
Berhasil mengeluarkan Atlas dari dalam jeruji besi menggunakan tenaga kuatnya, tak lupa rantai yang mengunci sebelah kaki Atlas pun sudah Lynx potong menggunakan pedangnya. Sehingga saat ini tubuh ringkih pria tua tersebut sudah berada dalam gendongannya.
Mereka berdua sudah keluar dari ruangan bawah tanah, mulai menjelajahi setiap lorong yang akan mengantarkan mereka pada sebuah ruangan yang menjadi titik pusat sistem keamanan Kerajaan Maggie. Sebagai penunjuk jalan, Atlas begitu fasih menyebutkan arah-arah tempat yang mesti dituju untuk menuntun Lynx.
Selama ratusan tahun lamanya dikurung dalam ruangan bawah tanah karena bagi mereka Atlas tak lagi berguna juga dianggap sudah tak ingat apa pun, hanya karena ditanamkan sihir sehingga sampai saat ini raganya yang sudah rapuh itu tetap abadi.
Tapi siapa yang menyangka? Bahwa selama ini Atlas hanya berpura-pura. Dia sebenarnya masih ingat semuanya. Bahkan hal kecil, mau pun tentang pembangunan untuk memajukan Kerajaan Maggie, atau pun tentang proses pembuatan alat-alat canggih rancangannya.
Hanya saja Atlas tidak mau melakukannya lagi. Tidak mau terus mengabdi pada Kerajaan Maggie, tunduk di bawah kaki Raja Barney untuk menjalankan perintahnya. Sebab sedari awal, dirinya tak pernah setuju untuk berada dipihak mereka. Karena sebuah alasan yang mau tak mampu ditolak, terpaksa Atlas melakukan hal gila sampai sejauh ini.
“Belok kiri!” suruh Atlas, telunjuk keriputnya mengarah sesuai dengan ucapannya.
“Kau yakin?” Lynx melirik sekilas, kaki panjangnya tak berhenti untuk berlari cepat. “Sejak tadi kita hanya berputar-putar saja. Belok kanan, kiri, tapi kita tidak menemukan ujungnya.”
“Lakukan saja. Aku tahu semua hal yang ada di sini. Jangan karena aku sudah tua, kau berpikir aku sudah pikun. Kita sedang berada di ruangan yang mirip seperti labirin, wajar jika sejak tadi kita hanya berbelok-belok saja,” pungkas Atlas, membuat Lynx mengangguk patuh.
Benda yang terpasang disudut ruangan untuk merekam kejadian dan mengirimnya secara langsung agar bisa dilihat oleh Raja Arandelle, sepertinya akan selesai diperbaiki. Bisa gawat jika lokasi keberadaan Lynx bisa terlacak, dan pada akhirnya usahanya untuk sampai ke ruangan inti di Kerajaan ini akan sia-sia.
Sementara itu...
“Sialan!”
“Dasar tidak berguna!”
Umpatan-umpatan itu dilayangkan Raja Barney pada tiga siluman yang sempat diperintahkan untuk menculik Hazel. Mereka pulang dengan tangan kosong, tidak membawa apa yang diinginkan sang Raja. Tentunya mereka tidak akan dibiarkan lolos begitu saja, hukuman mungkin sudah menanti.
“Kalian pikir dengan menghancurkan Istana mereka bisa membuatku senang? Tidak sama sekali! Yang aku inginkan hanya manusia itu. Aku ingin dia melahirkan bayinya di sini. Tapi apa? Tugas kecil seperti itu saja kalian tidak bisa melakukannya. Dasar memalukan!” Raja Barney berkacak pinggang, wajahnya memerah padam akibat emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.
Sedang tiga siluman yang menghadap padanya tengah bersimpuh dengan kepala yang menunduk takut. Mereka bertiga yang bertanggung jawab atas tugas ini, otomatis mereka yang akan dimarahi habis-habisan.
“Percuma mengirim kalian kembali ke sana. Aku yakin, manusia itu tidak akan bisa kalian tangkap. Aku akan mengganti rencana! Dan tentunya bukan kalian yang akan menjalankan rencana itu,” sambung Raja Arandelle, tubuhnya berbalik membelakangi ketiganya.
Kepalanya menoleh tanpa membalikan badan, memberi tatapan bengis pada mereka. “Mengirim kalian ke neraka adalah hukuman yang terbaik. Siluman bodoh dan tidak becus kalian tidak pantas hidup!”
Deg.
Mereka bertiga yang masih duduk bersimpuh, mendadak langsung mendongak saat mendengar perkataan tersebut. Wajah mereka menunjukkan ekspresi ketakutan yang mendalam. Bibir mereka gemetaran, satu di antara mereka langsung bersujud dan diikuti dengan yang lain. Mereka memohon-mohon di bawah kaki sang Raja.
“Penggal kepala mereka satu per satu!” tandas Raja Barney, memberi perintah kepada para penjaga yang sedang menyimak obrolan sedari tadi.
Setelahnya, Raja Barney angkat kaki dari ruangan, langkahnya menghentak-hentak lantai. Ia melenggang pergi tanpa memedulikan permohonan mereka sembari meraung-raung. Berjalan sambil mendumel sendirian, memaki-maki atas kebodohan bawahannya yang membuatnya naik pitam.
“Tidak ada yang berjalan lancar! Semuanya jadi kacau balau. Ditambah, siluman rubah yang masih bersembunyi di dalam Istana ini masih belum ditemukan. Perlukah aku yang turun tangan untuk menyelesaikan semua masalah ini?” Kerutan di atas alisnya membuat ekspresinya terlihat benar-benar menakutkan.
***
Lynx dan Atlas sudah berada di tempat yang mereka tuju. Ruangan inti di dalam Istana, yang mana tidak sembarangan siluman dapat memasukinya. Ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam sistem keamanan dari alat-alat canggih yang dimiliki Kerajaan Maggie.
“Pintunya tertutup. Jika aku memaksa masuk dengan cara merusaknya, itu akan membuat gaduh dan tentunya memancing banyak perhatian,” gumam Lynx dengan pandangan fokus mengintip ke ruangan yang berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri.
Ketika pintu yang mereka amati terbuka, Buru-buru Lynx menarik tubuhnya untuk bersembunyi dibalik dinding. Menyembulkan kepalanya sedikit, kembali mengintip untuk mencari tahu siapa yang keluar dari dalam ruangan tersebut.
“Itu penjaga yang bertugas,” bisik Atlas memberitahu.
__ADS_1
Lynx mengangguk paham. “Baiklah. Kalau begitu ini saatnya!” Kaki panjangnya mengambil ancang-ancang, sebelah tangannya mengeluarkan pedang. Sementara tangan satunya lagi ia gunakan untuk menopang tubuh Atlas yang masih setia berada di atas punggungnya.
Berlari secepat kilat, Lynx menghampiri siluman anjing yang baru saja keluar dari ruangan. Pedang di tangan kanannya ia kibaskan ke arah mereka sebelum kepala dua siluman itu menoleh padanya. Hanya dalam hitungan detik, kepala mereka terlepas dari tubuhnya. Darah yang menyembur sedikit membasahi sebagian wajah Lynx, sisanya menyebar ke dinding dan ke lantai.
Sebelum pintu ruangan tertutup, dengan segera Lynx menahannya dengan pedang yang ia lemparkan ke tengah-tengah pintu. Darah yang tertinggal di bilah pedang tersebut membuat dirinya dan Atlas bisa masuk ke dalam ruangan. Sensor cahaya tidak mendeteksi keberadaan siluman asing.
“Ah, ternyata kau bisa berpikir sampai ke sana,” ucap Atlas yang sebelumnya sempat ketar-ketir.
Lynx tersenyum bangga. “Jangan remehkan aku.”
Kembali mengambil pedang, pintu ruangan langsung tertutup otomatis. Beberapa siluman yang ternyata masih ada di dalam, masih belum menyadari keberadaan Lynx dan Atlas. Mereka sibuk berhadapan dengan layar-layar monitor serta fokus pada kabel-kabel listrik yang ada pada kerangka robot setinggi sepuluh meter.
“Kenapa kau kembali begitu cepat? Apa kau sudah...” Ucapan dari siluman anjing yang belum membalikan badannya itu terhenti, mungkin merasakan ada sesuatu yang janggal.
“Tunggu.” Tubuhnya mulai berbalik. Matanya membulat saat mendapati Lynx bersama Atlas yang sudah ada dibelakangnya. “Ka-kalian?!”
“Hello!” Lynx melambai singkat, pedang di tangannya ia arahkan padanya. Tak butuh waktu lama, urat nadi di leher siluman anjing itu ia putuskan menggunakan pedang. Sehingga darah langsung mengucur dari sana.
“Ada ap—” Siluman lain yang tampaknya mulai merasakan ada kecurigaan, lantas menoleh ke sumber suara. Pada pandangan pertama, ia langsung disuguhi oleh kejadian yang membuat matanya melotot sempurna.
Rekan satu pekerjaannya sudah terkapar dengan mengeluarkan percikan cairan merah pekat dari batang lehernya, darah merembes membuat lantai putih berubah menjadi genangan merah bau amis.
“Ka-kau?! Bagaimana bisa kau keluar dari penjara bawah tanah?!” Pandangannya langsung menyorot Atlas yang berdiri gemetaran di samping tubuh Lynx.
“Biar aku yang mengurusnya. Kau fokus merusak sistem-sistem di sini saja,” ucap Lynx seraya berjalan mendekat pada siluman anjing yang sudah gelagapan di depan sana.
Atlas mengangguk. Dia mulai berjalan, mencari tombol-tombol penting yang harus ia utak-atik. Untungnya, para siluman anjing yang berjaga di sini tidak banyak. Mungkin sebagian sedang ada di ruangan lain untuk memeriksa dan menyortir alat-alat yang akan digunakan dalam peperangan nanti.
Sementara Lynx, ia tanpa basa-basi mengayunkan pedangnya dengan lincah sebelum siluman anjing itu menggunakan sihirnya. Satu, dua, dan lebih dari lima orang yang kebetulan mulai berdatangan sudah Lynx tumbangkan menggunakan pedangnya.
“Jangan mendekat! Sihirku bisa membuatmu terluka tanpa perlu aku menyentuhmu,” ancamnya dengan suara sedikit gugup, mantra yang mulai ia rapalkan tanpa suara segera Lynx hentikan dengan menusuk perutnya tanpa aba-aba.
“Ugh... Uhuk!” Dia memegangi perutnya yang terluka, darah mulai ikut mengalir di mulutnya. “Sialan! Jika kau berhadapan dengan para petarung di Kerajaan ini, kau pasti sudah mati!” umpatnya sesaat sebelum tubuhnya mulai ambruk.
Tapi sebelah lengannya masih menyempatkan untuk menekan tombol, dan sirine nyaring mulai terdengar tak lama setelahnya. Sepertinya tombol tersebut ditekan untuk keadaan darurat saja.
Lynx yang tahu keadaan sudah mulai runyam dan mendesak, buru-buru datang ke arah Atlas. Melihat apa yang sedang dilakukan pria tua tersebut. Lynx tidak mengerti sama sekali cara kerja dari ratusan tombol yang sedang ditekan oleh Atlas. Layar-layar monitor dihadapannya pun menunjukkan gambar-gambar yang tak ia pahami.
“Angkat tangan kalian dan taruh pedang itu! Menyerah lebih baik sebelum kami menangkap kalian dengan cara yang paling keji!” Suara lain muncul, disusul oleh suara derap langkah kaki yang mulai berdatangan masuk ke dalam ruangan ini.
Lynx menoleh sebentar ke arah pintu, sekitar lebih dari sepuluh siluman anjing lengkap dengan senjata di tangannya mulai menyerbu ke arahnya. Tubuh gagahnya ia pakai sebagai tameng, menjaga Atlas dari serangan yang berdatangan.
“Lakukan saja apa yang harus dilakukan. Aku akan menghalau mereka sebisa mungkin. Jangan pikirkan aku,” bisik Lynx pada Atlas, menyuruhnya untuk fokus.
Bergerak gesit, Lynx berpikir untuk menahan atau pun menangkis serangan-serangan tersebut menggunakan pedangnya. Tapi ketika para siluman anjing di sana mulai mengeluarkan senjatanya, suara kongkangan mulai memenuhi gendang telinga, keberanian Lynx sedikit menciut.
Suara-suara berdentum yang memenuhi ruangan membuat jantung lebih berdegup kencang. Serangan berupa peluru-peluru yang keluar dari pistol dengan bentuk beraneka ragam seketika keluar secara bersamaan.
Terkejut, Lynx tak mungkin bisa menangkis semua serangan tersebut menggunakan pedang yang ada di tangannya. Jika bergerak sedikit untuk menghindari serangan-serangan di depan sana, Lynx tahu Atlas yang berdiri di belakangnya akan menjadi korbannya. Apa pun yang terjadi, Atlas tidak boleh terluka.
Buntu. Otaknya tak bisa dipakai berpikir saat ini. Bola matanya bergerak cepat, mengamati semua peluru-peluru yang kian melesat ke arahnya. Mulai pasrah, mungkin ini akhir dari hidupnya. Matanya menutup sekejap, tapi anehnya lebih dari lima detik ia tak merasakan apa pun.
Ketika matanya terbuka untuk melihat apa yang terjadi, peluru-peluru yang hendak menghantam ke arahnya tadi sekarang mulai berjatuhan ke lantai. Terhalang oleh tudung sihir yang entah muncul dari mana. Lynx bingung, tapi jika melihat tudung ia jadi teringat seseorang.
__ADS_1
Kepalanya menunduk, melihat liontin milik Jack yang sinarnya berkedip-kedip. Seperti memberi sinyal. Bibirnya tersenyum, mulai menyentuh liontin tersebut. Mulutnya menggumamkan ungkapan terima kasih seraya mengingat sosok Jack.
Suara sirine kembali terdengar, diiringi oleh cahaya merah kerlap-kerlip yang memenuhi seisi ruangan. Pertanda bahwa ruangan yang mereka pijaki ini sedang bermasalah. Apa mungkin Atlas berhasil membobol sistem keamanan Kerajaan Maggie?
Perlahan-lahan lampu yang menjadi penerangan mulai padam, suara mesin-mesin yang bekerja mengeluarkan suara yang menandakan seperti habis batrai. Meredup, suaranya nyaris melenyap. Lynx sudah bersiap untuk bersorak merayakan keberhasilan. Tapi ketika kepalanya menoleh untuk melihat Atlas, ia terdiam tanpa bahasa. Hanya bibirnya yang mulai terbuka, terlihat shock.
“Atlas?” Lynx memanggil pelan, tubuhnya mulai berbalik. Menatap tubuh Atlas yang tengkurap di atas puluhan tombol-tombol, sebagian darah yang entah pusatnya dari mana sudah mengalir ke bawah.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” Lynx panik. Hingga lupa kalau saat ini dirinya tidak boleh lengah, di belakang sana para pasukan yang menyerangnya tampak tertawa-tawa.
Sejenak, suara gelakan tawa mereka semua terhenti. Mendadak hening, tapi Lynx masih belum menyadari keadaan sekitar. Hingga akhirnya terdengar suara derap langkah kaki yang memecah suasana sunyi berbalut tegang. Ada yang datang rupanya. Dia sudah masuk dan mulai mendekat pada Lynx.
“Apa yang kau harapkan darinya? Sejak awal, dia sudah terikat dengan kami. Berusaha melindunginya bagaimana pun, kami dengan mudah dapat memusnahkannya. Sihir yang mengalir di tubuhnya membuat kendali raganya ada di tanganku.”
Suara barusan...
Lynx ingin menoleh untuk memastikan.
Tapi belum sempat tubuhnya berbalik dan melihat siapa yang barusan berbicara, malangnya sebuah benda tumpul melayang ke arah belakang leher Lynx. Begitu kencang, hingga menimbulkan bunyi nyaring. Membuat pandangannya mendadak berbayang, rasa pusing yang mengganggu pun tak dapat terelakkan.
BRUK!
Jatuh. Terkapar. Tak sadarkan diri.
Mereka yang melihat Lynx jatuh begitu mudahnya, langsung melebarkan senyum senang. Dia yang membuat Lynx tak sadarkan diri segera menggelak tawa jahat. Villain sesungguhnya sudah turun tangan.
“Bawa dia ke ruangan penyiksaan. Aku ingin bermain-main dengannya sebentar. Akan lebih seru jika melakukannya saat dia sadar nanti. Dan untuk si tua bangka itu, kembalikan dia ke ruang bawah tanah. Kali ini pastikan agar dia tidak kabur. Tidak ada kesempatan baginya untuk pura-pura amnesia lagi,” perintahnya seraya membalikan badan.
“Baik, Paduka Raja.”
***
Ketika malam hari sudah tiba, Hazel masih berusaha menahan rasa sakit yang tak tertahankan, dibantu oleh Putri Ren yang sudah membawa siluman ular lain untuk membantu proses persalinan yang mendadak ini. Sudah hampir lebih dari dua jam lamanya mereka berkutat, melakukan banyak cara untuk mengeluarkan bayi di dalam perut Hazel.
Seluruh kulit Hazel memucat, tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Keringat sebesar biji jagung tidak pernah berhenti keluar membasahi seluruh permukaan wajahnya. Suaranya pun sampai serak, nyaris habis dipakai untuk berteriak sebab tak tahan dengan rasa sakit yang luar biasa.
Diperkirakan bayi yang akan dilahirkan Hazel prematur, itu sebabnya proses persalinannya sangat menyulitkan. Kurangnya keahlian, alat yang akan digunakan, serta ini adalah pengalaman pertama kalinya Putri Ren dalam membantu seseorang untuk melahirkan. Ditambah, yang akan melahirkan sekarang adalah seorang manusia.
Putri Ren menghembuskan nafas gelisah. Mengusap peluh di dahi, lalu mulai beranjak naik dari mata air. Ingin beristirahat sejenak. Sementara Aluka, sejak tadi ia duduk di atas kelopak bunga teratai di samping Hazel untuk memegangi tangannya.
“Aku merasa kehadiranku di sini hanya akan memperburuk keadaan. Aku tidak mengerti harus bagaimana. Ramuan yang kuracik, tak membantu Hazel sama sekali. Berbagai macam pernafasan yang sudah dicoba untuk mengeluarkan bayi nya tidak berpengaruh. Aku khawatir kalau...”
Ucapan Putri Ren tertahan ketika mulai menyadari suasana di sekitar berubah. Tepatnya sinar rembulan yang menerangi mendadak berubah warna. Bukan lagi putih benderang. Melainkan oranye pekat. Saat menanggah, bulan di atas sana menjadi berwarna merah.
Itu aneh, ada pertanda apa?
“Ini pertama kalinya terjadi pergantian bulan merah sejak ratusan tahun yang lalu,” gumam Putri Ren, masih setia mendongak untuk mengamati bulan yang mulai merubah warna langit menjadi kemerahan.
“Putri Ren!”
“Putri Ren!”
Aluka memanggil-manggil, ia hampir saja tergelincir dari atas kelopak bunga teratai karena saking terkejutnya. Melihat Hazel yang sudah menutup mata, namun seorang bayi kecil keluar begitu saja dari celah kedua kakinya. Anehnya, bayi itu tidak menangis.
__ADS_1
“Dia sudah melahirkan?!”
***