Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chap 76 - Detik-detik.


__ADS_3

Dan...


BOOM!


Semua peluru atau pun benda peledak yang melesat dari senjata-senjata canggih yang sejak awal sudah diarahkan pada tubuh Lynx, saat ini berhasil membidik dengan sempurna. Anehnya, Lynx tidak berusaha menghindar sama sekali. Ia malah menerima semua serangan tersebut dengan tangan terbuka.


Seketika asap-asap yang berasal dari ledakan bertubi-tubi di sana langsung menutupi seluruh pandangan, tubuh Lynx yang diincar oleh banyak senjata tadi sekarang sudah tak terlihat lagi. Mungkin sekarang tubuhnya hancur, berkeping-keping, atau bahkan sudah tak menyatu dengan deburan debu yang bercampur asap.


Raja Barney mengukir senyum puas, ia berpikir bahwa rencananya untuk menghancurkan Lynx dengan senjata canggihnya berhasil tak meleset sedikit pun. Tubuhnya hendak berbalik, akan memberi kabar kemenangan ini pada pasukannya. Tapi mendadak niatnya urung sesaat setelah maniknya menangkap sosok aneh dari balik asap yang mulai memudar tersebut.


Ternyata Raja Barney keliru, ia terlalu cepat menyimpulkan. Karena sebenarnya Lynx tidak mati, bahkan tidak ada sedikitpun  luka yang terdapat di tubuhnya. Seolah-olah semua serangan yang dilemparkan oleh para pasukan Kerajaan Maggie tidak pernah mengenai tubuhnya.


Tapi inti dari semua yang mereka lihat bukan itu, sebab sosok yang berada dibalik asap yang mulai menghilang bukanlah Lynx dalam wujud manusia. Pun bukan wujud rubah dalam ukuran normal. Rubah yang ada di depan mereka saat ini adalah rubah dengan ukuran jauh lebih besar dari ukuran sebelumya.


Rubah itu benar-benar raksasa. Membuat sebagian para pasukan yang belum diberi perintah kembali oleh Raja Barney, malah langsung melayangkan serangan sebab terlanjur panik. Tapi tepat di depan mata mereka, semua serangan itu tak mempan menembus tubuh Lynx. Bulu-bulu oranye yang tebal itu seolah memiliki pelindung. Atau mungkin sihir yang sedang digunakan Lynx begitu kuat, sehingga semua serangan itu tak dapat menyakitinya.


“Ti-tidak mungkin! Bagaimana bisa ukuran tubuhmu bisa sebesar ini? Sihir macam apa yang kau gunakan?” Raja Barney gelagapan, ia menutup mulutnya, semua ini di luar dugaannya. Kedua kakinya pun mulai gemetaran.


Lynx dalam wujud rubah raksasa tersebut tampak tenang, sebelah taringnya ia munculkan saat membuat senyuman angkuh. Merasa hebat bisa berada satu langkah terdepan dari musuhnya saat ini. Rencana perubahan wujud ini adalah cara terakhir baginya untuk mengakhiri peperangan ini.


“Kenapa? Percuma, semua serangan dari senjata yang kalian miliki tidak akan bisa membunuh atau pun melukai tubuh besarku ini. Bagaimana menurutmu jika semua kawananku bisa memiliki tubuh hebat ini? Tentu kalian semua akan kupastikan akan benar-benar punah! Bahkan sekarang aku bisa menyingkirkan kalian semua,” cerocos Lynx, ia mulai memberi gertakan pada mereka.


Pada posisi ini, Raja Barney tampak terintimidasi. Tapi sebisa mungkin ekspresi takutnya ia sembunyikan untuk menyelamatkan harga dirinya di depan musuh. Seingatnya, belum pernah terjadi dalam perang mana pun hal seperti ini. Hanya kali ini ia melihat klan Rubah mampu membuat diri mereka menjadi wujud raksasa dan kebal terhadap serangan.


“Tutup mulutmu dan berhenti bercakap besar! Kita lihat dan buktikan sendiri nanti siapa yang berhasil memenangkan peperangan ini! Perlu kau ingat, dalam sejarah mana pun klan Rubah tidak akan pernah menang!” balas Raja Barney, mencoba untuk menutupi rasa takutnya dengan sok jumawa.


Kembali menyeringai, Lynx mulai menggerakkan keempat kalinya untuk maju. Baru satu langkah ia bergerak, tanah yang dipijakinya bergetar hebat. Membuat semua pasukan Kerajaan Maggie beserta Raja Barney yang masih setia berdiri di seberang sana tampak kewalahan saat menyeimbangkan bobot tubuhnya.


Bagai gempa bumi yang dahsyat, guncangan dari langkah demi langkah kaki milik Lynx seketika memporak-porandakan situasi di sini. Bahkan tanah mulai retak, tak menyangka bahwa kekuatan Lynx dalam mode rubah raksasa bisa sebesar ini. Jika tahu ini akan memudahkan, sejak awal dirinya memilih menggunakan kemampuannya ini.


“Aku tidak ingin berlama-lama lagi. Tidak ingin membuang atau pun mengulur waktu hanya untuk berdebat omong kosong denganmu. Jadi, mari lihat dan selesaikan ini dengan cepat,” ujar Lynx sambil terus bergerak maju, membuat para siluman yang sebelumnya setia berdiri dengan senjatanya mulai kocar-kacir ketakutan.


Raja Barney meneguk ludah secara kasar, sedikit menolehkan kepala ke belakang untuk melihat keadaan. Menyadari bahwa setengah dari pasukannya mulai kabur untuk menyelamatkan diri, jika dirinya hanya berdiri di sini tanpa melakukan upaya apa pun, sudah jelas dapat dipastikan bahwa Lynx akan benar-benar membunuhnya tanpa berpikir dua kali.


“Sangat rapuh. Begitu mudah untuk kuhancurkan,” ledek Lynx dengan tawaan khasnya, kaki bagian depannya ia gunakan untuk menyingkirkan alat-alat canggih mereka yang ditinggalkan begitu saja.


“Sialan! Kau benar-benar membuatku muak, aku tidak akan membiarkanmu membuat kerusakan lebih banyak,” teriak Raja Barney, tubuhnya sudah membungkuk dan nyaris akan tersungkur jika tidak mati-matian ia tahan untuk menstabilkan keseimbangan tubuhnya.


Mulai merapalkan mantra-mantra, membuat suasana fokus hingga meredam suara-suara yang ada di sekitar, pikiran Raja Barney sudah memikirkan suatu hal yang siap akan diwujudkan secara nyata. Sesuai dengan kemampuan alami dari klan anjing, mereka menggunakan kekuatan pikiran untuk menciptakan sesuatu menjadi nyata.


Untungnya Lynx menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Raja Barney, buru-buru ia bergerak ke arahnya untuk menghentikan sebelum semuanya terlambat. Karena bagaimana pun juga, kekuatan pikiran mereka bisa menghambat kemampuan inti yang digunakan Lynx saat ini.

__ADS_1


Membawa tubuh Raja Barney ke dalam genggaman, Lynx mengeluarkan kuku-kuku tajamnya, mulai menusuk-nusuk pada tubuh kecil Raja tersebut. Fokus Raja Barney memudar sedikit demi sedikit. Ketika matanya yang terpejam itu mulai terbuka, ia baru menyadari saat ini raganya berada di awang-awang dan berada dalam cekalan Lynx.


“Mau kuakhiri nyawamu sekarang? Karena tujuanku sejak awal hanya ingin mengincarmu. Membuatmu mati dengan tanganku sendiri. Aku tahu, kaulah pondasi utama dan paling kuat dalam Kerajaan ini. Satu-satunya untuk membuat bangsamu hancur hanya dengan membuatmu mati,” terang Lynx, membuat keberanian pria  dalam genggamannya itu jadi ciut.


Tapi siapa sangka? Tepat dalam jarak beberapa meter, seluruh pasukan yang masih setia berada dipihak Raja Barney, mereka mulai menyatukan kekuatan pikiran. Ingin membantu Raja mereka untuk terbebas dari sana. Mereka mengambil kesempatan ketika Lynx sedikit lengah.


Raja Barney mencuri-curi pandang ke arah pasukannya, menyadari bahwa mereka sedang melakukan sesuatu dan itu sedikit membuatnya tenang. Dan sekarang, dengan penuh percaya diri, kembali mengumpulkan keberanian, ia menatap Lynx lagi dengan serius, “Kau yakin? Coba saja kalau bisa.”


Dan Lynx tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari dan lengah sehingga membiarkan mereka untuk mengacaukan rencananya. Sekarang dalam pikirannya terbesit suatu hal yang ingin dilakukan, rasanya terlalu terburu-buru jika harus membuat Raja Barney mati tanpa menyingkirkan tikus-tikus kecil yang terus mengganggu.


“Ah, sepertinya aku ingin bermain-main sebentar,” kata Lynx dengan ekspresi yang tidak biasa, seolah memang menunjukkan bahwa dirinya ingin melakukan suatu hal.


Bruk!


Tubuh Raja Barney ia jatuhkan begitu saja ke tanah tanpa aba-aba, membuat pria dengan jubah merah dan mahkota berkilaunya itu langsung mengaduh kesakitan. Pinggang yang lebih dulu beradu dengan tanah, menciptakan suara renyah dan nyaring. Seketika Lynx langsung tersenyum puas.


Selepas itu, Lynx beralih ke lain tempat. Sedikit tergesa, ia mulai menghancurkan bola pikiran yang mirip seperti gelembung, bola pikiran tersebut nyaris berhasil terbentuk sempurna di tengah-tengah kerumunan siluman anjing yang berdiri melingkar dengan kefokusan tinggi.


Entah apa isi di dalam bola pikiran yang berusaha mereka ciptakan, tapi Lynx yakin itu suatu hal luar biasa yang dapat membuatnya kewalahan dan bahkan bisa membalikkan keadaan. Oleh karena itu, lebih baik Lynx mengurusi mereka dulu sebelum fokus mengambil nyawa Raja Barney.


Berhasil memecahkan bola pikiran, Lynx segera memberi serangan dengan tubuh besarnya. Menepis tubuh-tubuh mereka dengan mudah bagaikan membersihkan debu dengan kemoceng. Tubuh-tubuh mereka mulai terpental ke mana-mana, sebagian ada yang langsung mati di tempat dan sisanya memilih untuk menyelamatkan diri dengan langkah tersuruk-suruk kesakitan.


“Kalian pantas menerimanya!” Lynx menggertakan rahang, dendam yang tertanam dalam hati bergejolak hingga ubun-ubun. “Sebab kalian banyak nyawa yang tak bersalah menjadi korban! Berkat kalian, aku banyak kehilangan orang yang kusayang! Mahluk tak memiliki hati seperti kalian tak pantas hidup!”


Tapi karena sekarang kondisinya masih belum kondusif, Lynx belum menyadari ingatan Jack macam apa yang ia bawa ke dalam dirinya. Entah ingatan menyenangkan atau jika itu buruk sekali pun, Lynx ingin sekali tahu. Dan mungkin saja itu bisa menjadi petunjuk untuk hidupnya yang selama ini masih memiliki banyak teka-teki juga misteri.


Kembali pada apa yang Lynx lakukan sekarang, ia berhasil menghancurkan semua senjata atau pun alat-alat canggih yang ada di depan matanya. Jeritan-jeritan dari para siluman yang meraung kesakitan dengan tubuh yang sudah terkapar di atas tanah yang rusak, membuat emosi dalam jiwa Lynx semakin membara. Semakin ingin lebih dan lebih lagi.


Ingin melihat tangisan juga mendengar rintihan kesakitan yang mereka rasakan. Bukannya kejam dan tak memiliki hati nurani, Lynx hanya ingin membalaskan apa yang selama ini belum terbalaskan. Sudah banyak generasi di masa lampau yang tertindas akibat kejahatan mereka, dan inilah moment yang tepat untuk membalas semua itu.


Lynx berhenti melangkah sejenak, melihat bangunan istana milik Kerajaan Maggie yang megah. Ia berpikir untuk membuat bangunan yang tak lebih besar dari tubuhnya itu untuk dihancurkan bersamaan dengan para siluman yang berada di dalamnya. Lynx harus bergegas, sebelum mereka yang bersembunyi diam-diam melakukan aliansi untuk menyatukan kekuatan pikiran dan menghalau apa yang akan dilakukan Lynx.


Oleh sebab itu, sekarang Lynx mulai bergerak masuk. Dengan mudah meninju bangunan itu tanpa merasa kesulitan, keretakan pada dinding yang mewah dan terkenal dengan pelindung yang kuat bisa membuktikan bahwa di sini kemampuan yang dimiliki Lynx lebih unggul. Tanpa senjata andalannya yaitu pedang istimewanya, ternyata Lynx bisa menggunakan tubuhnya untuk melakukan hal lain.


Tiang-tiang bangunan Istana berhasil Lynx robohkan dengan sekejap mata, beberapa pasukan dari Kerajaan Maggie berbondong-bondong keluar dari dalam istana dengan senjata dan alat canggih mereka. Sebagian ada yang menaiki kendaraan khusus tempur, sebagian lagi ada yang memaksa untuk mengendalikan robot yang masih dalam tahap uji coba.


Lynx sedang sibuk dengan apa yang sedang dilakukan, sementara Raja Barney terjebak dalam istana. Sebetulnya ia bisa saja keluar dan bergabung dengan rakyatnya untuk menyelamatkan diri, tapi ada suatu hal yang ingin ia lakukan di dalam istana. Mengenai pedang istimewa milik Lynx, Raja Barney berpikir untuk menggunakannya.


“Aku pikir hanya dengan menggunakan pedang ini aku bisa melumpuhkannya. Karena pedang ini bisa dikatakan sebagai penyumbang kekuatan terkuat miliknya, tanpa pedang ini ia tidak akan bisa membunuhku. Bagaimana pun caranya, aku harus mengambil alih pedang ini,” gumam Raja Barney dengan seringain di wajahnya.


Tapi anehnya, ketika hendak mencabut pedang Lynx yang tertancap di atas permukaan lantai, Raja Barney tak mampu melakukannya. Bahkan pedang dengan permata ungu tersebut tidak bergerak sama sekali, masih setia berada di sana. Sedangkan tanah yang menjadi pijakannya mulai bergetar. Dan dinding-dinding bangunan mulai retak, Raja Barney megap-megap seketika.

__ADS_1


“Sialan! Dia benar-benar akan menghancurkannya, aku tidak punya pilihan lain untuk bersembunyi terlebih dahulu,” geram Raja Barney dengan rahang yang mengetat.


Saat langit-langit bangunan mulai merekah, nyaris jatuh dan menimpa Raja Barney yang berada di bawahnya, buru-buru ia berlari untuk mencari tempat yang aman agar bisa melindungi diri. Memilih bersembunyi di antara celah mesin yang mengendalikan alat-alat canggih, hanya itu yang bisa ia gunakan untuk terhindar dari reruntuhan bangunan.


BRAK!


Atap bangunan itu sekarang sudah rata dengan tanah, debu bercampur dengan udara, sedikit mengaburkan pandangan. Ruangan yang menjadi pusat atau inti dari Kerajaan Maggie berhasil Lynx hancurkan. Tempat dimana seluruh sistem beroperasi, dan tentunya sekarang sudah rusak total. Semua alat yang terhubung dengan kinerja sistem, tak dapat dikendalikan. Robot-robot yang masih dalam tahap uji coba, sekarang tak dapat dikendalikan lagi.


Sungguh malang keadaan yang menimpa Kerajaan Maggie, keadaan begitu cepat berbalik. Membumihanguskan seluruh ego dan ambisi yang semula diagung-agungkan, sebab sekarang semuanya sudah hampir rata tak bersisa. Sengaja, Lynx menyisakan Raja Barney menjadi bagian paling terakhir.


Karena biasanya yang paling ditunggu-tunggu selalu ditempatkan diakhir, bukan?


“Mau bersembunyi dimana? Kau pikir hanya karena aku memiliki satu mata, aku tak dapat melihat tubuh kecilmu yang sedang bersembunyi di antara reruntuhan itu? Keluar, lawan aku. Ayo akhiri semuanya, kita buktikan siapa yang bisa memenangkan peperangan ini,” desak Lynx, ia mengintip lebih dekat untuk melihat dimana keberadaan Raja Barney.


Pria dengan jubah kebanggaannya itu berdecih sebal seraya keluar dari tempat persembunyiannya. Sekitar sepuluh langkah maju meninggalkan mesin-mesin rusak yang menjadi pelindung tubuhnya tadi, tiba-tiba saja mesin tersebut meledak tanpa diduga. Membuat kobaran api dan mulai merambat ke mana-mana.


“Bukankah harusnya kau berterima kasih padaku? Bisa saja kau mati terpanggang di sana. Berbanggalah, karena aku ingin membuatmu mati dengan tanganku sendiri,” ledek Lynx, kibasan ekornya membuat debu-debu di sekitarnya jadi bertebangan hingga membuat Raja Barney sedikit kelilipan dan terbatuk-batuk.


Raja Barney tak tumbang meski sudah berkali-kali dipojokan melalui kata-kata yang dilontarkan Lynx, ia tetap teguh pendirian bahwa dirinya tetap bisa memenangkan peperangan ini walaupun tahu kemungkinannya sangat kecil. Jika melihat kenyataan yang ada, tiada tiang-tiang penopang kuat yang dapat mendukungnya dalam posisi ini sudah hilang.


Mengingat seluruh teknologi yang berusaha ia kembangkan selama berabad-abad lamanya sekarang sudah hancur dan tak berfungsi lagi, ditambah senjata yang dikendalikan oleh para pasukan kini sudah banyak yang rusak. Lebih dari itu, para rakyat, pasukan dan orang-orang yang bersedia menerima perintahnya sudah berpencar entah kemana.


Masih pantaskah Raja Barney berharap kemenangan dalam situasi yang tak memungkinkan ini?


“Jika kau memang hebat dan mampu melawanku, lakukan dengan benar. Kau pikir itu adil? Dengan menggunakan tubuh besarmu itu, sementara aku di sini tanpa menggunakan apa pun. Apa kau bangga setelah membunuhku dengan cara seperti itu?” teriak Raja Barney, berusaha mengulur waktu agar bisa mencari-cari cara dirinya bisa mengambil pedang milik Lynx.


Mendengar pernyataan Raja Barney barusan, Lynx diam sebentar. Menimang keputusan dan menunggu bisikan sebagai intuisi yang selama ini dirinya pegang dan percayai. Dan ketika sekejap memejamkan mata, bayangan akan sesuatu muncul tanpa diminta.


“Apa boleh buat? Aku bisa mengasihani orang yang tak pernah mau berkaca. Padahal sejak awal, siapa yang berlaku tak adil? Aku datang dan menyusup ke Istana ini seorang diri, dengan berani menantangmu dan tak segan mengancam untuk membunuhmu. Tapi sekarang kau? Ah, oke. Aku paham, baiklah jika itu maumu.”


Lynx angguk-angguk setelah mengatakan sindiran pedas tersebut. Sindiran yang tak berarti apa-apa, sebab nyatanya Raja Barney menutup mata untuk hal-hal itu. Dan sekarang, tubuh Lynx mulai menyusut, bertransformasi kembali menjadi wujud manusia pada umumnya. Dalam perubahan wujud ini, jelas Lynx akan lebih lemah.


Saat detik-detik perubahan wujud itu terjadi, Raja Barney mengambil kesempatan untuk berlari menuju tempat dimana pedang milik Lynx terkubur reruntuhan. Ia masih ingin mencoba, ingin sekali mendapatkan pedang itu dan menggunakannya untuk melawan Lynx.


Tapi...


“Jadi itu usahamu? Mencoba merebut pedangku dengan cara mengulur waktu?” Lynx menyeringai, perubahan wujudnya yang hanya memerlukan beberapa detik tentu saja sekarang dapat melihat apa yang sedang dilakukan pria itu.


Raja Barney sibuk menggali reruntuhan, mencari benda berharga yang bisa menyelamatkannya dalam situasi ini. Tapi yang menjadi pernyataannya, memangnya pedang tersebut bisa dirinya ambil sementara sebelumnya upaya yang dilakukan tak berhasil dilakukan?


Lynx berjalan maju, menghampiri Raja Barney. “Dasar bodoh. Inilah kelemahan klan anjing, pantas siluman jahat macam kalian rela mati-matian ingin merebut sihir yang kami miliki. Kemampuan kalian jauh di bawah kami, tanpa kefokusan dan waktu yang diperlukan, kemampuan yang kalian miliki bisa apa?”

__ADS_1


***


__ADS_2