
Samar-samar Hazel mendengar suara sesuatu. Keningnya mengerut, kedua matanya yang terpejam tampak berusaha untuk terbuka. Ia bangun dari tidurnya. Celingukan ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang menemaninya sepanjang malam tadi.
Tidak ada. Lynx tidak ada di sampingnya. Tempat tidur dari jerami yang dialasi kain tersebut kosong, pria itu ternyata sudah bangun lebih dulu. Hazel khawatir, takut kalau Lynx meninggalkannya sendirian di sini.
Saat mencoba menuruni tempat tidur, Hazel merasakan sekujur tubuhnya sangat lemas dan pegal-pegal. Malam tadi benar-benar sangat bergairah. Permainan panas yang pertama kali dirinya rasakan berhasil membuatnya berasa dibawa terbang tinggi.
“Akh, aku tidak menyangka setelahnya akan terasa sesakit ini,” keluh Hazel seraya memegangi pinggang, cara berjalannya terbungkuk-bungkuk.
Tubuhnya yang sudah berhasil keluar dari dalam gua, langsung dipancari sinar mentari yang lumayan terik. Bisa diperkirakan kalau ini lebih dari jam sepuluh pagi.
Rasa khawatir dalam diri Hazel seketika meluntur saat melihat sosok yang dipikirnya pergi ternyata sedang sibuk membuat sesuatu. Pria itu menoleh padanya, tersenyum tapi sedikit cemas.
Jadi Lynx dengan segera meninggalkan tungku api yang belum jadi untuk menghampiri Hazel. Pria itu tahu kalau kondisi tubuh Hazel pastinya sedang tidak baik. Ia menyadari cara bermainnya tadi malam lumayan kasar.
“Hazel? Akhirnya kau bangun juga. Ada apa? Kau butuh sesuatu? Aku baru saja mau membuat sarapan,” cerocos Lynx dengan satu tarikan nafas, kedua tangan besarnya sudah mendarat pada bahu Hazel.
Kepala Hazel menggeleng lemah. Dia menurunkan pandangan, tak sanggup menatap Lynx sebab masih terbayang-bayang adegan semalam. “Aku hanya memastikan kalau kau tidak pergi. Badanku sakit semua. Mungkin aku tidak berselera makan.”
Lynx terkekeh, tubuhnya sedikit membungkuk untuk menempelkan dahinya pada gadis di depannya. “Kau tenang saja, selagi aku masih hidup maka aku tidak akan ke mana-mana dan tidak akan membiarkanmu sendirian.”
Hazel tersenyum mendengarnya. Tak lagi gelisah.
“Lebih baik kau duduk didekat batu sana. Aku akan mengobati badanmu yang sakit.” Lynx menuntun Hazel perlahan ke tempat yang ia tunjukan.
Setelah mendudukannya didekat batu besar sambil bersandar, Lynx memasukan kedua tangannya ke dalam sungai. Ingin mengambil sedikit air untuk ia masukan ke dalam mulut. Persis seperti apa yang dirinya lakukan semalam.
Ketika bibir mereka bersentuhan, nafas mereka saling berhembus pada paras masing-masing, dan air dari dalam mulut Lynx sudah berpindah tempat, keduanya tidak langsung melepaskan pagutan tersebut.
Segar. Manis. Tubuh Hazel yang sebelumnya terasa kaku bagaikan papan, sekarang sudah pulih. Tubuhnya pun berasa ringan. Melalui air yang diberikan Lynx tadi, segala rasa sakit di tubuhnya langsung terhempas.
Mereka berdua terkekeh geli setelah menarik bibir masing-masing, saling memalingkan muka karena masih malu-malu. Untung saja masa rut Lynx hanya terjadi saat malam hari, kalau masih berlanjut sampai sekarang mungkin Hazel akan kewalahan untuk menangani.
“Apa kau mau mandi? Aku akan menyelam sambil mencari ikan untuk sarapan kita,” tawar Lynx sambil mengulurkan tangan pada Hazel.
Tanpa ragu ia menerima uluran tangan tersebut, perlahan-lahan tubuhnya ikut masuk ke dalam sungai yang dalamnya hingga sebatas dada. Karena tubuh Lynx tinggi, jadi air hanya membasahi sampai perut saja.
“Airnya tidak terlalu deras. Cocok untuk berendam,” kata Lynx sembari membasahi rambutnya, gayanya terlihat sexy ketika mengibaskan rambutnya yang basah.
Hazel hanya angguk-angguk, pipinya memerah sempurna ketika mencuri pandang pada Lynx yang bertelanjang dada. Wajahnya ditenggelamkan hingga batas hidung. Merasakan betapa segar dan dinginnya air sungai yang begitu jernih. Sudah lama dirinya tidak menemukan air sebersih ini.
__ADS_1
Pria berambut oranye gelap itu sudah mengabsen seluruh tempat yang ada di sungai. Berenang bagaikan duyung yang mahir menjamah samudra. Tubuh atletisnya meliuk-liuk di dalam air. Mencari beberapa ikan yang bisa dirinya tangkap.
Byuurrr!!!
Lama menenggelamkan diri untuk mencapai dasar sungai, Lynx akhirnya menyembulkan diri sambil menunjukkan tiga ikan di tangan kanan dan kiri, serta di mulutnya. Ikan itu mengepak-ngepak ingin kembali ke dalam air.
“Wah, keren! Kau bisa menangkap tiga ikan sekaligus,” puji Hazel kagum.
Lynx berenang ke arah Hazel, tersenyum bangga. Menaruh ikan segar yang masih hidup itu ke sisi sungai. Mengumpulkannya sampai cukup untuk dimakan sampai seharian ini.
“Cium aku,” pinta Lynx tiba-tiba.
Tentu saja itu membuat Hazel kebingungan. Matanya mengerjap cepat dengan mulut yang terbuka sedikit. “Eh? Kenapa?”
“Kalau kau tidak mau, berarti kau tidak cinta padaku.”
Oke, tingkah Lynx yang terkadang sulit ditebak ini memang konyol. Tapi karena Hazel tidak perlu susah payah untuk menutupi perasaannya lagi, jadi ia akan menuruti keinginannya meski malu-malu.
“Tiga ikan, berarti tiga ciuman,” kata Lynx sambil menyeringai.
“Ish, kau ini ada-ada saja.” Hazel membuang pandangan ke sembarang arah, menggigit bibir bawahnya karena berusaha menahan senyumnya yang ingin terbit.
Hazel melongo, kembali memfokuskan pandangannya pada pria di depannya. “Hah? Bagaimana bisa kau mengaitkan perasaan cinta dengan seperti itu?”
Lynx tertawa, kemudian menarik tubuh Hazel untuk didekatkan. Lalu ia mengangkat tubuh gadis itu untuk didudukan ke tepi sungai. Sehingga tinggi tubuh mereka jadi sejajar sekarang.
Telunjuknya mengetuk-ngetuk kedua pipi. Memberi kode padanya untuk segera memberi ciuman. Padahal tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua di sini, tapi Hazel masih memastikan keadaan sekitar ketika akan mendaratkan bibirnya pada pipi Lynx.
“Satu lagi.” Lynx memindahkan jarinya dari pipi. “Di ... Sini.” Menyentuh bibirnya sendiri, memberi arti kalau ciuman kali ini berbeda dari sebelumnya.
“Aku menyesal berkata kalau aku mencintaimu,” gurau Hazel, ia tidak menyangka kalau Lynx memiliki sisi seperti ini.
Padahal tadi malam Lynx terlihat lebih dewasa dan begitu menganggumkan. Sekarang ia sudah kembali pada setelan pabrik. Terlihat dari warna matanya dan tingkah lakunya yang sangat manja.
“Jadi sebenarnya kau tidak mencintaiku?” Lynx membuat ekspresi sedih, mengeluarkan ekor dan telinganya yang menelungkup.
Hal itu membuat Hazel tertawa. Tak segan ia mengalungkan tangannya pada leher Lynx, menarik tubuh bongsor pria itu untuk mendekat padanya.
Kemudian dengan gerakan cepat kepalanya dimiringkan, sebelah tangannya pun menekan tengkuk Lynx. Ia majukan agar memperdalam pagutan. Lidahnya menari-nari di dalam sana, merasakan alunan bahagia yang tercipta.
__ADS_1
Rasa panas yang mendadak muncul dalam tubuh masing-masing, diredakan oleh angin sepoi-sepoi yang menyapu kulit basah mereka. Terasa dingin dan nyaman.
Masih dalam posisi yang sama, Lynx menggerakan tangannya untuk melingkarkan kedua tangannya pada belakang tubuh Hazel. Menggendongnya sambil membawa ke tengah-tengah sungai.
Ketika bibir mereka tak saling memberi *******, pagutan itu terlepas. Dahi mereka menempel, hidung mereka pun nyaris bersentuhan. Lalu Lynx memutar-mutar tubuhnya, membuat Hazel bersorak senang.
Sama-sama menanggahkan kepala, keduanya tertawa tanpa beban. Tak lama tubuh mereka sama-sama terjatuh ke dalam sungai, suara tawa mereka tidak mereda. Terlihat dari manik keduanya kebahagiaan begitu terpancar jelas.
Satu hal yang Hazel terlambat sadari. Ternyata jatuh cinta bisa mengundang rasa bahagia sebesar ini. Tidak menyangka bahwa ketakutan yang lebih dulu membayangi sebelum memulai hubungan ini, nyatanya tidak semenakutkan itu.
Atau mungkin Hazel belum tahu, bahwa cinta tidak selalu mulus. Ia sudah menyingkirkan fakta dan kebenaran bahwa Lynx bukanlah manusia seutuhnya. Kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini, akan membawa keduanya ke dalam hubungan seperti apa?
Masih misteri. Dan hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
Seharian ini mereka berdua menikmati kebersamaan secara intens. Mengelilingi hutan berdua sambil diselingi canda tawa. Seolah memang mereka hidup di dunia yang di dalamnya tidak ada siapa pun yang bisa mengganggu.
Mengumpulkan beberapa buah segar untuk dijadikan cadangan makanan agar cukup untuk persediaan. Juga Hazel memetik beberapa bunga yang menurutnya cantik. Semua itu tidak lepas dari perlindungan Lynx.
Sebab beberapa kali mereka bertemu dengan binatang buas. Seperti serigala, buaya, beruang, dan segala jenis hewan pemakan daging lainnya. Dengan kemampuan Lynx yang bisa menggunakan bahasa hewan, semua binatang itu mengerti kalau Hazel bukanlah manusia yang boleh dimangsa.
“Hazel!” Lynx berteriak sambil berlarian ke arah gadis itu, di tangannya ada seikat bunga berwarna ungu.
“Taraaaa!” Lynx menyerahkan bunga itu pada Hazel. “Ini untukmu. Bunganya secantik dirimu. Kau tahu ini bunga apa?”
Hazel mengambil alih bunga itu dari tangan Lynx, ia terpesona dengan bunga berwarna ungu cerah tersebut. Ini pertama kalinya ia melihat bunga seperti ini.
“Bunga apa ini?”
Lynx tersenyum. “Itu adalah ballon flower. Arti dari bunga ini adalah cinta yang tak berubah atau bisa dikatakan cinta abadi.”
Akhirnya Hazel mengerti kenapa Lynx ingin memberinya bunga itu. Selain dari warna dan kelopaknya yang indah, bunga tersebut juga memiliki arti yang bagus dalam hubungan percintaan.
Sambil menghirup bunga di tangannya, Hazel berbicara, “Aku harap cinta kita akan seperti bunga ini. Abadi dan tidak pernah terganti oleh apa pun.”
Kepala Lynx mengangguk, setuju. Tubuhnya mendekat pada Hazel. Lalu memeluknya dengan lembut. Kemudian berbisik padanya, “Kita sekarang sudah resmi menjadi sepasang kekasih, 'kan?”
“Tentu, kita adalah sepasang kekasih. Bukan hanya untuk sekarang, tapi hingga selamanya. Jadi, mari buat kenangan indah yang lebih banyak!” seru Hazel semangat, ikut memeluk tubuh Lynx begitu erat.
“Kau benar, Hazel. Apa pun masalah yang ada di masa depan nantinya, aku percaya semuanya bisa dilewati selagi kita masih bersama,” balas Lynx sebelum memberi sebuah kecupan hangat pada pucuk kepala kekasihnya.
__ADS_1
***