Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 8 - Sesuatu Yang Disembunyikan.


__ADS_3

Hazel mendorong tubuh Lynx yang terus bergerak mendekat. Karena atmosfer di sini sudah berasa berbeda. Jadi Hazel berjaga-jaga takutnya pria itu melakukan hal yang tidak senonoh.


“Menyingkirlah. Apa yang sedang kau lakukan?”


Lynx menggaruk belakang lehernya, memasang wajah bingung. “Kau bilang ingin diobati? Jadi aku akan melakukannya.”


“Memangnya tidak bisa dari kejauhan? Asal kau tahu, luka-luka di tubuhku itu berada di tempat yang sensitif. Jadi aku perlu tahu dulu bagaimana cara kau menyembuhkan luka,” jelas Hazel, kedua tangan sudah menutupi bagian depan dadanya.


“Ulurkan tanganmu,” perintah Lynx, dirinya sudah menarik kursi untuk diduduki, lebih dekat pada Hazel.


Tanpa bertanya apa-apa lagi, Hazel mengulurkan tangan kanannya. Langsung diraih oleh Lynx, digerakan perlahan ke arah mulut sehingga hembusan nafas pria itu sangat terasa.


Sampai akhirnya lidah Lynx menjulur, membasahi punggung tangan Hazel dengan air liur. Di detik yang sama, Hazel langsung membelalakan matanya. Buru-buru menarik lengannya dari Lynx.


“Hentikan! Itu menjijikan. Apa itu caramu menyembuhkan luka?” pekiknya seraya mengelap punggung tangannya yang basah dengan kain.


“Benar. Air liurku ini amat berguna. Kenapa kau menatapku begitu?” Lynx sedikit tersinggung.


Hazel mendengus, “Huh, aku pikir kau pengguna sihir yang bisa menyembuhkan luka seseorang melalui tanganmu yang memancarkan cahaya. Tapi ternyata cara bekerja kemampuanmu di luar dugaanku.”


Tidak tahu apa yang ada dipikiran pria itu, namun Lynx tampak murung. “Tidak. Aku bahkan tidak menguasai sihir apa pun. Kemampuan menyembuhkan itu sudah murni aku dapatkan semenjak aku dilahirkan. Itu sebabnya aku...”


Hazel menunggu Lynx melanjutkan ucapan, tapi beberapa detik berlalu dia tidak berbicara apa-apa lagi.


“Kenapa?” Hazel masih menunggu dengan raut penasaran.


Namun Lynx malah menggelengkan kepalanya dengan membubuhi senyum paksa di wajahnya. Begitu kentara sedang menyembunyikan sesuatu.


“Bukan apa-apa.”


Karena Hazel tidak begitu peduli dan tidak mau ikut campur dengan urusan pria itu, jadi Hazel mengubur rasa penasarannya. Memilih fokus terhadap apa yang akan dilakukan sekarang.


Tubuh Hazel beranjak dari kursi, merapihkan piring bekas sarapan miliknya. “Lanjutkan sarapanmu. Biar aku yang mencuci piring.”

__ADS_1


Lynx hanya mengangguk singkat, menyeret kursinya ke tempat semula. Lalu kembali mengunyah makanan miliknya yang belum habis.


Tempat wastafel dimana Hazel mencuci piring tidak jauh dengan meja makan, jadi sesekali Hazel melirik Lynx yang terus menunduk. Meski rasa penasarannya tentang pria itu sudah ditepis jauh-jauh, tapi tetap saja suasana canggung di sini masih terasa.


Jadi untuk mencairkan suasana kembali, Hazel bertanya suatu hal yang sempat memenuhi pikirannya, “Hei, Lynx.”


“Um?” sahutnya tanpa memindahkan pandangannya dari piring.


“Aku ingin tahu, bagaimana cara kau mendapatkan banyak ikan dengan wujud rubahmu kemarin? Kau berakhir dengan penuh luka, pasti ada sesuatu yang terjadi.”


Lynx berhenti mengunyah, menjawab seadanya, “Aku mencari sungai terdekat di sini. Untuk bisa mendapatkan ikan sebanyak itu, aku perlu bertarung dengan beberapa beruang liar yang juga sedang memangsa ikan.”


Tubuh Hazel setengah berbalik ke belakang, melihat ekspresi Lynx yang begitu santai saat mengatakannya, membuat Hazel geleng-geleng kepala.


“Kenapa kau begitu nekat?”


Sudut bibir Lynx membentuk lengkungan, menunjukan sebuah senyuman getir. “Jika aku tidak nekat, kau tidak akan menerimaku kembali bukan? Selama ini, aku selalu melakukan hal yang sama agar aku bisa bertahan hidup di dunia ini.”


“... Aku menyadari kalau aku tidak berguna, jadi sebisa mungkin aku harus bekerja keras, melebihi mereka yang sudah dianugerahi kemampuan spesial. Tak apa jika pada akhirnya tubuhku ini harus kukorbankan berulang kali, karena selain tenaga dan kekuatan fisik yang aku miliki, aku tidak memiliki apa-apa lagi untuk membuat orang lain terkesan,” tambahnya.


Tapi ada satu hal yang Hazel tahu, kesedihan yang terselip dari nada bicara dan pancaran melalui matanya yang indah terlihat meredup. Menandakan kalau perasaan pria itu sedang tidak baik-baik saja.


“Ah, maafkan aku. Bicaraku melantur ke mana-mana.” Lynx terkekeh kikuk seraya menggaruk tengkuk. “Lupakan saja. Aku sedang tidak sadar saat mengatakan itu.”


Tubuh tegapnya sudah menjulang tinggi, bergerak membawa piring kosong ke arah wastafel untuk ikut mencuci piring di samping Hazel. Tapi Hazel tidak membiarkan pria itu melakukannya.


“Kau tidak perlu mencuci piring. Biar aku saja. Lebih baik kau diam atau melakukan hal lain. Luka di tanganmu masih basah. Akan sia-sia perban semalam yang aku berikan padamu. Jangan buat aku harus menggunting pakaianku lagi,” suruh Hazel, mengambil piring yang ada di tangan pria itu.


“Baiklah. Terima kasih.”


***


Siang hari ini terasa sangat terik, matahari seperti berada di atas kepala. Rasanya sangat malas jika harus berpergian di saat kondisi seperti ini. Tapi tidak ada pilihan bagi Hazel selain melakukannya.

__ADS_1


Karena bagaimana pun, Hazel tidak mungkin terus berdiam di rumah dan mengandalkan sisa ikan bawaan Lynx untuk bertahan hidup. Ada uang sewa rumah yang harus dirinya bayar juga ada hutang dengan bunga selangit yang terus mengintai keselamatan hidupnya.


Jadi Hazel bertekad mencari pekerjaan di pusat desa, apa pun pekerjaan yang ia dapatkan nanti, dirinya tidak akan protes dan menolak, selagi itu masih bisa diterima akal sehat. Meski tubuhnya belum pulih sempurna. Badan masih terasa pegal dan ngilu, Hazel tidak akan memedulikannya.


Hazel sudah bersiap-siap, hanya menggunakan jubah lusuh miliknya untuk menghalau sinar matahari yang terik. Mengandalkan tekad, Hazel begitu semangat bertaruh keberuntungan di luar sana.


“Kau mau kemana panas-panas seperti ini?”


Pertanyaan itu menghentikan kedua langkah Hazel yang hendak melewati ambang pintu. Ia baru ingat kalau belum berpamitan dengan Lynx.


“Aku akan mencari pekerjaan, kau jaga rumah saja,” jawabnya singkat, bahkan tidak menoleh ke belakang.


“Aku ingin ikut. Ingin menemanimu dan membantumu bekerja,” pinta Lynx, ekspresi memelas sudah tergambar di wajah rupawannya meski Hazel tidak melihatnya.


Hazel langsung berdecih sebal, “Jangan gila. Memangnya kau siapa? Kau itu bukan manusia, Lynx. Aku tidak bisa memprediksi kapan kau akan mengeluarkan telinga dan ekormu. Bagaimana kalau orang lain mel---”


“Tapi aku bisa,” potongnya dengan yakin.


“Hah?!” Oke, kesabaran Hazel yang memang setipis tisu dibagi dua, sekarang tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Tubuhnya sudah berbalik ke belakang, memelototi Lynx.


“Telinga dan ekorku akan muncul ketika aku sedang senang, atau sedih secara berlebih. Tapi aku bisa mengendalikannya,” papar Lynx menjelaskan.


Hazel menghembuskan nafas sembari mengusap wajahnya kasar. “Oke, itu mungkin bisa kau atasi. Tapi bagaimana dengan luka-lukamu? Orang mungkin akan iba melihat penampilanmu yang seperti ini. Aku bisa saja dituduh melakukan eksploitasi karena membawa orang sepertimu untuk ikut bekerja.”


Agar semakin membuat gadis itu yakin dan mau memercayainya, Lynx menampilkan senyum lebar. Berusaha memperlihatkan bahwa dirinya tidak masalah dan tidak merasa terganggu dengan luka yang ada di tubuhnya.


Dari dalam hati Lynx yang sudah teguh atas keputusan yang dibuat, Lynx ingin sekali bisa berada di samping Hazel. Setidaknya ia mampu memastikan sendiri kalau Hazel baik-baik saja.


“Tolong percaya padaku. Luka ini tidak seberapa. Karena aku pernah terluka lebih dari ini. Aku tidak akan mati. Aku tahu batas kemampuan diriku sendiri. Jadi tolong lakukan apa saja agar aku bisa keluar rumah bersamamu. Mungkin dengan pakaian yang lebih tertutup?”


Lagi, Hazel meloloskan nafas gusar dari mulut kecilnya. Menatap malas Lynx yang tengah melebarkan cengiran kakunya.


“Haissh, kau ini.”

__ADS_1


***


__ADS_2