
Setelah diantar oleh Roc menuju tempat mata air, Hazel akan dibaringkan ke atas kelopak bunga teratai yang lebar di tengah-tengah mata air tersebut. Dituntun oleh penjaga yang sudah lebih dulu turun, darah yang keluar dari pergelangan kakinya perlahan-lahan habis dilibas oleh gelombang mata air yang tenang. Membantu menyembuhkan lukanya secara perlahan.
Masih belum tahu apa yang harus dilakukan pada Hazel. Menurut perkiraan, ini belum waktunya bagi Hazel untuk melahirkan. Tapi dari tanda-tanda yang terlihat, Hazel seperti sudah siap akan melahirkan. Cairan merah pekat yang bercampur dengan lendir tak habis-habis mengaliri kedua kakinya.
“Perlukah aku pergi untuk memanggil bala bantuan? Jika Hazel memang akan melahirkan, kita perlu orang lain yang bisa mengatasi masalah ini,” tanya Aluka yang berjongkok di tepi mata air, tangannya memegangi tempat abu dari jasad Jack, raut cemas tergambar di wajahnya.
Setelah membaringkan Hazel dengan hati-hati, tanaman merambat yang datang dari dalam air membelit lembut tubuh Hazel. Seolah-olah sedang memberi pijatan. Selain itu, akar-akar tanaman tersebut memancarkan cahaya yang terang saat bersentuhan dengan kulit Hazel.
“Biar aku yang melakukannya. Kau hanya perlu menemani Hazel, Tuan Putri. Aku akan memanggil Putri Ren ke sini. Aku yakin dia bisa membantu. Dengan obat-obatan yang dia racik, dia pasti bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang dirasakan Hazel,” balas sang penjaga, tubuhnya beranjak naik dari atas mata air.
Aluka pun mengangguk. “Tolong cepat. Aku takut ada sesuatu yang terjadi pada Hazel dan bayinya. Bagaimana pun juga, keselamatan mereka berdua adalah yang terpenting di sini.”
“Baik, Tuan Putri.”
***
Setelah berunding dengan para pasukan yang siap bersedia turun kembali ke medan perang, Putri Ren sibuk mempersiapkan perlengkapan senjata yang akan mereka gunakan. Ash ikut membantu, dia yang paling aktif bergerak ke sana kemari, seraya memeriksa sebagian pasukan yang masih memerlukan perawatan.
Sesaat sebelum bergerak bersamaan ke medan perang, Putri Ren dikejutkan oleh kabar mengenai Hazel yang disampaikan oleh laki-laki penjaga yang sebelumnya memang berniat untuk meminta bantuan. Untungnya ia datang tepat waktu, sehingga Putri Ren masih ada untuk ditemui.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya ia akan melahirkan. Selain itu keadaan di Istana sangat parah. Ada beberapa penyusup dari siluman anjing yang datang untuk mengacaukan Istana. Kami pergi ke mata air tanpa tahu dimana keberadaan Raja Arandelle dan Ratu Emely,” ungkapnya secara terus terang, nafasnya belum stabil sehingga ia sedikit tersendat-sendat.
Putri Ren mengangguk paham, sorot matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. Sedetik kemudian ia melirik pada Ash yang kebetulan berdiri di sampingnya untuk menyimak. Putri Ren menatapnya seolah meminta persetujuan, karena sebelumnya dirinya sudah pasti akan turun untuk ikut berperang.
“Pergilah, aku akan tetap pergi bersama dengan yang lain. Kehadiran Putri Ren di sana sangat dibutuhkan. Aku akan mengatasi dan bertanggung jawab bila ada sesuatu yang terjadi di sini. Kau tidak perlu khawatir, masih ada beberapa pasukan yang lain untuk menjaga tenda,” ucap Ash sambil tersenyum.
“Aku juga akan menyempatkan datang ke Istana untuk melihat keadaan. Informasi lainnya akan kuberitahu nanti. Keadaan Pangeran Lynx dan juga dua pangeran kembar yang sudah lebih dulu memasuki kawasan musuh, akan kupastikan mereka baik-baik saja,” sambungnya untuk meyakinkan.
Tanpa mengatakan apa-apa, kepala Putri Ren mengangguk. Kemudian bergegas mengambil perlengkapan yang akan dibawa ke mata air. Seperti obat-obatan yang mungkin diperlukan, selain itu ia juga akan membawa seseorang yang lain, tentunya yang dapat membantunya dalam situasi ini.
__ADS_1
***
“Kkk.. Keukh.. Akh!”
Cairan darah keluar dari sudut bibirnya, oksigen yang masuk ke dalam paru-paru sedikit tersendat akibat luka yang ia terima di dada bidangnya, membuatnya merasakan sesak yang luar biasa.
Sen menyelamatkan saudara kembarnya itu setelah mengetahui kalau San terluka cukup parah. Ia membawanya untuk melipir sejenak, bersembunyi di antara semak-semak belukar dalam pepohonan hutan. Menjauh dari kejaran mereka yang terus mengincar akan membunuh.
Karena hari menjelang siang, otomatis wujud mereka berubah kembali menjadi manusia. Meski pada akhirnya salah satu dari keduanya harus terluka, setidaknya tugas mereka untuk mengecoh dan membuat keadaan di depan Istana sedikit riuh cukup berhasil.
Baik Sen mau pun San tidak tahu bagaimana keadaan Lynx di dalam Istana seperti apa. Masih belum mendapatkan kabar, belum juga melihat tanda-tanda dari dalam. Tampak tenang, dan seolah tidak ada keributan yang terjadi di dalam sana.
“Bagaimana? Apakah kita perlu kembali? Lukamu sangat parah. Jika dibiarkan, kau bisa...”
“Kita perlu kembali ke sana, Sen,” potong San, tangannya yang semula memegangi dadanya kini sudah beralih menyentuh pundak saudara kembarnya. “Kita tidak tahu situasi macam apa yang sedang Lynx hadapi. Dia sendirian di dalam. Mengingat senjata dan kekuatan musuh tidak bisa diremehkan, kita tidak bisa melimpahkan semuanya pada Lynx.”
San menahan batuk, kembali memegangi dadanya. Kemudian membentang senyum di wajahnya yang mulai memucat. “Aku baik-baik saja. Percayalah...”
Seperkian detik kemudian, ketika Sen kembali mengangkat pandangan. Ia langsung gelabah, jantungnya terasa dicubit. Mendapati bahwa San sudah memejamkan mata, namun bibirnya masih melengkungkan senyuman yang mulai memudar.
“Dasar bodoh.” Sen mengigit bibirnya, menahan sesak dan isak tangis yang akan segera keluar. “Apa nya yang baik-baik saja?”
“Pangeran Sen!”
“Pangeran San!”
Rombongan pasukan yang dibawa Ash secara kebetulan mendapati kedua pangeran tersebut. Mengetahui bahwa San sedang terluka, Ash dengan sigap melangkah mendekat untuk memberi pertolongan. Menyuruh pasukan yang lain untuk membantu juga.
***
__ADS_1
Sementara Lynx, ia sudah mulai memulai kembali pergerakan setelah mengobrol cukup lama dengan manusia yang ia temui di bawah tanah sebelumnya. Sesuai dugaan, ternyata manusia yang selama ini dianggap musuh dan mendapat pandangan buruk, pada faktanya itu semua tidak benar.
Semua ini dilandasi oleh kesalah pahaman. Entah siapa yang membuat cerita palsu, atau mungkin ada yang sengaja membuat situasi Atlas menjadi terpojok. Tapi Lynx tidak bisa menepis fakta bahwa memang Atlas sudah menjadi bagian Kerajaan Maggie, ia mengabdi selama berabad-abad lamanya untuk memajukan Kerajaan para bedebah tersebut.
Tapi sedikit banyaknya cerita yang Lynx dengar dari manusia itu, ia meyakini bahwa Atlas adalah manusia yang dapat dipercaya. Bahkan Atlas dengan terang-terangan memberitahu apa saja yang harus dilakukan Lynx untuk bisa memenangkan peperangan ini. Dan juga tanpa ragu mengatakan beberapa titik kelemahan yang dimiliki oleh Kerajaan Maggie.
“Pergilah tanpaku. Setelah kau berhasil menaklukan Kerajaan Maggie, aku akan ikut terbebas juga. Inginku hanya satu, bisa merasakan mati seperti manusia pada umumnya. Aku tidak ingin hidup abadi dengan bantuan sihir yang mereka buat,” suruh Atlas dengan suara seraknya.
Namun Lynx yang sibuk merenggangkan jeruji besi untuk mengeluarkan Atlas langsung menggeleng tegas. “Kau harus ikut bersamaku. Kita harus pergi dari sini bersama-sama. Kau bisa menjadi penunjuk jalan.”
“Percuma. Aku sudah tidak kuat untuk berjalan.”
“Aku bisa menggendongmu,” balas Lynx kukuh.
“Kau yakin?”
“Tentu saja!”
“Baiklah. Ayo kita pergi ke pusat sistem keamanan di Kerajaan ini. Satu-satunya cara untuk melumpuhkan mereka adalah menghentikan semua alat-alat yang mereka gunakan. Yang paling utama kita perlu membobol arus listrik, menghancurkannya, agar semua alat-alat canggih yang mereka gunakan tidak bisa berfungsi,” jelas Atlas dengan semangat.
“Bagaimana dengan sihir yang mereka gunakan?” Lynx bertanya karena tahu Kerajaan Maggie bukan hanya mengandalkan teknologi, sihir yang mereka gunakan pun tidak main-main.
“Untuk apa kau menanyakan itu sementara kau memiliki pedang istimewa lengkap dengan dua liontin yang terpasang di lehermu? Apa itu tidak cukup untuk menangkal sihir-sihir luar biasa mereka? Jangan berharap sebuah kemenangan jika kau tidak percaya dirimu sendiri dan tidak paham seberapa jauh potensimu dalam hal ini.”
Setelah diberitahu seperti itu, Lynx terdiam sejenak. Benar, seberapa sulit keadaan yang akan dihadapinya nanti, kunci utamanya adalah percaya pada diri sendiri. Meski tidak ada kemampuan untuk mengendalikan sihir, tapi Lynx percaya bahwa pedang yang dibuat Jack bisa membantunya untuk menggapai kemenangan.
Tinggal sedikit lagi, beberapa langkah di depan sana perang besar akan dimulai.
***
__ADS_1