
Karena hari semakin menggelap, angin malam pun sudah menelusup masuk ke dalam celah dinding kayu yang renggang, jadi suasana dalam rumah tua yang lapuk itu terasa sedikit tegang dan menusuk.
Hazel sibuk mengobati Lynx sebisa mungkin dengan obat seadanya. Karena perban yang dimilikinya sudah habis, jadi Hazel terpaksa menggunting salah satu pakaian yang sebenarnya masih sering dirinya pakai.
Mau bagaimana lagi? Darah yang mengalir dari kaki rubah itu tidak mau berhenti. Bahkan nafas rubah tersebut sudah ngap-ngapan tidak beraturan. Hanya bisa berbaring di atas sofa dengan mata sayup setengah terpejam.
“Aku harap kain ini bisa menghentikan darah yang terus merembes keluar. Sebelum tubuhmu pulih nanti, berjanjilah untuk tidak melakukan banyak hal. Karena setelah kupikirkan, diammu lebih baik dari pada harus membuat masalah yang lain,” kata Hazel memberitahu.
Lynx tidak menjawab apa-apa, tapi sorot matanya seolah mampu mengatakan sesuatu. Menggantikan mulutnya yang terbungkam bisu. Sudut bibirnya yang sobek mungkin membuatnya sulit untuk berbicara.
Setelah selesai mengurusi rubah malang itu, Hazel memutuskan untuk pergi ke dapur. Berniat untuk segera mengolah ikan yang dibawa Lynx beberapa saat lalu.
Tubuhnya sedikit gemetar karena menahan rasa perih dan lemas yang menjalani seluruh tubuh. Tapi sebelum itu, Hazel harus membersihkan diri terlebih dahulu.
Karena pakaian dan kedua tangannya penuh darah segar dari luka Lynx tadi. Bau amis pun tercium pekat, sampai Hazel dibuat pening karena aroma amisnya begitu kuat.
“Apa aku perlu menarik ucapanku yang mengatakan tak mau menerimanya untuk tinggal di sini bersamaku? Sebenarnya aku ini tidak tega jika harus mengusirnya setelah apa yang berusaha dia lakukan, tapi apa aku siap dengan segala konsekuensi yang harus aku terima nantinya?”
Hazel bermonolog sendirian di dalam kamar mandi, merenung seraya menatap air dalam bak yang bergeming belum disentuh. Pikirannya penuh, juga hatinya terasa gundah.
Kedua tangan Hazel meraba tubuh polosnya sendiri. Banyak luka lebam yang belum sembuh total. Luka lebam itu Hazel dapatkan dari pertikaiannya dengan para pria yang mencoba melecehkannya malam itu.
Ketika kedua tangannya bergerak naik untuk menyentuh bagian wajah, Hazel bisa merasakan rasa sakit dan perih yang juga belum pulih. Ringisan demi ringisan pun ia keluarkan. Dahinya yang benjol akibat ulah Lynx tadi pagi pun bisa ia rasakan melalui jemari lentiknya.
“Ah, ini menyakitkan. Meski pun luka di seluruh tubuhku sudah sembuh, aku tidak akan percaya itu akan bertahan lama.” Hazel berkata seperti ini karena teringat dengan ancaman yang diberikan pria penagih hutang malam kemarin.
“Tersisa satu bulan lagi, mampukah aku melunasi semua hutang sekaligus bunganya? Kalau sampai hari itu tiba tapi aku tidak memiliki uang untuk melunasinya...” Suaranya kian melemah, tubuhnya sudah lungsur ke lantai kayu yang lembab.
__ADS_1
Punggungnya bersandar pada dinding, sembari menekuk lutut untuk dirinya peluk. Kemudian menaruh wajahnya pada tumpuan tangan. Tangan putihnya kian mengeratkan pelukan.
“Mungkinkah tubuh yang selama ini aku jaga, hanya untuk pria yang aku cintai nantinya, harus aku relakan untuk membaginya pada pria hidung belang yang haus akan nafsu? Aku...”
“... Tidak mungkin bisa melakukannya.”
Hazel merasa frustasi dengan dunia yang dijalaninya. Jika memang benar dalam hidup ada susah dan senang karena katanya roda kehidupan akan selalu berputar, tapi kenapa Hazel merasa seumur hidupnya selalu berada dalam lingkaran duri yang selalu menyakitinya dari berbagai sisi?
Gadis itu tidak sekali pun dibiarkan bahagia. Jangankan bahagia, untuk tenang tanpa perlu memikirkan beban hidup saja rasanya sulit.
Kepala Hazel menanggah. Menatap atap kamar mandi yang memiliki beberapa celah, membuat sinar rembulan di luar sana masuk menyinari ruangan kamar mandi dengan penerangan remang-remang dari sebuah lampu obor.
“Jika aku tidak bisa meminta Tuhan untuk membuatku menghilang dari kehidupan ini, maka aku menginginkan seseorang yang bisa membantu meringankan semua permasalah pelik ini.”
“Tapi jangan rubah pembuat masalah itu. Dia hanya sebatas mahluk aneh yang tak sengaja aku temui. Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali ke tempat dimana ia berasal,” tambahnya, memperjelas apa yang diminta.
“... Aku ingin merasakan jatuh cinta pada pria impianku. Pangeran dari Kerajaan yang mungkin mau melamar gadis miskin sepertiku, haha,” tutupnya dengan kekehan getir.
***
Malam semakin larut. Selesai membersihkan diri dan memasak makanan untuk mengisi tenaganya yang nyaris habis. Niatnya, Hazel hanya ingin menyelimuti tubuh Lynx dengan selimut.
Tapi karena rasa penasaran sudah mengelabuinya, Hazel malah terduduk di depan sofa yang ditempati Lynx. Rubah tersebut sudah terlelap tenang. Namun pernafasannya terlihat melemah.
Cukup lama Hazel memandangi wajah rubah yang tampak teduh saat terpejam itu, sampai tak sadar kalau dirinya ikut masuk ke alam bawah sadar. Tertidur dengan kepala yang bersandar pada sofa. Berhadapan dengan wajah Lynx.
Beberapa saat kemudian, mata indah rubah itu mengerjap-ngerjap. Pandangannya langsung menyorot wajah Hazel yang tertidur pulas. Dengkuran halus yang ia keluarkan gadis itu terdengar menenangkan.
__ADS_1
Kini giliran Lynx yang mengamati wajah Hazel dari dekat. Tubuhnya sedikit berubah posisi, berniat untuk lebih dekat ke arah Hazel. Bukan bermaksud aneh-aneh, hanya saja ada yang ingin rubah tersebut lakukan.
Luka lebam keunguan yang tercetak jelas di wajah Hazel membuat Lynx sedikit tertegun. Pikirannya penuh tanda tanya, ia tidak punya kesempatan untuk menanyakan dari mana Hazel mendapatkan luka-luka tersebut.
Saat pertemuan pertama mereka, Lynx melihat dengan jelas kalau penampilan Hazel tampak acak-acakan. Seolah menjelaskan kalau sebelumnya Hazel sudah melalui suatu hal yang sulit.
Terlebih, benjolan di dahi gadis itu menghadirkan perasaan rasa bersalah dalam hati Lynx. Karena dirinya tahu, kalau tonjolan itu adalah ulahnya.
Perlahan tapi pasti, Lynx menggerakan wajahnya pada muka Hazel. Harum khas yang menguar dari tubuh gadis itu hampir saja menggoyahkan apa yang sebelumnya sudah ia niatkan.
Nafas rubah itu menyapu bersih permukaan wajah Hazel yang putih pucat. Mungkin karena nafas yang dikeluarkan Lynx terasa hangat, Hazel sedikit terganggu.
Buru-buru Lynx menjulurkan lidahnya. Menjilati beberapa titik luka yang terdapat di wajah Hazel. Ia lakukan secara pelan-pelan, tak ingin Hazel terbangun dan berpikir macam-macam setelah mendapatinya dengan posisi seperti ini.
“Aku ingin menguji kemampuan yang mengaliri darahku sejak lahir. Aku tidak tahu di dunia manusia ini kemampuan yang aku miliki bekerja atau tidak. Jadi aku harus membuktikannya sendiri.”
Jika Hazel sempat berpikir kalau Lynx dalam wujud rubah tidak bisa berbicara menggunakan bahasa manusia, dugaannya itu jelas salah besar. Karena faktanya, dalam wujud atau bentuk apa pun, Lynx akan selalu bisa berbicara bahasa manusia.
Setelah Lynx menempelkan air liur miliknya melalui lidah pada luka yang dimiliki Hazel, tak lama kemudian sebuah keajaiban layaknya negeri dongeng yang penuh akan sihir benar-benar terjadi secara nyata di dunia manusia ini.
Luka-luka yang menempel pada kulit Hazel secara perlahan memudar seiring cahaya kuning menjalari luka tersebut. Bagaikan debu berkilauan yang tertiup angin, begitulah cara cahaya itu mengangkat semua luka di sana.
Termasuk luka akibat benturan yang menimbulkan tonjolan kemerahan di dahi Hazel, semuanya benar-benar hilang tak bersisa. Sehingga kecantikan Hazel tampak bertambah berkali-kali lipat setelah semua luka tersebut sirna.
“K-kemampuanku berhasil?!” Lynx sedikit berteriak, merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dirinya lakukan.
“... Astaga, yang paling terpenting, kenapa dia terlihat sangat cantik dengan wajah mulusnya itu?”
__ADS_1
***