
Menunggu sampai Jack benar-benar menutup mata, beristirahat dengan tenang, selama itu pula Putri Ren menahan tangis yang sudah siap akan runtuh dari pelupuk mata. Dadanya sesak, tapi masih memaksakan untuk tetap terlihat baik-baik saja.
Setelah pria berambut panjang itu memejamkan matanya, sekitar lima menit masih setia duduk di samping ranjang, Putri Ren sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari paras tampan milik Jack.
Rasanya masih tidak menyangka, di hari ini dirinya harus menerima sebuah kenyataan bahwa pria yang amat dicintai tak mungkin bisa dirinya raih. Sulit, dan sangat mustahil. Satu-satunya cara, Putri Ren harus merelakan cintanya yang belum sempat mekar.
Menyadari bahwa ada seorang wanita yang singgah dalam hati Jack, Putri Ren merasa sangat iri. Ingin tahu, seperti apa rupa wanita itu. Tapi mendengar kalau wanita tersebut tak mungkin bisa ditemui, apa mungkin keberadaannya sudah tiada di dunia ini?
Perlahan jari-jemarinya yang lentik terangkat, mendekat pada wajah Jack. Sekali saja, ya hanya sekali dan mungkin untuk yang terakhir, Putri Ren ingin menyentuh kulit pucat itu.
Menggerayangi permukaan kulit yang mulus tanpa bekas luka, telunjuknya turun menyentuh kedua bibir Jack yang tampak kering. Di detik itu air mata Putri Ren tumpah, berjatuhan tak terbendung lagi.
Mengangkat sedikit tubuhnya, Putri Ren berdiri setengah badan sambil mencondongkan wajahnya pada kening Jack. Memberi kecupan singkat di sana, dalam hati pun Putri Ren berbicara sesuatu.
“Aku mencintaimu, Jack. Biarkan aku menyentuhmu untuk terakhir kalinya,” bisik Putri Ren sepelan mungkin, berharap Jack yang tengah berada di bawah alam sadar tak mendengarnya.
Setelah melakukan itu, Putri Ren bergegas pergi dari dalam kamar. Merapihkan jubahnya, menutup kepalanya dengan tudung jubah. Berjalan menunduk dengan langkah terburu-buru.
Seharusnya Putri Ren pulang nanti setelah keadaan di sini mulai membaik, dalam artian Kerajaan Foxion sudah bisa dikatakan berada dalam zona aman. Masih banyak juga hal yang ingin dirinya lakukan, tapi setelah mendengar pernyataan menyakitkan tadi, Putri Ren memilih untuk pulang saja.
Membayangkan dirinya harus terus berpura-pura bersikap seolah tidak ada apa-apa, menjelma jadi seseorang yang tak memiliki perasaan apa pun pada pria itu, rasanya sangat menyakitkan. Putri Ren menyerah, untuk sementara ini dirinya tak mau bertemu dengan Jack.
Berjalan menuju pintu utama istana, sebelumnya Putri Ren sudah berpamitan pada Raja Arandelle. Tanpa mengatakan pada siapa pun lagi, Putri Ren lantas pergi dan meminta pengawal yang menemaninya untuk membawanya pulang.
Sementara itu, Jack yang dianggap sudah terlelap tanpa mengetahui apa pun yang sebenarnya terjadi dengan Putri Ren, ternyata ia hanya bersandiwara. Jack sepenuhnya sadar, hanya saja berlaga seolah sudah tidur.
Membuka matanya secara perlahan, Jack menyentuh bulir-buliran bening yang mengalir menuruni pipinya. Dingin dan dapat terasa itu adalah air mata menyakitkan. Kepergian Putri Ren, meninggalkan air mata yang belum mengering.
“Apa aku baru saja menyakiti hatinya?” Jack bergumam linglung, masih shock dengan apa yang sudah dirinya dengar barusan.
__ADS_1
Karena sebenarnya Jack sudah menyadari dari tatapan Putri Ren yang membuatnya bingung dan pertanyaan yang dilontarkan gadis itu terdengar sedikit aneh. Dan selepas mendengar apa yang dibisikannya sesaat sebelum pergi, Jack akhirnya mengetahui apa isi hati Putri Ren.
Terkejut.
Pria itu sampai lupa bagaimana caranya bernafas. Pun sampai detik ini dadanya terasa berdentum-dentum, bukan karena merasa bahagia setelah mengetahui ada gadis yang mau mencintainya, terlebih dia adalah Putri Bangsawan. Melainkan ada perasaan nyeri yang mendadak muncul di dalam sana.
Tapi ia sama sekali tidak menyesal telah mengakui kebenarannya dihadapan Putri Ren. Jack merasa itu adalah cara yang tepat agar membuat gadis itu tahu , bahwa pria yang dicintainya bukanlah pria yang pantas didapatkan.
Kejadian ini membuat Jack kembali dibawa pada ingatan menyakitkan yang sudah lama dirinya pendam dan kubur dalam-dalam. Sayangnya, ingatan menyakitkan itu tak bisa hilang. Rasa sakitnya sudah seperti bagian dari dalam dirinya.
Memukul kepalanya berulang kali, Jack mulai terisak. Nafasnya mulai terputus-putus. Kenangan bagai kaset rusak itu terus berputar dalam ingatan tanpa diminta. Perlahan mengikis akal sehatnya kembali.
“Jeanna. Hikss...”
***
Pria dengan luka codet di sebelah mata kanannya baru saja sadar dari pingsannya, dia tampak kebingungan. Matanya melirik-lirik ke sembarang arah, menyadari kalau saat ini ia tengah berbaring di kamarnya sendiri.
“Kau sudah bangun?”
Suara itu ... Terdengar tak asing.
Masih berusaha mengumpulkan kesadaran, Pangeran San menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Duduk sambil memandangi punggung wanita yang tengah berdiri menghadap kaca jendela.
“Ibunda?”
Wanita bergaun merah mencolok itu lantas menoleh, siapa pun bisa melihat kalau ekspresi yang dibuatnya menunjukkan kekesalan yang mendalam.
“Aku kecewa padamu, San!” ungkapnya berapi-api seraya mengepalkan kedua tangan, tubuhnya berjalan mendekati putranya tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kau kalah satu langkah dari Lynx?! Aku sudah mendengar kalau pelantikan putra mahkota diundur, Ayahmu itu tiba-tiba berubah pikiran. Menurutmu karena apa? Anak dari si pengkhianat itu pasti berusaha cari celah!”
San menunduk, memainkan jemarinya yang bertaut di atas paha. “Aku sudah berusaha, Bu. Tapi Ayah...”
“Aku tidak mau mendengar itu!” potongnya, kali ini ia sudah berkacak pinggang. “Jangan mau kalah, San! Kau sedari kecil sudah ku perjuangkan mati-matian agar bisa merebut posisi itu. Jangan karena kau tidak memiliki mata yang sama seperti Lynx, kau jadi pesimis seperti ini!”
Merasa kesal diceramahi seperti itu, San lantas berdecak sambil melayangkan tatapan putus asa. “Kenapa, Bu? Kenapa Ibu selalu tergila-gila dengan takhta? Tanpa aku menjadi Raja, kita masih bisa tinggal di istana ini.”
Berjalan tergesa, Ratu Emely — ibu kandung dari Pangeran San, mendaratkan tamparan nyaring tanpa ragu-ragu. “Kau pikir hanya itu tujuanku? Jangan naif, San! Buka mata dan pikiranmu! Jangan terlalu nyaman dengan posisimu yang sekarang.”
“Ingat, kita tidak memenuhi ekspektasi Ayahmu. Kau memang pernah dibanggakan olehnya dan kekuatanmu diakui oleh siapa saja. Tapi sekarang, setelah Lynx menunjukkan kemampuannya yang tidak dimiliki siluman rubah lain, cepat atau lambat kau akan disingkirkan!”
Mengambil nafas perlahan, Ratu Emely mencoba untuk bersikap tenang. “Perang dengan Kerajaan Maggie akan segera berlangsung, di malam sebelum peperangan nanti tolong jangan buat aku kecewa.”
“... Tunjukkan kalau kamu yang terbaik dan terhebat, buktikan kalau Lynx tidak ada apa-apanya dibanding dirimu. Hanya itu satu-satunya cara agar Ayahmu mau melirik padamu lagi. Mengerti?!”
San diam seribu bahasa. Sungguh, ingin sekali rasanya memberontak. Tapi apa daya? Yang sedang dirinya hadapi saat ini adalah ibunya sendiri. Wanita yang sejak dulu sudah banyak berkorban untuknya, bahkan selalu memastikan kalau San mendapat tempat yang terbaik dalam hal apa pun, sekali pun harus mengesampingkan Sen — saudara kembarnya sendiri.
Tapi karena itu pula, sekarang ini ibunya meminta imbalan. Banyak beban dan harapan yang harus San tanggung, salah satunya memenuhi keinginan ibunya yang meminta San menjadi penerus Kerajaan Foxion.
“Diammu aku anggap setuju. Ingat, jangan buat aku kecewa,” tekan Ratu Emely sebelum memutuskan untuk pergi.
Keluar dari kamar, Ratu Emely melihat di samping pintu luar kamar ada seseorang yang menguping. Sen, putranya yang tak terlalu ia prioritaskan itu memang selalu ada dan tak pernah mau tertinggal apa pun jika mengenai San.
Tanpa menyapa, pun tidak saling pandang sebab Sen terus menunduk murung, Ratu Emely memilih untuk melanjutkan langkahnya. Meninggalkan kedua putranya di sana tanpa mau memikirkan apa yang akan mereka lakukan.
Sen masih bergeming di tempat, langkah kaki dari Ratu Emely yang kian menjauh sekarang sudah tak terdengar lagi. Berganti dengan benda-benda yang sengaja dipecahkan di dalam kamar saudara kembarnya ; San tengah mengamuk.
“Ternyata bukan menjadi prioritas tidaklah buruk,” batin Sen sambil menyunggingkan senyum hampa.
__ADS_1
***