
Tak sanggup mendengarkan obrolan antara ayah dan anak itu sampai selesai, Hazel memutuskan untuk segera bergegas kembali ke kamar. Meski tubuhnya terasa lemas, kedua tungkai kakinya ia gerakan dengan paksa.
Pandangan mulai buram, dihalangi oleh bulir-bulir bening yang menggenang di pelupuk mata. Ia tidak sanggup membayangkan hal apa yang akan terjadi pada dirinya dan Lynx di hari esok.
Nafasnya mulai terputus-putus, air matanya sudah membanjiri sebagian permukaan wajahnya. Setelah sampai di kamar, Hazel langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, mirip seperti kepompong.
Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Membasahi bantal empuk itu dengan air mata yang terus bercucuran. Pikiran buruknya terus menyerang isi kepalanya secara bertubi-tubi. Takut untuk menghadapi hari esok.
Membelai lembut perutnya yang masih rata, Hazel sangat menyayangkan jika sampai dirinya mati dalam keadaan mengandung. Jika memang satu-satunya cara untuk terbebas dari segala kesakitan ini harus dengan berpisah, maka Hazel akan menerimanya.
Tak apa cintanya harus kandas karena masalah restu, asalkan Hazel dapat membesarkan anaknya, ya meski pun tidak didampingi oleh Lynx. Setidaknya Hazel tidak merasa bersalah sebab tak menyeret anaknya ke dalam permasalahan ini.
“Hiks...”
Mungkin karena terlalu banyak menangis, Hazel tak sadar terlelap begitu saja. Tidak tahu apakah malam tadi Lynx datang ke kamar atau tidak. Tahu-tahu, saat matanya terbuka, matahari sudah meninggi. Cahayanya yang terang masuk melalui celah ventilasi yang terbuka.
Menoleh ke kanan dan kiri, dan memeriksa seluruh tempat yang ada di kamar ini, Hazel tak melihat batang hidung pria itu. Rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi, mulai berpikir mungkin Lynx sedang dalam bahaya.
“Kemana dia?” Hazel menggigit ujung kuku, matanya bergulir ke berbagai arah. Begitu tampak gelisah.
Mendengar suara pintu diketuk, Hazel langsung sumringah. Berpikir kalau mungkin itu adalah Lynx. Tapi sejenak langkahnya yang tengah berderap ke sana mendadak terhenti, sebuah pertanyaan muncul dan melenyapkan harapannya.
Sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya. Kalau itu memang Lynx, kenapa harus mengetuk pintu lebih dulu? Ia jadi ragu sekarang.
Sementara suara ketukan itu tak kunjung berhenti. Membuat Hazel mau tak mau harus ke sana dan membukanya. Jika memang seseorang di luar sana memiliki niat buruk, Hazel hanya berpikir mungkin ajalnya sudah ada di depan mata.
Setelah pintu terbuka, ternyata yang datang adalah gadis muda dengan surai oranye cerah. Tampak cantik dan menggemaskan. Maniknya berwarna hijau terang. Bibir kecilnya tersenyum manis.
“Hai, selamat pagi. Apa terjadi sesuatu? Kau tampak pucat dengan matamu yang sembab.” Gadis itu menelik-nelik, mengamati Hazel dengan lekat.
Hazel menggelengkan kepala, membalas senyuman dengan ekspresi kikuk. “Ti-tidak. Aku baru saja bangun tidur.”
“Oh, baiklah. Silakan mandi dan ganti pakaian. Aku sudah menyiapkan satu setel pakaian untukmu. Silakan diambil.” Dia menyerahkan wadah pipih semacam nampan yang berisi pakaian yang dilipat rapih pada Hazel.
__ADS_1
“Te-terima kasih.” Hazel membungkuk singkat sambil menerimanya, masih merasa canggung untuk bertemu dengan mahluk di dunia dongeng ini.
Ia pikir gadis itu akan segera berpamitan untuk pergi, tapi yang terjadi malah sibuk memandanginya dari atas sampai bawah. Entah apa yang dia cari, Hazel tidak bisa membaca pikiran mau pun gerak-geriknya. Tapi jika ditatap seperti itu, Hazel jadi sedikit tidak nyaman.
“Ada apa?”
Gadis bersurai panjang itu menggoyangkan kepalanya sambil melebarkan senyum. “Tidak ada. Hanya mencari kebenaran yang dikatakan Kak San dan Kak Sen. Mereka bilang kalau kekasih Kak Lynx tidak cantik dan terlihat seperti nenek sihir. Tapi...”
Jujur, Hazel bingung harus tertawa atau sedih. Gadis polos itu mengatakan segalanya melalui hati tanpa terlihat sedang menyembunyikan kebohongan sedikit pun.
“... Setelah melihatnya secara langsung, rasanya mereka bohong padaku. Justru kekasih Kak Lynx sangat cantik. Aku suka warna matamu, tubuh mungilmu dan rambut gelombangmu yang mengembang,” sambungnya dibubuhi tawaan ringan.
Lega, tidak tahu kenapa Hazel merasa lega setelah mendengarnya. Ia berpikir gadis itu akan ikut mencelanya. Tapi ternyata tidak. Justru Hazel mulai merasakan aura positif yang ada dalam tubuh gadis tersebut, merasa kalau dia bukan bagian dari mereka yang sangat amat menentang tentang hubungan ini.
Hazel ikut tersenyum, kali ini senyuman yang ditunjukkan tak lagi kaku. Tubuhnya sedikit mencondong agar mensejajarkan dengan gadis di depannya.
“Namamu Aluka? Sepertinya aku pernah mendengar suaramu kemarin. Kau juga mengantarkan pakaian lagi hari ini,” tebak Hazel, merasa tidak salah dengan ingatannya.
Dan dia mengangguk. Membenarkan pertanyaan Hazel.
“Hazel. Panggil saja Hazel tanpa embel-embel kak.”
“Wow, namamu juga bagus. Maukah kau berteman denganku?”
Sedikit terkejut karena hal itu terjadi secara tiba-tiba, tapi pada akhirnya Hazel mengangguk tanpa sadar. Di saat pikirannya kacau balau, Aluka datang untuk mengalihkannya.
“Baiklah. Sebagai teman yang baik. Aku akan membantumu untuk merapihkan rambutmu dan juga sedikit mendandanimu. Karena sebentar lagi acara sarapan keluarga akan dimulai, kau harus tampil cantik dihadapan semua orang.”
Hazel mengangguk semangat. “Terima kasih. Kau boleh masuk.” Pintu kamarnya ia buka lebar-lebar, membiarkan gadis itu berjalan melewatinya.
***
Lynx yang sudah duduk termenung di depan kolam samping istana sejak malam tadi, belum mengistirahatkan pikiran mau pun tubuhnya. Kantung matanya menghitam, tatapan matanya terlihat kosong.
__ADS_1
Jack, pria yang dianggap ibu oleh Lynx bergerak mendekat padanya. Menepuk bahunya hingga pandangannya naik untuk saling memandang.
“Bagaimana?”
Lynx tersenyum simpul. “Aku sudah memikirkan rencananya. Aku akan kembali berontak, dan aku yakin kali ini dia akan mendengarkanku.”
“Memangnya apa rencanamu?” Jack merasa penasaran.
Tubuh Lynx beringsut dari batu tempat dimana ia berjam-jam lamanya duduk sambil termenung. Dia tersenyum penuh arti, berlalu begitu saja meninggalkan Jack tanpa sebuah jawaban.
“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.”
Lynx yang semakin melaju di depan sana melambaikan tangan tanpa membalikan badannya. “Nanti kau akan tahu sendiri, Bu. Ayo datang ke ruang makan, akan kutunjukkan di sana. Sengaja, agar semua orang tahu tentang apa yang aku utarakan.”
Meski perasaannya sedikit ragu, tapi Jack tetap mengekori kemana langkah Lynx.
Tepat di pekarangan istana, sebelum menaiki undakan tangga menuju pintu utama, baik Jack atau pun Lynx sama-sama dibuat terkejut dengan kedatangan seseorang yang tak disangka-sangka.
Gadis cantik dengan ular hijau yang melingkar di lehernya berjalan santai menghampiri keduanya. Ia tidak datang sendiri, ditemani oleh beberapa pengawal yang berada di samping kanan dan kiri.
“Tuan putri Ren? Kenapa kau datang ke sini?” Jack yang bertanya, karena Lynx sudah lebih dulu membuang muka ke sembarang arah.
Yang ditanya langsung membentang senyum anggun. “Aku mendengar kabar kalau Pangeran Lynx sudah kembali. Lalu aku diundang ke sini, Raja menginginkan aku untuk bergabung dengan perjamuan keluarga kalian di pagi hari.”
Lynx yang tampak tak acuh itu memilih untuk pergi duluan. “Aku akan masuk.”
Jack tersenyum canggung sambil mengusap-usap tengkuk. “Ah, a-anu. Maafkan Pangeran Lynx. Dia sedang mendapat masalah besar. Jadi...”
Tanpa merasa tersinggung, Ren memakluminya. “Tidak perlu meminta maaf, Jack. Aku sudah hafal dengan sifatnya itu. Jadi santai saja.”
“Baiklah, kalau begitu silakan masuk. Raja pasti sudah menunggu kedatangan Tuan Putri,” ajak Jack dengan sopan, membiarkan gadis dari Kerajaan seberang itu berjalan duluan.
Dalam hati Jack berbisik gamang, “Situasi apa lagi ini? Benar-benar menyulitkan. Aku tidak tahu apa rencana Lynx, ditambah Tuan Putri Ren mendadak datang pagi ini. Pastinya kesempatan ini dimanfaatkan Pangeran kembar untuk memunculkan permasalahan yang lain.”
__ADS_1
***