Gadis Desa Dan Pangeran Rubah

Gadis Desa Dan Pangeran Rubah
Chapter 60 - Berani Menentang.


__ADS_3

Ratusan bara api dilayangkan ke udara, sengaja diarahkan pada pasukan Lynx yang baru saja menginjakkan kaki ke tempat dimana titik peperangan akan dilangsungkan. Lynx dengan pasukannya disambut secara tiba-tiba oleh mereka dalam jarak puluhan kilo meter.


Terlihat jelas di depan sana sudah berjajar rapih kawanan siluman anjing dengan alat tempur yang lebih canggih dan tentunya mempunyai potensi untuk menang lebih tinggi. Tapi meski begitu, Lynx tidak gentar sama sekali.


Baru memulai, Lynx diharuskan menggunakan kekuatannya untuk membuat tudung sihir. Berupaya menahan seluruh serangan bertubi-tubi yang mereka hujami dengan bara api tanpa ampun.


Pasukan yang bertugas menyerang ke arah utara, dibuat ketar-ketir di permulaan perang ini. Mereka dibuat jantungan dan berpikir bahwa akhir hidup sudah di depan mata jika Lynx tak cekatan memasang tudung sihir untuk melindungi.


“Jangan takut! Jangan pernah berpikir bahwa mereka lebih kuat! Percaya saja kalau kita semua dapat menumbangkan mereka!” teriak Lynx untuk menyemangati para pasukannya.


Bara api yang mereka lemparkan dari sebuah meriam besar sudah berhenti. Tapi Lynx tidak menurunkan tudungnya, berjaga-jaga mereka akan menyerang kembali jika lengah.


Hening. Antar kubu pasukan masing-masing saling memandang. Angin panas berhembus, membuat suasana menjadi semakin tegang. Netra Lynx tidak dialihkan sama sekali untuk menatap panglima perang musuh di depannya— Alydrus.


Pria bertubuh gagah, berkulit hitam legam mengkilap, gigi taringnya yang panjangnya lebih dari dua centi tampak mengerikan, ditambah rambut gimbal panjangnya menutupi leher.


Alydrus menyeringai, menampakan gigi taringnya, “Wow, aku mengakui bahwa ketangkasanmu patut diacungi jempol. Jika kau telat meski sedetik, mungkin semua pasukanmu itu akan hancur melebur dalam bara api!”


“Tapi bukankah alat canggih milik kami lebih hebat? Dilihat dari sisi mana pun, kami yang terbaik! Pasukanmu bahkan kurang dari lima ratus siluman, bagaimana bisa mengalahkan kami dengan jumlah pasukan lebih dari lima ribu siluman?” Tawa remehnya menggema, disusul oleh pasukannya yang ikut tertawa juga.


“Apa perang yang terjadi ratusan abad lalu membuat populasi kalian turun drastis? Dengan jumlah kalian yang lebih sedikit, tentu saja semua pun tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya. Dan dalam perang kali ini, aku akan membuat kalian habis tak bersisa!” tambahnya dengan penuh percaya diri.


Lynx menggelak tawa singkat, tampak mengejek. “Siapa yang tahu bagaimana akhirnya? Seorang cenayang sendiri pun tidak tahu kapan dirinya akan mati. Jangan sok jumawa. Kita lihat saja dan buktikan. Beberapa ratus tahun yang lalu, aku tidak ikut dalam perang. Dan tentunya kali ini, akan kupastikan akan berbeda!”


Mau dijatuhkan mentalnya dengan cara apa pun, Lynx tetap pada pendiriannya. Sekali pun jika nantinya hanya tersisa dirinya seorang untuk melawan mereka, dirinya tak akan pernah ragu untuk terus melangkah maju.


Sebelum titik darah penghabisan, sebelum kedua tangan dan kakinya terpisah dari anggota tubuhnya, bahkan sebelum jantungnya berhenti berdetak, Lynx akan terus berusaha semampunya untuk mewujudkan kedamaian bagi negerinya.

__ADS_1


Dalam kendali atau aba-aba dari Lynx, seluruh pasukan yang bersamanya diperintahkan maju ketika Alydrus mulai mengibarkan bendera perang. Semua turun, semua berbaur, dan semua saling meluncurkan sihir sesuai dengan kemampuan masing-masing.


Untuk penyumbang kekuatan sihir yang lebih kuat dan besar, Lynx memerintahkan semua pasukan dari berbagai arah mata angin untuk bersiap-siap. Di saat waktu yang tepat nantinya, mereka akan masuk ke dalam medan merang tanpa diketahui oleh musuh.


Untuk sekarang ini, Lynx tengah sibuk beradu pedang dengan para pasukan mereka yang juga berjaga paling depan. Alydrus yang memang kemampuannya tak jauh beda dengan Lynx, yaitu menggunakan kekuatan fisik, sepertinya keduanya akan terlibat dalam pertarungan sengit.


Sementara Lynx sibuk memerangi para bawahan dari musuh mereka, Alydrus masih memantau di tempatnya tanpa berkedip atau berkutik sama sekali. Dia duduk tegap di atas serigala hitam besar miliknya.


Serigala hitam tersebut ukurannya sebanding dengan Jexie —kuda hitam pintar milik Lynx. Mereka masing-masing menggunakan alat transportasi yang membuat mereka untung. Tentunya andalan mereka adalah pedang untuk dipakai bertarung.


Lynx menumpas kepala siluman-siluman anjing yang menghalangi jalannya dengan satu tebasan, pedang dengan bilah panjang itu tentunya dengan mudah menembus kulit-kulit mereka, bahkan dapat membelahnya hingga beberapa bagian dalam hitungan detik.


Karena terlalu sibuk, dan pendengaran Lynx sudah dipenuhi oleh berbagai macam-macam suara. Ia hanya fokus dengan apa yang ada di depannya. Tubuhnya sudah berputar 180 derajat, melihat ke semua sisi, tapi sayangnya Lynx hanya fokus dengan satu objek.


‘Membunuh’. Hanya itu yang Lynx lakukan sedari tadi. Tanpa sadar, bahwa lawan yang lebih kuat dari apa yang dihadapinya saat ini tengah mengincarnya sambil mencari celah untuk membuatnya tumbang tanpa perlu terlibat pertarungan intens.


“Lawanmu yang setara di sini!” teriak Alydrus, dia berlari ke arah Lynx dengan serigala hitam yang ditungganginya, begitu cepat sampai Lynx tak sempat untuk menoleh.


OUCH!


KEUHK!


...


Uhuk, uhuk. Darah keluar dari mulutnya.


Juga darah dari luka atas tusukan yang dilakukan Alydrus membuat cairan merah nan kental menyembur dengan deras. Menembus tulang leher belakang dan tentunya luka tersebut sangat dalam. Sebagian darah tersebut mengenai wajah Alydrus sendiri.

__ADS_1


***


“Dimana Sen?” tanya San setelah cukup lama terbaring tak sadarkan diri.


Ibunda Ratu Emely mendesis, “Dia ikut berperang. Kenapa? Kau mau ikut? Jangan bercanda. Sudah membuat malu karena kalah dari si bodoh itu, kau pasti dianggap lemah oleh mereka semua. Tetap diam dan bersembunyi dari semuanya adalah pilihan yang terbaik untuk sekarang ini.”


San bangkit dari posisi baringnya, duduk seraya menyandarkan punggungnya ke belakang. “Tetap saja, mana bisa aku diam di sini sementara yang lain sibuk berperang dan tak takut mengorbankan nyawa untuk meraih kemenangan.”


Wanita dengan gaun mewahnya itu melipat tangan di depan dada. “Memangnya dengan kau ikut berperang, Ayahmu itu akan peduli padamu? Meski pun kau mati di sana, dia tidak akan pernah peduli pada anak yang sudah mengecewakannya!”


Dia bangkit, berjalan maju ke arah putranya, dan berhenti di samping ranjang. “Ingat, San. Perjuangan Ibumu untuk mempertahankanmu di sini tidaklah mudah. Sedari dulu kau yang paling diandalkan, kau yang diistimewakan, dan kau juga yang sudah diberi harapan paling tinggi. Tapi kenapa?”


“Kenapa kau malah mengacaukan semuanya?! Apakah sulit membuat dia kalah seperti dulu? Bahkan jika kau membunuhnya, itu lebih bagus ketimbang harus menerima kekalahan dengan cara seperti ini!”


San berdecak. “Cukup! Ibu selalu saja banyak menuntut. Aku dilahirkan ke dunia ini bukan untuk dijadikan investasi! Aku punya pilihan sendiri, aku juga punya keinginan untuk apa dan bagaimana aku menjalani kehidupan ini!”


Untuk pertama kalinya San berani membentak seperti itu. Dia sudah lelah jika terus dituntut ini dan itu. Menurutnya, dirinya sudah berusaha sebisa mungkin. Bahkan rela membuat dirinya sendiri dipandang jahat hanya untuk merealisasikan apa yang ibunya mau.


“Oh, kau berani melawan sekarang? Jika bukan karena aku—”


“Ya, aku berani!” serobot San, dia mengerangkan kedua alisnya saat menyorot netra ibunya. “Mulai detik ini, aku berhenti mendengarkan apa yang Ibu mau! Karena ini hidupku, sudah jelas semuanya harus tentang apa yang aku mau!”


Dengan bergegas, San turun dari ranjang. Tak memedulikan kepalanya yang terasa sempoyongan dan jalannya yang sedikit oleng. Dia keluar kamar sambil meraih tongkat sihir barunya. Meninggalkan ibunya yang terus meneriaki namanya.


“San!”


“Kembali ke sini, Ibumu ini belum selesai bicara!”

__ADS_1


San menyahut tegas sebelum menutup pintu secara kasar, “Aku akan ikut berperang juga! Tidak peduli jika aku harus mati di sana. Itu lebih baik dari pada selamanya hidup di bawah kendali Ibu!”


***


__ADS_2