
“Dua pria tadi itu siapa?” tanya Hazel, ia bertanya setelah dirinya dibawa pergi oleh Lynx ke salah satu ruangan yang akan ditempati bersama.
“Dia adalah saudara tiriku. Anak dari wanita lain yang ayahku nikahi. Mereka San dan Sen, mereka kembar tapi tidak identik. Dan codet dimata San, itu adalah ulahku,” ungkap Lynx tanpa merasa bersalah setelah mengakui perbuatannya.
Hazel berhenti sejenak dari aktifitasnya yang sedang mengobati luka di telapak tangan Lynx. Mendongak sebentar untuk melihat kekasihnya tersebut. “Kenapa kau melukainya?”
“Dia pantas mendapatkannya. Aku malas bercerita, intinya dari kejadian itu aku diakui sebagai rubah yang memiliki fisik lebih kuat dari mereka yang pandai mengendalikan sihir,” tandasnya, raut wajahnya tampak kesal.
Jika sudah seperti itu, Hazel tidak akan menguliknya lebih jauh. Tidak mau semakin membuat suasana hati pria itu memburuk. Namun dalam pikirannya masih ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya.
“Lalu, siapa Ren?”
Lynx mengambil nafas, mencoba untuk kembali tenang. “Dia adalah perempuan yang akan dijodohkan denganku. Dia bukan siluman rubah. Dia salah satu dari ras ular. Jadi kemungkinan besar kau tidak akan bertemu dengannya.”
Hazel mengangguk samar. Kepalanya kembali menunduk, hampir selesai membungkus luka di tangan Lynx dengan perban. Luka bekas tusukan akibat melawan para prajurit pagi tadi ternyata cukup dalam, membuat darah yang keluar sulit berhenti.
“Kenapa kau bertanya? Kau cemburu?” Lynx balik bertanya disertai dengan kekehan pelan.
“Tidak,” jawabnya tegas. Pandangannya masih fokus ke bawah. “Aku hanya ingin tahu siapa dia dan seberapa sempurna dia sampai-sampai saudara laki-lakimu yang angkuh itu merendahkanku dengan kata-kata kasar.”
Ucapan yang dikeluarkannya itu terdengar seperti sedang menahan kekesalan. Lynx amat sangat mengerti posisi Hazel. Meski kekasihnya tersebut tak menangis, tapi terlihat dengan jelas kalau sorot matanya menunjukkan kesedihan.
Menyentuh punggung tangan Hazel, membuat aktifitasnya yang sedang sibuk mengobati langsung terhenti. Ia segera mengangkat pandangan, sehingga langsung bertemu dengan manik Lynx. Ia bisa merasakan tatapan yang ditunjukkannya cukup defensif.
“Hazel, sebelumnya atas nama saudaraku, aku ingin meminta maaf padamu. Dan juga aku memiliki permintaan, tolong jangan pernah dengarkan apa pun yang mereka katakan padamu. Karena yang menjalani hubungan ini adalah kau dan aku.” Lynx kian erat menggenggam punggung tangan Hazel, wajahnya pun perlahan lebih dimajukan.
“Aku tidak pernah peduli tentang apa yang mereka katakan, karena untuk memilihmu aku tidak perlu komentar atau pun saran dari siapa pun. Percayalah, jatuh cinta denganmu adalah hal yang paling membahagiakan lebih dari semua yang pernah aku alami di dunia ini.”
Lynx menaikan lengannya, menyentuh sebelah pipi kekasihnya itu. Lalu merayap perlahan untuk menyentuh tengkuk Hazel. Sedikit menggunakan tenaga untuk menariknya, sehingga memangkas jarak antar wajah keduanya.
“Apa pun keadaannya, sesulit apa pun masalah yang menghadang di depan nanti, aku tidak akan pernah menyesali bahwa aku telah memilihmu. Jadi mari kita tetap lewati ini secara bersama-sama. Seperti katamu, bahwa akan selalu ada jalan bagi seseorang yang mau berusaha,” tutup Lynx, suaranya melembut.
Jemari tangan Hazel yang masih ia genggam di bawah sana semakin ia remat, tubuhnya maju sedikit demi sedikit. Meraih benda kenyal berwarna merah muda untuk ia gigit dan beri sentuhan.
Ketika kedua mata mereka mulai tertutup, suasana berubah menjadi lebih tenang. Merasakan gelora panas yang menjalari seluruh tubuh. Lidah mereka yang menari-nari untuk menciptakan suara dari pergerakan lembut di mulut masing-masing, semakin membuat mereka terbawa suasana.
Belum lama panggutan itu berlangsung, mendadak pintu kamar diketuk seseorang. Secara reflek kedua mata mereka terbuka, Lynx pun sedikit terperanjat seraya beringsut dari tepi ranjang.
“A-aku yang akan membuka pintu,” ujarnya sedikit gugup dengan pipi yang memerah, lalu melesat cepat menuju pintu yang masih berusaha diketuk dari luar.
Seorang gadis muda yang tingginya hanya sepantar perut Lynx sudah menyodorkan sebuah pakaian ketika pintu sudah terbuka. Tatapannya begitu jernih, tidak ada dendam atau perasaan negatif yang terlihat.
“Ini ... Pakaian yang diminta Kak Lynx.” Kakinya berjinjit, baju di tangannya semakin ia sodorkan sampai mengenai dagu Lynx.
Dengan segera Lynx menerimanya, pakaian itu ia apit di pinggang. Sebelah tangannya yang berbalut perban ia tempelkan pada pucuk kepala gadis itu, bibirnya sudah melengkungkan senyuman manis.
__ADS_1
“Baik. Terima kasih, Aluka. Kau bisa pergi sekarang.”
Tapi gadis muda itu tidak langsung pergi, ia malah meliuk-liukan badannya. Berusaha mengintip dari celah tubuh Lynx, ingin melihat seseorang yang tengah duduk di tepian kasur.
“Ada apa? Kau ingin bertemu dengannya?” Lynx bertanya setelah membaca gerak-geriknya.
Gadis bernama Aluka itu mengangguk semangat. “Ya! Hanya aku yang belum melihat bagaimana rupanya. Aku juga ingin bertemu dan berkenalan dengan kekasih Kak Lynx.”
Suara tawaan kecil Lynx munculkan, ia kembali mengusap kepala adik bungsunya itu. “Nanti setelah dia beristirahat, baru kau boleh menemuinya.”
“Sungguh?” Mata Aluka berbinar-binar penuh harap.
“Ya. Jadi sekarang kau jangan menemuinya dulu sampai besok, oke?”
Aluka mengangguk patuh. “Oke!” Kemudian ia membalikan tubuhnya untuk pergi dari hadapan Lynx.
Belum sempat Lynx selesai menutup pintu dan tubuhnya pun belum berbalik, Hazel langsung melontarkan pertanyaan penuh selidik.
“Siapa?”
Lynx membawa pakaian yang diberikan Aluka pada Hazel. “Itu adik bungsuku. Dia satu-satunya saudara perempuanku. Namanya Aluka. Kau bisa berkenalan dengannya nanti.”
“Tidak mau,” sahutnya dengan cepat, pandangannya sudah Hazel alihkan ke sembarang tempat. Kemana pun asalkan tidak beradu pandang dengannya.
“Eh? Kenapa?”
Bahu Lynx merosot, hembusan nafas kasar dikeluarkan. Ia segera berderap pada Hazel yang tampak gelisah, duduk di sampingnya sambil merangkul bahunya penuh perhatian.
“Hei, kenapa kau menyimpulkannya seperti itu? Aluka itu berbeda. Percayalah padaku. Dia lebih muda, pikirannya masih polos. Dia bukan orang yang mudah terpengaruhi, dia akan menilai apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.”
Sepertinya usaha untuk membujuk Hazel akan berujung sia-sia, sebab kekasihnya itu tetap bergeming tanpa mau mengeluarkan sepatah kata. Bahkan matanya terus melirik ke arah lain.
“Ya sudahlah, cukup untuk hari ini. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Aku akan kembali menjadi rubah. Begitu pun dengan yang lainnya. Dan kau bisa beristirahat. Jangan keluar dari sini kecuali denganku. Mengerti?”
Hazel mengangguk pelan.
Sambil mengacak-acak singkat rambut Hazel. Lynx kemudian memberikan pakaian yang dibawakan Aluka tadi. Menyuruhnya untuk mengganti pakaian.
“Kau bisa mandi dan mengganti pakaian. Kamar mandi ada di pintu sebelah sana.” Telunjuk Lynx menunjuk pada pintu yang ada di depan, kamar ini dilengkapi dengan beberapa ruangan.
“Aku akan keluar. Ingin menemui Ayahku. Tidak peduli dia sedang sakit atau apa. Aku tahu itu hanya alasan saja. Pastinya saat ini dia sedang berusaha menghindariku,” pamit Lynx sembari beringsut dari tempat duduknya.
“Kapan kau akan kembali?”
Kaki panjang Lynx terhenti tepat sebelum satu langkah lagi mendekat pada pintu. Ia kembali menoleh ke belakang, menangkap pancaran sedih dari manik Hazel.
__ADS_1
“Aku tidak akan lama. Do'akan agar semuanya lancar. Sebelum malam, aku akan kembali,” jelasnya sebelum akhirnya kembali melaju dan punggungnya mulai menghilang dari balik pintu.
Hening.
Terasa hampa.
Hanya ditemani oleh angin sepoi-sepoi yang menyelinap masuk melalui ventilasi yang sedikit terbuka. Berjalan mendekat ke sana, Hazel membawa pakaian yang diberikan Lynx.
Ia sudah berdiri didekat jendela, semakin membukanya lebih lebar. Hingga angin menyegarkan datang dan menyapu parasnya. Bulir-bulir bening sempat menuruni pipi, tapi buru-buru ia hapus.
Hazel bergumam sambil menahan sesenggukan, nafasnya jadi terputus-putus. “Hhh, padahal ini baru permulaan. Tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan?”
***
Sudah lebih dari tiga jam semenjak Lynx berpamitan untuk keluar dari kamar. Tapi sampai detik ini, pria itu tak kunjung kembali. Hazel sampai berjalan bolak-balik di depan pintu, mengintip dari celah kunci untuk memastikan kapan kekasihnya itu kembali.
Namun Hazel tidak mendapati tanda-tanda kedatangan Lynx. Beberapa kali suara langkah kaki melintas di depan kamar, tapi ternyata itu bukan Lynx. Hazel jadi sedikit khawatir saat memikirkannya.
“Sudah malam begini. Kemana perginya, Lynx? Dia bilang tidak akan lama,” dumelnya pelan, sedikit menghentak-hentakan kakinya ke lantai.
Hazel berpikir sejenak, terlihat ia mengigit bibirnya beberapa kali. “Apa aku coba menyusulnya? Aku juga sebenarnya lapar, sejak siang tadi aku belum makan apa pun.” Tangannya mengelus-ngelus perutnya yang terasa perih.
Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya Hazel nekat untuk pergi keluar. Tidak memikirkan bagaimana resikonya nanti, yang terpenting ia bisa melihat dan bertemu dengan Lynx. Karena firasatnya sudah tidak enak sejak tadi.
Untungnya pintu kamar tidak terkunci, jadi Hazel bisa bergerak lincah keluar. Menyusuri lorong yang sedikit gelap karena minim penerangan, berjalan sendirian tanpa ditemani siapa pun.
Berhasil keluar dari lorong yang di sisi kanan dan kirinya berjejer pintu-pintu berisi ruangan, Hazel langsung dihadapkan dengan tangga menuju ruang utama di bawah. Tapi sebelum ia menggerakan kaki ke sana, ada suatu hal yang menghentikan langkahnya.
Bukan karena ada yang memanggilnya, bukan juga karena kehadirannya diketahui oleh seseorang. Tapi karena...
“Hanya itu pilihannya, Lynx! Kau tidak bisa memutuskan segala hal dengan seenaknya. Jika kau masih mau manusia itu pergi dengan selamat dari sini, itu berarti kau harus menikah dengan Ren!”
Ucapan tersebut dilontarkan oleh seekor rubah besar dengan warna bulu yang lebih gelap, pakaian yang dikenakannya begitu rapih dan berwibawa, juga mahkota bersinar di atas kepalanya. Terlihat kalau rubah itu sepertinya sudah tua.
“Kenapa hanya itu pilihannya? Aku mencintai Hazel, bukan Ren! Lagi pula, apa bedanya? Aku dengan Ren juga berbeda. Bahkan sangat berbeda. Ular dan rubah, mana mungkin bisa bersama. Dia harus bersama dengan kawanannya lagi!” geram Lynx, begitu keras menentang.
Rubah yang tengah duduk di tempat yang sudah disediakan untuk seorang Raja tersebut semakin nyalang menatap putranya, gigi taringnya ia keluarkan.
“Kau mau pilihan yang lain? Kalau begitu, kau dan dengan manusia sialan itu akan tetap bersama.”
Lynx sudah hendak melebarkan senyum, tapi mendadak senyumnya memudar setelah ayahnya melanjutkan ucapannya.
“Besok, sebelum matahari terbenam, kau dengannya akan dihukum gantung. Persis seperti akhir hidup dari Ibu kandungmu. Dengan begitu cinta kalian akan berakhir sehidup semati bukan?” Sang Raja menyeringai puas.
“... Hanya itu pilihan terakhir yang bisa kuberikan padamu. Jadi tentukan sendiri, pilihanmu mau yang mana?”
__ADS_1
***