
Hazel tertawa pelan, terdengarnya seperti sedang menertawakan diri sendiri. “Aku tahu mungkin ini alasan yang konyol. Tapi aku tidak mau kita berakhir seperti percintaan dari sebuah novel hanya karena kita sering berinteraksi dan bersama seperti ini.”
Tubuh Hazel menyamping, tidak lagi menghadap pada Lynx. Ia sedikit merasa malu, takut kalau pria itu menganggap dirinya sangat percaya diri. Namun di sini Hazel hanya berusaha mencoba mencegah suatu hal yang memungkinkan untuk terjadi.
“Kau tahu sendiri pastinya, bahwa cinta terkadang bisa muncul kapan saja dan pada siapa saja. Tidak mengenal tempat, waktu atau pun bagaimana rupa dari orang tersebut. Terlebih, kita adalah dua orang dengan gender yang berbeda.”
“... Peluang untuk hal itu terjadi cukup besar. Dan karena hal itu, di sini aku ingin mencoba membuat jarak di antara kita.”
Hazel menarik nafas panjang, tidak tahu kenapa dadanya terasa penuh dan sesak. Merasa berat untuk membahas topik seperti ini. Sehingga membuat atmosfer di sini terasa canggung dan tegang.
“... Kau bukan manusia, Lynx. Kau adalah mahluk yang tak semestinya ada di dunia ini. Aku juga tidak tahu seperti apa ke depannya kita nanti. Akankah bisa terus seperti ini, menjalani kehidupan bodoh bersama-sama, atau malah berakhir buruk,” sambungnya lagi.
Lynx terlihat murung. Bibir tipis merah mudanya membentang garis datar. Tidak ada ekspresi sama sekali yang tercipta. Sehingga aura cerah yang biasa nampak di paras tampannya berubah menjadi dingin dan menakutkan.
“Apa hanya karena itu alasannya? Hanya karena aku adalah mahluk aneh dan kau anggap sebagai beban, pembawa masalah bahkan bencana untukmu?”
Hazel tidak paham kenapa Lynx tak bisa langsung menerima apa yang dimintanya saat ini. Tanggapannya itu seolah-olah menentang semuanya. Pria itu menginginkan alasan yang lebih kuat.
“Bukan hanya sebatas itu, Lynx. Kau juga tahu betul kalau aku ini adalah gadis miskin. Hidupku sebentar lagi mungkin akan luntang-lantung di jalanan. Ketika aku meminta menjaga jarak agar menghindari sebuah perasaan yang tak diinginkan, bukan berarti di sini aku merasa percaya diri kalau aku bisa dicintai.”
Kepala Hazel tertekuk ke bawah, sebelah tangannya memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Sedikit merungkut, merasakan kesedihan yang mulai menjalari tubuh kecilnya.
“... Aku juga sadar diri, gadis miskin yang hidup sebatang kara tidak mungkin pantas dicintai oleh pria yang digilai banyak wanita sepertimu. Yah, walau pun sifat bodoh dan polosmu yang beda tipis itu sudah melekat dalam dirimu. Tetap saja aku yakin banyak wanita yang mau memilikimu.”
Mendengarnya, Lynx langsung tertawa miris. “Apa bedanya? Mereka hanya tidak tahu kalau aku adalah mahluk yang sering kau sebut sebagai beban. Mereka juga pasti akan berlaga sepertimu. Mengatakan kalau manusia dan mahluk sepertiku tidak akan pernah bisa bersama.”
“Lynx, maksudku---”
“Cukup, hentikan.” Pria itu tidak membiarkan Hazel berbicara lagi. “Apa untungnya membahas hal ini? Kau terlalu berpikir jauh, Hazel. Aku juga sadar diri. Kalau mahluk aneh sepertiku tidak pantas bersanding dengan manusia. Selain itu, sudah ada larangan khusus bahwa klan sepertiku untuk tidak jatuh cinta pada manusia.”
Pupil Hazel sedikit melebar. Kepalanya menengok pada Lynx. “Larangan? Apa itu?”
“Kau tidak perlu tahu. Yang perlu kau tahu hanya satu. Aku hanya ingin berada di sisimu. Bukan karena suatu hal atas sebuah perasaan. Anggap saja untuk membalas budi karena kau telah menolongku,” balas Lynx, tatapan matanya beralih ke sembarang arah.
Hazel jadi teringat kalau dirinya belum sempat membaca buku dongeng yang sudah dibeli tempo hari. Mungkin di dalam buku dongeng itu ada penjelasan mengenai larangan yang dikatakan Lynx barusan.
“Baiklah, mari lupakan pembicaraan ini. Maaf aku sudah melantur dan berpikir ke mana-mana. Aku hanya berusaha menjaga agar hubungan abu-abu ini tidak berakhir sep---”
“Ya, aku sangat paham tentang keresahanmu,” sela Lynx kembali. Benar-benar tak ingin jika Hazel terus membahasnya.
Untuk sementara ini, Lynx harus menahan diri dan memilih untuk menyembunyikan perasaannya yang sudah terlanjur tumbuh dan mengakar di hati.
__ADS_1
Meski sudah tahu resiko apa yang akan terjadi nanti jika dirinya tetap nekat mencintai manusia seperti Hazel, tapi Lynx tidak takut sama sekali. Ia seolah sudah siap menerima semua resiko tersebut.
“Ayo sarapan bersama. Sebentar lagi kita harus pergi ke kedai untuk bekerja,” ajak Lynx kemudian, sudah menarik kursi untuk diduduki.
Hazel mengangguk kecil, ikut duduk dihadapan pria itu. Di tengah-tengah acara sarapan ini, mereka tidak lagi saling bicara. Fokus mengunyah dan tidak berniat mencuri-curi pandang.
Mereka berdua sedang berkelana dengan isi pikiran masing-masing. Memikirkan pembicaraan mengenai sebuah perasaan cinta yang masih mengganjal di hati. Entahlah, dipikir berapa kali pun tetap saja semuanya tak ada ujungnya.
“Lynx,” panggil Hazel, dirinya yang memulai obrolan lagi. Mendadak ia berpikir sesuatu untuk menghentikan situasi canggung ini.
Hazel merasa harus bertanggung jawab karena sudah mengacaukan pagi ini dengan obrolan yang mungkin seharusnya tak ia bahas. Jadi Hazel ingin membuat keadaan kembali seperti semula. Setidaknya wajah pria rubah itu tidak terlihat kusut lagi.
“Apa ikan yang kumasak tidak enak?”
“Bukan itu.” Hazel tersenyum tipis. “Masakanmu enak. Lebih baik dari sebelumnya.”
“Lalu?” Lynx tidak melirik sedikit pun pada Hazel, fokus menatap piring dengan terus menggerogoti ikan bakar sampai ke tulang-tulangnya.
“Ini tentang kain yang sedang aku jahit untuk kau kenakan nantinya. Setelah sarapan, biarkan aku mengukur seluruh tubuhmu,” lontar Hazel dengan tangan yang bersidekap di atas meja, sudah selesai dengan sarapannya.
Lynx mengangguk singkat. “Oke.”
Lebih dari sepuluh menit berlalu, akhirnya Lynx menyelesaikan sarapannya. Sekitar enam ekor ikan ia habiskan sendirian. Bahkan sisa makanan milik Hazel ia raup juga, tidak merasa jijik atau apa pun.
“Ayo berdiri. Biarkan aku mengukur tubuhmu,” titah Hazel yang sudah bersiap sedari tadi, di tangannya pun sudah ada alat pengukur.
Lynx mengikuti apa yang dipinta gadis tersebut, berdiri dan menempelkan tubuh tingginya pada dinding. Membiarkan Hazel mengukurnya sendiri.
Bagian dada untuk mengukur seberapa lebar sudah Hazel lakukan, ukurannya pun ia tuliskan ke dalam catatan kecil. Tak lupa ia juga mengukur lebar bahu dan panjang lengan pria tersebut.
Semuanya berjalan normal, sampai akhirnya sebuah rasa penasaran muncul. Karena melihat tubuh Lynx yang tampak menjulang tinggi di depannya, Hazel jadi penasaran berapa ukuran tinggi pria tersebut.
“Boleh aku mengukur tinggi tubuhmu juga?”
Lynx langsung mengangguki tanpa berpikir untuk menolak. “Tentu, silakan saja.”
“... Itu pun kalau bisa,” sambungnya dengan nada meledek, namun sengaja suaranya dipelankan agar gadis itu tidak mendengarnya. Sebab dapat dipastikan Hazel akan mengamuk jika mendengarnya.
Karena tubuh Hazel sangatlah mungil dan pendek, jadi dirinya agak sulit untuk menempelkan alat pengukur itu pada ujung kepala Lynx. Berkali-kali kakinya berjinjit, bahkan sesekali melompat kecil. Namun usahanya tak membuahkan hasil.
Lynx yang melihat kalau tampaknya Hazel kesusahan, berinisiatif untuk membantunya. Niat awalnya tidak berpikir kemana pun, jadi ia dengan santai menyentuh pinggang gadis itu untuk diangkat naik untuk memudahkannya yang ingin mengukur.
__ADS_1
Namun siapa yang akan menduga? Hazel yang tidak tahu kalau Lynx akan menyentuh pinggangnya sambil diangkat, tentu saja terkejut setengah mati saat mendadak kedua kakinya tak lagi menyentuh permukaan.
“Eh? Eh?! Turunkan aku! Apa yang kau lakukan?” Hazel memberontak dalam pegangan pria itu, membuat Lynx sedikit kewalahan. Karena Hazel sudah seperti seekor ikan yang baru saja diangkat ke daratan.
Tanpa basa-basi, Lynx lantas melepaskan pegangannya begitu saja. Tidak berpikir kalau Hazel akan terjatuh karena tak sadar ia membawa gadis itu terlalu tinggi. Dan akhirnya sekarang Hazel mengaduh kesakitan sambil mengusapi bokongnya.
“Sialan! Rasanya menyakitkan tahu!” teriak Hazel mendumel.
Lynx yang merasa bersalah, langsung mengulurkan tangan pada Hazel di bawah sana. Tapi bukannya fokus pada lengan kekar yang berada di depannya, perhatian Hazel fokus pada hal lain.
Matanya melototi tempat rimbun, berwarna oranye dengan sesuatu yang menelungkup dibalik rok berwarna hitam mengembang yang dipakai pria itu. Sudah bisa menebak apa yang Hazel lihat saat ini?
“KYAAAA!!!”
Bugh!
Hazel seketika menutupi wajahnya sembari membalikan tubuh setelah menonjok benda yang dilihatnya tadi hingga membuat Lynx terbungkuk-bungkuk, meringis menahan ngilu yang menguarkan rasa sakit berdenyut.
“Dasar gila! Kenapa kau tidak memakainya?!” Hazel bertanya masih dengan menutupi wajahnya yang saat ini sudah memerah bak tomat, bahkan kulit belakang lehernya pun ikut memerah.
“K-karena aku tidak memilikinya, ughh...” Lynx menjawab dengan wajah yang memerah juga, namun bedanya karena dirinya sedang menahan sakit di bawah sana.
Hazel mengusap wajahnya dengan ekspresi frustasi. “Jadi selama ini kau tidak pernah memakainya?”
“Itu benar.” Lynx menampilkan cengiran dari deretan giginya yang rapih, tidak menujukan rasa malu sedikit pun.
“Haishh. Apa aku juga perlu menjahitkan celana pendek untuknya?” Hazel tampak semakin frustasi hanya dengan membayangkannya saja.
Dengan sifat polos yang lebih mendekati kebodohan, Lynx melontarkan pertanyaan, “Apa itu artinya kau juga akan mengukur bagian di bawah san---”
Bugh!
Bukan pukulan, melainkan terjangan secepat kilat yang Hazel layangkan pada pria itu. Sehingga saat ini Hazel sudah berdiri sambil memandangi Lynx yang semakin meringis kesakitan sebab barusan tengkuknya mendapat tendangan.
“Diamlah. Lebih baik kau mengganti pakaianmu sekarang. Jangan sesekali memakai pakaian seperti itu lagi, kalau tidak mau kau kehilangan benda pusakamu yang berharga itu,” ancam Hazel seraya berjalan meninggalkan Lynx yang masih mengaduh kesakitan.
Bukannya merenungi kesalahan atau setidaknya merasa malu karena untuk kesekian kalinya barang miliknya terekspos dihadapan gadis itu. Lynx malah sibuk menatap bagian bawahnya dengan tatapan bangga sambil berkata, ...
“Wow, aku baru tahu kalau di dunia manusia benda seperti ini disebut sebagai pusaka berharga.”
Jika Hazel adalah monster dengan mulut besar, mungkin beberapa detik yang lalu Lynx sudah ia lahap agar pria dengan sifat meresahkan dan tingkah bodoh sepertinya bisa hilang dari dunia ini.
__ADS_1
***