda Ratu bersama Raja Arandelle, saudara-saudaranya pun hadir untuk melihat pertarungan ini. Hazel yang sedang hamil pun nekat untuk menonton.
Para semua penonton berkumpul di lapangan latihan yang luasnya cukup besar. Mereka duduk melingkari api unggun yang menyala-nyala, sementara keluarga bangsawan tentunya mendapat tempat istimewa untuk menonton.
Belum dimulai saja hawa yang dapat dirasakan begitu tegang dan mencekam, terasa sekali ambisi dari keduanya yang ingin saling menjatuhkan. Lynx dan San saling berdiri berhadapan dalam jarak beberapa meter, mereka saling memandang. Sama-sama melayangkan tetapan sengit.
Jack mendadak muncul membelah kerumunan, berjalan ke tengah-tengah lapangan untuk menemui mereka berdua. Menatap mereka secara bergantian, Jack merasa tak yakin kalau pertarungan ini akan berjalan lancar.
“Silakan gunakan kemampuan yang kalian miliki. Tapi aku berpesan, jangan sampai hilang kendali. Ingat, besok adalah hari besar kita. Dimana satu nyawa sangat berharga untuk berpartisipasi ke dalam medan perang.” Jack mengatakannya untuk berjaga-jaga saja.
Karena tahu ambisi mereka berdua bisa membawa ke dalam masalah yang besar. Mengingat bahwa kemampuan Lynx saat ini sudah meningkat cukup pesat, dan Jack tahu pastinya sihir yang sudah San kuasai tak mampu mengimbangi Lynx.
“Menang atau kalah. Kalian akan tetap menjadi diri kalian sendiri. Ini hanya menjadi ajang pembuktian. Tapi bagiku, itu tetap tidak penting. Tidak peduli siapa yang terkuat, yang bertahan sampai akhirlah dia yang menang.”
***
__ADS_1