Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 29 - Alasan Dibalik Kepergian Lynx.


__ADS_3

Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, Lynx lantas menarik lengan Hazel dan mendekatkan pada tubuhnya. Mengambil alih dari orang-orang yang dirinya yakini memiliki rencana jahat.


“Lynx, aku---”


“Diam,” potongnya dingin. Pandangannya lurus menatap ketiga pria yang sedang berusaha berdiri, mereka meringis sambil memegangi tengkuk yang berdenyut nyeri.


Hazel yang merasa kalau Lynx yang saat ini amat berbeda dengan Lynx yang dirinya kenal, mencoba membuat jarak. Sedikit lebih mundur, membiarkannya melakukan sesuai apa yang ingin dilakukan.


“Kau? Bukankah kau pria yang menemani Hazel akhir-akhir ini? Kenapa kau juga bisa ada di sini?” tanya pria yang berdiri lebih maju dari kedua pria gendut di belakang.


“Bukan urusanmu, bajingan. Seharusnya aku yang bertanya pada kalian. Terutama kau.” Lynx dengan netra merah menyala menyorot pria bertubuh tinggi kurus itu. Membuat aura terasa lebih menyeramkan.


“Kenapa kau selalu mengganggu Hazel? Terlepas dari tujuanmu yang menginginkan Hazel untuk melunasi hutang-hutang ayahnya, kau tidak memiliki hak apa pun. Hutang ayahnya, tidak bisa dilimpahkan pada Hazel. Mereka berbeda!” tambah Lynx, intonasinya meninggi.


Bukannya merasa takut, pria kurus itu malah tertawa meledek sambil memandang rendah Lynx. “Hei, tutup mulutmu. Memangnya kau tahu apa? Kau bukan siapa-siapa Hazel. Hubunganmu dengannya palingan hanya sebatas teman tidur. Lebih baik kau pergi, biarkan Hazel ikut denganku.”


Lynx tidak terima difitnah seperti itu. Maniknya semakin disipitkan, begitu nyalang dan menusuk. Jari-jari tangannya sudah mengepal, sangat kuat hingga membuat kuku tangannya memutih.


“Apa? Kau mau marah? Sini lawan aku,” tantangnya dengan ekspresi tanpa rasa takut sama sekali.


Lynx tidak mengatakan apa-apa, tapi kakinya mulai melangkah maju. Setiap hentakan kaki yang terdengar, seperti alunan musik yang mematikan. Padahal belum menunjukkan ancang-ancang apa pun, hanya dengan berjalan mendekat saja mereka bertiga sudah bergidik merinding.


Tidak perlu usaha keras untuk menumbangkan mereka bertiga, hanya ditusuk dengan jari di titik-titik tertentu pada tubuh mereka, tak lama rasa lemas dan berujung mati rasa mereka rasakan.


“Sialan! Apa yang kau lakukan?!” Dia menggerutu, sementara dua yang lain asik mengeluh sambil memegangi beberapa anggota tubuh yang mulai digerogoti rasa nyeri.


“Aku belum menggunakan tenagaku, jadi bagaimana? Mau mengundurkan diri secara mandiri atau langsung kuantar kalian ke neraka tanpa rasa manusiawi?” Lynx menyeringai puas.


Dua pria tambun yang memiliki mental lemah dan sudah parno lebih dulu, takut kalau Lynx akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini, jadi mereka memutuskan untuk bergerak mundur dan lari kocar-kacir, tidak memikirkan tubuh mereka yang sakit sebadan-badan.


Sementara pria kurus yang memang masih kuat dengan keinginannya untuk mendapatkan Hazel, dia tidak mau kabur begitu saja. Merasa masih bisa untuk melawan dengan kondisi tubuh yang kian melemah.


“Lawan aku, brengsek! Kalau kau kalah, berikan Hazel padaku!” tantangnya dengan tangan yang gemetaran.


“Baik.” Lynx menanggapi cepat. Melakukan peregangan lebih dulu, lalu mulai mengayunkan bogeman mentah pada pria yang tampak menahan sakit.


Hanya satu pukulan, tapi berhasil membuatnya terpental hingga membentur batang pohon. Hazel yang melihatnya dengan mata telanjang, merasa tak percaya kalau ternyata Lynx memiliki tenaga sebesar itu.


Kepolosan dan wajah lugu yang biasa Lynx tunjukan, malam ini Hazel tidak melihat darinya. Seolah memang dia adalah orang lain.


Pukulan yang diberikan Lynx pada pria itu terlihat membabi buta, terus dilakukan secara bertubi-tubi dan tak kenal ampun. Sebelum melihat lawannya terkulai lemas, Lynx tidak akan berhenti.


Berkali-kali membenturkan dahi pria itu pada batang pohon, terlihat kalau cairan merah kental mengalir pada pohon tersebut. Hazel sesekali menutup mata saat melihatnya, tak sanggup menikmati kengerian.

__ADS_1


“Aku salah telah menganggapmu remeh.” Dia masih bisa tersenyum saat dahinya sudah memuncratkan darah bagaikan air mancur.


Sorot matanya menatap Lynx tanpa rasa penyesalan.


“Pria sepertimu pantas mati!” Lynx menatap dingin pria yang sudah terduduk lemas dan bersandar pada batang pohon, tangan dan wajahnya penuh darah pria itu.


Sebelum Lynx kembali mengangkat kepalan untuk memberi tinjuan mematikan pada pria itu, Hazel dengan cepat menghambur padanya. Memeluk tubuh besar Lynx dari belakang sambil meminta untuk berhenti.


“Cukup, Lynx. Kau jangan sampai kehilangan kendali. Tinggalkan saja dia. Dengan kondisi luka yang parah seperti itu, dia akan sulit pergi dari hutan ini,” bisik Hazel lembut, berusaha membuat Lynx tenang.


Lynx berdecih sinis, pandangannya tidak dialihkan sedikit pun dari pria sekarat di bawah sana. “Bau amis dari darah segarnya pasti akan mengundang hewan buas yang akan memangsanya. Aku akan sangat bersyukur kalau besok pagi di sini hanya menyisakan tulang belulang saja.”


Setelah mengatakan itu, Lynx merubah posisi. Menarik Hazel agar berdiri di sisinya. Tangan besar beruratnya merengkuh pinggang Hazel.


Sambil menatap manik Hazel yang penuh kecemasan, Lynx berbicara, “Pegang yang kuat. Kita akan terbang.”


Dahi Hazel tampak mengerut. “Terbang?”


Sebelah tangan Lynx sudah berhasil mengambil akar pepohonan yang menggantung. Lalu ia gunakan untuk melayang. Mengambil dari satu akar pohon ke akar pohon lainnya untuk bergerak maju.


Hazel yang memang takut dengan ketinggian, hanya bisa menahan jerit sambil memejamkan mata. Sampai akhirnya kaki tanpa alasnya menyentuh rerumputan, barulah Hazel berani membuka matanya kembali.


“Kita sudah sampai,” kata Lynx seraya melepaskan lengannya dari pinggang Hazel.


Di depan mereka saat ini ada sebuah gua yang tidak terlalu besar. Di samping gua terdapat sungai yang mengalir, gemericik air terdengar menenangkan.


“Aku tinggal di sini selama beberapa hari,” ucap Lynx memberitahu, ia berjalan mendekati sungai.


Membasuh lengan serta wajah agar menghilangkan darah pria tadi. Kemudian menoleh kembali pada Hazel yang masih terlihat kebingungan.


“Kemarilah, bersihkan wajah dan kakimu juga,” suruh Lynx sambil memberi kode lewat tangan.


Hazel bergerak patuh, masih agak sungkan untuk bersikap biasa. Tubuhnya ikut duduk di samping Lynx, memasukan kedua kakinya yang kotor ke dalam sungai yang dingin.


Beberapa menit lenggang.


Gadis itu semakin tidak tahan dengan banyaknya pertanyaan yang timbul dalam benaknya, jadi ia memutuskan untuk kembali bertanya padanya. Ingin tahu tentang semua ini tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


“Kau ... Tampak terlihat berbeda, Lynx. Ini malam hari, kenapa kau tidak berubah wujud menjadi rubah?”


Lynx yang sedari tadi memalingkan wajah tanpa mau melirik pada Hazel, menarik nafas secara dalam. Sejak tadi dirinya berusaha mati-matian menahan perasaan gelisah dan rasa panas yang terus menjalari tubuh.


“Setelah aku menjawabnya, maukah kau kembali ke rumah? Seperti yang sebelumnya pernah aku katakan. Seminggu, ya kurang lebih seminggu kita tidak perlu bertemu. Atau secara sederhananya, kita tidak boleh bertemu di saat malam bulan purnama biru,” balas Lynx, dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Sungguh, ia ingin sekali menatap Hazel dengan leluasa. Menggapai lengan lembut gadis itu, meremat jemari lentiknya dengan puas. Tapi Lynx takut kehilangan kendali.


“Sudah kuduga.” Hazel menekuk wajah, sedih. “Pasti ada sesuatu dibalik malam purnama biru ini.”


Lynx mengangguk. “Maaf tidak terus terang dari awal. Karena sebenarnya ... Setiap malam purnama biru tiba, aku sedang dalam masa rut.”


Hazel menoleh, melihat pada pria di sampingnya karena tidak paham. “Rut?”


Lynx kembali mengangguk, melihat Hazel sebentar lalu menatap sesuatu di bawah perutnya agar gadis itu mau juga menatapnya.


Kain tipis yang dipakai untuk menutupi bagian bawah tubuh Lynx terlihat ada yang berbeda. Tampak menonjol. Dan dipastikan kalau Hazel paham apa maksud rut yang dikatakan Lynx tadi.


“Ma-maksudnya ... Kau...” Hazel gelagapan, pipinya dipenuhi semburat merah. Tidak menyangka ternyata ini alasan Lynx meminta waktu untuk menyendiri.


Rut bisa diartikan sebagai masa gairah yang menggebu-gebu, sulit dikendalikan bahkan bisa mengalahkan akal sehat. Bagi mahluk seperti Lynx, hal ini pasti akan terjadi. Tepatnya saat malam purnama biru.


“Kau berpikir pasti ini menjijikkan kan?” Lynx tersenyum getir. “Tapi inilah aku. Kau benar, Hazel. Kita terlalu berbeda sampai-sampai sulit untuk disatukan.”


Hazel menggeleng lemah. Ingin menyanggah ucapan Lynx barusan. Tapi masih bingung bagaimana merangkai kata agar tidak membuat pria itu salah paham.


Lynx berjongkok, tangannya dimasukan ke dalam air dan dijadikan wadah. Air yang berhasil ia tampung langsung dimasukkan ke dalam mulut. Mendiamkannya selama beberapa detik, lalu bergerak mendekat pada Hazel.


Hazel tidak tahu apa yang akan dilakukannya, tapi dari bahasa tubuh Lynx seolah memintanya untuk membuka mulut. Jemari panjang dan tebal pria itu menyentuh bibirnya, semakin dibuka lebar.


Ketika wajah mereka saling bertemu, hidung antar hidung sudah bersentuhan, dilanjut dengan kedua bibir yang menyatu. Air dari dalam mulut Lynx berpindah pada mulut Hazel.


“Telan itu. Air itu bisa memulihkan tenagamu yang hilang,” suruh Lynx.


Selepas itu, Lynx langsung berdiri. Mengulurkan tangan pada Hazel yang juga menatapnya.


“Ayo aku antar kau pulang dengan selamat. Kau tidak bisa di sini. Aku tidak tahu sampai kapan bisa menahan diriku untuk tidak melakukannya. Kau kan tahu, aku mencintaimu. Melihatmu begini, aku kesulitan mengendalikan diri,” kata Lynx menjelaskan panjang lebar.


Hazel menunduk, hatinya menolak untuk pulang. Merasa kalau ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Dadanya bergemuruh hebat, bergojak panas. Tidak bisa dibohongi bahwa memang hatinya sudah sepenuhnya jatuh pada Lynx.


“Aku tidak mau pulang. Aku mau di sini,” putus Hazel sambil menekuk kakinya, duduk membelakangi Lynx.


Pria yang masih mengulurkan tangannya itu terkekeh. “Ayolah, Hazel. Aku tidak main-main. Kau lihat sendiri kalau aku ini berbeda. Warna mataku menunjukkan secara jelas kalau aku begitu berbahaya bagimu.”


“Tidak,” tolak Hazel. “Kau tidak berbahaya. Kau ... Penyelamat bagiku.” Suaranya sedikit merendah, tapi masih bisa didengar oleh Lynx.


“Kau tidak bisa tinggal di sini.” Lynx melembut, mencoba memberi pemahaman bagi gadis itu. “Kau akan menyesal ketika aku benar-benar melakukannya. Mungkin kita tidak bisa lagi bertemu dan berteman seperti ini.”


Hazel menggeleng pelan. “Aku tidak akan menyesalinya.” Menjeda sebentar ucapan untuk mengambil nafas, lalu Hazel memejamkan mata agar membiarkan hatinya ikut berkontribusi dalam memutuskan pilihan ini.

__ADS_1


“Karena aku...”


***


__ADS_2