Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 63 - Tak Sesuai Harapan.


__ADS_3

Lynx berusaha duduk, memegangi tubuh Jack yang masih bersandar pada dadanya. Pandangannya fokus ke depan, melihat ledakan api yang keluar dari benda-benda kecil yang dilemparkan oleh tank tempur di sana.


Bunyinya berdentum-dentum, amat memekakkan telinga. Saking besarnya api di tengah-tengah tempat peperangan terjadi, semuanya terpantul dalam netra Lynx. Teriakan dan rintihan dari mereka yang terjebak dalam kobaran api terdengar memilukan, membuat Lynx merinding sebadan-badan.


“Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku hanya menonton tanpa bisa melakukan apa-apa?” gumam Lynx penuh penyesalan, pandangannya mulai kosong membuat ekspresi datar.


Marah, kecewa, putus asa. Semua perasaan itu bercampur dalam diri Lynx. Rencana yang sudah disusun tak berjalan sesuai dengan keinginan, semuanya berubah jadi kacau balau. Di hari pertama peperangan saja pasukan sudah berkurang sangat banyak, apa mungkin Lynx mampu menepati janjinya?


“Pa-pangeran, ugh...” Suara merintih ini membuat fokus Lynx teralihkan, kepalanya menoleh ke sumber suara untuk melihat siapa yang memanggilnya.


Ternyata itu adalah Jexie, kuda hitam dengan luka parah karena kehilangan sebelah sayapnya sedang merintih tak berdaya di atas semak-semak. Tubuh besarnya terkapar, membiarkan darah mengalir ke mana-mana.


“Jexie?” Lynx ingin menghampirinya. Jack yang tak sadarkan diri, ia bopong dengan kedua tangan.


“Aku tidak apa-apa, Pangeran.” Jexie memaksakan diri untuk bangun, menekuk kedua kakinya dan duduk menghadap Lynx. “Yang terpenting kita harus ke tenda dimana tim medis berada. Tuan Jack harus segera diberi pertolongan.”


Lynx tersenyum sedih, tangannya terulur ke depan untuk mengusap wajah Jexie yang juga terluka karena digigit oleh serigala sebelumnya. “Bukan hanya dia yang butuh pertolongan. Tapi kau juga. Bagaimana dengan kakimu? Masih bisa berjalan sampai ke sana?”


Jexie mengangguk. “Aku tidak bisa terbang, tapi aku masih bisa untuk berjalan.” Tubuhnya sudah berdiri dengan kedua kaki yang gemetaran. “Taruh saja tubuh Tuan Jack ke atas punggungku.”


Kepala Lynx menggeleng. “Tidak perlu. Aku kuat menggendongnya. Pikirkan saja dulu kondisimu. Kau sudah melakukan yang terbaik, Jexie. Kau tak perlu berusaha melakukan apa-apa dulu untuk saat ini.”


Mereka pun berjalan beriringan. Setiap jalan setapak yang mereka lewati, darah berjatuhan dan membuat jejak sebagai lintasan. Di sepanjang perjalanan, Lynx tidak menghiraukan rasa sakit yang mendera tubuhnya.


Tidak peduli saat ini ada bilah-bilah pedang yang menancap pada tangannya, dan juga tidak menghiraukan tubuhnya sudah dibanjiri darah segar yang bau amis. Lebih dari itu, Lynx memikirkan tentang apa yang harus dirinya lakukan nanti.


Karena hal ini, tentunya perang selanjutnya akan ditunda sampai besok. Hari juga sudah hampir gelap. Para pasukan pasti akan bertransformasi menjadi rubah, dan itu akan menyulitkan mereka untuk berperang nantinya.


Setelah sampai di tenda tempat tim medis berada, beberapa siluman ular datang menghampiri. Putri Ren yang sudah disibukkan sejak beberapa jam lalu karena harus mengurusi banyak pasukan yang terluka, mendadak ikut menghampiri Lynx saat melihat Jack ada dalam gendongan pria tersebut.


“Pangeran Lynx! Astaga!” Langkahnya yang tengah berlarian begitu tergopoh-gopoh, tubuhnya menyalip dengan gesit di antara tubuh siluman lain yang sedang berlalu lalang.


“Apa yang terjadi dengan Jack? Apa dia terluka parah?” Putri Ren bertanya tak sabaran, pandangan matanya sedikit pun tak ia alihkan dari Jack yang sedang terpejam tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Eum.” Lynx mengangguk. “Tolong, ya. Dia butuh pertolongan secepatnya. Dan juga bantu Jexie. Dia yang paling parah di sini. Dia kehilangan sebelah sayapnya. Mungkin butuh waktu sampai dia benar-benar sembuh.”


“Baik, aku mengerti.” Putri Ren memberi kode pada tim pasukannya untuk membawakan tandu. Mereka menaruh tubuh Jack ke atas tandu tersebut dengan hati-hati, sedangkan Jexie langsung dituntun ke tempat yang berbeda.


“Bagaimana denganmu, Pangeran?” Netra Putri Ren menyorot sebelah lengan Lynx yang terluka parah. “Bilah-bilah pedang di sana mesti dicabut, lalu lukanya harus segera diobati.”


“Urus saja yang lain. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Kita kekurangan tim bukan? Pastikan kalau mereka sembuh dengan total. Beri mereka makanan. Aku—”


“Jangan bicara seperti itu.” Putri Ren langsung menarik lengan Lynx, mengajaknya masuk salah satu tenda. “Kita tidak membedakan semua pasien. Siapa pun yang terluka, mesti diobati. Kau inti dari pasukan yang bisa mengangkat kemenangan, jadi kau tidak bisa diabaikan begitu saja.”


Putri Ren menyerahkan Lynx pada tim medis yang lain untuk diberi perawatan intensif. “Tolong obati Pangeran Lynx dengan obat-obatan yang paling mujarab. Semua ramuan aku taruh di belakang, jika kurang kalian bisa meminta para ular yang ada di dalam kandang untuk mengeluarkan bisanya. Aku akan segera meraciknya nanti.”


Setelah mengatakan hal tersebut dan memastikan bahwa Lynx mendapat pengobatan, Putri Ren segera pamit untuk mengontrol pasien yang lain. Walau sebenarnya ia berniat untuk mengurus Jack yang saat ini terluka cukup parah.


“Firasatku mendadak tidak enak,” bisik Putri Ren sambil mempercepat langkah.


***


Mencegatnya untuk tidak pergi terlebih dahulu, burung tersebut mengeluarkan suara nyaring begitu berisik. Terbang mengelilingi tubuh San dengan gelisah. Seolah-olah memang sedang menyampaikan kabar buruk.


San membiarkan burung itu berada di telapak tangan, lalu kedua matanya memancarkan cahaya yang menampilkan runtutan kejadian. Mengamati dengan saksama apa yang terjadi, San dibuat tertegun tanpa bisa berkedip.


“Sangat parah.” Ia bergumam, merasakan kekosongan dalam diri yang mendadak bulu kuduknya merinding.


“... Bahkan siluman sekuat Lynx, yang pernah mengalahkanku malam itu, tidak bisa membuat keadaan berbalik. Semuanya berada di tempat persembunyian untuk diobati,” tambahnya.


Raja Arandelle yang kebetulan melintas tak jauh darinya, mendengar hal tersebut. Karena penasaran ia pun mendekat. Melihat sendiri bagaimana kejadian di tempat peperangan.


“Jika kau datang ke sana pun, kau hanya berperan sebagai debu di peperangan. Dengan kemampuanmu yang lemah, kau akan mudah dibuat mati. Terima saja takdirnya, kita semua akan kalah dan mati secara mengenaskan,” celetuk Raja Arandelle, ingin membuat semangat San hancur.


Namun ternyata San malah mengulas senyum meremehkan, “Menjadi debu di peperangan lebih baik, ketimbang kau yang tak sama sekali melakukan peran apa-apa. Bahkan mencium bau dari darah peperangan saja tidak. Jadi, kata lemah yang kau bicarakan seharusnya ditujukan pada siapa?”


“Aku yang pergi dan rela mengorbankan nyawa, tak bisa dibandingkan dirimu yang hanya sibuk mengkritik tanpa bisa menunjukkan tugasmu sebagai Raja. Mahkotamu itu hanya pajangan. Dari Raja yang pernah ada di negeri ini, kau yang paling terburuk!” imbuh San seraya menaikan nada bicara.

__ADS_1


PLAK!


“Dasar tidak tahu terima kasih! Jika aku adalah Raja yang terburuk, kau adalah putra yang terburuk bagiku!” teriak Raja Arandelle setelah mendaratkan tamparan pada pipi putranya tersebut.


San menggedik bahu, masih berekspresi dengan tenang. “Setelah ditampar dengan kenyataan, kau malah ikut menamparku secara betulan.” Tubuhnya berbalik membelakangi. “Nikmati masa-masa tuamu sebelum posisimu digulingkan secara paksa oleh penduduk.”


***


“Astaga! Tubuhnya panas sekali,” jerit Putri Ren setelah menyentuh dahi Jack, pria itu terpejam namun sesekali meracau tak jelas.


“Pakaiannya penuh darah. Ada baiknya aku menggantinya dengan yang baru. Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku hanya ingin mengganti,” ujar Putri Ren setengah gugup, berharap apa yang dilakukannya saat ini tidak di salah pahami.


Saat membuka pakaian bagian atas, Putri Ren langsung dikejutkan dengan luka bakar yang ternyata sudah menjalar ke mana-mana. Lengan kiri Jack yang diperban sudah dibuka, dan ternyata kulitnya menghitam seperti luka bakar. Lukanya menjalar sampai setengah dada.


“Pantas saja kau merasa kepanasan,” gumamnya penuh kekhawatiran. Dia mulai mengompres luka bakar tersebut dengan lap basah.


“Tapi dari mana dia mendapatkan luka bakar ini?” Dahinya berlipat, merasa bingung.


Jika dilihat dari luar, memang kondisi Jack tidak terlalu parah. Tapi setelah dilihat tubuh bagian dalamnya, luka-luka yang tersembunyi itu nampak dengan jelas. Putri Ren tahu ini kondisi yang serius, dapat merasakan ada sesuatu yang menghambat aliran darah pria itu.


“Eung...” Jack mengerang, kedua kelopak matanya perlahan-lahan terbuka. Langsung beradu pandang dengan Putri Ren yang duduk di samping.


“A-aku sedang mengobatimu. Bertahanlah sebentar. Dan maaf jika membuatmu tidak nyaman,” jelas Putri Ren sembari memasang senyum kikuk.


“Lynx ... Tolong panggilkan, Lynx,” pintanya dengan suara terlampau parau.


“Lynx? Tapi dia sedang—”


“Aku di sini, ada apa?” Tiba-tiba saja sosok Lynx datang tanpa diketahui, kemungkinan dia memang sudah menunggu di luar tenda sejak tadi.


Jack mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Putri Ren, “Bisa tinggalkan kami di sini sebentar? Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan padanya.”


***

__ADS_1


__ADS_2