Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 56 - Tak Mau Kalah.


__ADS_3

Malam ini adalah malam spesial, dimana Jack mengerahkan kemampuan yang dimilikinya untuk membuat para siluman rubah tidak akan kembali pada wujud rubahnya untuk sementara waktu. Ini semua demi mewujudkan acara yang menjadi ajang pembuktian kekuatan antara San dan Lynx.


Atmosfer tempat dimana diadakannya pertarungan mulai terasa tegang dan mencekam. Lynx sudah mengambil ancang-ancang, siap mengeluarkan pedangnya. Sementara San juga sudah mengacungkan tongkat sihirnya.


Lynx tidak mau mengambil langkah duluan, ia akan menunjukkan sesuatu pada mereka. Ketika San yang sudah tak sabaran mulai merapalkan mantra serta menggerakan tongkat sihirnya, perlahan sebuah cahaya mulai menghunus ke arah Lynx.


Sudah percaya diri kalau sihirnya mampu menumbangkan Lynx, tapi nyatanya San dibuat tercengang dan praduganya terpatahkan detik itu juga. Lynx yang dianggap akan mudah dibuat berlutut dalam sekejap mata — selayaknya saat dulu, tapi kini itu tidak berhasil.


Lynx memang tidak menghindari sihir yang diciptakan San, namun ia menangkisnya menggunakan sihir pula yang berasal dari pedang miliknya. Hal itu membuat mereka semua yang menonton jadi terkagum-kagum.


Dulu, Lynx hanya bisa menghindar tanpa bisa melawan. Karena pada dasarnya, sekuat apa pun tenaga yang dimiliki jika beradu dengan kekuatan sihir maka itu akan sia-sia. Hoki yang dia dapatkan hanya ketika mampu membuat sebelah mata San buta.


Dan sekarang, bukan hanya menggunakan kekuatan fisik saja. Sihir pun sudah bisa Lynx pelajari. Meski pun sihir tersebut bukan berasal dari tubuhnya, tapi itu jauh lebih baik dari sebelumnya yang tak mampu mengendalikan apa-apa.


“Sialan! Itu tidak mungkin!” bentak San, merasa tidak percaya bahwa sihirnya mampu ditangkis dengan mudah.


“Kenapa? Aku belum menunjukkan kemampuanku sepenuhnya, apa kau merasa takut sekarang? Lihat, kakimu gemetaran,” ledek Lynx sambil memberi tawaan sarkas.


San berdecih, rahangnya mengetat. Urat-urat di lehernya menonjol. “Jangan merasa sombong! Itu hanya permulaan. Lihat dan rasakan sendiri betapa besarnya sihir yang mampu aku kuasai.”


Tak menunggu balasan, mulut San sudah komat-kamit merapalkan mantra kembali. Tongkat sihir di tangannya berputar-putar, lalu mulai mengeluarkan energi berbentuk cahaya berwarna orange menyala yang terpisah-pisah bagaikan peluru yang menyerbu ke arah Lynx.


Sangat cepat, dalam hitungan detik serangan sihir yang dikeluarkan San menyerang Lynx tanpa ampun. Namun jika dipikir hal itu akan menyulitkan lawannya, San salah besar.


Langkah gesit juga gerakannya yang ringan, membuat tubuh Lynx meliuk-liuk melewati celah kecil antara sihir-sihir yang mengarah padanya. Lynx begitu santai tanpa merasa kewalahan sama sekali, menggerakan pedangnya untuk menangkis semua serangan itu.


Semua yang melihat mulai dilanda kecemasan. Pertarungan sudah terasa sengit. Penonton yang terbelah menjadi dua kubu tersebut merapalkan harapan dalam hati masing-masing. Terutama Ibunda Ratu Emely, dia mulai gelisah menyaksikan pertarungan mereka berdua.


“Jangan lupa berkedip, Hazel,” bisik Aluka seraya terkekeh, membuyarkan fokus calon kakak iparnya tersebut.


“Ah, aku hanya tidak menyangka kalau Lynx bisa berkembang secepat itu hanya dalam waktu beberapa bulan. Lihat gerakannya yang gesit tanpa merasa kesulitan itu, dia sangat luar biasa!” puji Hazel dengan manik yang berbinar-binar.


Ibunda Ratu Emely yang mendengar pembicaraan mereka berdua lantas mendumel dalam hati, mulai merasa pesimis. Ia juga sesekali melirik suaminya —Raja Arandelle, yang tampaknya sangat menikmati pertarungan ini.


“Sial, sampai kapan dia akan menangkis semua seranganku?! Apa dia tidak kenal lelah? Tch!” gumam San, merasa bosan karena Lynx tak kunjung memberi serangan balik. “Ah, tapi biarlah. Akan kumanfaatkan moment ini. Kubuat dia kelelahan sampai dia tak bisa menyerangku.” Bibirnya melengkungkan senyuman jahat.


Serangan sihir San jumlahnya meningkat lebih banyak. Siapa pun yang melihat itu akan geleng-geleng kepala karena tak sanggup membayangkan bagaimana caranya Lynx mengatasi semua serangan tersebut dalam satu waktu.


Tapi Jack percaya, bahwa Lynx mampu mengetahui apa yang seharusnya ia lakukan saat dalam posisi itu.

__ADS_1


Menggunakan waktu seperkian detik, Lynx tak lagi bergerak ke sana kemari untuk menangkis atau pun menghindari semua serangan. Sebaliknya, justru Lynx menerima semua serangan tersebut dalam posisi tenang.


Bagaimana bisa?


Tentu bisa. Ingat tudung sihir yang pernah dibuat Jack malam itu? Lynx sudah mempelajari bagaimana cara membuat tudung dalam berbagai ukuran, serta cara penggunanya agar tidak salah kaprah.


Serupa tameng, sihir yang keluar dari pedang dengan pertama ungu tersebut Lynx jadikan sebagai tudung pelindung untuk tubuhnya. Sehingga sekuat atau sebanyak apa pun sihir yang San keluarkan, Lynx akan tetap aman.


Lagi dan lagi, hal yang dilakukan Lynx memicu perhatian orang-orang untuk berbisik-bisik kagum. Kemampuan Lynx yang meningkat pesat, membangkitkan rasa percaya dalam diri para penduduk yang sempat pesimis akan perang yang terjadi esok.


“Dasar lemah! Mengapa kau hanya diam tanpa melakukan serangan apa pun?! Jangan karena apa yang dikatakan Jack tadi, kau terus bertahan dalam posisi itu sampai kau diakui menang! Ayo lawan aku, tunjukkan apa yang kau bisa!” teriak San, ia mulai lelah karena terus mengeluarkan sihir.


Lynx tersenyum smirk. Kalau begitu mau San, maka dirinya tidak akan segan untuk melakukan apa yang sudah seharusnya ia lakukan sejak tadi. Tanpa merasa berat atau pun tertahan ketika melangkah maju sembari mengikis sihir-sihir yang terus berusaha menembus tudung penghalang tubuhnya, Lynx terlihat amat santai.


San dibuat kelimpungan hanya dengan melihat ekspresi datar yang ditunjukkan Lynx, sementara dirinya berusaha mati-matian untuk tetap stabil saat mengeluarkan sihir serta membutuhkan kefokusan yang kuat. Terlebih lagi, energi dalam tubuhnya perlahan terkuras habis-habisan.


Jadi, bagaimana bisa Lynx setenang itu?


Kisaran jarak satu meter, Lynx mulai merasakan kedua kakinya terasa berat untuk melangkah. Berusaha untuk mendorong kekuatan sihir yang masih memaksa untuk menembus tudung yang dibuatnya, Lynx dapat merasakan bahwa San sedang berusaha kuat untuk mendorong balik.


Mereka sama-sama saling mendorong. Menciptakan arus dari energi sihir yang saling berlawanan. Banyak penonton yang menggigit jari saat melihatnya, mulai bertanya-tanya, siapakah yang akan tumbang dalam pertarungan ini?


CRACK!!!


Hancur.


Tudung sihir yang dipasang untuk melindungi dari berbagai serangan sudah hilang. San mampu menghancurkannya setelah mengerahkan segala tenaga yang tersisa.


Tapi ... Kemana perginya Lynx? San merasa dirinya cukup awas untuk memerhatikan pergerakan lawannya itu. Tapi mendadak dihadapannya saat ini tidak ada keberadaan Lynx.


Tak hanya San, semua yang sedang menonton pun dibuat bingung. Hanya dalam waktu beberapa detik, kemana perginya Lynx dengan begitu cepatnya?


“Perhatikan baik-baik dimana lawanmu berada,” celetuk Lynx, suaranya berasal dari atas, tepat dari arah belakang tubuh San.


Pada sebuah pohon yang besar, Lynx berjongkok di atas dahan kuat dan kokoh. Bagaikan ninja yang lihai dalam memanjat, pesona Lynx begitu mengagumkan. Rambutnya yang mulai memanjang terkibas angin, penutup mata di sebelah kirinya tak mengurangi ketampanan yang dimiliki.


San meneguk ludah saat menangkap senyum yang ditunjukkan Lynx. Terlihat agak mengerikan. Sosoknya yang berada di atas sana tertutupi oleh rimbunnya pohon, tapi masih disoroti cahaya bulan yang benderang melalui celah-celah dedaunan.


Menggerakan tongkat untuk menghancurkan dahan yang menjadi pijakan Lynx melalui sihirnya, tapi itu tak cukup membuat lawannya itu terjatuh. Justru Lynx bergerak dari satu tempat ke satu tempat bagaikan katak yang melompat-lompat.

__ADS_1


Mencoba membuat semacam shuriken melalui sihir yang ia keluarkan dari telapak tangan, lebih dari puluhan benda tajam itu San tiupkan ke arah Lynx yang saat ini tengah bergerak lincah untuk mendekat.


Sayang seribu sayang, entah karena Lynx yang terlalu gesit atau memang San sedang apes sebab semua serangan yang diluncurkannya sama sekali tak ada yang bisa menyentuh tubuh Lynx. Sekali pun jika itu adalah rambutnya yang mengibas-ngibas saat bergerak lincah.


Drap!


Drap!


Drap!


Semua langkah kaki Lynx saat mendarat pada tanah selepas melompat-lompat di udara terdengar menggema dan sedikit mengguncang permukaan. Membuat San kelabakan sendiri, bingung harus melakukan apa lagi agar bisa mengalahkan Lynx.


Saat Lynx tengah tertawa bagaikan villain yang sedang membalaskan dendamnya seraya bergerak mendekat dengan mengacungkan pedangnya, San mengeluarkan senjata terakhirnya. Yang mana setelah ini dirinya tak memiliki hal lain lagi untuk dilakukan.


Tongkat sihirnya berubah, ia gunakan sebagai tombak yang apabila berhasil menghunus permukaan kulit siapa pun itu akan berefek sangat besar. Bisa juga melumpuhkan dalam hitungan detik.


Di saat Lynx sudah merasa percaya diri bahwa pertarungan ini akan segera ia menangkan setelah mendorong San ke tanah dengan memberinya sedikit penekanan, ia lengah sesaat sebab tak menyadari tongkat sihir San sudah berubah menjadi senjata lain dengan begitu cepat.


Dan pada akhirnya ...


BLAZ!


San yang sudah pasrah akan akhir pertarungan dan siap untuk menerima kekalahan, bahkan ia memejamkan mata sambil menggerakan senjatanya dengan asal. Tapi siapa yang mengira bahwa senjata itu akan menembus lengan kiri Lynx hingga menghentikan pergerakannya yang akan menumbangkan San?


Semua yang melihat dengan saksama pun terkejut. Jack yang sebelumnya santai-santai saja, kini mulai khawatir saat melihat Lynx terdiam dalam keadaan lengan yang mengucurkan darah segar. Hazel yang sudah seperti terkena serangan jantung, hanya bisa menutup mulut sambil berusaha untuk menormalkan pernafasannya.


Ibunda Ratu Emely merasa mendapat mukjizat atau keajaiban. Sebelumnya ia sudah ingin meninggalkan tempat ini, masa bodo dengan putranya yang bodoh itu. Tapi ternyata San mampu membuat keadaan berbalik di detik-detik terakhir.


“Kau kalah! Aku berhasil melukaimu!” San berteriak sumringah ketika mengetahui senjata miliknya berhasil menancap pada lengan Lynx.


Lynx memasang wajah evil, kepalanya yang menunduk perlahan ia angkat untuk menatap San, menusuknya dengan tatapan tajam. “Bagaimana bisa kau mengklaim kemenangan di saat lawanmu belum berhasil kau tumbangkan?”


Tanpa merasa kesakitan sama sekali, benda tajam semacam tombak berukuran sedang itu Lynx cabut secara paksa. Sehingga darah yang mengalir semakin deras, membasahi seluruh pergelangan tangannya hingga sebagian menetes ke tanah.


“Luka seperti ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan saat dulu, dimana kau menghina dan meremehkanku. Luka ini bisa sembuh dalam beberapa hari, tapi luka yang kau torehkan sedari dulu masih basah dalam ingatan!”


Lynx mematahkan senjata yang sudah melobangi lengan kirinya. Karena senjata itu sudah menjadi bagian dalam diri San, otomatis saat dipatahkan San merasakan sesuatu terjadi dalam tubuhnya.


Tak tahan merasakan sakit yang teramat sangat, San bertekuk di atas tanah sambil meringis memegangi dadanya. Seharusnya Lynx tidak melakukannya, tapi ia tidak mau hanya dirinya yang terluka di sini. Sesekali Lynx ingin egois juga.

__ADS_1


“Aku membuatmu bertekuk sekarang. Jadi, bagaimana? Rasakan kesakitan itu. Kesakitan yang masih tak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan dulu padaku.”


***


__ADS_2