Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 30 - Hutan Yang Menjadi Saksi Bisu.


__ADS_3

“Karena aku, apa? Teruskan ucapanmu.” Lynx mengulangi ucapan Hazel yang menggantung, begitu penasaran apa yang sebenarnya akan gadis itu katakan.


Tapi sampai satu menit berlalu, Hazel tak kunjung menjawab. Membuat Lynx menyimpulkan sendiri apa maksudnya. Satu-satunya yang bisa Lynx pikirkan saat ini adalah mengira kalau kondisi Hazel masih belum cukup pulih, jadi dia ingin tinggal sedikit lebih lama di sini.


Huft!


Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Lynx, semakin panas saja seluruh tubuhnya. Seperti terbakar apabila melihat Hazel ada di depan mata. Kalau Lynx tidak sadar, mungkin sudah sejak tadi Hazel ia terkam.


Tangannya berkacak pinggang, lalu berjalan mondar-mandir sebentar. “Baiklah, kau boleh tinggal di sini sampai pagi. Biar aku yang akan tidur di---”


“Aku mencintaimu.” Akhirnya ungkapan ini dilontarkan Hazel.


Tapi Lynx tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Jadi tubuhnya berpindah tepat di depan Hazel, meminta gadis itu untuk mengulangi kembali ucapannya.


“Aku tidak mau salah paham. Bisakah kau mengulanginya lagi?” pinta Lynx, tubuhnya berjongkok dengan wajah yang lebih mencondong.


Hazel yang sama sekali belum berani menatap manik Lynx, sedari tadi hanya menunduk. Tidak mau memperlihatkan wajahnya yang sudah memerah bak udang rebus.


Sinar rembulan yang terang benderang di atas sana, membuat suasana di sini terasa lebih terkesan romantis. Bagaikan berada di dunia dongeng, hutan ini seperti diciptakan khusus untuk mereka berdua.


“A-aku menyadari ... Bahwa aku juga telah jatuh hati padamu, Lynx. Tidak peduli bahwa kau dan aku sangat berbeda. Dunia kita tak sama. Sehingga sulit mendapat restu dari semesta, fakta tersebut tidak membuat cinta yang sudah tumbuh di hati layu begitu saja,” ungkap Hazel lebih jelas, kali ini ia memberanikan diri untuk menatapnya.


Perlahan ia menarik lengan Lynx untuk digenggam, merapatkan celah antar jari hingga telapak tangan mereka saling bertemu. “Jadi, maukah kau berjuang bersamaku? Demi cinta kita, demi kehidupan di depan sana yang lebih baik. Ayo kita berjuang.”


Lynx tidak bisa berkata-kata. Kerongkongannya mendadak terasa kering, amat tercekat. Bahkan untuk menelan ludah saja terasa susah. Matanya tidak mampu berkedip, terpaku pada manik Hazel yang menguarkan ketulusan.


Baru kali ini ia melihat manik dengan keindahan tak berdasar itu menunjukkan binar tentang sebuah kejujuran. Ungkapan Hazel barusan pun sudah membombardir hati Lynx hingga rasanya sulit untuk bersikap tenang.


Masih belum percaya, mungkinkah ini mimpi?


Tiba-tiba saja Lynx menarik lengannya dari Hazel, mundur dengan cepat lalu membalikan tubuhnya. Jantungnya semakin tak aman jika terus berlama-lama fokus menatap wajah Hazel.


Tak lama Lynx menampar pipinya sendiri berulang kali, berusaha menyadarkan diri. Sebab hasrat yang menggebu-gebu semakin naik ke ubun-ubun. Bagian bawah miliknya pun semakin terlihat menegang.

__ADS_1


Dia hampir kehilangan kendali untuk mengontrol diri. Satu-satunya cara untuk bertahan dari godaan ini, ia melakukan apa pun pada dirinya, sekali pun itu harus menyakiti dirinya sendiri.


“Lynx, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?” Hazel khawatir, karena tingkah pria itu sangat aneh.


Rahang tegasnya diketatkan, jemari tebalnya dikepalkan. Tanpa menoleh ke belakang, ia berujar untuk memastikan, “Apa kau yakin dengan ucapanmu, Hazel?”


“Tentu. Setelah beberapa hari tidak bertemu denganmu, aku merasa ada yang kosong.” Hazel menyentuh dadanya yang berdetak cepat. “Aku menyadari kalau aku menginginkan dirimu,” tambahnya dengan ekspresi malu-malu.


Lynx menanggahkan kepalanya, matanya tertutup, mulai menyedot oksigen secara rakus. “Kalau begitu, apa kau siap untuk melakukannya denganku malam ini? Aku sudah menjelaskannya padamu, kalau aku sedang dalam masa rut.”


“... Kalau kau ingin tinggal di sini, kau tidak bisa menolak ketika aku menginginkannya. Bahkan sekarang, di detik ini, aku seperti hewan buas yang ingin menerkammu. Aku tidak bisa menunggu lebih dari lima menit, jadi putuskan dengan cepat apa pilihanmu,” imbuhnya dengan nafas yang mulai tak beraturan.


Hazel tahu ini mungkin gila, tapi baginya berada di samping Lynx dirinya merasa dilindungi. Ia percaya, bahwa pria itu bisa menuntunnya pada sebuah kebahagiaan yang selama dirinya cari dan inginkan.


Dalam posisi mereka yang sudah saling mengetahui perasaan dan rahasia masing-masing, jika ingin membagi kehangatan melalui hubungan badan sepertinya sudah hal biasa di kalangan masyarakat. Tapi karena ini pertama kali bagi Hazel, tetap saja ada rasa takut ketika membayangkannya.


Demi cinta yang sudah terlanjur membara dalam dada, harapan untuk hidup bahagia bersama orang terkasih, dan ingin membangun kepercayaan antar pasangan, Hazel memutuskan untuk menerima tawaran Lynx.


Bisa dibayangkan? Bagaimana jadinya jika Hazel tahu-tahu mengandung benih dari mahluk seperti Lynx? Oke, mungkin itu masih terlalu jauh untuk dipikirkan dari sekarang.


“A-aku mau melakukannya denganmu. Tapi, aku tidak memiliki pengalaman sama sekali,” cicit Hazel, menahan malu. Bahkan sorot matanya tidak jatuh pada Lynx.


Entah sejak kapan pria itu beringsut dari posisi jongkoknya, tahu-tahu saat ini sudah berdiri dan berada tepat dihadapan Hazel. Mengulurkan tangan untuk meraih tubuh kecil gadis itu.


Tanpa meminta persetujuan lebih dulu, Lynx membawa Hazel masuk ke dalam gua seperti sedang memikul sekarung beras. Hazel yang berteriak minta diturunkan tidak didengarkan olehnya.


“Aku bisa jalan sendiri!”


Lynx malah menyeringai. “Tapi aku juga bisa menggendongmu. Jadi, mohon bantuannya untuk malam ini, Nona kecil~.”


Menurunkan secara hati-hati tubuh Hazel pada sebuah tumpukan jerami yang sudah dialasi oleh sebuah kain panjang. Dengan bringas, Lynx tanpa basa-basi segera menurunkan kain yang menutupi bagian tubuh bawahnya.


Hazel yang melihat itu lantas berteriak kaget, “Tu-tunggu!” Berhasil mengambil atensi pria itu agar mau menatapnya.

__ADS_1


“Ada apa? Kau bilang mau melakukannya. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.” Lynx menatap ke bawah, menunjukkan sesuatu pada gadis itu. “Kau lihat ini? Aku tidak bisa mentolerir apa pun di waktu sekarang.”


Hazel bercicit sambil menatap ngeri bagian pribadi milik pria itu yang masih tertutup kain. Tidak bisa membayangkan malam yang panjang ini akan ia lalui macam apa.


“Apa itu akan terasa menyakitkan?”


Lynx mengangkat bahu. “Entahlah. Ini pertama kalinya juga buatku. Jadi untuk mengetahui apakah sakit atau tidak, kita harus mencobanya.”


Tidak tahu sudah berapa kali Hazel menelan salivanya. Sebenarnya ia juga menginginkan ini. Sebagai wanita normal, Hazel juga memiliki nafsu. Tubuh sexy Lynx yang berotot, begitu terlihat gagah perkasa. Persis seperti pria dewasa yang sudah matang.


Lain dengan Lynx yang sebelumnya ia kenal. Polos dan konyol, tidak ada dalam diri Lynx bermata merah itu. Jadi jujur saja, kalau ini sedikit menakutkan. Tapi dibanding dengan rasa menakutkan, euforia dalam diri atas nama cinta lebih dominan Hazel rasakan.


Seolah Hazel merasa sedang berselingkuh, karena rasanya seperti jatuh cinta pada Lynx dengan sosok yang lain.


Lynx sudah menanggalkan kain itu dari tubuhnya. Dalam gua yang gelap dan sedikit pengap, masih bisa terlihat jelas setiap inci postur tubuhnya yang tidak tertutup satu helai benang pun.


“Katakan sekali lagi padaku, Hazel. Katakan kalau kau mencintaiku dan bersedia hidup bahagia bersamaku,” pinta Lynx, tangannya yang nakal mulai menjamah beberapa tempat di tubuh Hazel.


Hening beberapa detik. Menyisakan suara deruan nafas dari mereka yang saling menderu dan bersahutan sama lain. Pertanda kalau hasrat mulai mengendalikan diri keduanya.


Hazel mengulurkan tangan, menangkup pipi Lynx untuk didekatkan. Deburan nafas pria itu semakin mengenai parasnya. Hangat dan mendebarkan. Tubuhnya yang sudah dikungkung oleh kedua tangan besarnya itu tampak menggeliat.


Lalu tanpa ragu ia menjawab, “Tidak ada alasan untuk tidak mencintai sosok lelaki sepertimu. Tanpa perlu berpikir berulang kali, aku dengan mudah meng-iyakan untuk hidup bersamamu, Lynx.”


Suara lolongan serigala dari atas bukit sana terdengar berulang-ulang, suara hewan malam lainnya seperti burung hantu yang hinggap di batang pepohonan ikut menyahuti. Semakin malam, hutan semakin ramai.


Air mengalir dari sungai di samping gua terdengar seperti alunan musik pengiring malam panas yang panjang untuk mereka berdua. Alam seperti sedang berseru bagi dua orang yang saling mencinta.


Dan malam ini Hazel akan kehilangan sesuatu yang berharga. Sesuatu yang selama ini ia jaga. Dan akan ia serahkan pada seorang pria yang berhasil mengambil hatinya untuk pertama kali.


Biarkan seisi mahluk di hutan dan tempat yang sedang mereka pijaki saat ini menjadi saksi bisu atas gelora panas dari lenguhan cinta mereka berdua.


***

__ADS_1


__ADS_2