
Semilir angin berhembus cukup kencang, menyapu pori-pori yang basah karena keringat. Terasa menyegarkan dan nyaman. Kelopak mata dengan bulu yang mengibar perlahan terpejam sempurna, merasakan deburan angin di sore hari.
Sudah terhitung hampir seminggu mereka berdua menghabiskan waktu di dalam hutan. Bersama-sama mereka melakukan banyak hal. Bagaikan pasangan suami istri, mereka bahu membahu menyelesaikan semua permasalahan yang ada.
Sampai lupa, kalau di luar hutan ini mereka mempunyai kehidupan yang tak boleh ditinggalkan. Apa daya, keduanya terlena oleh bisikan cinta yang menggelora dari dalam dada masing-masing.
Hingga akhirnya mereka tersadarkan oleh suatu hal. Tumbuhnya bulu-bulu halus berwarna oranye di tubuh Lynx, membuat Hazel bertanya-tanya. Semakin hari, bulu-bulu itu tumbuh memanjang.
Dua hari ke belakang, tumbuh ekor dan telinga yang biasanya Lynx keluarkan bila merasakan perasaan senang atau sedih secara berlebih. Tapi sekarang, ekor dan telinga runcingnya tidak bisa disembunyikan lagi.
Ada apa?
Sebenarnya apa yang terjadi pada Lynx?
Pertanyaan itu akan terjawab sekarang. Karena Hazel terus mendesak, ingin tahu semuanya. Takut kalau ini akan menjadi pertanda buruk bagi kekasihnya itu jika dibiarkan berlama-lama.
“Bukan berniat ingin menyembunyikannya darimu, Hazel. Tapi aku hanya tidak ingin kehilangan waktu denganmu. Aku ingin lebih banyak membuat kenangan bersamamu. Dan aku siap mengambil resiko ini, karena aku sudah memperkirakan hal ini akan terjadi,” ungkap Lynx, mulai menceritakan segalanya.
Hazel masih menyimak, mimik wajahnya terlihat tidak tenang. Jantungnya berdegup tak berirama, dentuman di dalam sana semakin terdengar meledak-ledak. Bahkan saat ini kedua telapak tangannya sudah dingin dan mengeluarkan keringat.
“Seperti yang sudah kau ketahui tentang sinar dari liontinku yang mulai memudar, ini bagaikan sinyal bagiku. Sinyal agar aku cepat pulang ke tanah kelahiran. Tanah dimana mulanya aku berpijak. Waktuku tidak banyak sebenarnya...”
Lynx menjeda ucapannya sebentar, ia menghirup nafas begitu kuat sampai tulang rusuknya terasa nyeri. Menahannya sebentar, sebelum akhirnya mengeluarkan nafas berat itu ke udara seraya menanggahkan kepala.
Hazel yang tak sabaran, lantas bertanya, “Apa resiko jika kau tidak kembali?” Tubuhnya lebih menyamping ke arah Lynx, menggapai bahu kekasihnya agar mau menghadapnya juga.
__ADS_1
Padahal sedang berada di dalam situasi genting, tapi Lynx masih sempat-sempatnya terkekeh. Walau pun dari sorot matanya tidak bisa membohongi bahwa ada kesedihan yang sedang dirasakan.
“Aku akan menjadi manusia rubah. Dalam artian, aku tidak bisa menjadi wujud manusia yang normal juga tidak bisa menjadi rubah pada umumnya. Sebentar lagi tubuhku akan dipenuhi bulu, wajah tampan yang sering kau puji pun akan tertutupi bulu tebal, mungkin sebentar lagi mulutku pun akan berubah layaknya sang rubah.”
Ekspresi santai Lynx saat mengatakan hal tadi, memantik emosi dalam raga Hazel. Bagaimana bisa pria itu mengambil resiko seperti itu? Ada rasa tidak terima dalam diri Hazel saat mendengarnya.
“Selain itu, apa ada resiko lain?” tanya Hazel, emosi yang bergejolak masih berusaha ia tahan.
“Setelah liontin ini benar-benar padam, sihir di dalamnya sudah hilang total, aku tidak bisa kembali ke wujudku. Aku dianggap sudah terkena kutukan. Tidak akan diterima di duniaku, juga umurku akan terkikis setengah. Dalam artian, aku tidak akan bisa hidup lebih lama,” balas Lynx, pandangannya menyapu ke lain arah.
Hazel menepuk jidatnya pelan, sesaat ia memijit batang hidungnya. Mencoba memahami situasi yang agak membingungkan di sini. Ingin marah, tapi alasan Lynx pun menyangkut dirinya. Perihal cinta, ternyata bisa menutupi akal sehat seseorang.
“Itulah sebabnya kenapa aku meminta janji darimu. Ayo ikut bersamaku. Kita pergi dari sini, Hazel. Sebelum aku mendapat kutukan itu, kita harus sampai ke duniaku. Kita berjuang di sana, cinta kita harus mendapat pengakuan dari mereka. Agar kita bisa hidup dengan damai di sana,” bujuk Lynx, tubuhnya menggeser lebih dekat pada Hazel.
“Aku sudah menghilang selama seminggu, Lynx.” Hazel menepis lengan Lynx yang mencoba ingin merangkul, menatap manik kebiruan itu dengan lamat-lamat.
Diberitahu seperti itu, Lynx terdiam. Mulutnya tak mampu menimpali ucapan Hazel. Merasa kalau memang ini bukan waktu yang tepat untuk membawanya pergi dari sini.
Tapi di sisi lain, Lynx tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Takdirnya sedang dipertaruhkan, dan masa depannya juga akan berimbas. Dalam situasi yang penuh kebimbangan ini, Lynx sulit mengambil keputusan.
Hazel menunduk, jemari-jemari lentiknya ditempelkan pada dada telanjang Lynx. “Pergilah, Lynx. Tinggalkan aku di sini. Urusi dulu tubuhmu, kau bisa kembali kapan pun untuk menemuiku. Setelah semuanya siap, aku tidak akan ragu untuk ikut denganmu.”
Deg.
Tidak, tidak. Itu bukan jawaban yang Lynx mau. Memikirkannya saja sudah membuatnya nyaris gila. Membayangkan dirinya kembali tanpa membawa Hazel, mungkin tidak akan ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk melarikan diri ke dunia manusia.
__ADS_1
Bisa jadi ayahnya yang sedang murka langsung menikahkannya dengan gadis yang sedari awal sudah dijodohkan dengannya. Dengan begitu, Lynx tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Hazel.
Oleh sebab itulah Lynx menganggap apa yang dikatakan Hazel bukanlah solusi yang terbaik. Ia merasa tidak akan ada lagi kesempatan setelah ini. Tapi memikirkan bagaimana cara menggunakan kesempatan yang ada, rasanya seperti berada di jalan yang buntu.
“Aku sudah berjanji, aku tidak akan pernah mau meninggalkanmu. Kau harus ikut denganku, Hazel. Aku...”
“Berhenti berpikir seperti orang bodoh, Lynx,” tumpas Hazel dengan nada menahan kesal. Mata cokelatnya sudah menyorot sinis padanya.
“Cinta kita tidak mungkin usai hanya karena raga kita sedang berjauhan. Pikirkan dulu tubuhmu, bagaimana jika kau tidak bisa kembali seperti semula? Lagi pun, dengan kondisi tubuhmu yang begini pastinya akan sulit untuk berbaur di dunia manusia,” tambah Hazel, terdengar tegas.
Kedua mata Lynx berkaca-kaca, rasanya Hazel tidak akan pernah mengerti. Sulit untuk diungkapkan melalui kata-kata, jadi Lynx memilih untuk memeluk kekasihnya itu terlebih dahulu.
Bruk.
Tubuh mereka berpelukan. Tak lama, emosi Hazel mulai mereda. Tangan kecilnya yang berada di punggung Lynx merasakan getaran tak beraturan, suara isak tangis pun mulai terdengar.
Pria dengan tubuh besar itu sedang menangis sekarang. Ekor lebatnya tampak layu, begitu pun telinga runcingnya yang menelungkup. Rasa sedihnya tersampaikan dengan baik pada Hazel.
“Hei, Lynx. Tak apa, aku janji akan menjaga diri dengan baik mulai saat ini. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kau pasti akan datang untuk menemuiku lagi, 'kan?” tanya Hazel lembut tepat di telinga kekasihnya, jemari lentiknya memainkan anak rambut di leher Lynx.
“Aku mencintaimu, Hazel,” ucap Lynx di sela-sela sesenggukannya.
Hazel angguk-angguk. Air matanya ikut menetes. “Aku lebih mencintaimu, Lynx. Maka dari itu, kau harus berjanji untuk menemuiku lagi. Di lain kesempatan, aku akan ikut bersamamu.”
Lenggang beberapa menit. Hanya ada suara isak tangis yang saling bersahutan. Padahal beberapa hari kemarin mereka masih tertawa menikmati kebahagiaan yang diciptakan bersama-sama. Tapi hari ini, mereka ditempatkan pada posisi menyulitkan seperti ini.
__ADS_1
***