Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 15 - Salah Sangka.


__ADS_3

Semenjak kejadian memalukan tadi pagi, mereka berdua terus berada di situasi canggung. Sepanjang perjalanan menuju kedai tempat mereka bekerja, tidak ada satu pun dari keduanya yang memulai pembicaraan.


Terlebih, sebelumnya Hazel sempat membahas soal menjaga jarak. Lynx jadi sungkan kalau harus bersikap seperti biasanya. Ia tahu ini salahnya, dan juga paham mengenai keresahan gadis itu. Jadi sebisa mungkin Lynx tidak akan membuat masalah lagi.


“Hazel,” panggil Lynx yang berjalan di belakang tubuh gadis berambut oranye itu. Mendadak Lynx teringat sesuatu.


“Kau sudah memikirkan soal uang sewa? Bagaimana jika aku mencari pekerjaan lain? Pekerjaan dengan gaji yang lebih besar tentunya. Aku akan mencoba peruntungan di tempat lain,” tawar Lynx, melalui obrolan ini dirinya mengambil kesempatan untuk mencairkan suasana.


Hazel yang tidak menoleh sama sekali, bahkan tidak menghentikan kedua kakinya, seketika menjawab, “Tidak. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Biar ini menjadi urusanku. Bukan pilihan yang tepat jika kau keluar dari kedai itu. Jangan sampai membuat masalah, kita baru sehari bekerja di sana.”


Lynx yang tidak mau membantah, langsung mengangguk patuh. “Baik. Aku hanya memberi saran saja.”


Mengenai uang sewa, Hazel hampir melupakannya. Padahal baru malam tadi dirinya dicaci maki dan terpaksa bertekuk lutut untuk merendahkan dirinya di depan orang-orang yang memiliki banyak uang.


Hanya karena kejadian di pagi hari tadi, Hazel sedikit terlena dari kesedihan yang biasanya selalu membuatnya hilang semangat. Semenjak ada Lynx, Hazel baru menyadari kalau kehidupannya tidaklah seburuk sebelumnya.


Entah karena sifat polos Lynx yang terkadang membuatnya kesal setengah mati, atau mungkin karena ketulusannya itu yang rela menemani dalam kondisi seperti ini. Tapi apa pun alasannya, Hazel harus bersyukur atas perubahan dalam hidupnya.


“Akhirnya kalian datang juga. Aku khawatir kalau kalian datang telat atau parahnya lagi tidak kembali ke sini,” sambut Marrie, wanita paruh baya itu yang tampak sumringah melihat kehadiran Hazel dan Lynx.


Hazel mengukir senyum tipis. “Itu tidak mungkin, Nyonya. Sebisa mungkin kami akan melakukan yang terbaik.”


Sedang Lynx yang berdiri di samping Hazel hanya manggut-manggut saja.


“Baiklah. Kalau begitu kau masuk ke dapur. Sebelum membuka kedai, kau bertugas untuk membantu para pegawai lain menyiapkan makanan,” titah Marrie pada Hazel dengan lirikan matanya yang sinis.


Ketika netranya berpindah pada Lynx, ekspresinya berubah total, tidak ada lagi lirikan mata sinis dan nada ketus yang ditunjukan. Perbedaan yang begitu kentara tersebut terkadang menyentil hati Hazel yang rapuh.


Marrie menunjukan senyuman genit sambil sesekali menepuk-nepuk bahu Lynx karena gemas. “Sedangkan Edgard, kau bisa duduk sambil menunggu para pelanggan berdatangan.” Ia menggandeng lengan Lynx begitu saja, lalu menuntunnya pada salah satu meja.


“Tunggu sebentar di sini. Aku akan membawakanmu sarapan,” kata Marrie setelah mendudukan Lynx. Namun pria itu menghentikan langkahnya yang buru-buru akan pergi, sehingga Marrie kembali menoleh padanya.


“Tidak perlu repot-repot, Nyonya. Aku sudah sarapan di rumah tadi,” tolak Lynx dengan halus.


Tapi Marrie yang kukuh ingin memberi pria itu sarapan, memilih untuk mengabaikan penolakan tersebut. “Ayolah, kau belum pernah merasakan mie kuah di kedai ini. Mie dengan kuah yang dibuat berdasarkan resep turun temurun, rasanya tidak berubah sama sekali. Dan ketika kau mencobanya nanti, kau pasti akan menyukainya.”


Belum sempat Lynx melontarkan penolakan lagi, wanita itu sudah melesat pergi. Lynx menarik nafas kasar seraya bertopang dagu, ekspresi bingungnya memunculkan lipatan di kening.


“Mie kuah?” Lynx bergumam, banyak pertanyaan yang bermunculan di benaknya. “Makanan sejenis apa itu?”


Beralih dari Lynx, keadaan dapur di kedai kecil milik Marrie ternyata dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Banyak orang yang hilir mudik ke sana kemari dengan gesit memasukan bahan-bahan masakan ke kuali besar.


Hawa panas sangat terasa karena dapur yang sempit itu hampir separuhnya ditempati oleh tungku api yang luas. Sebagian orang yang juga cekatan membuat adonan mie, tidak sekali pun terlibat percakapan. Mereka begitu fokus.


Sedangkan Hazel, yang bingung harus melakukan apa. Hanya bisa berdiri sambil melihat orang-orang itu bekerja. Ketika bola matanya bergulir ke samping, ia menangkap sosok Marrie yang tengah mengambil sesuatu dari dalam laci.


Tak sengaja Hazel melihat beberapa lembar uang tersimpan rapih dalam laci itu. Satu hal yang Hazel pikirkan saat ini. Menganggap kalau wanita tua itu mungkin bisa membantunya.


Jika Hazel nekat meminjam uang padanya, apakah mungkin akan berhasil?


Anggap saja kalau Hazel sudah gila, baru bekerja sehari dirinya sudah berani meminjam uang. Karena keadaan yang terpaksa, membuatnya berada dalam posisi terpojok dan tidak punya pilihan lain. Lagi-lagi, Hazel harus menurunkan harga dirinya.


Menyedihkan bukan?


“A-anu, Nyonya ...” Hazel menghentikan langkah wanita paruh baya itu yang tengah membawa satu porsi makanan dalam nampan.


Marrie yang melihat kalau Hazel tidak melakukan pekerjaan apa pun, tentu saja merasa kesal. Terlihat dari alisnya yang menyatu, ekspresinya juga nampak tak bersahabat.

__ADS_1


“Kau masih di sini? Kenapa tidak berbaur dengan yang lain? Banyak pekerjaan yang mesti kau lakukan.” Marrie bertanya dengan raut ketusnya.


Hazel menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malu yang sudah lebih dulu hinggap. Nyalinya mendadak menciut ketika tahu respon wanita itu terlihat menakutkan.


“S-sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu, Nyonya,” cicit Hazel dengan kepala yang sudah menunduk, jemari tangannya ia mainkan dengan gelisah.


“Apa itu?”


Berusaha sebisa mungkin mengesampingkan gengsi dan rasa malunya, serta menyiapkan mentalnya semisal menerima penolakan yang sadis, akhirnya Hazel memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya.


Berharap kalau wanita yang selalu memasang tatapan mengintimidasi padanya itu mau menolongnya. Kalau pun tidak, Hazel masih berharap setidaknya penolakan yang diterimanya nanti akan baik-baik.


Sebelum Hazel membicarakan keinginannya tersebut pada Marrie, tanpa disadari ternyata Lynx secara sembunyi-sembunyi untuk menguping. Tubuh tingginya itu berdiri dari balik tembok dekat ambang pintu, sengaja melakukanya karena ingin tahu apa yang mereka bicarakan.


“Bo-bolehkah aku meminjam uang, Nyonya?” cicit Hazel, ia menahan nafas sebentar untuk meredakan rasa gugupnya.


“Meminjam uang? Apa kau sudah gila?” Marrie tidak habis pikir setelah mendengar apa yang barusan Hazel katakan.


“Benar, Nyonya. Aku butuh uang untuk membayar sewa rumah. Kau bisa memotong gajiku sampai hutangku padamu lunas,” balas Hazel, masih dengan menundukkan kepala.


Namun Marrie tampaknya tidak memiliki rasa iba setelah mendengar penjelasan Hazel yang meminta sebuah pertolongan. Karena baginya, itu bukan urusan yang harus dirinya pikirkan.


“Jangan mengada-ada. Aku mana mungkin bisa meminjamkan uang padamu. Terlebih kau belum lama bekerja di sini. Lebih baik kau kembali bekerja, sebentar lagi pelanggan pasti akan berdatangan,” timpal Marrie seraya berjalan melewati Hazel begitu saja.


“Hufft...” Bahu Hazel merosot seiring dengan helaan nafas yang ia keluarkan. Sepertinya ia benar-benar harus tidur di jalanan malam ini.


***


Waktu ke waktu beranjak cepat, karena kedai makanan hari ini cukup ramai, Hazel dengan wajah kusutnya itu mendapat teguran beberapa kali dari pelanggan.


Berulang kali gadis itu membuat kesalahan. Entah salah mengantar pesanan, keliru menuliskan pesanan, atau bahkan tak sengaja menjatuhkan gelas dan mangkuk. Kekacauan tersebut hampir terjadi berkali-kali.


Lynx juga diam-diam mencuri pandang ke dalam kedai, melihat Hazel yang dimarahi atas kesalahannya. Lynx yang sudah paham dengan situasinya, merasa harus melakukan sesuatu.


Di waktu senggang ketika pelanggan tidak begitu ramai dan bisa dikondisikan, Lynx menyelinap masuk ke dalam kedai. Mencari keberadaan Marrie tanpa sepengetahuan Hazel.


Demi membantu seseorang yang akhir-akhir ini memiliki tempat di hatinya, Lynx rela melakukan apa saja untuk mengembalikan senyum yang hilang di wajah gadis itu.


“Edgard? Kenapa kau kemari? Ada yang kau inginkan?” Marrie yang sedang sibuk di ruangan belakang untuk mengontrol para pegawai, sedikit kaget melihat sosok Lynx yang tiba-tiba ada di sini.


“Nyonya, apa kau mau membuat kesepakatan denganku?” Lynx langsung bicara ke intinya, tidak mau membuang waktu dengan basa-basi.


Dahi Marrie mengerenyit bingung, sedikit memiringkan kepalanya. “Kesepakatan?”


***


Hari mulai senja, pertanda jam kerja sudah selesai. Hazel yang memang seharian ini tidak berinteraksi sama sekali dengan Lynx ketika bekerja, tidak tahu dimana keberadaan pria itu sekarang.


Ketika menerima upah harian pun, Lynx tidak menunjukkan batang hidungnya. Hazel celingukan ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sosok pria berambut gondrong itu. Namun ia tidak melihatnya di mana-mana.


Marrie menyatukan alisnya ketika melihat kehadiran Hazel yang tampak kebingungan.


“Kenapa kau ikut mengantri?”


Hazel menggulirkan bola matanya secara cepat. Apa karena hari ini dirinya banyak membuat kesalahan, jadi wanita itu enggan memberinya upah?


“Pulanglah, temui Edgard. Uang milikmu sudah aku berikan padanya,” ujar Marrie lagi, tapi rasa bingung Hazel belum hilang secara tuntas.

__ADS_1


Hazel lantas pergi dengan tangan kosong. Tidak menerima sepeser uang setelah seharian bekerja. Dalam pikirannya banyak pertanyaan yang berenang-renang membutuhkan jawaban, sedangkan sosok Lynx masih belum kelihatan sampai detik ini.


Dalam situasi yang masih dibalut kebingungan, pikiran buruk Hazel sudah semakin menjalar ke mana-mana. Bahkan dirinya berpikir kalau Lynx sudah membawa kabur uang tersebut, dan meninggalkannya sendirian dalam keadaan menyulitkan ini.


“Hah, aku harus segera mengemas barang-barang dan segera mengosongkan rumah itu. Tidak peduli kemana perginya rubah sialan yang sudah membawa upah kerjaku, karena memang sejak awal seharusnya aku tidak perlu kasihan dan berempati padanya,” cerocos Hazel dengan perasaan kesal yang menggondok.


Tapi apa yang dirinya lihat pertama kali setelah menginjak pekarangan rumah, berbanding terbalik dengan apa yang barusan memenuhi pikirannya. Sempat menerka kalau Lynx pergi sambil membawa kabur uangnya, tapi ternyata pria itu sekarang ada di depan pintu rumah.


Bukan tanpa kerjaan Lynx berdiri di sana, bukan juga sengaja menunggu Hazel dan ingin menyambutnya yang baru sampai ke rumah. Melainkan Lynx berbincang dengan dua orang pria yang malam tadi datang menagih uang sewa.


Ketika Hazel berjalan ke arah mereka, dua orang pria di sana sudah akan pergi. Di tangan salah satu dari mereka ada sebuah gepokan uang yang dikibas-kibaskan ke dekat wajah.


Tubuh mereka yang melewati Hazel, sesaat berhenti untuk mengatakan sesuatu, “Lain kali jangan telat membayar uang sewa.”


Bibirnya menyeringai penuh arti. Sedikit mendekat pada telinga Hazel. Lalu kembali berbicara, “Ngomong-ngomong, apa sekarang kau beralih profesi menjadi teman tidur pria tampan?”


Hazel tidak menjawab, namun terlihat dari rahangnya yang mengetat bahwa amarah sudah menyulutnya sekarang. Tapi karena Hazel sudah lelah jika harus berdebat dengan mereka, lagi pula apa yang mereka katakan tidak sesuai dengan kebenarannya, jadi rasanya sia-sia jikalau harus repot meluruskan.


Dari pada itu, Hazel memilih untuk menemui Lynx yang masih berdiri di depan pintu rumah. Menghampirinya untuk menanyai apa yang sebenarnya terjadi. Karena jika dilihat sekilas dari potongan kejadian barusan, Hazel berpikir kalau Lynx sudah membayar uang sewa rumah ini.


“Kau yang melunasi uang sewa rumah?”


Lynx mengangguk. “Ya, aku melunasinya. Jadi kita tidak perlu angkat kaki dari rumah ini.”


“Uang yang kau dapat dari mana? Upah harian ini juga sudah kau ambil, tapi jika dibayarkan untuk uang sewa ... Bukankah itu tidak cukup?” Hazel kembali menyodori pertanyaan.


Sambil melebarkan senyum penuh ketulusan, Lynx menjawab, “Aku meminjam uang pada Nyonya Marrie. Aku terpaksa melakukannya, karena aku tidak mau melihat kau harus luntang-lantung di malam hari karena tidak memiliki tempat tinggal.”


Mendengar itu, hati Hazel terenyuh. Merasa menyesal karena telah menuduh dan berprasangka buruk pada pria itu sebelumnya. Padahal jika dipikir-pikir, Lynx dengan sifat polos dan sedikit bodoh itu harusnya Hazel tidak perlu menduga terlalu jauh.


“Sebelumnya aku ingin minta maaf. Aku sempat menuduhmu hal yang tidak-tidak. Terima kas---”


“Tunggu sebentar,” potong Lynx, tatapan matanya itu tertuju pada sesuatu. Tepatnya pada telunjuk tangan Hazel yang terluka. Karena sebenarnya sejak tadi perhatian Lynx sudah terfokus ke sana.


“Jarimu terluka?”


Hazel mengangguk pelan. “Ya, tapi itu luka kecil. Tidak sengaja terluka saat aku mengambil pecahan---”


“EH?! A-apa yang kau lakukan?” Gadis itu berteriak kaget, menyudahi ucapan sebelumnya yang belum tuntas karena tiba-tiba saja Lynx menarik telunjuknya untuk dimasukan ke dalam mulut.


Ingin menarik telunjuknya dari sana, tapi Lynx tidak membiarkannya. Perlakuannya itu mengundang dentuman jantung Hazel semakin berpacu lebih kuat. Hingga rasanya ia bisa mendengar sendiri degupan tersebut.


Tak sadar kalau semburat merah sudah muncul di permukaan kedua pipinya, Hazel bahkan tidak berkedip sekali pun. Ia fokus melihat Lynx yang sibuk mengulum jarinya. Merasakan secara nyata kalau lidah sedikit kasar milik pria itu menyelimuti jarinya di dalam sana.


Lynx melakukannya karena berniat untuk menyembuhkan, mengingat air liurnya mampu mengobati luka orang lain. Tapi sepertinya Hazel lupa tentang kemampuan pria itu.


“Manis.” Itu yang Lynx ucapkan setelah mengeluarkan telunjuk Hazel dari mulutnya. Lengkungan bibirnya muncul bersamaan dengan telinga runcing dan ekor lebatnya.


“Hihiii.” Lynx semakin menarik sudut bibirnya, menenggelamkan tatapan hangatnya ke dalam lekukan indah senyumnya. “Beberapa saat lagi luka itu akan sembuh.”


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Lynx memutuskan untuk masuk ke dalam. Karena sebentar lagi hari mulai gelap, dirinya tak boleh menunjukkan perubahan tubuhnya di sembarang tempat.


Sedangkan Hazel yang masih merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya, terlihat linglung dengan pandangan yang berpencar cepat. Hatinya berasa di porak-porandakan dalam sekejap mata.


Padahal tahu, kalau pria itu tidak ada maksud lain selain mengobati lukanya. Tapi kenapa Hazel sulit mengendalikan diri?


“Hei, sadarlah. Jangan terlena pada pesonanya.” Hazel menepuk pipinya berulang kali, berusaha menghilangkan perasaan aneh yang masih menggebu dalam dada.

__ADS_1


***


__ADS_2