
Beberapa jam yang lalu...
Ketika acara pertarungan antara Lynx dan San sudah dibubarkan, Jack pun juga sudah menyelesaikan urusannya dengan Ibunda Ratu Emely untuk membantu San yang tengah kesakitan, entah ada apa gerangan Raja Arandelle menghampiri Jack.
Posisinya saat itu Jack sedang sendirian, mengasingkan diri dari semuanya. Duduk di bawah pohon, termenung seraya memegangi sebelah lengannya yang mendadak bereaksi sesuatu. Rasa sakit yang menjalar membuat Jack seperti dibuat mati rasa.
“Kau tahu kan itu resiko yang harus kau tanggung untuk merealisasikan semua ini?” celetuk Raja Arandelle, sosoknya melaju ke arah Jack.
Mereka bertatapan, Jack dengan segera menyembunyikan lengan kirinya yang masih terasa berdenyut-denyut. Tanpa menunjukkan reaksi terkejut, Jack tetap tenang sambil melebarkan senyuman.
“Tentu, Paduka Raja. Aku sangat tahu tentang resiko seperti apa yang harus aku tanggung,” balas Jack sopan, sedikit membungkukkan kepala untuk memberi rasa hormat.
“Kau melakukan ritual tanpa sepengetahuanku. Membagi kekuatan sihirmu pada pedang yang digunakan Lynx, otomatis kemampuanmu akan berkurang setengah. Ditambah, belakangan ini kau sering menggunakan sihir yang tak tanggung-tanggung...”
Jack membuang pandangan ke samping, memutus kontak mata dengan lawan bicaranya. Masih tidak tahu kemana arah pembicaraan Raja Arandelle.
“Dan lihat sekarang. Tangan kirimu menghitam. Reaksi dari sihir yang sudah menjadi bagian dirimu sudah hilang, kau terlalu banyak mengeluarkan sihir. Kesakitan yang kamu rasakan sekarang, bukankah akan menyulitkanmu?”
Itu benar. Apa yang dikatakannya mengenai lengan kiri Jack yang menghitam memang benar terjadi. Jack sudah tahu hal ini akan terjadi. Tapi dirinya tak perlu berpikir dua kali untuk membuat keputusan itu, dan bahkan di detik ini dirinya sama sekali tak menyesali apa yang sudah diperbuat.
Jack menanggah, kembali menatap Raja Arandelle. “Lalu apa masalahnya? Maaf jika membuatmu kecewa, tapi aku tidak merasa seperti apa yang kau katakan, Paduka.”
Raja Arandelle menyeringai. “Jangan naif, Jack. Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau tahu kan apa alasanku sampai saat ini masih mengizinkanmu untuk berada di istana dan memberimu fasilitas Kerajaan?”
“Aku tahu.” Jack tak bereaksi apa-apa, karena semua yang dikatakan Raja Arandelle memang sudah pernah dirinya pikirkan. “Tapi aku tidak menyesalinya. Karena sejak awal, jika bukan karena Lynx, aku tidak mungkin bisa tinggal di tempat yang diperintah oleh siluman picik dan serakah.”
“Apa maksudmu?” sinis Raja Arandelle, merasa tersinggung.
Memandang lurus ke depan, penuh keteguhan tanpa merasa takut. Jack menjawab, “Maaf, tapi aku bosan jika harus berpura-pura menghormati Raja sepertimu. Yang bahkan menurutku makhluk sepertimu tak pantas disebut sebagai Raja.”
Mendengar pernyataan tersebut, Raja Arandelle mulai naik pitam. Kedua tangannya mengepal, rahangnya mengatup dengan mata yang menyalang saat menatap sosok Jack.
“Kau—”
__ADS_1
“Cukup. Aku masih punya urusan yang harus dilakukan.” Jack berdiri sedikit kesusahan dari posisi duduknya, memegangi lengan kirinya yang mulai terasa berat.
“Jika kau berkata bahwa aku tak lagi berguna dan tak pantas tinggal di sini lagi sebab tak sehebat dulu dengan kemampuan yang melebihi siluman rubah lainnya, kau tak perlu repot-repot mengusirku, Paduka. Aku akan angkat kaki tanpa kau minta.”
Jack melangkah maju, hendak melewati tubuh Raja Arandelle yang terlihat menegang dengan tatapan melotot tanpa berkedip.
Ketika tubuh mereka berdiri sejajar, Jack berhenti sebentar untuk berbisik, “Dimulai saat kau memberikan hukuman mati pada Kakakku, yang mana itu adalah istrimu sendiri, jujur saja semenjak itu aku menyimpan dendam padamu.”
Raja Arandelle dibuat semakin memanas di tempat, mulutnya sudah terbuka untuk menyahut, tapi Jack selalu menyerobotnya seolah tak membiarkan dirinya berbicara sekali pun itu untuk menyanggah.
“Kau sebenarnya tahu bukan? Fakta bahwa Kakakku tidak bersalah, kau melakukan itu hanya untuk menutupi kasus perselingkuhanmu dengan Ratu Emely!”
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat sempurna pada pipi Jack, Raja Arandelle melakukannya karena reflek. Intuisi dalam dirinya terganggu, merasa terancam hanya dengan perkataan yang dilontarkan oleh Jack.
“Berhenti bicara omong kosong! Kau pikir, kau itu siapa? Jangan sok jumawa! Kau—”
“HAHAHA!” Jack tertawa sumbang sambil memegangi pipinya yang terasa perih. “Kau mau bilang bahwa aku tidak tahu apa-apa? Cukup lama aku memendam semuanya selama ini. Jangan pikir aku ini bodoh!”
PLAK!
Lagi, Jack diberi tamparan kedua. Kepalanya menunduk, bibirnya mencebik sinis, “Ingat, jika bukan karena garis keturunan, kau tidak mungkin menjadi Raja!”
“Ya, itu benar.” Raja Arandelle tertawa geram. “Tapi tetap saja, ocehan yang kau keluarkan tak bisa mengubah fakta bahwa sekarang aku adalah Raja di negeri ini. Semua tunduk padaku, mereka tak mungkin mendengarkan bualan sampah dari mulutmu!”
“Aku selalu percaya, bahwa kebenaran tak mungkin selamanya tekubur. Kebohonganmu akan segera tersingkirkan. Anakmu yang tak pernah kau perhatikan, akan menjadi boomerang bagimu! Cepat atau lambat, semua akan ada balasannya,” ujar Jack sungguh-sungguh.
Raja Arandelle tersenyum meledek, tak menganggap serius atau pun merasa takut dengan ancaman yang diberikan Jack, “Wow, kau sangat percaya diri.”
***
Flashback off.
__ADS_1
Sebelum sampai ke tempat dimana Jack ditugaskan, ia melewati tempat persembunyian untuk para tim medis terlebih dahulu. Mampir sebentar untuk memberi arahan singkat pada mereka semua.
Posko tenda untuk tim medis dipencar di beberapa titik tempat, namun yang Jack datangi sekarang adalah pusatnya. Dimana seluruh bahan pangan begitu lengkap, dan juga tentunya di sini para anggota yang bertugas lebih banyak.
Berjalan sambil celingak-celinguk, Jack memeriksa setiap tenda. Sampai suatu ketika dirinya menangkap sosok yang tak asing baginya, merasa kenal dengan perawakan seseorang yang tengah membelakanginya di depan sana.
Dia mengenakan jubah hijau, tengah mengobrol dengan para siluman lain yang sibuk ke sana kemari untuk mempersiapkan kebutuhan di tenda. Karena penasaran, Jack berniat untuk menghampirinya.
Menyentuh pundak wanita di depannya, tak lama dia menoleh. Satu kata yang menggambarkan perasaan Jack setelah beradu pandang dengan seseorang itu ; gugup. Ternyata dugaannya tidak salah.
“Putri Ren? Kau ada di sini?”
Benar. Aneh bukan? Dia yang berkata tidak ingin lagi menampakkan diri di depan Jack, mengapa sekarang ikut berpartisipasi dalam peperangan? Putri Ren terjun langsung, meski pun hanya sebatas di tim medis.
Sama gugupnya, Putri Ren menggaruk batang hidungnya dengan menggulir pandangan tak nyaman. “Y-ya. Aku di sini. Seperti apa yang sudah aku bilang tempo hari, aku ingin membantu kalian.”
“... Dan, ya ... Maaf untuk yang waktu itu. Aku tiba-tiba pergi tanpa berpamitan denganmu atau pun dengan yang lain. Aku memiliki sedikit—”
“Tidak apa-apa,” potong Jack, tak tahan melihat Putri Ren yang tampaknya kesulitan merangkai kata. “Aku tahu kau pergi pasti karena ada urusan. Tapi untuk berada di sini, bukankah ini tidak aman bagimu?”
Putri Ren menggeleng. “Aku baik-baik saja. Aku sudah yakin saat membuat keputusan ini.” Menurunkan pandangan kembali, matanya tertuju pada lengan Jack yang diperban. “Eh, ada apa dengan tanganmu? Apa sesuatu terjadi padamu?”
“Oh, ini—” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Jack terpaksa berhenti bicara karena tiba-tiba saja ada beberapa sekumpulan orang-orang yang berlari padanya.
“Tuan, Jack!”
“Musuh sudah terlihat di kawasan bagian utara. Pasukan yang bersama Pangeran Lynx diperkirakan sudah turun untuk berperang. Kita harus bergegas untuk bersiap-siap!”
Jack mengangguk paham. “Baik, masing-masing kembali naik ke kendaraan (Roc)! Kita akan kembali melanjutkan perjalanan.”
Sebelum melangkah pergi, Jack mengusap singkat bahu Putri Ren. “Ayo sama-sama berjuang. Aku dan tim pasukan akan melakukan yang terbaik.”
Hanya seperkian detik, dia sudah pergi berlari dengan tergesa. Meninggalkan Putri Ren yang mematung dengan pipi yang memanas. Padahal Jack tidak melakukan sesuatu yang istimewa, tapi berhasil membuat jantungnya berdentum-dentum.
__ADS_1
Putri Ren menggerutu dalam gumamnya, “Ah, sial. Susah payah melupakan perasaan ini. Pertahananku hancur begitu saja saat diberi tatapan seperti itu olehnya, huft!”
***