
Jenazah Jack tiba di Istana ketika sang fajar mulai merangkak naik ke atas cakrawala. Beberapa anggota Kerajaan turun ke pekarangan istana, menyambut Jack secara hormat. Para penduduk yang mengetahui pun ikut berhimpitan untuk melihat.
Derai tangis air mata membubuhi suasana duka. Ketika tubuh Jack diangkat dari atas Roc, semuanya menguatkan jerit tangis. Tapi tidak dengan Raja Arandelle, dia hanya menunjukkan ekspresi datar tanpa merasa kehilangan. Justru dalam hati ia tengah tersenyum bahagia.
Sebelum Jack sampai ke Istana, mereka yang berada di Istana sudah mendapat kabar soal kematian Jack melalui burung yang ditugaskan memberi informasi. Banyak yang tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi.
Terutama Hazel, dia nyaris pingsan saat menerima kabar tersebut. Membayangkan betapa ngeri dan sadisnya peperangan di sana. Sekelas Jack yang diakui kemampuannya saja sekarang sudah kembali tanpa nyawa.
Pikirannya sempat terpaku pada satu hal ; tentang bagaimana kondisi Lynx. Sejujurnya, Hazel belum tahu sedikit pun yang terjadi di sana. Juga fakta bahwa kematian Jack adalah konsekuensi atas ritual pembagian sihir pada Lynx, Hazel pun tidak mengetahuinya.
Burung penyampai informasi hanya datang pada Raja Arandelle, sehingga yang lain tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Liciknya Raja Arandelle, dia memanfaatkan moment ini untuk merekayasa kejadian sehingga salah satu pihak akan dipojokkan dalam cerita yang dibuatnya.
“Masih mau menyangkal?” celetuk Raja Arandelle, dia berderap maju, keluar dari kerumunan. Berdiri didekat tubuh Jack yang sudah dibaringkan ke atas tandu.
Menghadapkan pandangannya ke depan, menatap semua yang masih menangis tersedu-sedu, ia kembali berbicara, “Ini semua ada campur tangan dari ulah manusia. Musuh abadi kita. Jack mati karena mendapat serangan dari alat-alat canggih yang dibuat manusia! Andai sejak dulu manusia tidak bergabung dengan siluman anjing dan mengkhianati kita semua.”
Tertegun sejenak, para penduduk dan anggota Kerajaan — Dua Ratu dan Putri Aluka, berhenti menangis sesaat. Mendengarkan keluh kesah yang dibeberkan oleh Raja Arandelle.
“Bisa dibayangkan betapa licik dan kejamnya mahluk berjenis manusia itu? Manusia memang tidak bisa menggunakan sihir, tapi mereka punya otak luar biasa untuk menciptakan hal-hal yang di luar nalar melebihi sihir yang kita miliki.”
“Itu hanya satu manusia. Tapi dampaknya sangat merugikan kita. Dan fakta bahwa manusia tak berpihak pada kita, tak akan pernah bisa dirubah oleh apa pun. Jadi, kenapa kita masih punya alasan untuk mempertahankan satu manusia di sini?”
Saat melontarkan pertanyaan sindiran diakhir kalimat, ekor mata Raja Arandelle melirik Hazel. Seolah memang sejak awal semua keluhannya ditujukan pada Hazel. Ia ingin menyeret pikiran semua bawahannya untuk membenci Hazel. Menggunakan kesempatan selagi Lynx tak ada agar bisa menyingkir Hazel.
“Dia hanya manusia biasa, Ayah!” sungut Aluka, dia langsung menyahut tidak terima. Tubuhnya yang semula berdiri di samping sang ibunda, mendadak bergeser ke depan untuk menutupi tubuh Hazel seraya merentangkan kedua tangan.
“Jangan menggiring opini yang bisa membuat semuanya membenci Hazel. Dia tidak pernah membuat kesalahan. Dia hanya seorang wanita yang tengah mengandung. Yang mana bayinya akan menjadi cucumu, sekaligus menjadi keluarga kita semua!” tambah Aluka, alisnya mengerut marah.
__ADS_1
Raja Arandelle mendesis, bibirnya menyungging kesal. Sadar kalau di sini masih punya hama yang akan memperhambat rencananya.
“Tch, kau itu masih kecil. Memangnya kau tahu apa? Bisa merasakan kekejaman manusia yang dibuat di masa lampau? Jika kau ingin tahu betapa sadisnya manusia terhadap bangsa kita, kau bisa turun langsung untuk ikut berperang! Lihat dan rasakan sendiri bagaimana alat canggih itu bekerja,” ketus Raja Arandelle, kedua tangannya ia simpan di dada.
“Cukup!” sela Ratu Keane, berusaha masuk ke dalam obrolan di antara mereka yang kian memanas. “Tidak ada gunanya membahas hal ini sekarang. Setidaknya hargai Jack yang masih di sini. Jasadnya masih belum dikebumikan. Kita perlu melakukan acara pemakaman yang layak untuknya.”
Raja Arandelle mengangkat bahu, tidak peduli. “Terserah. Lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Selagi ada manusia itu di sini. Percayalah, kemalangan yang lebih besar akan segera menimpa kita.” Ia berlalu pergi, kembali masuk ke dalam istana.
Ratu Emely yang tak banyak bicara, ikut mengekori suaminya yang berjalan tergesa-gesa. “Suamiku, tunggu sebentar!”
“Jangan ikuti aku. Tinggalkan aku sendiri!” Raja Arandelle semakin mempercepat langkah, enggan menoleh meski sebentar.
“Aku akan berada dipihakmu!” ujar Ratu Emely, ia begitu gigih untuk bisa mensejajarkan langkahnya dengan sang suami.
Mendengar pernyataan tersebut, Raja Arandelle sontak berhenti melangkah. Bukan merasa tersentuh atau bahagia sebab dirinya memiliki pendukung, tapi...
“Hah?” Ekspresinya seperti sedang menghina, menatap Ratu Emely dari kepala sampai ujung kaki dengan tatapan mengintimidasi. “Aku tidak butuh dirimu. Aku menyesal menjalin hubungan denganmu. Jika aku tahu akan seperti ini. Lebih baik aku setia pada istri pertamaku.”
“Kau hanya wanita penggoda yang sudah merusak hubungan keluargaku. Jika kau ingin posisimu tetap aman, diamlah dan jangan ikut campur lagi!” tutup Raja Arandelle sebelum akhirnya kembali melangkah pergi.
Mematung di tempat, Ratu Emely mulai terisak. Bibirnya ia gigit kuat-kuat, menahan sesak di dada. Perjuangannya yang sudah sejauh ini tidak dihargai lagi, dibuang layaknya sampah.
Memangnya apa yang bisa diharapkan dari laki-laki yang tega mendua hanya untuk seorang penggoda?
***
“Hazel kau baik-baik saja?” Aluka bertanya cemas, menyadari wanita itu banyak diamnya.
__ADS_1
Menyusut peluh di kening, Hazel tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah. Apa karena kandunganku yang sudah sebesar ini? Aku pikir aku akan segera melahirkan,” kekehnya pelan.
Aluka tak dapat dibohongi. Bisa membaca jelas dari kesedihan yang tergambar dalam bulatan netra yang sedikit berkaca-kaca milik Hazel. Bahwasanya perkataan Raja Arandelle pastinya sudah merasuki pikirannya.
“Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan, Hazel. Tapi tolong jangan dipikirkan. Ini bukan salahmu. Ulah manusia di masa lalu, tidak ada kaitannya denganmu,” hibur Aluka, tangan kecilnya mengusap perut besar Hazel.
Ratu Keane yang berdiri tak jauh di samping mereka, tersenyum hangat. Ia pindah ke tengah-tengah mereka, lalu merangkul keduanya.
“Itu benar. Lebih baik sekarang kita ikut membantu persiapan pemakaman Jack. Jangan pernah tunjukkan air matamu di depannya, Jack akan sedih. Dia pria baik yang dapat diandalkan, hanya saja akhir hidupnya harus seperti ini,” tutur Ratu Keane, setelahnya ia menghela nafas panjang.
Hazel menunduk, pandangannya mulai buram karena air mata. “Apa Lynx akan bernasib sama seperti Jack? Aku bahkan tidak tahu keadaan di sana seperti apa. Aku tidak tahu dia baik-baik saja atau tidak. Aku takut...”
Ratu Keane lebih mengeratkan rangkulannya, fokus mendekap Hazel yang mulai sesenggukan. “Aku bisa mencaritahunya nanti melalui burung penyampai informasi. Tapi aku yakin dia akan baik-baik saja. Meski pun kepergian Jack membuatnya terpukul, dia pasti bisa mengendalikan diri.”
***
Dari kejauhan, tepatnya di lereng perbukitan sebelum memasuki area Kerajaan Foxion. Para pasukan yang dikirim oleh Raja Barney untuk menculik Hazel sudah mulai memantau situasi. Menggunakan alat kecil yang mengitari bangunan Istana dari atas, mereka bisa tahu apa yang dilakukan para siluman rubah di sana.
“Masih ada tudung sihir yang menghalangi. Padahal yang membuat tudung tersebut sudah mati. Bagaimana ini? Akan sulit untuk menyelinap masuk ke dalam Istana,” kata salah satu dari mereka.
“Benar. Satu-satunya cara adalah menghancurkan tudung sihir itu terlebih dahulu. Bagaimana jika kita hancurkan saja sekalian bersama dengan Istananya? Secara otomatis kita memusnahkan siapa saja yang ada di dalam Istana, termasuk Raja mereka,” sahut yang lain memberi saran.
“Terdengar bagus. Tapi bagaimana jika wanita yang kita incar ikut mati? Bisa celaka jika kita kembali tanpa membawa wanita itu dalam keadaan hidup. Karena itulah yang terpenting di sini.”
Bingung, mereka masih memikirkan cara apa yang harus mereka lakukan untuk bisa menembus dinding pertahanan musuh. Sampai setelah beberapa menit berlalu, satu ide yang muncul akhirnya disepakati bersama.
Dari banyaknya pasukan, tiga di antara mereka mulai menggunakan kemampuan sihir untuk merubah wujud menjadi siluman rubah. Memakai pakaian dengan ciri khas pasukan Kerajaan Foxion, liontin pun terpasang di leher mereka, tak lupa mereka merubah aroma agar tidak dicurigai.
__ADS_1
Lalu apa yang akan mereka lakukan dengan penyamaran tersebut?
***