
Penerima kutukan.
Mungkin Lynx akan menjadi target selanjutnya penerima kutukan tersebut. Tapi karena Hazel bersikeras memintanya untuk kembali pulang ke tempat asalnya, masih ada kemungkinan Lynx untuk bisa bertransformasi seperti semula lagi.
Malam ini, tepatnya di saat malam bulan purnama sudah berubah menjadi normal kembali, Hazel memutuskan untuk kembali ke Desa. Membiarkan kekasihnya untuk pulang juga. Meninggalkan hutan secara bersama-sama.
Sebelum itu, mereka berdiri saling berhadapan di depan gua. Sinar bulan yang terangnya tertutup awan hitam, membuat penerangan tak begitu benderang. Memperlihatkan manik kebiruan pria itu yang lebih mencolok.
Hazel berjinjit, meraih tudung jubah yang dikenakan Lynx. Menutup kepala pria itu, menyembunyikan telinga runcing agar tidak dicurigai oleh orang yang melihat.
Untungnya sebelum memutuskan pergi hari itu Lynx memakai jubah. Jika tidak, mungkin Hazel akan kelimpungan mencari cara untuk menyembunyikan ekor dan telinganya saat ini.
“Ayo kita keluar dari hutan ini bersama-sama. Kita akan berpisah setelah berhasil keluar,” ajak Hazel, jemarinya mencubit pelan pipi kekasihnya tersebut.
Mata Lynx terlihat sembab, akibat menangis selama berjam-jam tadi sore. Rasa sesak di dadanya pun masih terasa. Seperti ada bongkahan besar yang mengganjal, menyulitkannya untuk bernafas.
“Kau yakin dengan keputusanmu, Hazel? Kau tidak akan merindukan kekasihmu yang tampan ini? Kita tidak bisa tidur bersama lagi, kau pasti kesepian saat tidur karena tidak ada tangan besarku yang bisa kau jadikan bantal,” ucap Lynx sambil mengerucutkan bibirnya, berusaha menahan tangis.
Hazel lantas terkekeh saat mendengarnya, tak mampu menahan geli ketika melihat ekspresi polos yang dibuat Lynx. Persis seperti bocah lima tahun yang merengek.
Bohong jika Hazel tidak sedih. Jangan dipercaya jika Hazel berkata tidak merindukan pria dihadapannya ini. Rasanya baru sebentar dirinya menikmati indahnya jatuh cinta, kali ini ia dipaksa melepaskan kebahagiaan itu.
Layaknya diajak terbang tinggi, secara tiba-tiba dibanting sampai ke inti bumi. Sakit, kecewa, dan rasa marah seperti meletup-letup di ubun kepala. Tapi mau bagaimana lagi? Hazel selalu tidak memiliki pilihan baik dalam hidupnya.
“Aku pasti akan merindukanmu. Mana mungkin aku tidak merindukan pria polos dan menyebalkan sepertimu,” kekeh Hazel, rasanya ia akan ikut menangis.
“... Tapi demi kebaikanmu, juga kebahagiaan kita di masa depan nanti, untuk saat ini kita harus bersabar sebentar. Oke? Tenang, aku tidak mudah berpaling. Aku sudah terlanjur terpikat pada pesonamu,” tambahnya untuk meyakinkan.
Menarik lembut kedua pipi Lynx untuk ditangkup, Hazel kembali berjinjit. Tangannya sudah mengalung pada leher pria itu.
Meraih lebih dulu bibir tebal pria itu yang sedikit kemerahan, ********** secara singkat. Berhasil membangkitkan degupan dalam dada hingga bergemuruh.
Sesak.
Air mata menetes tanpa sadar setelah berusaha untuk ditahan. Keduanya menangis di saat bibir mereka masih saling bersentuhan. Lynx tidak bisa menahannya lagi, jadi ia menyudahinya.
__ADS_1
“Aku percaya padamu, Hazel. Ayo pergi.” Dia tersenyum, lebih tepatnya memaksakan untuk tersenyum.
Hazel mengangguk, menyusut air matanya menggunakan punggung tangan. “Eum!”
Tanpa aba-aba, Lynx merengkuh pinggang Hazel. Mencengkramnya cukup kuat karena akan membawanya melayang menggunakan akar pohon yang menggantung. Hanya dengan cara ini bisa melewati hutan di malam hari agar tetap aman sekaligus bisa menghemat waktu.
“Pegang bahuku kuat-kuat,” pesan Lynx sebelum meraih akar pohon di depannya.
“Baik.” Matanya dipejamkan, takut akan ketinggian.
Perlahan kedua kakinya tak lagi menapak di tanah, tubuhnya berasa diayun-ayun di atas angin. Pegangan tangan besar di Lynx begitu hangat dan sedikit geli. Hazel pasti akan merindukan jemari tebal itu nantinya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai. Berhasil keluar hutan dengan selamat tanpa ada kendala apa pun. Lynx juga sudah melepaskan tubuh Hazel, membiarkan gadis itu berjalan sendiri.
“Kita berpisah di sini?” tanya Lynx memastikan, ia kembali membuat ekspresi sedih.
“Benar. Aku akan mampir ke kedai Nyonya Marrie. Kau pergilah, pada jalan yang akan mengantarkanmu kembali ke dunia asalmu,” timpalnya seraya membalikan tubuh.
Kedua kakinya yang tak mengenakan alas mulai bergerak maju, meninggalkan pria di belakangnya yang masih mematung. Samar-samar di depan sana Hazel mendengar hiruk pikuk desa yang ramai.
Mencoba untuk tidak menengok ke belakang, ternyata sulit sekali. Tapi setelah benar-benar tubuhnya berbalik, Hazel tidak melihat sosok kekasihnya. Lynx hilang tanpa jejak. Padahal sebelumnya tidak ada suara langkah kaki kepergiannya.
“Dari pada memikirkannya, lebih baik aku memikirkan alasan apa yang akan aku katakan pada Nyonya Marrie setelah seminggu tidak masuk bekerja,” gumamnya dengan raut sedih.
Menarik nafas gusar, Hazel melanjutkan ucapannya, “Dia pasti akan kecewa padaku.”
Sebelum sampai ke tempat kedai Marrie, perhatian Hazel teralihkan oleh beberapa orang yang menghampirinya secara berbondong-bondong. Dari ekspresi mereka, ketiga orang itu terlihat begitu panik.
“Hazel!”
“Kemana saja kau?”
“Banyak rumor yang beredar tentangmu semenjak kau menghilang!”
Mereka menyodorinya banyak pertanyaan, membuat rasa bingung Hazel kian bertambah. Selain itu, Hazel tidak mengenal siapa saja ketiga orang yang menghampirinya ini.
__ADS_1
“Tunggu, tunggu. Kalian ini siapa? Kenapa kalian tahu namaku? Dan apa maksud kalian soal rumor tentangku yang beredar?” Kini giliran Hazel yang menjejali banyak pertanyaan pada mereka.
Mereka memberi jeda sebelum bicara, maklum karena nafas mereka masih terengah-engah. Belum stabil habis berlarian kemari tadi.
“Seluruh penduduk di desa ini, memangnya siapa yang tidak tahu tentangmu?” Salah satu dari mereka mulai berbicara.
Yang lain langsung menimpali, “Lukisan wajahmu dipampang hampir di semua sudut desa ini! Beberapa pria mencarimu. Bahkan ada seorang pria yang mengadakan sayembara bagi siapa saja yang dapat mendapatkanmu.”
Kening Hazel berlipat, semakin tidak mengerti. Semua informasi itu ia terima secara tiba-tiba, masih tidak paham siapa para pria yang dimaksud mereka. Dan apa tujuan mereka mencari dirinya sampai-sampai mengadakan sayembara.
Apa mungkin ini ulah dari pria yang tempo hari mengejarnya sampai masuk ke hutan? Jika ya, itu berarti si penagih hutang belum mati setelah dihajar babak belur oleh Lynx.
“Pria bernama Wid, Wid--- siapa ya?”
“Widson!” Salah satu temannya langsung menjawab, memberitahu.
Ia menjentikan jari, kembali melanjutkan ucapannya, “Ya, Widson! Dia orang yang mengadakan sayembara itu. Sekaligus penyebar rumor tentangmu. Dia mengatakan kalau kau kabur sambil membawa uang miliknya, kau juga dituduh sebagai pelacur olehnya.”
“Pelacur yang bisa membawa kesialan bagi desa ini!” Temannya yang lain menyahut keras, tidak mau ketinggalan memberi informasi.
“Eh?” Hazel mengerjap-ngerjap, semua tuduhan dan informasi yang mereka katakan membuatnya harus berpikir cukup keras.
“Kau dengan pria yang memiliki warna mata langka itu disebut-sebut sebagai perantara *** bebas! Kau menggiring gadis-gadis di sini untuk dibodohi, dibujuk sampai mau menjual diri di bawah naunganmu.” Gadis dengan rambut digelung itu terus bercerocos.
“Hei, berita macam apa itu?!” Hazel berteriak sambil melotot, ia tidak tahan lagi. Ingin sekali menghampiri pembuat berita yang merusak nama baiknya di desa ini.
“Jangan terpedaya dengan berita palsu dan rumor aneh seperti itu! Aku tidak mungkin melakukan hal-hal kotor dan menjijikan macam itu,” sergah Hazel sembari berkacak pinggang.
“Apa pun itu, sebaiknya kau harus ikut dengan kami sekarang. Karena percuma menjelaskannya pada kami, yang berhak menilai adalah orang-orang yang bersangkutan,” katanya lagi, lengannya sudah menarik Hazel.
“Lepaskan aku! Biarkan aku jalan sendiri!” Ia mencoba untuk lepas dari cengkraman di kanan dan kirinya, tapi mereka tidak membiarkannya.
“Tenanglah. Kami tidak akan menyakitimu. Justru kami akan mengantarkanmu pulang. Kau harus datang sebelum mereka semua membakar rumah yang kau tempati,” ujarnya mencoba menenangkan, tapi hal itu malah membuat Hazel kembali kebingungan.
Mendadak pandangan Hazel kosong, usahanya untuk meronta minta dilepaskan pun sudah melemah. Pikirannya tergantikan dengan semua hal mendadak yang menimpanya saat ini.
__ADS_1
Kali ini takdir akan mempermainkannya bagaimana lagi?
***